
Nara menghela nafas, "Gue kepo aja gitu, Lisa sama Fadil tuh gimana sih, soalnya dari kemarin gue liat mereka tuh dekeeettt banget. Seisi sekolah tuh lagi heboh sama yang ini, emang lo nggak mau tau apa?"
"Nggak sih, biasa aja." Cuek Dita.
"Dih, dalem hati tuh pasti pengen tau juga, cuma gengsi aja." Ledek Nara. "Jadi lo ama Fadil ada apaan sih? Kita butuh kepastian nih, apa jangan jangan lu pacar barunya Fadil yah?" Tanya Nara kembali pada Lisa.
"Omaigat beneran? Lu pacaran ama Fadil, wahwah hebat banget bisa milikin si bintang sekolah..." Sahut Rizal dari bangku belakang.
Lisa keheranan dengan pertanyaan itu, "Aku sama Fadil itu keluarga." Jawabnya.
"Wah yang bener aja, maksudnya keluarga itu lo sama Fadil udah nikah?" Seru Ragi histeris.
Nara menggeplak ubun-ubun Ragi, "Lo mikir yang bener ngapa sih, jangan kejauhan." Kesal Nara.
"Nggak, maksud aku si Fadil itu sepupu-an sama aku."
"Ooooowhhhh..." Balas Nara, Ragi dan Rizal berbarengan.
"Bentar lagi lo sama Dita bakal saudaraan dong." Celetuk Rizal.
"Maksudnya?"
"Kamu tau nggak Lis, si Dita itu mantannya Fadil tau, tapi tenang aja nanti juga balikan." Beritahu Nara.
"Owalah yang bener?" Kaget Lisa sembari menoleh pada Dita seakan meminta kejelasan.
Dita yang sedang memainkan ponselnya hanya mengangguk santai.
"Kok baru tau sih kalo si kutu kampret punya pacar." Gumam Lisa.
Pantesan pas di kantin kemarin teman-temannya Fadil nyebut-nyebut nama Dita. Ternyata yang mereka maksud Dita yang ini.
"Baru tau yah? Hm yaudah lu bantuin gih mereka balikan." Ujar Nara.
"Eh apaan sih lo Ra, nggak usah pake cara kayak gitu gue nggak suka yah." Sewot Dita. "Nggak nggak usah Lisa."
"Putus kenapa emangnya tuh?" Tanya Rizal dengan nada menegejek.
"Kepo lo!"
...*****...
Lisa sedang duduk termenung sendirian, pandangannya mengarah pada lapangan yang tengah digunakan oleh teman sekelasnya untuk bermain. Yah, hari ini memang adalah jadwal kelasnya untuk mengikuti praktek yang selesai beberapa menit yang lalu,waktu istirahat yang diberikan digunakan Lisa untuk beristirahat sejenak, beberapa teman kelasnya juga ada yang ke kantin dan ada pula yang pergi mengganti pakaian olahraganya.
Matanya mengarah pada Dita yang terlihat sangat gesit bermain bola basket. Terlihat keringat bercucuran tak berhenti menetes, namun ia tetap sigap bermain.
Lisa tersenyum miring melihatnya. Emang nggak salah si kampret milih dia, kayaknya dia cukup berpengaruh di sekolah ini.
Senyumnya mengembang saat mengingat bagaimana hebatnya Rey bermain basket dulu. Ia jadi rindu dengan aksi macan tutul nya itu.
"Minum dulu..."
Lamunannya buyar seketika mendengar suara itu. Ia melihat sebotol air mineral tersodor di depannya. Kemudian menoleh dan tersentak kaget melihat sipemilik suara itu.
"Fa-faro?"
"Ngapain?" Tanya Faro lalu duduk di samping Lisa.
"Kok kamu ada disini?" Bingung Lisa.
Faro tersenyum bodoh, "Aku pindah di sekolah kamu dulu itu cuma sementara, trus aku pindah lagi kesini dari seminggu yang lalu."
"Nih minum dulu." Faro kembali menyodorkan botol minuman tadi pada Lisa.
"Makasih." Setelah meneguk air itu ia kembali bertanya. "Oh iya kok kamu bisa tau aku ada disini?"
"Liat dari grub, semalem anak-anak gosipin kamu yang pindah kesini."
