Love In Many Ways

Love In Many Ways
Kasih Sayang (1)



"Yang duluan siapa?" Ucap Dion dengan nada tinggi.


"Kalian lah!" Kata Putra dengan nada meninggi juga.


"Loh? Kok kita?" Tanya Zidan.


Lisa menggelengkan kepalanya frustasi kemudian kembali duduk di sofa dan menyaksikan adu mulut itu lagi.


"Siapa lagi? Tetangga?" Tanya Putra balik.


Dion menghela napas, mencoba mengendalikan emosinya. "Huft... Tenang guys, untung adik cantik nya ada di sini, kalo nggak ada udah dari tadi kita kroyokin."


"Ngajak berantem?" Tanya Putra.


"Siapa takut?"


"Ayo sini maju, kalian bertiga." Tantang Putra.


Dion, Andra dan Zidan langsung berdiri dari duduk nya dan menghadap Putra.


Melihat situasi yang semakin buruk, Lisa langsung berdiri dan melerai nya.


"Kak... Udah nggak usah berantem!" Ucap Lisa berusaha melerai.


"Untung ada adik mu." Ucap Andra berusaha mengontrol emosi.


"Kak Putra, udah yah! Kita pulang!" Ucap Lisa dengan lembut sambil memegang tangan kanan Putra, mengajak nya untuk segera pergi.


"Yaudah ayo, mana kunci motor kakak?" Tanya nya pada Lisa.


Lisa celingukan kesana kemari mencari kunci motor yang dimaksud.


Nah, tuh dia.


Lisa langsung mengambil kunci motor yang ada di atas meja. "Nih kak." Ucap nya sambil memperlihatkan kunci motor itu pada Putra.


"Yaudah yuk pulang!" Ajak Putra. "Aku duluan yah guys, jangan lupa konser nya." Ucap Putra lalu menyalami Dion terlebih dahulu.


"Yoi Bro. Kamu hati-hati yah!" Kata Dion.


Lisa hanya menatap dengan heran. Loh? Kok? Tadi kan berantem, tiba-tiba...


Putra menyalami Andra dan Zidan juga. "Jangan kemaleman pulangnya." Pesan Putra.


"Oke bos. Kamu juga hati-hati, jangan ngebut! Ntar terjadi hal yang di ingin kan lagi. Hahaa..." Andra tergelak, disusul dengan tawa Dion dan Zidan.


"Wah parah. Kalian doain aku kecelakaan? Ntar adik ku gimana? Nyesel loh kalian!"


"Nggaklah. Kalo adik cantik mu mah selamat aja. Kamu aja sendiri ke alam kubur sana." Sahut Zidan.


"Ketemu ama malaikat maut. Jangan lupa VC yah Putra, kita mau liat gimana sih wajah malaikat maut itu? Apa mukanya sama kayak kamu, hahaaa..." Sambung Dion, mereka bertiga kembali tertawa.


"Teman la*nat kalian. Yaudah aku pulang yah, daahh..." Putra melangkahkan kaki nya keluar ruangan.


Lisa juga berpamitan pada mereka. "Lisa pulang dulu yah kak. Daahh..." Lisa melambaikan tangannya pada mereka bertiga, lalu keluar dan menyusul Putra dari belakang.


"Dadah adik cantik, lain waktu kita ketemu lagi yah." Sahut Andra.


"Jagain calon istri ku, kakak ipar!" Teriak Dion.


"Tukang halu." Ledek Andra.


"Iri bilang bos."


"Terserah."


.


.


.


Sementara itu...


Lisa dan Putra sudah berada di jalan. Hening! Tak ada yang berbicara, masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.


Sampai akhirnya...


Tik.. Tik.. Tik...


Satu persatu air jatuh dari langit, gerimis melanda hati, hehee...


Semakin lama, yang tadinya cuma berupa gerimis, kini berubah menjadi hujan yang agak deras.


"Kak, hujan!" Sahut Lisa.


"Kita berteduh di Halte depan." Ucap Putra setengah teriak. "Kamu pegangan yang erat." Pinta nya.


Putra menambah kecepatan laju motor nya, membelah hujan yang semakin deras.


Sesampainya di depan Halte, Putra dan Lisa langsung berlari masuk untuk bernaung, meninggalkan motor sports itu, yang terus dibasahi oleh hujan tanpa ampun.


