
"Assalamualaikum..." Rey membuka pintu kamar dan betapa terkejutnya dia saat melihat keadaan di dalam kamar tersebut. Kamar terlihat sangat gelap dan berantakan, sampah-sampah berserakan eh tepat nya pembungkus cemilan yang di buang ke sembarang arah. Selimut dan bantal berserakan. TV yang di biarkan menyala sendiri dan lebih parah nya seorang wanita yang tengah tertidur di antara kekacauan ini.
Rey memijat dahi nya frustasi, kemudian menghela napas berat. Pasti pusing banget deh kalo jadi Rey. Lisa benar-benar sangat berubah sekarang. Bukan nya dulu Lisa anak yang bersih dan tak suka tempat kotor? Bukan nya dulu cara tidur Lisa tak seperti ini? Kenapa sekarang cara tidur Lisa berantakan? Bukan nya dulu Lisa paling semangat kalo urusan sekolah? Tapi ini? Ini apa Miskha? Lisa benar-benar berubah 180 derajat.
"Icha, bangun!" Rey menepuk-nepuk bahu Lisa. "Icha, ini ada apa? Kenapa kamar berantakan kayak gini?"
"Gue lagi nonton." Jawab Lisa dengan suara serak tanpa membuka matanya.
"Trus kenapa gelap kayak gini? Kamu nggak papa kan?" Rey menyimpan punggung tangan nya di dahi Lisa. Memastikan apakah Lisa sakit?
Lisa yang merasa tidur nya terganggu, langsung menepis tangan tersebut dengan kasar. "Gue nggak papa." Lisa membuka matanya kemudian mengambil remot TV. "Udah sana lo pergi gue mau nonton, jangan ganggu ketenangan gue!"
"Yaudah, Ini tirai nya aku buka yah."
"Eh jangan. Gue sengaja tutup!"
Tak ingin membuat masalah, Rey langsung masuk ke dalam ruang ganti untuk mengganti seragam sekolah nya. Setelah itu dia menghampiri Lisa yang masih sibuk nonton sambil ngemil. "Ngapain lo duduk sini?" Tanya Lisa dengan sinis tanpa melihat ke arah Rey.
"Mau nonton juga." Rey duduk di samping Lisa kemudian mengambil salah satu cemilan untuk dia makan juga.
"Aduh kagak usah, lo di tempat lain aja."
Rey tak peduli, dia tetap bersikeras untuk tetap duduk di samping Lisa. Menurutnya, wajah kesal Lisa itu terlihat sangat menggemaskan. Tanpa Lisa sadari dari tadi Rey itu tersenyum tipis saat dia memanyungkan bibirnya kesal.
"Lo itu ngerusak pemandangan tau nggak?! Gue jadi nggak konsen nonton nya."
"Aku suka film ini." Rey tetap tidak peduli dengan ocehan si anak manja.
Lisa melirik sinis pada Rey. "Gue nggak suka." Lisa memindahkan saluran TV nya. Berharap Rey tak akan suka dengan film yang satu ini.
"Nah, ini bagus." Mata Rey masih terarah pada TV.
"Gue nggak suka." Lisa kembali mengganti saluran TV nya.
Sampai akhirnya petir berbunyi dengan sangat keras.
"Astagfirullah..." Sahut Lisa kaget. "Emang di luar hujan yah?!" Gumam Lisa. Namun dapat di dengar oleh Rey.
"Iya, diluar lagi hujan deras." Jawab Rey, matanya masih mengarah pada TV yang ntah menampilkan film apa. Karena dari tadi di ganti oleh Lisa.
"Gue nggak nanya sama lo." Sahut Lisa.
Drttt...
Drttt...
Tiba-tiba hp Rey bergetar, menandakan seseorang menelpon dirinya. Rey beranjak dari duduknya dan berjalan agak jauh untuk mengangkat telepon itu.
Lisa terlihat agak penasaran dengan sosok yang menelpon Rey. Diam-diam Lisa mengikuti nya dari belakang, lalu mengintip dan menguping pembicaraan Rey.
"Halo, Din?"
"....."
"Yang mana?"
"....."
Rey kembali terdiam.
"Oh, oke."
