
Rey mengerjapkan matanya perlahan. Ia berusaha mengatur napas nya. Kaki nya terasa berat, serasa ada yang menindihnya.
"Icha... Ini..." Gumam Rey berusaha mengingat-ingat.
"Ya ampun, aku ketiduran. Astagfirullah..." Rey mengusap wajahnya dengan kedua tangan nya.
"Icha, bangun." Ucap nya sambil menyentuh pelan pipi Lisa.
"Icha, ini udah pagi." Sambung Rey.
"Hm Rey..." Lisa menggeliat pelan. "Ntar aja. 5 menit lagi."
"Nggak bisa. Ayo bangun!"
"Ck."
"Ayooo Cha..."
Lisa bangun dan mendudukkan dirinya, namun matanya enggan terbuka. Rey menngeleng melihat tingkah laku istrinya. "Icha, hei. Sadar dong. Buka matanya."
"Berat Rey." Ucap Lisa dengan suara serak.
"Sana mandi, ntar telat loh!"
"Ntar aja."
"Sekarang, bentar lagi Bunda turun loh. Ntar Bunda liat kamu kayak gini, kamu mau?"
"Haih, iya-iya."
Lisa berjalan gontai menaiki tangga. Berjalan menuju kamar nya. Sementara Rey membereskan sofa yang terlihat berantakan. Setelah selesai ia menyusul Lisa masuk kedalam kamar.
"Ya Allah, Melissa..." Ucap Rey setelah membuka pintu kamar dan mendapati Lisa yang ternyata kembali tertidur di atas kasur. Rey memilih untuk mandi terlebih dahulu, ia juga kasihan melihat Lisa karena kemarin ia sempat begadang.
Setelah acara mandinya sudah selesai dan juga sudah memakai seragam putih abu-abu nya dengan lengkap. Rey kembali menghampiri Lisa yang masih terlelap di atas kasur.
"Lisa, bangun gih."
Merasa terganggu, Lisa menutup wajahnya dengan menggunakan selimut.
"Icha... Bangun!"
Bukan nya bangun, Lisa malah membalikkan badan nya berlawanan, membelakangi Rey. "Ntar telat loh. Bangun yah. Hei ayo bangun."
Mau tak mau Rey akhirnya ikut naik ke atas kasur. Ia ikut berbaring di samping Lisa yang membelakangi nya. Telapak tangan Rey ia jadikan sebagai tumpuan kepalanya.
Rey menyentuh hidung Lisa, "Ayo bangun. Atau aku tinggal nih?" Ancam Rey. Tangan nya berpindah pada telinga Lisa, ia kembali menyentuh telinga Lisa.
"Bangun cepet..." Lisa menepis tangan Rey yang mengganggu telinga nya.
"Yaudah kalo nggak mau aku duluan aja. Kamu pergi sekolah naik kendaraan umum aja."
Mendengar ucapan Rey, Lisa yang takut ditinggal refleks langsung berbalik ke belakang. Dan...
Cup!
Bibir Lisa tepat mengenai bibir merah milik Rey. Kedua nya membulatkan matanya kaget. Kedua bibir itu bertemu, namun itu tidak berlangsung lama. Lisa yang kaget langsung menjauhkan dirinya dari Rey.
"Ka-kamu..." Gugup Lisa. Ia tak menyangka kalau Rey ternyata sedekat itu dari dirinya. Ini semua terjadi di luar nalar, maksudnya tadi bukan begitu.
Rey yang sama terkejutnya hanya bisa terpaku. Ia tak bisa mengucapkan apa-apa, bibirnya keluh tak bergerak sama sekali.
"Oh astaga, first kiss?" Gumam Lisa sambil memegangi bibirnya.
Lisa yang terlanjur malu langsung berlari masuk kedalam kamar mandi. Ia sesegera mungkin mengunci pintu kamar mandi. Lalu menatap wajahnya yang semerah tomat di depan cermin. "Astaga, apa yang aku lakukan? Uuuhh bodoh!" Gerutu Lisa. "Kamu kenapa sih ha? Apa yang akan Rey pikirkan tentang dirimu?! Malu aku tuh." Lisa menutup wajahnya dengan menggunakan kedua telapak tangan nya.
Sementara Rey masih terbaring di atas kasur tak bergerak sedikitpun. "Apa itu tadi?!" Gumam Rey.
"Eh jangan berpikiran aneh-aneh. Itu tadi tak terduga, itu nggak di sengaja! Oke, tenang Rey tenang..." Rey mengatur napas nya perlahan.
