Love In Many Ways

Love In Many Ways
sok peduli (2)



Lisa memutar bola matanya jengah, "Lo jangan kepala batu kenapa sih! Gue ini niat mau bantuin lo!" tegas Lisa karena semakin kesal.


Selesai berunding dengan polisi, Rey menghampiri Lisa dan Dinda. Dengan tiba-tiba Rey menarik tangan Dinda dan melihat luka di tangan Dinda.


"Din, lo terluka? Ini kenapa? Parah loh ini" tanya Rey.


Dinda spontan menarik tangannya dari tangan Rey. Lisa sudah melihat luka itu, "Din, mending lo obatin dulu gih lukanya. Jangan lo biarin aja, lo masih manusia, gue yakin kalo itu sakit!" pinta Lisa.


"Gak usah sok khawatir deh sama gue! Gak usah ngurusin hidup orang!" bantah Dinda.


"Din! Kita bener-bener peduli sama lo! Lo jangan kayak gini lah, kita niatnya baik!" Rey tak kalah tegas memperingatkan Dinda.


Lisa langsung menarik Dinda pergi ke kantin rumah sakit, Rey langsung mengikuti dari belakang. Dinda meringis ketika Lisa menarik tangannya yang luka, sedangkan Lisa sengaja menarik tangan yang luka agar Dinda menurut.


...*****...


Kantin Rumah Sakit


"Lo duduk di sini! Diem atau gue tampol lo lama-lama kalo gue kesel!" geram Lisa. "Rey, beliin minuman dong! Gue sekalian ya!" pinta Lisa.


"Siap ibu negara!" jawab Rey antusias.


"Mmm yah, tapi aku kan bukan ibu presiden Rey ..."


"Itu cuma panggilan sayang! Nggak harus berarti kamu itu ibu presiden. Kalo masih protes aja, pemilu tahun depan aku nyalon jadi presiden aja lah!" geram Rey yang gemas.


"Lah jangan dong, katanya mau jadi dokter? Eh udah-udah, buruan beli minum! Jangan tunda-tunda lagi!"


"Kamu sebenarnya yang buat semua ketunda sayang..."


"Ish bodo lah! Gue pergi dulu!"


Lisa pergi menuju ke apotek untuk membeli beberapa obat-obatan P3K. Lisa kembali dengan sedikit berlari, ia langsung memberikan obat-obatan itu ke Rey. "Nih, buruan obatin tangan Dinda!" pinta Lisa.


"Mmm Cha, ini rumah sakit. Kenapa nggak bawa Dinda langsung ke dokter aja?" tanya Rey dengan nada datar.


"Lah iya, nggak kepikiran!"


"Jangan!" sela Dinda, "Gue nggak suka dirawat dokter! Gue nggak biasa Lo aja yang obatin, gue takut kalo disuntik!" bantah Dinda.


"Din, lo kena luka luar, luka di tangan, bukan demam. Tapi bisa jadi disuntik sih kalo luka gara-gara besi," ujar Rey yang semakin membuat Dinda takut.


"Nggak! Jangan! Gue bener-bener takut sama jarum suntik, udah lo obatin aja! Ini cuma kena pecahan porselen mangkuk doang! Udah lo obatin aja, nggak usah ke dokter!" pinta Dinda dengan sungguh-sungguh.


Rey akhirnya menurut, ia mengeluarkan obat-obatan itu dari kantung plastik dan mulai membuka alkohol lebih dahulu untuk membersihkan luka ditangan Dinda, spontan Dinda menutup hidungnya karena ia benar-benar benci dengan bau obat-obatan rumah sakit.


Lisa merangkul Dinda dan mengarahkan wajah Dinda ke badannya agar Dinda tak bisa melihat Rey yang membersihkan lukanya.


"Hati-hati Rey! Pelan-pelan!" pinta Lisa dengan khawatir.


"Iya sayang..."


"Awas itu pelan-pelan! Sakit itu! Itu luka gede


ya!"


Rey menatap Lisa, "Iya sayang, udah ya diem. Biar Mas Rey obatin dulu lukanya yah, kamu tenang aja!" pinta Rey dengan halus.


Lisa ngilu sendiri melihat Rey membersihkan luka Dinda, "Awas... Pelan-pelan heh! Itu sakit!"


