
"Udah lah udah terbukti, kalo gue yang bakal mewakili sekolah ini, gue kan hebat dan nggak akan ada yang bisa ngalahin terutama lo!" Dinda menyibakkan rambutnya di depan wajah Lisa.
Lisa memutar bola matanya jengah, "Halla Lisa di lawan. Kalo emang lo berani, lawan gue di sesi seleksi nanti dan kita liat siapa yang terbaik yang bakal dipilih guru buat wakilin sekolah ini. Jangan banyak omong doang..."
"Oke, siapa takut! Gue bakal jadi yang terbaik pilihan para guru, dan lo bakal jadi tertawaan orang banyak."
"Iyain dulu aja lah, kan kalo lo sedih trus bunuh diri jadi nggak lucu dong. Siapa yang mau jadi lawakan satu sekolah kalo lo udah nggak ada?" Ledek Lisa.
Dinda benar-benar kesal mendengar ucapan Lisa, jika tak ada kata pencitraan publik, mungkin Dinda sudah menampar Lisa sedari tadi.
"Eh apaan tuh?" Tiba-tiba Lisa menunjuk ke suatu arah. Refleks Dinda pun mengikuti arah jari tangan Lisa.
"Hahahaaa... Anjing pinter." Tawa Lisa saat ia berhasil mengecoh Dinda. "Udah yah, gue pergi dulu, tataaa..." Lisa melambaikan tangannya anggun lalu pergi meninggalkan Dinda yang menghentakkan kakinya karena marah dan kesal. Bisa-bisanya ia kalah debat dengan Lisa.
"Liat aja lo Lis, gue bakal buktiin kalo lo itu bukan siapa-siapa disini, dan lo itu bukan tandingan gue!" Geram Dinda.
...*****...
Mohon perhatiannya... Atas nama Melissa Sabrina Gianiggy Hariwijaya kelas 12 IPA 2 silahkan ke ruang Kepala Sekolah sekarang juga. Terima kasih!
"Yang namanya Melissa disini yang mana?" Tanya seorang guru yang sedang mengajar di dalam kelas Lisa.
"Sa-saya Bu..." Jawab Lisa sembari mengangkat tangannya.
"Kamu ke ruang Kepsek dulu, takutnya ada yang penting. Selesai dari sana baru lanjutkan pelajarannya yah..."
"Baik, terima kasih Bu."
"Lis, mau ditemenin nggak?" Tanya Sarah dari bangku belakang.
Lisa menoleh kemudian tersenyum, "Nggak usah, aku bisa sendiri kok."
"Beneran?" Tanya Mira pula.
"Iya tenang aja, aku pergi dulu yah ntar buku nya aku pinjem oke."
"Oke Boss..." Jawab Sarah dan Mira berbarengan.
Lisa berjalan keluar kelas, ia berusaha untuk menenangkan dirinya dan berusaha untuk tetap berfikir positif tentang semua yang akan terjadi nantinya.
"Cha..."
Baru saja ia keluar kelas Lisa sudah di kejutkan oleh Rey yang menghampirinya dengan wajah panik.
"Astagfirullah, kenapa Rey? Kamu kenapa?" Tanya Lisa.
"Justru aku yang mestinya tanya sama kamu, kamu nggak papakan?"
Lisa yang heran hanya menggelengkan kepalanya pelan, "Ng-nggak papa, emang kenapa?"
Terdengar suara helaan nafas lega dari Rey, "Nggak. Yaudah ayo aku temenin ke ruang kepsek!" Rey menarik tangan Lisa. Namun Lisa melepasnya perlahan.
"Nggak usah Rey, aku bisa sendiri. Kamu ke kelas aja!"
"Cha, aku khawatir sama kamu, takutnya ada apa-apa dan aku nggak ada di samping kamu. Pokoknya aku harus ikut!"
"Nggak ada apa-apa Rey, aku baik-baik aja kamu nggak usah berlebihan Rey aku bukan anak kecil lagi."
"Aku ikut!" Tegas Rey.
"Rey.."
"Aku ikut!" Ulang Rey.
"Ck." Lisa berdecak kesal kemudian berjalan duluan yang diikuti oleh Rey.
.
.
.
"Assalamualaikum..." Ucap Lisa sembari membuka pintu ruangan dengan pelan.
"Waalaikumsalam..."
Apa ini?
Rey bertanya-tanya dalam hati dengan apa yang dilihatnya. Mengapa tidak, di dalam ruangan itu terdapat Papa dan Mama nya Rani, Ayahnya Rey, Bu Alya dan Pak Rudi serta pak kepala sekolah.
