Love In Many Ways

Love In Many Ways
Tak Sadar



Rumah Sakit👈


Lisa, Rey dan Vhino sudah berhasil ditangani. Fadil dan keempat teman lain nya sedang berada di depan ruangan Lisa.


"Dil, kita mau pulang dulu yah." Pamit Bryan.


"Iya, ntar kita balik lagi kesini." Sambung Reza.


"Iya. Makasih yah semuanya, kalian udah banyak membantu. Aku bangga punya teman kayak kalian." Ucap Fadil sambil tersenyum tulus.


"Ah elah. Kamu kayak yang sama siapa aja. Kitakan temenan udah lama, jadi nggak canggung gitu lah." Kata Andre.


"Iya nih. Apaan coba ngomong kayak gitu." Sambung Devan.


"Yaudah kita pulang dulu yah, takut Mama aku nyariin." Sahut Reza.


"Ih anak Mama ni yee." Ledek Bryan.


"Apa sih kamu ih."


"Yaudah kita pulang dulu yah, Dil. Ntar balik lagi kesini." Pamit Devan.


"Aku kalo sempet kesini lagi. Kayaknya aku mau tidur deh." Ucap Bryan.


"Wih gila, ini udah jam berapa?" Tanya Reza sambil melihat jam tangan nya. "Astaga, udah jam 11. Gila, aku mau tidur."


"Ih bawel yah, udah sana pulang. Mandi dulu baru tidur." Sanggah Fadil.


"Yaudah deh, kita pulang yah."


"Hm."


"Babay..." Bryan, Reza, Andre dan Devan melambaikan tangan nya pada Fadil yang masih berdiri menatap kepergian mereka.


Setelah melihat teman-teman nya telah berlalu, Fadil masuk kedalam ruangan. Matanya tertuju pada Lisa yang masih menutup matanya, disamping nya ada Faro yang tengah duduk sambil menatap Lisa dengan tatapan sendu.


"Kalo mau uwwu-uwwu bukan disini tempat nya." Sindir Fadil saat melihat Al dan Sarah yang sedang berada di sofa. Sarah menyandarkan kepalanya di bahu Al sedangkan Al sibuk meremas-remas jari-jari tangan Sarah.


"Iri bilang bos." Sahut Al sinis.


"Ih ngapain iri. Aku juga punya kok. Udah kalian pulang sana. Pulang mandi, trus istirahat ini udah larut malam." Pinta Fadil.


"Tapi aku mau disini aja, mau liat keadaan Lisa." Kata Sarah.


"Nggak papa. Biar aku aja yang jagain, kalian pulang aja. Ntar aku kabarin kalian kok." Ucap Fadil.


"Iya bener juga, pasti kamu capek banget. Aku anterin pulang aja." Ucap Al.


"Tapi..."


"Pulang aja yah. Besok kita kesini lagi, sekalian ajakin Mira." Kata Al.


"Hm yaudah deh. Mira mana, Dil?" Tanya Sarah pada Fadil.


"Ada diruangan nya Vhino." Jawab Fadil.


Al berdiri diikuti oleh Sarah. "Yaudah kita pulang dulu."


"Oke."


"Jangan lupa kabarin yah." Ucap Sarah.


"Iya-iya, udah sana. Pintu nya jangan lupa ditutup." Pinta Fadil sambil menjatuhkan dirinya diatas sofa.


"Ro, kamu nggak mau pulang?" Tanya Fadil saat Sarah dan sudah pergi.


Tak ada jawaban, Fadil kembali bertanya. "Faro, kamu nggak mau pulang?" Tanya nya dengannya suara yang lebih tinggi.


Faro terlihat mengambil jaketnya yang terletak di sofa. "Yaudah aku pulang dulu. Jangan lupa kabarin kalo Lisa udah sadar."


Meskipun heran dengan ucapan Faro barusan tapi Fadil tetap mengiyakan. Setelah mendapat agnggukan dari Fadil, Faro keluar ruangan tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Meninggalkan begitu banyak pertanyaan untuk Faro. Fadil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sembari berpikir.


Kenapa si es batu begitu khawatir sama Lisa? Baru kali ini aku liat dia seperhatian itu sama orang. Apa jangan-jangan dia suka sama Lisa? Tapi ah nggak mungkin. Mana mungkin dia bisa suka sama Lisa, masa secepat itu hatinya luluh hanya karena cewek galak kayak Lisa? Primadona di sekolah aja yang sangat cantik dan berbakat udah ngelakuin segala cara buat bisa meluluhkan hati Faro dan yah nggak pernah mempan. Faro tetap dingin seperti biasanya.


