
Rey tolong jangan pernah berbuat sesuatu yang bisa membuat mu menyesalinya seumur hidup. Jangan sampai kau melewati batasan mu tanpa ada izin dari Lisa. Udah ah, Rey nggak mau dibilangin, bandel banget. Author diem aja dah...
Rey semakin mendekatkan wajahnya, kedua nya sudah dapat merasakan deru napas masing-masing. Seolah napas mereka bertempur dan bertarung. Lisa memejamkan matanya pasrah, ia pasrah dengan apa yang akan Rey lakukan selanjutnya. Seakan dirinya sudah siap dengan apa yang akan Rey lakukan terhadapnya, ia sudah menyerahkan seluruh jiwa dan raga nya pada Rey. Toh dia sudah sangat yakin dan sangat mencintai Rey sekarang dan untuk selama nya.
Wajah Rey semakin dekat... Semakin dekat... Semakin dekat... Dan...
Cup...
Rey mengecup singkat kening Lisa. Kemudian Rey kembali menjauhkan wajahnya. Lisa yang terkejut refleks membuka matanya. Dan yah, ia mendapati Rey yang sedang tersenyum padanya. Nahkan, jadi malu jadinya. Mata oh mata, ngapain sih mataku harus tertutup tadi. Malu-maluin banget.
Rey tersenyum menunjukkan smirk nya. "Kenapa?" Rey tau, pasti tadi Lisa pikir Rey akan mencium nya, makanya Lisa sempat memejamkan matanya. Tapi yah kalian harus percaya, kalau Rey tidak akan seceroboh itu. Bagaimanapun kan Rey tetep lelaki normal yah. Tapi tenang aja ia masih kuat kok menahannya.
Lisa terdiam. Ia sungguh sangat gugup, apalagi sedekat ini dengan Rey.
"Hei kenapa?" Ulang Rey.
"Ha? Eng-nggak... nggak papa." Jawab Lisa gelagapan.
Rey kembali tersenyum, "Kalo di liat dari dekat, ternyata istri ku sangat cantik." Goda Rey.
Blush...
Wajah Lisa makin merah jadinya, Rey jahil banget. Lisa menghindari pandangan Rey terhadapnya, ia memilih untuk melihat ke arah lain. "Ehem... Ak-aku mau... aku mau belajar. Kamu minggir gih!" Pinta Lisa.
"Nanti aja." Rey tersenyum sekilas. Seneng banget kayaknya liat wajah malu-malu dari istri kecilnya.
"Ih apasih Rey, tadi kata nya suruh belajar."
"Kenapa liat ke samping? Kan yang ngomong aku, liat aku biar sopan."
"Rey stop! Kamu minggir gih aku mau belajar ini!" Lisa mendorong pelan tubuh Rey, namun Rey tetap kekeuh dan tidak mau bangun.
"ASTAGFIRULLAH!!!" Teriak Aqeela yang baru saja keluar kamar. Aqeela langsung menutup matanya menggunakan kedua tangan nya.
Rey dan Lisa yang masih dalam posisi yang sama langsung menoleh mendengar teriakan Aqeela.
"Kak Rey sama kak Lisa ngapain? Kalo mau adegan romantis jangan di tempat umum dong. Aqeela masih polos tau, nggak baik kalo Aqeela liat." Sahut Aqeela yang masih menutup matanya.
"Aqeela kamu belum tidur? Kamu ngapain teriak malem-malem?" Tanya Bunda sambil menuruni tangga satu per satu.
"Itumah kak Rey sama kak Lisa!" Tunjuk Aqeela. "Ya Allah... Mata polos Aqeela ternoda... Maafkan Aqeela ya Allah." Sahut Aqeela dengan lebay nya. Kemudian kembali memasuki kamarnya dan menguncinya.
"Rey? Lisa? Kalian...?" Gugup Bunda saat melihat adegan yang tak biasanya terjadi. Rey yang berada di atas Lisa? Dan keduanya terlihat membeku tak bergerak.
Bunda terlihat berpikir, namun detik berikutnya dia tersenyum. "Ah iya, Bunda paham. Kalian lanjutkan saja, kalau bisa pindah dikamar aja biar nggak ada yang ganggu. Bunda minta maaf yah udah ganggu, Bunda ke kamar dulu!" Bunda memutar balik langkahnya dan kembali menaiki tangga, berlari masuk ke dalam kamar.
"Yah, Ayah!" Panggil Bunda menghampiri Ayah yang sedang duduk di kasur sambil mengotak-atik laptop nya.
"Kenapa?"
