Love In Many Ways

Love In Many Ways
Terbaik



"Gak jelas." Ucap Al.


"Maksudnya tuh jagain Lisa." Ucap Vhino.


"Ya tinggal ngomong gitu kan bisa. Nggak usah di buat runyam." Kesal Ghea.


Mira terlihat berpikir. "Tapi... Apa hubungannya sih? Itu lagu sama ucapan nya Vhino?" Tanya Mira bingung.


"Udah, nggak usah di pikirin. Vhino kalo ngomong emang nggak pernah nyambung." Sahut Ghea.


"Kamu kok gitu sih beip?" Tanya Vhino dengan manja.


"Geli aku liat nya." Ledek Sarah.


"Ntar aku colok mata kamu." Geram Vhino.


"Teman-teman aku mau pulang dulu yah, dah..." Ucap Lisa berpamitan.


"Aku juga yah guys..." Sambung Al.


"Di jagain anak orang." Pesan Vhino.


Lisa dan Al sudah berjalan keluar gedung.


"Hati-hati ntar khilaf." Teriak Ghea.


"Astaggirullah hal azim. Kamu ini berdosa banget." Ucap Sarah.


"Kamu jangan dzolimi!" Jawab Ghea.


"Dzolimi dzolimi Solehah." Sahut Vhino.


...*****...


Waktu terus berlalu, kini tiba saat nya untuk acara wisuda. Para wisudawan memakai jas lengkap sedangkan wisudawati memakai kebaya.


Putra masuk kedalam gedung dengan perasaan sedikit tidak karuan.


"Widdih, si comel udah dateng nih." Sapa Dion saat melihat Putra. Dion, Andra dan Zidan sudah datang dari tadi.


"Keren banget yah. Makin tampan dong." Ujar Andra.


"Putra, coba kamu lihat, diantara kita bertiga siapa yang paling tampan?" Tanya Zidan.


Putra menatap mereka bertiga denagn tatapan tajam.


"Mereka berdua memakai setelan jas yang model nya sama dengan aku, aku rasa itu menyoroti kekurangan mereka." Ucap Dion dengan bangga nya.


"Yaelah, kamu hanya takut badan gagah ku akan membuat mu terlihat seperti pengecut." Ujar Andra sembari memperbaiki jas nya.


"Berhenti lah kalian berdua. Setelan jas seperti ini terlihat paling cocok pada laki-laki dewasa seperti aku." Sahut Zidan lalu memperbaiki rambut nya.


Putra mengusap keningnya frustasi mendengar ocehan ketiga temannya itu. Tapi, tiba-tiba tatapan mata Dion terpana pada seseorang yang berjalan masuk ke dalam gedung.


"Guys, kalian harus lihat itu." Ucap Dion tanpa mengalihkan pandangan nya sedikitpun dari seseorang tersebut.


"Kenapa?"


"Liat apa?"


"Itu tuh. Cantik bener!"


Semua mata tertuju pada gadis yang berjalan masuk gedung.


"Felice!" Panggil Putra pada Felice.


Felice menoleh pada sumber suara, lalu berjalan ke arah Putra.


"Wah, cantik yah." Ucap Andra takjub.


"Iya, menawan guys." Ucap Zidan.


"Membuatku terpesona." Ucap Dion tanpa sadar.


Mendengar ucapan Dion, sontak Putra langsung menggeplak ubun-ubun Dion. "Sekali lagi kamu bilang gitu, kaki mu aku buat patah." Ucap Putra sinis.


Dion mengusap ubun-ubunnya sambil mengeluh. "Sadis bener."


"Dia milik ku bukan milik mu...Dia untuk ku bukan untuk mu..." Zidan bernyanyi dengan riang.


"Pergilah kamu jangan kau ganggu kalo nggak mau aku geplak. Haha..." Sambung Andra sembari tergelak, disusul oleh gelak tawa Andra.


"Teman nggak ada akhlak kalian." Kesal Dion masih mengusap kepalanya, yang tersisa rasa ngilu dan perih di sana.


"Ututuh... Sakit yah..." Ledek Andra.


"Kacian banget cih." Zidan juga kembali meledek.


Felice yang melihat tingkah mereka hanya tersenyum. Felice tampak begitu cantik dan anggun dengan kebaya berwarna merah maron ditambah rambutnya yang disanggul cantik.


"Ngemeng-ngemeng nih pacar kamu nggak dateng?" Tanya Dion pada Zidan.


"Loh? Kenapa? Di campakkan yah?"


"Enak aja, Nggak lah. Mungkin dia masih dalam perjalanan." Ucap Zidan membantah.


