
"Cha, nih seragamnya!" Rey meletakkan beberapa seragam sekolah tepat di samping Lisa yang sedang terbaring di atas tempat tidur.
"Wauw..." Lisa langsung bangun dan menggapai seragam barunya dengan girang
"Loh? Kok ini..."
Rey mengerutkan dahinya kemudian duduk di samping Lisa. "Kenapa sayang?"
"Ini seragamnya kok mirip sama punya nya Fadil?" Heran Lisa.
"Ini... Aku juga nggak tau. Ini tadi ayah yang ngasih."
"Ck, masa sih aku harus satu sekolah sama Fadil, males banget."
Rey tersenyum lembut kemudian mengusap kepala Lisa lembut, "Hahaha sabar yah sayang, dan juga maafin aku karena gara-gara nggak bisa nemuin bukti yang kuat."
"Rey udahlah nggak usah di bahas lagi, aku udah ikhlas kok."
"Yaudah kamu tidur gih besok sekolah."
.
.
.
"Cha, aku tunggu di bawa yah..." Sahut Rey.
"Iya, ini juga udah mau selesai kok." Teriak Lisa dari dalam ruang ganti.
Lisa buru-buru memakai dasinya dengan teliti. "Hadeh, bisa-bisanya aku satu sekolah sama si kampret. Ayah gimana sih, emang itu cuma satu-satunya sekolah yang ada disini apa?" Oceh Lisa kesal.
"Tapi yaudah nggak papa, hari ini harus ceria dan semangat. Karena hari ini hari pertama masuk sekolah baru. Sekolah baru... im come in..." Lisa meraih tasnya di atas kasur kemudian keluar kamar dengan riang.
"Wah wah anak Bunda cantik banget." Puji Bunda saat melihat Lisa berjalan mendekat.
"Ah Bunda bisa aja." Lisa duduk di atas kursi di depan nya yang sudah tersedia makanan.
"Hari ini kan hari pertama Lisa sekolah, jadi biar Ayah yang anterin." Ucap Ayah sembari tersenyum.
Mata Lisa berbinar-binar, "Beneran Yah? Yaudah yuk berangkat!" Ajak Lisa bersemangat.
"Makan dulu Cha..." Pinta Rey.
"Iya kamu makan dulu sayang." Sambung Bunda.
"Ntar aja di sekolah ya."
"Hm yaudah, ayo berangkat." Ajak Ayah.
"Yeiy." Lisa segera menyalami Bunda. "Lisa pergi yah Bunda.
"Hati-hati, jangan lupa makan."
"Rey, aku berangkat yah." Lisa balik menyalami suaminya.
"Jaga diri baik-baik, kalo udah pulang jangan lupa chat aku."
"Iya sayang, babay..." Lisa berlari keluar menyusul ayah yang sudah berada di dalam mobil.
.
.
.
Huh ternyata bener aku pindah di sekolahnya si kampret. Huuuu ngeselin banget.
"Yah, ini sekolah barunya?" Tanya Lisa saat mobil berhenti tepat di depan sekolah.
"Iya nak, jadi mulai sekarang kamu sekolah disini yah. Kamu harus rajin dan harus tetep semangat. Karena pendidikan itu nomor satu, oke?" Ucap Ayah memberi semangat yang di balas dengan anggukan oleh Lisa.
"Yaudah, pak tunggu disini sebentar yah, saya mau masuk dulu." Ucap Ayah pada pak supir.
"Siap pak..."
"Ayo nak, Ayah anterin ke ruang guru."
Lisa dan Ayah berjalan beriringan menuju ruang guru sambil melihat-lihat sekeliling sekolah. Rupanya sekolah tersebut cukup luas dan juga sangat bersih.
Saat masih mrnyusuri koridor tak sengaja mereka berpapasan dengan salah satu guru. "Selamat pagi..." Sapanya sambil tersenyum. "Pak Arga? Ada yang bisa saya bantu pak?"
"Oh iya, ini anak saya yang saya daftarkan kemarin."
Guru itu balik melihat Lisa lalu tersenyum. "Atas nama?"
"Melissa Bu." Jawab Lisa sambil tersenyum canggung.
"Oh iya kemarin sudah terdaftar namanya yah. Kalau begitu biar saya saja yang mengurusnya yah Pak..."