Din? Dinda? Rey lagi telponan sama Dinda? Wah parah, katanya mau jadi suami yang baik. Lah ini? Eh apaan sih, itukan bukan urusan aku. Au ah bodo
Lisa kembali duduk di atas kasur nya. Pura-pura tak peduli. Rey terlihat mengambil beberapa buku di dalam tas nya, kemudian duduk di meja belajar. Tanpa Rey sadari, dari tadi Lisa melirik semua pergerakan nya. Kamu kenapa sih Lis? Kok jadi aneh, katanya benci sama Rey. Tapi kenapa sekarang malah jadi kepo sama urusan Rey?!
Rey terlihat sibuk mencatat, sedangkan Lisa terlihat sibuk memperhatikan TV. Mencoba mengerti arti cerita dari film tersebut. Sesekali menutup telinga nya akibat dari suara petir yang sangat menggelegar. Sebetulnya saat ini Lisa sedang takut, karena suara petir yang tak pernah mau berhenti, namun dia juga gengsi bila harus ngajak Rey buat temenin nonton. Apalagi tadi dia sendiri yang mengusirnya. Sampai akhirnya...
"AAAAA...." Lisa berteriak sekencang-kencang nya, karena tiba-tiba mati lampu di susul dengan suara petir. Lisa menutup telinganya. "Rey tolongin gue!" Sahut Lisa dengan panik. Akhirnya ketakutan nya mengalahkan rasa gengsi nya.
"Tunggu bentar!" Rey juga terlihat panik mencari hp nya. Untuk saat ini dia terlihat khawatir, pasalnya dari kecil Lisa sangat takut dengan kegelapan, Rey juga agak heran karena bukan nya Lisa takut pada petir? Sekarang udah mulai berani yah.
Setelah menemukan hp nya, Rey lansung menyalakan senter nya. Lalu mencari Lisa, "Kamu dimana, Cha?"
Terlihat Lisa sedang duduk di pojok tempat tidur. Dia menekuk lututnya, kepalanya dia tundukkan, tangan nya menutup telinga nya dan matanya dia tutup serapat-rapatnya. Rey lansung menghampiri nya. "Icha." Panggilnya.
Namun, tanpa di duga Lisa lansung memeluk Rey dengan erat. Wajahnya dia sembunyikan di dada bidang Rey. "Gue takut banget."
Tingkah Lisa ini membuat Rey tersenyum. Rey mendekap Lisa, dan mencoba memberikan rasa perlindungan. Ah elah emang badak sumbu yang harus di berikan perlindungan. "Nggak papa. Ada aku!" Tangan kanan Rey dia pakai untuk memegang hp sedangkan tangan kirinya sibuk mengusap punggung Lisa agar lebih tenang.
Akibat ketakutan nya, Lisa benar-benar melupakan rasa benci dan rasa gengsi nya. Rey dapat merasakan tubuh Lisa yang terasa agak gemetar saking takutnya.
"Tenang yah. Sekarang kamu tidur aja, aku mau selesaiin tugas aku."
"Gue takut, lo bisa ngerti nggak sih?!" Ujar Lisa dengan pelan namun terdengar seperti agak kesal.
Rey tersenyum sekilas. "Yaudah kalo gitu kamu tunggu bentar, aku ambil buku dulu."
"Cepetan!" Lisa melepaskan pelukan nya kemudian kembali menutup telinga dan matanya.
Dengan segera Rey mengambil bukunya di meja belajar, kemudian kembali naik ke atas kasur. "Sekarang kamu tidur, aku mau nulis ini dulu."
Lisa mengangguk patuh kemudian membaringkan tubuhnya. "Jangan tinggalin gue!" Ucap Lisa.
Rey mengarahkan hp nya pada buku nya, siap-siap untuk mencatat. Namun sebelum itu dia kembali menoleh pada Lisa yang belum tidur, Lisa masih memperhatikan nya, nampak jelas dari wajahnya bahwa dia sangat ketakutan. "Kamu tidur aja, aku nggak bakal kemana-mana kok." Ujar Rey dengan lembut.
"Awas lo tinggalin gue!" Ancam Lisa.
Rey tak mempedulikan ucapan Lisa, dia sibuk mencatat. Perlahan Lisa memejamkan matanya. Napas nya perlahan mulai teratur artinya dia sudah berlabuh ke alam mimpi nya. Rey menoleh pada Lisa kemudian tersenyum lembut melihat si istri yang keras kepala sudah tertidur lelap.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!