Baju Lisa dan Putra sudah basah terkena hujan. Putra melipat kedua tangannya di depan dada, lalu melirik sekilas ke arah Lisa yang tengah berdiri di samping nya sambil mengaitkan kedua tangannya di depan dada, matanya menatap ke arah rintikan hujan. Bagaimana tidak kedinginan? Lisa hanya memakai celana jeans warna hitam, dan baju kaos panjang warna putih yang bertuliskan "I Dont Care"


Putra yang melihatnya pun merasa kasihan dengan adik kecilnya itu. "Dek?" Panggil nya dengan suara pelan.


Lisa menoleh dan melihat ke arah Putra.


"Ayo sini!" Panggil Putra dengan merentangkan tangan kanannya, pertanda dia ingin Lisa masuk kedalam pelukannya.


Lisa yang melihat reaksi Putra pun, langsung melangkahkan kakinya pelan mendekat ke Putra, dan masuk ke dalam pelukan hangat kakaknya.


Putra mendekap adiknya dengan penuh kasih sayang, mencoba memberikan sedikit kehangatan pada Lisa.


"Bentar." Ucap Putra, lalu melepaskan pelukannya dari Lisa.


"Kenapa kak?" Tanya Lisa sambil mengerutkan dahinya bingung.


Putra tak menjawab, Putra malah melepas jaket nya. "Kamu pakai ini!" Pinta nya sambil memakaikan nya pada Lisa.


"Tapi kak Putra?"


"Udah kamu pake aja, kakak nggak papa kok!" Ucap Putra sambil tersenyum.


Ini lah yang sangat di sukai Lisa dari kakaknya. Putra begitu perhatian dan selalu melindungi nya dalam situasi apapun. Lisa selalu bersyukur telah di berikan kakak yang begitu baik, walaupun sering ngeselin.


Aku sayang kak Putra


Putra menoleh ke belakang dan melihat tempat duduk di sana. "Ayo sini duduk!" Pinta Putra, lalu duduk di sana.


Lisa mengikuti perintah Putra, dan duduk di sebelah Putra.


"Kamu masih dingin nggak?" Tanya Putra.


"Masih kak."


"Yaudah sini peluk kakak."


Lisa langsung memeluk kakak nya erat. Lisa menyandarkan kepalanya di dada Putra. Dalam hati dia berharap, Putra nggak akan pernah meninggalkan nya sampai kapan pun.


"Kak Putra." Panggil nya kemudian.


"Hemm." Jawab Putra, sambil membelai rambut adik nya lembut.


"Kak Putra ngga bakal tinggalin Lisa kan?" Tanya Lisa.


"Kok nanya nya gitu?"


"Jawab kak!"


Putra menghela napas nya kemudian menjawab, "Ya nggak lah, Bolot ku sayang... Kakak nggak bakalan tinggalin kamu sampai kapan pun. Kakak bakal terus lindungin kamu dan buat kamu bahagia terus. Kakak nggak bakal biarin siapapun nyakitin kamu apalagi buat kamu nangis!" Ucap Putra dengan tegas.


"Beneran kak?"


"He-em."


"Kak Putra nggak bakalan berubah kan?"


"Never."


"Walaupun udah nikah?"


"Nggak akan!"


"Kalo gitu kak Putra pilih mana? Lisa atau kak Felice?"


Mendengar pertanyaan itu, Putra sedikit bingung bagaimana cara menjelaskan nya. "Dek... Gini, kakak nggak bakal milih salah satu dari kalian. Kenapa? Karena kamu itu sama Felice sama-sama penting di dalam hidup kakak. Tanpa salah satu nya hidup kakak nggak bakal sempurna. Kakak sayang sama kamu juga sayang sama Felice, keduanya penting bagi kakak." Ujar Putra menjelaskan.


Mendengar penuturan kakak nya, Lisa terdiam sejenak.


Tapi gimana yah? Aku agak cemburu sih liat kak Putra sama kak Felice. Terus... Ah nggak. Aku nggak boleh egois, kak Putra sayang sama kak Felice dan kak Putra hanya bisa bahagia sama kak Felice.


"Mmm... Iya deh. Tapi kak Putra janjikan nggak bakal berubah dan tinggalin Lisa?" Tanya Lisa memastikan sambil mengacungkan jari kelingkingnya.


Putra tersenyum lalu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Lisa. "Janji."


"Udah janji yah, nggak boleh dilanggar!" Ujar Lisa.


Drttt...


Tiba-tiba hp Putra yang ada di saku celana nya bergetar.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!