"Terima kasih bu, tolong jaga anak saya baik-baik jangan biarkan siapapun mengusiknya, dan saya tidak akan pernah memaafkan siapapun yang membuatnya merasa tidak nyaman." Pesan Ayah terdengar seolah mengancam. Bukan tanpa alasan dia berkata seperti itu, dia hanya tidak ingin kejadian yang sama kembali terulang. Cukup sudah yang kemarin dia mengalah dan sepertinya untuk kali ini tidak.
Ucapan ayah cukup membuat guru tersebut gelagapan, bagaimana tidak, dia benar-benar tahu bahwa pak Arga merupakan pemilik saham terbesar di sekolah tersebut. "Baik pak saya mengerti."
Lisa tersenyum, "Oke Ayah."
Ayah mengusap kepala Lisa pelan, "Ayah kerja dulu, nanti pulangnya di jemput sama pak Pandi."
Lisa mengangguk pelan. "Iya Ayah."
Ayah mengecup singkat kening Lisa kemudian berlalu pergi.
"Nama saya ibu Suri dan mengajar pelajaran Sejarah disini, selamat datang di sekolah ini yah nak dan semoga kamu suka." Ucapnya sembari yang ramah.
"Makasih ibu."
"Ayo Melissa ikut sama ibu, biar ibu tunjukin kelasnya."
"Baik bu."
Guru tersebut berjalan yang diikuti oleh Lisa di belakangnya.
.
.
.
"Selamat pagi anak-anak..." Sapa ibu Suri lalu meletakkan buku-bukunya di atas meja.
"Selamat pagi bu...." Jawab semua murid serempak.
"Sebelum ibu memulai pembelajaran hari ini, terlebih dahulu ibu ingin memperkenalkan teman baru kalian."
Ibu Suri menoleh kearah pintu kelas, "Melissa, ayo masuk..."
Semua mata memandang ke arah pintu, sangat penasaran dengan sosok teman baru mereka.
Begitu dipanggil, Lisa langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas kelas dengan pelan. Kemudian berhenti tepat di samping ibu Suri.
Semua siswa-siswi terdengar berbisik-bisik.
"Uh buset cantik banget parah..."
"Buset dah damagenya minta ampun..."
"Pokoknya dia harus jadi pacar gue selanjutnya gue nggak mau tau."
"Dih mimpi lu."
"Cewek cantik kagak mungkin jomblo kalli"
Ibu Suri kembali tersenyum, "Ayo Melissa silahkan perkenalkan diri."
Lisa menarik nafas dalam kemudian berusaha tersenyum. "Halo semuanya... Perkenalkan nama saya Melissa Sabrina Gianiggy Hariwijaya bia-..."
"Ala sia boii itu namanya panjang banget dah, udah kayak janji-janji manisnya si dia." Sahut seorang cewek yang terkenal pencicilan.
"Hahahaaa..."
"Korban ghosting cok hahahaa..."
"Diem lu b*ngsat!"
Tok, tok, tok, tok...
Ibu Suri memukul meja beberapa kali agar para murid diam.
"Hei hei! Kalian ini! Sudah-sudah diam semuanya!" Sahut Ibu Suri. "Ayo Melissa dilanjutkan!"
"Saya biasa di panggil Lisa atau Melissa, saya pindahan dari SMAN Bakti Husada, sekian terima kasih..." Kata Lisa sambil tersenyum.
Ibu Suri manggut-manggut, "Oke, ada yang mau ditanyakan?" Tanya nya pada seluruh murid di kelas.
"Saya bu." Sahut salah satu siswa.
"Ya Dirga? Silahkan!" Pinta Ibu Suri.
"Udah punya pacar belum?" Tanyanya.
Sontak pertanyaan tersebut membuat seisi kelas menjadi ribut. "Huuuu..."
"Kamu nih Dirga nggak pernah mau serius, pertanyaan apa itu, nggak bisa sekali menentukan mana waktu belajar mana waktu bermain. Kamu mau nilai Sejarah kamu saya kasi nilai nol hanya karena sikap kamu yang nggak bisa kamu ubah?" Oceh Bu Suri.
"Iya maap deh bu."
"Huuuuu...."
"Eh eh sudah-sudah! Oke Melissa silahkan kamu duduk di..." Bu Suri mengedarkan pandangan ke se isi ruangan.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!