"Rey, Rey Ayah." Girang Bunda.
"Rey kenapa sih?"
"Rey sama Lisa udah... Udah siap kasih kita cucu." Seru Bunda.
"Ah yang bener?" Kaget Ayah.
"Iya bener. Bunda liat sendiri, uh Bunda nggak sabar punya cucu."
"Tapi emang nggak terlalu cepat yah?" Tanya Ayah.
"Iya juga."
"Huh nggak terasa mereka udah dewasa yah."
"Iya, padahal kan dulu masih main petak umpet."
.
.
.
Back to Rey Lisa...
Setelah kepergian Bunda, jantung Rey dan Lisa semakin berdebar kencang, apalagi saat mendengar penuturan Bunda tadi. Pasti Bunda berpikiran aneh deh, padahal kan maksudnya nggak gitu.
"Ah Rey kan udah aku bilang, sekarang apa yang Bunda akan pikir kan?" Kesal Lisa.
"Nggak papa lah. Kan kita udah halal, wajar dong. Mau di lanjutin nggak nih? Atau mau pindah di kamar?" Goda Rey.
"Ih Rey gila, kamu mesum." Lisa bergidik. "Aku mau tidur, kamu minggir gih."
"Hahahaaa... Iya iya." Rey akhirnya bangun dan berdiri. Sementara Lisa langsung berlari menaiki tangga untuk memasuki kamarnya. "Tidur yang nyenyak yah sayang... Jangan lupa mimpiin aku..." Sahut Rey.
"NGGAK MAU! AKU NGGAK DENGER!" Teriak Lisa sesaat sebelum menutup pintu kamar nya.
Rey tergelak, tawa nya pecah. Puas banget rasanya mengerjai istri nya. Apalagi saat melihat wajah malunya, uuuhh gemes.
Sementara Lisa langsung menjatuhkan dirinya diatas kasur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tak terkecuali wajahnya. "Uuuhh... Malu pake bangett..." Ucap Lisa dari bawah selimut.
Lisa terdiam sejenak, mengingat ingat kejadian tadi. "Aaaahh... Lupain aja! Nggak penting! Nggak usah di ingat!" Lisa menggigit selimut saking geregetnya. Kan jadi terngiang-ngiang sama kejadian tadi. Antara seneng, malu, kesel, bercampur lah sudah. Kayak adonan yah... Seneng juga yah sedeket itu sama Rey, tapi malu juga ih.
"Udah-udah. Lisa its okay. Nggak usah di pikirin! Tenang yah tenang. Itu cuma kejadian nggak penting, nggak usah di inget lah!" Lisa menenangkan dirinya sendiri sembari mengatur napas nya.
"Tapi nggak bisa! Aaaahh... Kan jadi inget terus..." Gumam Lisa sambil memukul-mukul kasur dengan girang.
"Ngapain?"
Ha?
Mendengar suara bariton tersebut membuat Lisa langsung terpaku di bawah selimut. Ah itu pasti Rey. Nahkan ketahuan kan, Rey liat nggak yah aku girang-girang tadi? Mudah-mudahan nggak deh. Please, jangan mendekat! Jantung aku bisa copot nih, baru aja agak tenang nih jantung eh udah maraton lagi.
"Cha? Kamu nggak papa?" Tanya Rey. Ia berjalan mendekati kasur, ia penasaran apa yang dilakukan Lisa di bawah selimut.
Komat-kamit mulut Lisa membaca mantra, memohon agar Rey jangan membuka selimut yang menutupi tubuhnya, ia tak ingin Rey melihat pipinya yang masih saja memerah.
"Icha?" Baru saja Rey ingin menyentuh selimut, Lisa sudah lebih dulu membuka selimut tersebut.
"Aku nggak papa." Jawab Lisa tanpa melihat ke arah Rey. "Aku mau tidur!" Lisa langsung memposisikan dirinya siap untuk tidur, ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya, dari atas kepala sampai ujung kakinya semua tertutupi selimut. Tak lupa ia berbaring membelakangi Rey.
"Yaudah, selamat tidur sayang..." Rey mengusap pelan kepala Lisa kemudian ikut berbaring di samping nya.
Perlahan Rey memejamkan matanya siap berlabuh ke dalam mimpi yang indah, ia tak sadar kalo Lisa ternyata belum tidur, bahkan matanya saja belum tertutup. Ia masih sibuk mengatur kondisi jantung nya dan juga mengatur napasnya. Rey ngeselin banget sih. Baru aja aku tenang dikit, udah tambah pani kan sekarang. Udah tenang Lis, tenang...
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!