"Grub yang... Oh aku udah keluar hehehe..." Lisa cengengesan. "Fadil mana?" Tanya nya.
"Tuh."
Lisa mengikuti arah pandangan Faro, dari kejauhan terlihat Fadil yang tengah asyik ngobrol dengan Dita.
"Maksudnya?"
"Dari jaman smp itu dia nggak pernah mau deket sama cewek apalagi pacaran, pokoknya anti banget deh. Eh tau tau nya sekarang..."
"Sama." Faro tersenyum, pandangan nya mengarah pada Fadil dan Dita. "Dari kecil aku nggak pernah dekat dengan cewek, bahkan berteman pun tidak."
"Hahaha kok malah ikutan, kalo Fadil sih aku nggak heran kan dia emang manusia aneh, tapi kalo kamu kenapa gitu?"
Faro mengangkat kedua bahunya sekilas, "Mungkin karena aku melihat pengalaman papa aku yang ditinggal sama mama, waktu itu usia ku masih 5 tahun. Aku melihat papa begitu sayang sama mama tapi mama... yaa ntah lah nggak ada yang tau isi pikirannya gimana."
Lisa terdiam mendengarkan.
"Semenjak mama ninggalin papa, aku berpikir salah papa dimana, kurangnya papa dimana. Dan sampai saat itu aku nggak pernah percaya sama cewek bahkan aku nggak pernah percaya sama yang namanya komitmen, pacaran atau apalah itu."
"Kamu yang sabar yah..."
"Tapi itu dulu," Faro menoleh pada Lisa yang juga sedang melihatnya, "Sekarang ada satu cewek yang sepertinya sudah mengubah cara berpikir aku."
Lisa mengangkat salah satu alisnya menunggu kelanjutan ucapan Faro. "Cewek itu kamu." Faro tersenyum tulus.
"Hahahaaa, aku? Ngaco yah..." Tawa Lisa. Perasaan dari pertama dia bertemu Faro dia nggak pernah ngelakuin apa-apa. Kenapa sekarang Faro bilang cewek itu dia.
"Terserah kalo nggak percaya."
"Hahahaa iya deh, yaudah kalo gitu aku ganti baju dulu yah Ro." Lisa berlalu pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaian olahraga nya.
.
.
.
Baru saja Lisa keluar dari ruang ganti, ia sudah melihat teman temannya Fadil yang tengah berdiri di depan ruangan itu terlihat menunggu.
"Buset, ngapain disini?" Kaget Lisa.
Ardi menoleh, "Oh haii, udah selesai ganti bajunya?"
"Ngapain disini?" Tanya Lisa lagi.
"Nungguin kamu lah bep, ayo ke kantin." Ajak Bryan.
"Aku nggak laper, kalian duluan aja." Tolak Lisa.
"Aku traktir deh, kita tuh tau kalo kamu pasti belum punya teman makanya kita ajakin." Ucap Devan sambil tersenyum.
"Tidak, terima kasih. Aku mau ke kelas aja."
"Kita di suruh ama Fadil buat jemput kamu, ayolah Lis. Nanti kalo kita ke kantin trus kamu nya nggak ada bisa dibikin ayam geprek kita." Tutur Devan memelas.
"Bilangin aja kalo aku nggak mau, apa susah nya sih?"
"Hai Lisa..." Sapa Faro yang baru saja datang.
Kedatangan Faro membuat ide di kepala Lisa. "Nah, bilangin aja kalo aku itu lagi sama Faro, aku lagi males ketemu Fadil soalnya, yuk Ro." Lisa langsung menarik tangan Faro untuk pergi.
"Loh loh..."
"Yaelah kenapa harus si es balok si yang sama Lisa, kenapa bukan aku coba yang diajakin. Gagal kan PDKT nya." Kesal Bryan.
"Makanya, halunya jangan tinggi banget, nggak mungkin juga kan Lisa mau sama spesies jenis kamu." Ledek Andre.
"Udah ah, yuk ke kantin. Tong Lisa nya nggak mau."
"Harusnya aku yang disana, dampingi mu dan bukan diaaaaa...." Bryan bernyanyi dengan alay nya.
"Hallah, b*cot loh, yuk ahh..."
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!