"Iya tau! Ini udah pelan-pelan! Kamu diem tolong, aku butuh konsentrasi tinggi ini!" keluh Rey yang mulai jengkel dengan ocehan Lisa.


Rey kembali mulai membersihkan luka Dinda, Dinda meremas baju Lisa karena menahan sakit dan perih. "Heh pelan-pelan! Ini anak orang kesakitan!"


Rey sudah jengkel dibuatnya, "Iya ini aku udah hati-hati, udah pelan-pelan juga Ya Allah! Tolong diem!"


"Ya kan ngingetin doang, kok kamu nge-gas sih!"


"Ya karena kamu bawel banget!"


"Lah, kok ngatain gue bawel sih? Gue cuma kasih tau biar pelan-pelan! Itu luka nggak kecil, hati-hati dong!" Kesal Lisa.


"Iya tau, makanya aku perlu konsentrasi tinggi Cha! Kamu malah ngomel aja dari tadi, diam yah."


"Ya kan gue kasih tau, ini anak orang bisa ngerasain sakit Rey. Dari tadi dia nahan sakit loh! Kalo kesenggol lukanya gimana? Kalo infeksi gimana? Kalo mati gimana?!" tanya Lisa yang kian khawatir.


"Asalkan aku tanganin dengan hati-hati nggak bakal mati neng! Udah diem ya!"


"Iya-iya, gitu doang ngambek, yee..."


Rey menaruh kembali kapas dan alkohol ditangannya, "Ya udah kamu aja deh yang bersihin! Udah males aku kalo kayak gini, dari tadi salah mulu!" kesal Rey.


"Aku anak IPS pengen jadi Hakim, kenapa malah tanganin luka orang? Mana bisa? Kamu pikir, luka bisa sembuh kalo di bacain undang-undang?" tanya Lisa yang ikut kesal.


"Ya abis kamu bawel banget sih! Udah biarin aku yang bekerja dengan tenang napa sih!"


"Ya iyalah kamu yang kerjain, masa aku? Katanya pengen jadi dokter. Belajar ini!"


"Ya aku udah belajar, kamu ngoceh mulu sih!"


"Hais! Diam!" bentak Dinda yang ikut kesal karena perselisihan Lisa dan Rey yang tidak ada habisnya. "Lo berdua kenapa malah ribut sih? Kalo pada nggak mau, sini alkoholnya! Gue bersihin sendiri, gue pake cuci tangan sekalian alkoholnya! Ribet banget sih!" kesal Dinda.


"JANGAN!" ucap Lisa dan Rey secara bersamaan.


"Udah sekarang mau diobatin apa nggak? Kalo nggak, gue mau pergi! Gue banyak urusan" ujar Dinda.


"Iya di obatin, Rey cepetan!" celetuk Lisa.


"Iya, diem ye! Jangan bawel dulu, aku sumpel pake perban mau?" ancam Rey yang kesal.


"Ye jangan! Ntar nyium kamu gimana?"


"Lah iya, ah dahlah! Aku mau obatin dulu!"


Dinda menatap wajah Lisa yang tampak lebih khawatir dan takut daripada dirinya yang sedang terluka. "Apa bener mereka cuma pacaran biasa? Kenapa bisa mesra-mesraan seleluasa ini? Dan gue kenapa nggak cemburu lagi liat mereka?" pikir Dinda yang membuatnya sedikit bingung.


Perlahan-lahan Rey membersihkan seluruh darah dari telapak tangan Dinda, membersihkan lukanya dengan alkohol, mengoleskan obat merah lalu membalut tangan Dinda dengan perban.


"Oke, selesai!" ucap Rey yang lega setelah membalut luka Dinda dengan baik.


"Hah akhirnya! Ada yang salah nggak tadi? Jangan-jangan ada yang salah, atau kapasnya ketinggalan didalam luka? Atau yang lain?" tanya Lisa khawatir.


Rey malah menatap Lisa datar, "Cha, ini cuma luka biasa, aku cuma bersihin trus kasih obat. Bukan di bedah trus dijahit."


"Oh...." jawab Lisa santai. "Lah, lukanya dalem apa nggak? Kalo dalem, ayo bawa ke dokter! Siapa tau perlu di jahit kan!" Lisa tiba-tiba berpikiran jauh dan panik sendiri.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!