
"Hahahaa.. Lucu juga yah. Jangan berpikir seolah-olah lo itu cewek paling sempurna, kenapa? Sekali Lisa melangkah maju, lo nggak ada apa-apanya bagi dia! Dan gue berdoa, semoga setelah Lisa mau maju, lo nggak terlalu jatuh kebawah!"
Rey berbalik dan hendak pergi, sementara Dinda masih terdiam tak percaya dengan semua penghinaan ini. "Rey! Gue bakal buktiin kalo Lisa nggak ada apa-apanya dibanding gue! Dan lo bakal nyesel nolak gue!" teriak Dinda emosi.
Rey menghentikan langkahnya tanpa berbalik, "Terserah lo ngomong apa gue nggak peduli. Lakuin apapun sesuka lo, dan juga sorry kalo tadi Lisa hampir bunuh lo. Bersyukur aja karena lo masih hidup! Dan juga jangan terlalu pancing Lisa, dia bisa lebih kejam dari siapapun saat udah mutusin bakal musuhin lo!" peringat Rey..
"Rey... Rey!!!"
Rey tak lagi menggubris panggilan Dinda, ia hanya pergi dengan wajah dinginnya meninggalkan Dinda. la benar-benar paling malas saat meladeni gadis bermuka dua seperti Dinda. Hari ini ia baru tau dan sadar ternyata Dinda tak sebaik dan tidak sesempurna yang ia lihat selama ini.
Dinda menghentakkan kakinya kesal, "Lihat aja, gue bakal buat Lisa jadi siswi dengan reputasi paling jelek di sekolah in! Gue bakal buat nama dia jadi rusak di sekolah ini!" Gumam Dinda.
...*****...
Di Jalan...
Lisa berlari sekencang-kencangnya untuk meluapkan rasa amarahnya yang bergumul didada. la memesan taksi dan pergi ke makam kedua orang tuanya. Ia menangis sejadi-jadinya disana tanpa takut diketahui siapapun.
Putra yang mendengar kabar seperti itu pastinya terkejut, ia langsung membawa mobilnya pergi kesemua tempat yang sering dikunjungi Lisa saat tau Lisa telah pergi dari sekolah. Ia juga mengarahkan asisten nya agar menyuruh orang untuk membantu mencari keberadaan adik kesenangannya.
Putra mencari kesemua tempat namun hasilnya nihil, tak ada Lisa sama sekali. Tempat terakhir yang ia kunjungi adalah makam kedua orang tuanya.
Dan benar saja, dari kejauhan ia melihat Lisa menangis diatas makam ibunya. Jelas saja Lisa terlihat sangat-sangat terpukul. Putra merasa sesak seketika melihat adiknya, ia merasa gagal menjalankan amanah kedua orang tuanya untuk menjaga Lisa. Bahkan Lisa sedang dalam masalah pun ia tak tau.
Dad, Mom... maafin Putra. Putra ngerasa gagal. Lisa kayak gini pun Putra nggak tau. Ah payah! Tapi Putra janji, Putra akan terus berusaha untuk tetap ada buat Lisa apapun yang terjadi. Putra akan tetap jaga Lisa sampai kapan pun.
Putra berjalan mendekat dan merangkul pundak Lisa dari samping, "Ngapain nangis di sini? Kamu anggep kakak apa? Kakak masih ada loh. Kakak juga bisa jaga kamu, dek."
Lisa menatap mata Putra dengan mata merahnya setelah menangis lama, "Kak Putra..." rengeknya. la langsung menangis keras sambil memeluk Lisa.
Putra mengusap punggung adiknya lembut, "Udah jangan nangis lagi ya, lain kali kalo ada apa-apa tuh cerita sama kakak, jangan kayak gini. Kakak nggak suka kalo kamu terus-terusan ngerasa sendiri. Kakak jadi ngerasa nggak berguna. Ada masalah yah cerita, kakak nggak mungkin bisa liat kamu kayak gini..."
"Kita pergi dari sini sekarang! Kita makan oke, aku nggak mau adik ku mati kelaparan! Nanti banyak tersebar cerita konyol, 'adik dari seorang CEO meninggal karena lupa makan. Setelah kepergian sang adik, Putra semakin kaya dan tampan'!" Gurau Putra.
"Ih kak Putra..." Lisa memukul dada Putra ringan karena kesal.
