Love In Many Ways

Love In Many Ways
Persiapan



Kalau aja kalian berdua nggak pernah muncul dalam hidup gue, hidup gue pasti sempurna! Kalian berdua jahat! Kalian berdua udah hancurin hidup gue tau nggak, kalian berdua rampas semua kebahagiaan gue! Dasar nggak tau diri!" Dinda membela dirinya seolah-olah ia korbannya.


Rey berusaha menahan amarah Lisa agar tak terjadi pertengkaran di sini. Lisa menghela nafas panjang dan berusaha mengontrol emosinya.


"Din gini yah, hancur atau enggaknya hidup lo itu tanggung jawab lo sendiri. Lo nggak bisa salahin orang lain atas hidup lo, semakin tinggi ekspektasi lo untuk hidup, maka semakin besar pula rasa sakitnya saat lo jatuh! Jadi nggak usah sok jadi korban di sini!" tegas Lisa.


Cha udah Chaa... Biarin aja, kita pulang sekarang yah. Ayo pulang!" ajak Rey untuk mengalihkan perhatian Lisa.


"Hancurnya hidup lo itu gara-gara ulah lo sendiri. Gue diem karena masih ada sisi manusiawi dalam diri gue, gue kasihan sama lo karena gue pernah ada di posisi lo. Tapi lama-lama lo nyolot yah, nggak tau dikasihani."


Dinda tertampar dengan kata-kata Lisa, orang lain yang melihat kejadian ini langsung melontarkan pendapat masing-masing.


"Lo tau nggak, kalo gue udah bener-bener kesel sama tingkah lo yang sok itu, gue juga bisa sinis. Gue emang gak savage Din, tapi sekalinya benci sama orang, jatuhin mental orang pake kata-kata itu gampang buat gue."


Dinda terdiam seribu bahasa tak bisa melawan. Sedangkan Lisa semakin kesal saat melihat wajah Dinda, "Lo tau apa yang selalu dipikiran jahat gue? Semoga lo jatuh, semoga lo mati, semoga sakit, semoga hidup lo lebih hancur dari gue, dan semoga lo jadi orang paling menderita di dunia ini. Tapi kapan gue pernah ngomongin kata-kata itu secara langsung ke lo? Nggak kan? Lo nggak tau apa-apa tentang gue, jadi tutup mulut m*rahan lo itu!"


Rey berusaha menengahi semuanya agar tak semakin parah, "Dinda lo itu dari keluarga baik-baik. Jaga attitude lo, percuma good looking tapi attitude blasteran neraka!"


"Satu lagi! Gak usah sok bermuka dua, bingung gue mau nampar muka yang mana dulu. Lagian skincare lo nggak boros ya ngerawat 2 muka? Muka jelek aja jual omongan, lo cantik jual apa? Jual diri? Gak usah sok cantik, kita cuma beda merek skincare! Rey, yuk pulang... Males gue disini!" ketus Lisa.


Dinda seolah-olah mati langkah. Tak tau harus apa, harga dirinya benar-benar hancur didepan khalayak ramai.


"Liat aja! Gue bakal kalahin lo dan buat lo jatuh lagi!" Dinda kembali berteriak penuh kekesalan.


Lisa menghentikan langkahnya, ia berkata tanpa berbalik. "Udah jangan halu aja, hidup lo udah susah urus aja dulu hidup lo itu, gak usah sok-sokan bergelimang kehaluan!"


Lisa melanjutkan langkahnya dengan cuek meninggalkan Dinda yang semakin marah. Dinda malu karena dilihat oleh banyak orang, tujuannya untuk sekedar refresing di tempat itu akhirnya sirna bukannya lebih rileks ia malah semakin emosi. akhirnya ia pun memutuskan untuk pergi dari alun-alun.


...*****...


Hari Perlombaan


Hari ini adalah hari dimana lomba cerdas cermat tingkat SMA dilaksanakan. Lomba dilaksanakan di sekolah Rey, yah SMAN Bakti Husada SMA nomor satu di kota tersebut. Lisa sedang berada di ruang rapat bersama dengan kedua temannya yang lain yang juga mengikuti lomba tersebut, serta bersama dengan anggota OSIS lainnya. Saat ini kepala sekolah sedang memberi pengarahan kepada para siswa dan siswi nya sebelum melepas 3 orang utusan sekolah untuk mengikuti perlombaan tersebut, serta mengarahkan beberapa anggota OSIS juga guru yang ikut mendampingi disana.