"Dan apa yang dia bilang tadi? First kiss? Astaga. Kenapa aku ambil ciuman pertama nya? B*go banget sih." Rey memukul-mukul kepalanya pelan. "Tapi... kalo dipikir-pikir yah wajar lah. Kan aku suami nya. Tapi kan aku udah janji nggak bakal sentuh dia tanpa izin. Ahh... Dasar munafik." Gerutu Rey kesal.
"Ekhem. Lisa aku tunggu di bawa yah." Teriak Rey kemudian segera turun ke lantai bawah.
.
.
.
"Icha." Panggil Rey.
"Hm?"
"Maafin aku."
Lisa menoleh pada Rey dengan heran. "Untuk?"
"Kejadian tadi. Maafin aku." Rey tak berani menatap Lisa, ini sangat memalukan untuknya. Ia telah membohongi dirinya sendiri dan melanggar janji yang sudah ia buat sendiri.
Wajah Lisa langsung berubah menjadi malu-malu. Tadinya ia ingin pura-pura tak terjadi apa-apa. Tapi kenapa Rey harus membahasnya lagi sih?! Memalukan sekali. "Ng-nggak papa. Ini juga bukan sepenuhnya salah kamu." Ucap Lisa sambil menoleh ke arah luar. Menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat.
"Kamu nggak papa kan? Maafin aku karena aku udah kurang ajar sama kamu. Aku nggak pernah bermaksud berbuat hal tak senonoh seperti itu."
Glek!
Lisa terpaku mendengar penuturan Rey. Ini bukan masalah besar bagi sepasang suami-istri, dan ini juga bukan sepenuhnya salah nya Rey. Tapi kenapa Rey harus memperpanjang nya? Seolah-olah ini masalah besar untuknya.
"Rey. Kamu nggak salah apa-apa kok. Ini bukan sepenuhnya salah kamu, jadu nggak usah di bahas lagi."
"Tapi aku beneran minta maaf, Lis."
"Iya, nggak papa."
Mobil memasuki gerbang sekolah. Mobil melaju masuk kedalam dan berhenti tepat di tempat parkir.
"Rey, aku duluan yah." Lisa buru-buru ingin keluar mobil karena sangat malu rasanya. Rasanya ingin dia tenggelam saja di laut yang dalam.
"Eh tunggu." Cegah Rey.
"Kenapa?"
"Nih." Rey menyodorkan selembar uang untuk Lisa. "Buat kamu."
"Lagi? Yaudah deh, makasih yah." Dengan senang hati Lisa langsung menerima uang tersebut. "Suamiku..." Sambung Lisa dengan nada pelan.
Rey yang mendengar samar-samar, menatap bingung pada Lisa. "Coba ulangi?"
"Ulangi? Nggak ah."
"Sekali aja."
"Nggak mau."
"Yaudah nggak papa. Kamu belajar yang bener yah sayang..." Rey mengusap kepala Lisa pelan.
"Apaan sih Rey. Pake sayang segala." Gugup Lisa.
"Ya nggak papa dong. Kan kita udah pacaran, jadi wajarlah."
"Tap-tapikan... Aku..." Lisa gelagapan harus menjawab apa.
Rey menaikkan satu alisnya tak mengerti.
"Nggak jadi deh. Yaudah aku masuk kelas dulu. Daaahh..." Lisa dengan segera langsung keluar dari mobil karena sudah tak sanggup menahan jantungnya yang berdebar tak karuan. Rey itu udah pintar yah buat perasaan Lisa nggak karuan.
"Cih..." Rey menatap kepergian Lisa sambil tersenyum bahagia. Ia sangat bahagia melihat wajah malu-malu Lisa. Ia sempat menatap foto Lisa yang tak sengaja ia ambil saat Lisa tengah bermain kemarin.
Setelah merasa cukup semangat Rey keluar dari mobil nya dan berjalan santai untuk masuk kedalam kelas. Saat melewati koridor, tiba-tiba Dinda datang dan menyapa nya.
"Hai, Rey." Sapa Dinda berusaha menyamai langkah kaki Rey.
"Hai." Jawab Rey sekenanya.
"Kok belakangan ini kamu jarang masuk? Kamu dicariin loh sama pak Rudi."
"Aku ada urusan."
"Oh..."
"Yaudah aku duluan yah." Rey langsung pergi meninggalkan Dinda yang tersenyum sumringah. Sangat bahagia Rey masuk sekolah kembali.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!