"Eh astaga, keadaan Aunty gimana?" Sahut Fadil kaget. Dia baru ingat dengan Mommy yang sedang berada diruangan lain. "Aku harus melihatnya." Gumam Fadil. Kemudian menoleh pada Lisa yang tangan nya dibalut dengan selang infus dan kedua matanya masih saja tertutup.


"Lisa... Aku keluar dulu yah, bentar doang kok." Setelah mengucapkan kalimat itu pada Lisa, Fadil berjalan keluar melangkahkan kakinya ke arah ruangan Mommy Marissa.


"Kak Putra, bagaimana keadaan Aunty?" Tanya Fadil.


Putra tak menjawab, ia tetap diam dan memegangi wajahnya. Putra merasa gagal menjaga kedua wanita yang ia cintai, pertama adik nya dan sekarang Mommy nya. Dia benar-benar merasa sudah gagal menjalani amanah dari Daddy untuk menjaga keluarga nya.


"Kak Putra? Aunty baik-baik aja kan?" Tanya Fadil lagi.


"Mommy... Mommy akan segera di operasi untuk mengeluarkan peluru yang ada di perutnya." Jawab Felice.


"Ha? Jadi Aunty sekarang..." Fadil menggantung kalimatnya.


"Sekarang Dokter masih mempersiapkan nya." Jawab Felice.


"Kapan operasi nya dilaksanakan?"


"Kemungkinan besok pagi." Jawab Felice.


"Kak, apa Aunty akan baik-baik saja?" Tanya Fadil pelan.


"Kenapa tidak?! Kita semua harus yakin kalo Mommy akan baik-baik saja. Mommy bisa melewati ini semua dan kita bisa berkumpul lagi bersama, kita harus percaya kalo Mommy pasti baik-baik saja." Ucap Felice menenangkan.


Putra terlihat meneteskan air mata, dia sudah tak sanggup membendung air matanya lagi. Sedangkan Fadil mengusap wajahnya frustasi. Ia tak menyangka bahwa semua akan menjadi serumit ini.


.


.


.


Pagi Hari🌄🌞


Rey membuka matanya perlahan. Ia menatap tangan nya yang terbalut infus, kemudian menyapu seisi ruangan dengan pandangannya. Matanya terpaku saat melihat Vhino yang berada tepat di samping nya yang terbaring dan belum sadarkan diri. "Vhino." Gumam Rey.


Cklek!


Pintu terbuka. Terlihat seorang suster masuk kedalam ruangan menghampiri Rey. "Eh mas nya sudah sadar." Sapa nya dengan ramah.


"Dimana teman-teman saya, Sus?" Tanya Rey.


Suster yang sedang sibuk mengganti cairan infus Rey, kembali menjawab. "Teman nya? Oh saya tau. Kemarin ada seorang perempuan yang juga masuk ke ruang sakit dan bersamaan dengan anda. Apa benar perempuan itu yang dimaksud?"


"I-iya. Dimana dia?"


"Ada di ruang perawatan lain." Jawab nya.


"Mmmm... Apa boleh saja melihatnya? Tolong antarkan saya yah, Suster." Tanya Rey.


"Tapi anda baru saja sadar. Nanti sa-..."


"Tidak papa. Saya sudah merasa baikan kok. Tolong yah, Sus."


Suster tersebut terlihat berpikir. "Ya sudah kalo begitu saya ambil kursi roda dulu."


.


.


.


Rey duduk di kursi roda yang di dorong oleh Suster yang tadi. Suster dengan sabarnya membuka pintu ruang perawatan Lisa dengan pelan. Kemudian mengantarkan Rey masuk kedalam dan berhenti di samping ranjang tempat Lisa terbaring lemas.


"Saya keluar dulu yah." Ucap Suster berpamitan.


"Terima kasih." Ujar Rey.


Rey menatap Lisa yang masih saja menutup matanya dengan sendu. Tergurat wajah sedih di garis wajah Rey. Maafin aku, Lis. Aku udah gagal jaga kamu. Aku gagal, aku gagal jadi suami. Ini semua gara-gara aku, kamu kayak gini gara-gara aku.


"Icha, ayo bangunlah." Rey menggapai tangan Lisa yang terasa dingin.


"Icha, jangan buat aku khawatir. Kamu bangun dong. Aku sedih liat kamu kayak gini."


"Maafin aku..." Ucap Rey dengan lirih sambil mencium punggung tangan Lisa.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!