Setelah berdoa dan menyalami kepala sekolah, Lisa keluar dari ruangan itu bersama dengan kedua temannya. Satu guru pendamping dan 2 orang anggota OSIS yang juga akan ikut mendampingi disana.


"Do'a in yah teman-teman." Ucapnya pada Fadil juga teman-teman nya sedari tadi menunggu nya diluar.


"Tentu saja. Pokoknya kamu harus semangat lakukan yang terbaik untuk hasil itu jadi urusan belakangan." Ucap Fadil.


"Pasti! Makasih lohhh..."


"Ayang Lisa harus jadi juara supaya bisa mengharumkan nama sekolah yahh, harus selalu semangat biar bisa banggain semua orang." Kata Bryan juga memberi semangat.


"Iya Lis, kamu pasti bisa. Semangat yahh!" Sahut Andre.


"Kamu bisa!" Ardi menggenggam tangannya dan memberi semangat pada Lisa.


"Lis gimana? Udah siap?" Devan tiba-tiba datang dan bertanya. Lisa menjawab dengan mengangguk.


"Van, lu harus jagain sepupu gue yah disana, nggak boleh lecet sedikit pun, trus dia juga nggak boleh kelaparan, dan dia harus pulang dengan selamat." Pesan Fadil.


"Astgfirullahhh ya Allah, lu ngomong kayak mau lepas mereka perang Badar aja. Mereka tuh cuma di sekolah sebelah nggak usah berlebihan dehh." Andre cekikikan.


"Ya pokoknya Lisa nggak boleh kenapa-napa, ayahnya kan amanahin dia sama gue. Coba gue boleh ikut kesana yah gue bakal ikutlah temenin dia. Ingat yah Devan gue titip Lisa sama lu disana dan lu nggak boleh nelantarin dia."


"Iya dehh siap pak boss, tenang aja saya kan orang yang bertanggung jawab." Ucap Devan.


"Apaan sih Fadil, nggak boleh ngomong gitu, nggak enak sama peserta lain. Lagian kan disana ada Rey juga." Kata Lisa.


"Nggak papa kok Lis, lagian juga itu memang udah jadi tugas aku jadi ketua OSIS. Yaudah yuk berangkat, yang lain udah pada nunggu." Ajak Devan.


"Baek-baek lo, jagain bebep aku Devan. Lisa kamu punya uang jajan kan?" Tanya Bryan.


"Apasih Bryan, kayak anak SD aja ditanyain gitu. Udah yah aku duluan yah teman-teman." Pamit Lisa. Ia berjalan pergi mengikuti Devan dari belakang.


"Semangat."


"Kamu pasti bisa kok!"


Lisa kembali menoleh dan tersenyum.


...*****...


SMAN Bakti Husada...


Mereka tiba di lokasi perlombaan, mereka langsung menuju ruang yang telah ditetapkan sebagai ruang lomba diadakan.


"Kalian tunggu disini saja dulu, biar bapak sama Devan masuk untuk ngecek terlebih dahulu." Ucap Pak Setyo yang sebagai guru pendamping.


"Iya pak..."


"Baim kamu disini aja yah temenin mereka." pinta Devan pada teman OSIS nya.


"Oke Van."


Sambil menunggu, mereka kembali membaca dan mempelajari buku mereka untuk mempersiapkan diri mereka. Lisa juga ikut belajar sambil mendengarkan musik.


Dinda dan Lisa sama-sama mengambil kategori umum, sedangkan Rey mengambil kategori Sains. Yah Rey juga ikut berpartisipasi pada lomba tersebut, yah apalagi kalau bukan suruhan dari Lisa. Padahal sesungguhnya Rey tak ingin ikut. Hari ini anak-anak benar-benar heboh karena berita tentang Dinda yang akan bertanding melawan Lisa sudah tersebar luas.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!