Love In Many Ways

Love In Many Ways
Ternyata



"Yaudah aku anterin."


"Oh, eng-enggak. Nggak usah." Dinda menolak.


"Udah nggak papa. Daripada kamu sendirian disini, sekolah kan udah sepi, ntar ada preman yang godain kamu. Mau? Kalo kamu di culik gimana?"


Mendengar ucapan Rey, Dinda terlihat sedikit panik. "Mmm... I-iya, yaudah deh. Tapi... tapi Lisa, Lisa nggak bakal marah kan?" Ucap Dinda sedikit khawatir.


Dinda selama ini memang sudah tau kalau Rey dan Lisa sudah pacaran, makanya Dinda berusaha jaga jarak antara dirinya dan Rey.


"Udah nggak usah di pikirin. Rumah kamu dimana?" Tanya Rey.


"Di jalan ×××××."


"Yaudah kalo gitu, ayo naik!" Pinta Rey.


"I-iya." Dinda naik ke atas motor Rey dengan gugup dan perasaan yang was-was, berusaha untuk jaga jarak.


Motor pun melaju menuju arah rumah Dinda.


Di sepanjang perjalanan tak ada satupun dari mereka yang mau membuka pembicaraan.


Mereka hampir sampai, namun tiba-tiba gerimis datang.


"Kamu pegangan yang kuat. Ini mau hujan." Ucap Rey pada Dinda. Lalu Rey melajukan motornya agak cepat.


"Rey, jangan cepat-cepat. Aku takut!" Sahut Dinda.


"Makanya kamu pegangan."


Dengan ragu, Dinda memegang baju Rey dan meremasnya dengan kuat, karena dia merasa takut.


.


.


.


🏠Rumah Keluarga Martin🏠


Akhirnya setelah empat menit berlalu akhirnya mereka sampai juga di rumah Dinda. Baju mereka sudah agak basah akibat gerimis tadi.


"Rey, ayo masuk dulu." Ajak Dinda.


"Aku langsung pulang aja."


"Kamu masuk aja dulu, baju kamu agak basah ntar masuk angin loh. Nanti di keringin di dalam." Ujar Dinda.


"Yaudah deh."


Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah.


"Kamu duduk aja dulu, aku ambilin handuk bentar." Pinta Dinda.


"Iya, makasih."


Rey berjalan ke arah sofa lalu duduk di atasnya. Sedangkan Dinda berlalu pergi mengambil handuk.


Rey duduk menunggu Dinda sambil mengecek hp nya, mungkin ada pesan atau apalah itu.


"Nih Rey." Dinda datang dan menyodorkan handuk pada Rey. "Maaf yah Rey, gara-gara aku kamu jadi basah kayak gini."


Rey mengambil handuk yang di disodorkan oleh Dinda."Nggak papa kok."


"Maaf yah Rey, aku nggak punya baju ganti buat kamu. Soalnya di sini nggak ada baju laki-laki, ada sih ada tapi punya Papa. Hehee..." Ucap Dinda dengan perasaan bersalah, lalu Dinda duduk di sofa lain berhadapan dengan Rey.


"Udah nggak usah. Baju aku juga nggak terlalu basah kok."


"Eh iya tunggu bentar yah." Dinda berdiri dari duduknya, lalu berjalan ke arah dapur.


Tiba-tiba pintu rumah terbuka, Rey menengok untuk melihat siapa yang datang.


Dan muncullah dua orang di sana, seorang laki-laki dan seorangnya lagi perempuan.


"Eh ada tamu." Ucap perempuan tersebut. Mereka berdua berjalan ke arah Rey.


Rey langsung berdiri dari duduknya, kemudian menyalami keduanya. "Halo Om, Tante." Ucap Rey dengan sopan.


"Halo." Sapa mereka berdua.


Dinda datang dari arah dapur membawa secangkir jahe hangat. "Eh, Papa sama Mama udah pulang!" Dinda meletakkan cangkir itu di atas meja. Kemudian berjalan menyalami Papa dan Mamanya.


"Ini siapa?" Tanya Papa nya Dinda.


"Temannya Dinda, Pa. Namanya Rey."Ucap Dinda.


"Teman?"


Dinda langsung bingung harus menjelaskan bagaimana lagi, karena selama ini Dinda memang tidak pernah membawa temannya ke rumahnya apalagi kalau seorang laki-laki. Makanya kedua orang tua nya Dinda agak bingung melihat Rey.


"Jadi gini, tadi di sekolah nggak ada yang jemput Dinda. Trus Dinda mau telpon pak Jaya eh hp Dinda lowbet. Jadi ya udah daripada Dinda pulang sendiri, mending bareng Rey." Ujar Dinda menjelaskan.


"Oh jadi gitu..."