"Seribu alasan."


"Di mohon kepada seluruh mahasiswa dan mahasiswi untuk menduduki tempat masing-masing, karena acara akan segera dimulai. Terima kasih."


"Ayo duduk."


"Dah.. Putra." Felice melambaikan tangan pada Putra lalu beranjak pergi mencari tempat duduknya.


Semua calon wisuda duduk di kursi yang di sediakan sesuai nomor urut masing-masing.


Putra mendapat nomor 12 sedangkan Felice mendapat nomor urut 25.


Di mulai dari salam pembuka, sambutan, pidato singkat dan tibalah pada saat yang di tunggu-tunggu...


"Dan pemegang nilai tertinggi dan mahasiswa terbaik tahun ini adalah... Muhammad Suryaputra Giavanno Hariwijaya..."


Tepuk tangan riuh serta sorakan bangga mengiringi langkah Putra untuk naik ke atas panggung. Dengan rasa bangga Putra menerima penghargaan itu. Putra menyampaikan pidato singkat, berterima kasih pada Tuhan, orangtua serta semua orang yang telah membimbingnya dan mengajarinya sehingga dia bisa jadi mahasiswa yang terbaik.


"Sebelumnya saya ingin berterima kasih pada Allah swt. yang telah memberikan umur panjang untuk kita semua, terima kasih kepada orangtua saya Daddy, Mommy dan adik saya Lisa atas semua doa kalian selama ini dan dukungan kalian dalam situasi apapun. Terima kasih juga untuk para pembimbing dan pengajar saya, pak dekan yang selama ini selalu membimbing saya. Terima kasih juga untuk pihak kampus yang telah mempercayai saya untuk mendapatkan penghargaan ini. Saya benar-benar bahagia, sekali lagi terima kasih semuanya..."


Lisa, Daddy dan Mommy nya menatap Putra di atas panggung dengan perasaan begitu bangga atas pencapaian yang telah Putra dapat.


Setelah semua acara selesai, Putra langsung berlari ke arah keluarganya dan memeluk Daddy nya.


"Dad, Putra lulus Dad." Putra menitikkan air mata haru dalam pelukan Daddy nya.


"Iya nak, kamu buat Daddy bangga." Pak Hariwijaya mengusap kepala Putra.


Kemudian Putra balik memeluk Mommy nya, "Mom, Putra lulus Mom, Putra lulus!" Ucap nya.


"Iya nak, iya. Kamu lulus!" Sahut Mommy.


"Halo Dad." Sapa Felice.


"Eh, hai. Felice yah?" Tanya Pak Hariwijaya memastikan.


"Iya."


"Wah, selamat yah atas kelulusannya." Ucap Pak Hariwijaya saat Felice menyalami nya.


"Makasih Dad."


Felice kemudian menyalami Bu Marissa. "Selamat yah nak." Ucap nya.


"Makasih Mom."


"Eh iya, ini kenalin. Ini Ayah sama Bunda." Felice memperkenalkan orangtuanya yang sedari tadi diam memperhatikan.


"Halo." Sapa Bunda nya Felice yang bernama Bu Farah.


"Eh iya." Jawab Bu Marissa sambil menyalami tangan Bu Farah.


Ayahnya Felice menjabat tangan Pak Hariwijaya, kemudian menyebut namanya. "Panggil aja Arga."


"Oh baik pak Arga." Ucap Pak Hariwijaya.


"Gak kerasa yah anak-anak kita sudah lulus." Ucap Bu Farah.


"Iya nih. Eh rencana nya Putra akan kerja dimana?" Tanya Pak Agam pada Putra.


"Di perusahaan Daddy, Yah." Jawab Putra sambil tersenyum.


"Yah? Ayah? Kok kak Putra manggil nya Ayah?" Tanya Lisa menyela percakapan.


"Iyakan calon mertua." Bukan Putra yang menjawab, tapi Bu Farah, Bundanya Felice.


"Ehem, udah dapat restu ternyata." Ledek Lisa.


"Hush, bocil diem! Nggak usah ikut campur." Ucap Putra sambil menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya.


Lisa langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


"Hahaa... Ada-ada aja. Jadi Putra udah dapat restu?" Tanya Mommy.


"Iyalah Mom. Putra kan rajin ke rumah." Sahut Felice.


"Ngapain? Bujuk Ayah sama Bunda nya Felice?" Tanya Mommy lagi.


"Nggak tau juga Mom, Felice nggak tau Putra baca mantra apa sampe Ayah sama Bunda luluh." Gurau Felice.


"Hahaa..."


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!