Putra mengusap air mata Lisa lembut, "Udah yok makan! Kagak makan, aku ambil semua warisan kamu kalo kamu udah mati!"
Lisa masih cemberut tapi ia merasa membaik, "Aku hantuin kak Putra tiap hari ya!"
"Lah kan udah mati, mau ngapain? Kamu ambil buat dugem di alam kubur apa gimana?" Gurau Putra.
"KAK PUTRA!!!"
"Hahahaaa... Oke-oke yuk pergi, mau kakak gendong nggak nih?"
Lisa mengangguk, "Boleh juga."
Putra berjongkok dan menyiapkan punggungnya untuk menggendong Lisa.
Karena Lisa sedang malas berjalan, ia naik ke punggung Putra, "Awas jatoh!" Ucap Lisa sambil mengusap air matanya.
"Sudah siap menuju istana, tuan puteri?"
"Siap pangeran!"
Lisa memukul ringan pundak Putra saat mendengar ucapan Putra barusan, "Duh sakit! Jangan di pukul tuan puteri. Oke siap ya? Brum-brum... Bruuuuummmmm...."
Putra berlari sambil menggedong Lisa keluar dari area pemakaman. Lisa mengingat masa kecilnya dulu, saat ia jatuh dari sepeda, Putra juga pernah menggendongnya seperti ini dan berlari-lari agar Lisa tak sedih lagi.
Lisa tertawa lepas dan memeluk erat leher Putra karena takut jatuh, "Woy jangan kenceng-kenceng meluknya! Nggak lucu kalo aku mati cuma gara-gara gendong kamu!"
"Hahahaaa....."
Lisa tertawa mendengar lelucon Putra yang terdengar receh namun menghiburnya. Putra memang sangat paham kalau Lisa itu mudah down, dan jangan sebut ia Putra kalau tak bisa menghibur adik kecilnya.
"Kita akan kemana tuan puteri? Menuju warteg apa alam baka neng?" Tanya Putra sambil bergurau.
Lisa mencubit gemas Putra karena agak kesal, Putra pun mengaduh karena merasa sedikit sakit, "Aduh... Galak bener neng! Kakak lempar kamu ke lubang kuburan lama-lama!"
"Jangan...."
"Ya udah yuk makan!"
...*****...
Di Food Court!
Putra membawa adiknya pergi ke mall dan makan di Food Court, ia memesan begitu banyak makanan. Bahkan Lisa sampai bingung mulai makan dari mana.
"Kak Putra yang bener aja! Lisa nggak habis kerja kuli, Lisa cuma habis nangis. Kenapa makannya segini banyak? Lagian Lisa juga gak mood makan!" Keluh Lisa dengan wajah malas.
"Ini buat balikin mood booster kamu! Makan itu selain memperkuat fisik juga bisa membuat mental lebih baik lagi. Kamu kan abis nangis tadi. Udah ah yuk makan, kakak pesenin banyak makanan kesukaan kamu nih!"
Lisa menghela nafas, "Hah... Kenapa nggak makan di resto aja enak! Kan sama aja, di resto Lisa malah bisa request makanan sendiri!"
"Oh iya ya! Hehehe gapapa deh, sesekali makan di luar! Nih ada steak ayam, nasi goreng, kentang goreng, jamur crispy, brokoli crispy, tteokpokki, burger, es buah juga ada, jus alpukat, jus buah naga, atau mau es krim? Kakak pesenin lagi! Mau es krim?"
"Udah lah kak! Ini aja belum di makan, malah mau nambah! Jangan berlebihan!"
"Biar kamu kenyang dan nggak kelaparan. Apapun pasti ku berikan untuk adikku tersayang!"
"Ya kali kak, aku makan segini banyak! Udah yuk makan bareng!"
"Oghey!"
Lisa menahan tawanya mendengar Putra mengatakan kata 'Oghey' dengan nada seperti orang yang tidak niat.
Mereka berdua makan bersama dan memaksakan diri untuk menghabiskan semuanya karena Putra yang memesan makanan terlalu banyak. Mereka makan sambil sesekali saling menyuapi dan bergurau.
"Kak... Lisa udah kenyang banget, beneran deh!" Keluh Lisa yang sudah berusaha menghabiskan banyak makanan.
"Sama! Kakak juga udah nggak kuat! Bungkus aja lah bawa pulang. Sayang kan, soalnya ini mahal-mahal loh kakak beli!"
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!