"Wah... Makasih yah Rey!" Ucap Papa nya Dinda yang bernama Daniel sambil tersenyum.


"Iya. Sama-sama Om Tante!" Kata Rey.


"Loh? Dinda? Kamu basah juga? Sana gih ganti baju, ntar masuk angin loh." Pinta Mama nya Dinda yang bernama Dian, saat melihat baju Dinda terlihat agak basah.


"Yaudah Dinda ganti baju dulu yah. Papa sama Mama temenin Rey dulu."


"Oke."


Dinda berjalan ke arah kamarnya, ingin mengganti seragam sekolahnya yang juga agak basah.


"Rey, ayo duduk!" Pinta Bu Dian.


Rey mengangguk dan kembali duduk di tempat duduknya tadi. Pak Daniel dan Bu Dian juga berjalan ke arah sofa dan duduk di sofa lain berhadapan dengan Rey.


"Oh iya Rey, kamu kelas berapa?" Tanya Pak Daniel.


"Kelas 11 IPA Om." Jawab Rey.


"Satu kelas sama Dinda dong." Ujar Bu Dian.


"Nggak Tante. Kalo saya kelas 11 IPA 2." Kata Rey lagi.


"Oh iya. Mmm... Papa kamu nama nya siapa?" Tanya Pak Daniel berusaha akrab dengan Rey.


"Ayah saya namanya Ranveer."


Pak Daniel merasa tidak asing mendengar nama itu disebut. "Kayak pernah dengar," Gumam nya pelan. "Nama lengkap nya siapa nak?" Tanya nya lagi merasa penasaran.


"Ranveer Rahardian Agrananda. Emang kenapa Om?" Rey mengerutkan dahinya bingung.


"Ooh kamu anak nya Pak Rahardian."


"Om kenal Ayah saya?"


"Iya iya saya ingat. Pak Rahardian itu teman saya, tapi sekarang sudah jarang ketemu. Nggak nyangka ternyata bisa ketemu anaknya." Ucap Pak Daniel.


"Oh, Mama juga tau itu, waktu dulu perusahan kita hampir terpuruk, Pak Rahardian dulu pernah nolongin perusahaan kita kan Pa?" Ucap bu Dian tak ingin kalah.


"Iya bener itu. Saya tak pernah melupakan jasa nya itu. Saya bener-bener berterima kasih sama Ayah kamu, karena berkat bantuannya dulu hidup kami jadi lebih baik sekarang."


Papa nya Dinda pun menceritakan semua yang di alaminya dulu kepada Rey. Bagaimana dia bisa hampir bangkrut, kemudian Ayahnya Rey memberikan bantuan, dan semenjak saat itu mereka bersahabat sampai saat ini, namun sekarang jarang ketemu.


Dinda datang dengan pakaian yang berbeda dari yang tadi. Artinya dia sudah mengganti seragam sekolahnya. Dinda ikut duduk di sofa yang berbeda.


"Rey, kamu udah makan? Pasti belum kan? Bentar di siapin dulu makanannya!" Mama berdiri dan akan berjalan ke arah dapur.


"Eh nggak usah Tante. Rey udah mau pulang juga kok. Nanti makannya di rumah aja." Cegah Rey.


"Udah nggak papa. Tunggu sebentar yah." Mama berjalan ke arah dapur di susul oleh Dinda. Dinda membantu Mama nya untuk menyiapkan makanan.


.


.


.


Setelah selesai makan Rey pamit untuk pulang ke rumah karena hujan sudah reda.


"Makasih banyak yah Om Tante, Dinda. Rey pulang dulu." Ucap Rey berpamitan saat berjalan ke arah luar rumah dan di iringi oleh Dinda, Pak Daniel, dan Bu Dian.


"Justru yang berterima kasih itu kami. Makasih yah udah anterin Dinda pulang." Ucap Pak Daniel.


"Sama-sama."


Saat Rey sudah naik ke atas motor nya. Pak Daniel berkata lagi. "Hati-hati yah. Salam buat Ayah kamu." Ucap nya.


"Iya Om. Rey pergi dulu yah. Assalamualaikum..." Rey menyalakan motornya melaju pergi.


.


.


.


Sesampainya Di Rumah...


Rey masuk ke dalam rumah dan memberi salam. "Assalamualaikum." Sahutnya saat membuka pintu.


"Waalaikumussalam." Jawab Bunda nya setengah berteriak. Dan berjalan menghampiri Rey.


"Loh? Rey? Kok pulangnya telat? Kamu kemana aja?" Tanya Bunda dengan nada khawatir.


"Rey abis anterin teman Rey kerumahnya"


"Tapi kok telat pulang?" Tanya Aqeela yang juga ada di sana.


"Kan hujan. Jadi aku mampir dulu bentar sampe hujannya reda."


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!