"Silahkan masuk." Kata Bu Alya.
Lisa mengangguk canggung kemudian melangkahkan kakinya masuk. Sedangkan Rey tak mau ketinggalan, ia terus mengikuti dan ingin selalu mendampingi istrinya.
"Maaf bu, ada apa yah?" Tanya Lisa sopan.
Bapak kepala sekolah menghela nafas berat, "Begini, ini masih soal kasus kemaren yang menimpa Rani. Jadi kami sudah mendiskusikan masalah tersebut dan kami memohon maaf yang sebesar-besarnya karena kami terpaksa harus mengeluarkan kamu dari sekolah ini."
"Apa?" Sahut Rey kaget.
"Rey..." Lisa yang kaget dengan sahutan Rey langsung menegurnya.
"Loh nggak bisa begitu dong pak, Lisa ini nggak bersalah, ini semua cuma salah paham pak bu." Ucap Rey tak terima.
Mama Rani menatap sinis, "Hm, salah paham gimana, ini semua sudah terbukti. Lagian kamu siapa sih, sok ngatur banget. Nggak usah ikut campur deh."
"Mohon maaf, tapi ini sudah menjadi keputusan kepala sekolah. Pihak korban mengancam akan menuntut jika kami tidak mengambil tindakan tegas, dengan adanya bukti yang kuat dari pihak korban, pihak sekolah tidak ingin mengambil resiko." Kata Pak Rudi.
"Loh, Yah..." Rey menatap ayahnya heran yang terlihat hanya diam saja tanpa melakukan pembelaan.
"Maafin Ayah, Rey. Ayah bener-bener nggak bisa apa-apa. Memang kita nggak punya bukti kalo Lisa nggak bersalah. Ayah juga nggak mau kalo Lisa harus di tuntut hanya karena masalah ini. Mungkin ini memang keputusan yang tepat."
Sementara Lisa hanya bisa pasrah mendengar dirinya harus dikeluarkan dari sekolah. Yah, dari awal dia memang sudah menduga kalo hal ini akan terjadi.
"Melissa... Maafin ibu ya, kita semua sudah berusaha, dan ibu nggak bisa apa-apa lagi. Ibu harap kamu cukup tabah menerima keputusan ini." Tutur Ibu Alya.
"Halla anak kayak gitu dikasihani, anak bermuka dua." Sindir Mama Rani.
Lisa tersenyum kemudian berkata, "Makasih yah bu, Lisa tau ibu sudah berusaha."
"Ayah, Icha beneran di..." Rey masih bingung dengan keputusan ayahnya yan menyerah begitu saja.
"Udah nggak ada pilihan lain Boy. Setelah ini Ayah sendiri yang akan mengurus kepindahan Lisa." Ucap Ayah.
"Hm, saya rasa urusan saya disini sudah selesai. Dan tolong pastikan kalo anak ini benar-benar dipindahkan di sekolah lain, saya nggak mau anak saya satu sekolah sama anak seperti dia." Sahut Mama Rani dengan nada mengejek.
Rey mengepalkan tangannya kesal mendengar kalimat mamanya Rani.
"Baik terima kasih yah pak bu, atas kerja sama nya. Sepertinya kami harus pergi karena harus kerumah sakit lagi." Papa Rani menjabat tangan kepala sekolah.
"Sama-sama pak."
"Kalo begitu kami permisi dulu."
"Lisa... Sini duduk sebelah ayah." Panggil ayah sambil menepuk tempat di sampingnya.
Lisa yang di panggil pun menurut. Ia duduk sebelah ayah kemudian menatapnya bingung.
Ayah merangkul Lisa, "Kamu jangan sedih yah nak, meskipun kita nggak punya bukti tapi ayah yakin kalo kamu nggak mungkin lakuin hal itu. Kamu harus tetap kuat, oke."
Lisa tersenyum lembut, kemudian memeluk ayah dengan hangat. "Makasih yah, ayah udah percaya sama Lisa."
"Lisa nggak usah sedih, Lisa akan tetap sekolah kok. Setelah ini kita urus semuanya kemudian pindah ke sekolah lain."
Lisa mengangguk, "Makasih ayah..."
Dalam pelukan ayah, Lisa merasakan kehangatan Daddy nya yang ia rindukan. Ia bersyukur karena terus di dampingi oleh orang-orang yang baik.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!