
"Iyya nggak papa."
"Apa ku bilang. Makanya kalo ada masalah tuh harus di ketahui dulu pokok pikirannya, jangan langsung ambil kesimpulan. Kalo nggak sesuai realita gimana? Ntar jatuhnya fitnah loh, fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan tau." Kata Lisa menceramahi.
"Ya kan Mira nggak pernah cerita soal itu ke kita." Sarah membela diri.
"Iya deh!"
.
.
.
Jam pelajaran telah berlangsung dari tadi. Tetapi Lisa nggak konsen sama sekali.
Al sama Sarah mana sih? Kok lama banget? Apa mereka janjian yah? Kata Sarah sih cuma mau keluar bentar, tapi kok sampe sekarang belum kembali juga. Jam pelajaran udah hampir abis lagi!
Tiinggg...
Tiinggg...
Bel berbunyi tanda pelajaran telah usai.
"Okee anak-anak karena jam pelajaran telah selesai, minggu depan kita lanjutkan yah."
"Iya pak." Jawab anak-anak serempak.
Guru pun keluar kelas. Sedangkan anak-anak lain, sebagian masih di kelas dan yang lain sudah berhamburan keluar.
Lisa masih duduk diam sambil memikirkan Sarah dan Al.
"Lis, Sarah mana yah?" Tanya Mira sambil celingukan mencari Sarah.
"Nggak tau nih."
"Ke kantin yuk, ntar Sarah nya nyusul aja." Ajak Mira.
Lisa sudah akan berdiri untuk kekantin. Tetapi dia melihat Sarah masuk ke dalam kelas dengan lesu dan mata yang merah seperti habis menangis. Sarah duduk di bangkunya.
"Loh Rah? Kamu kenapa?" Lisa berdiri dan menghampiri Sarah di tempat duduknya.
Sarah langsung mengusap air matanya."Ha? Nggak papa. Itu... Mmm... Mama, Mama sama Papa aku berangkat ke Singapura hari ini, aku... aku sedih aja." Jawab Sarah berbohong.
"Mama sama Papa kamu ngapain ke Singapura?" Tanya Mira.
"Katanya sih mau... mau ini, mmm... ngerjain anu... itu... proyek di sana." Sarah gelagapan menjawab. Dia mengusap air matanya.
"Kamu nggak usah sedih dong, kan ada kita." Ucap Mira menyemangati.
"Iya. Kamu nggak usah nangis, ntar kita temenin di rumah kamu." Lisa mengusap punggung Sarah lembut.
"Ke kantin yuk!" Ajak Mira.
"Ng... Kalian aja. Aku mau di sini aja."
"Loh kenapa Rah?"
"Nggak papa. Aku cuma pengen sendiri aja." Sarah menjawab sambi tersenyum tipis.
"Ya udah kalo gitu kita beli makanan aja di kantin trus di bawa ke sini . Gimana?" Lisa menyarankan.
"Ide bagus. Yaudah yuk, tunggu disini dulu yah Rah." Mira mengajak Lisa keluar.
Sarah hanya mengangguk.
Kemudian Mira dan Lisa keluar kelas menuju kantin.
...*****...
Kelas 11 IPA 2๐
"Rey, kamu tau nggak Lisa udah berubah.?" Kata Vhino.
"Berubah gimana?"
"Ya berubah. Penampilan Lisa sekarang makin cantik dan makin mempesona. Dia udah lebih feminim gitu. Katanya pacaran, kok nggak tau?" Jelas Vhino.
"Nggak tuh. Kan aku belum pernah ketemu ama dia."
Mendengar temannya membicarakan Lisa, Ghea hanya terdiam tak bersuara. Dia mengambil hp nya lalu main game.
"Ke kantin yuk!" Ajak Vhino.
"Yuk!" Rey berdiri dari duduknya.
"Ghea nggak mau ikut ke kantin?" Tanya Vhino. Ghea hanya duduk di bangku nya dan bermain game di ponsel nya.
"Males. Kalian pergi aja." Ucap Ghea cuek.
"Yaudah baek-baek di sini yah sayang, kalo ada apa-apa langsung telpon aku aja. Ntar aku langsung datang dan menjadi pahlawan buat kamu." Kata Vhino dengan semangat.
"Paan sih." Kesal Ghea.
Rey dan Vhino berjalan keluar ke arah kantin.
"Rey, biar aku yang ngantri buat kamu, kamu langsung duduk aja." Ucap Vhino.
"Okee."
Sesampai nya di kantin Vhino melihat Lisa yang sedang duduk sendirian di meja sambil melamun, ntah apa yang dipikirkannya.
"Rey, itu Lisa kan?" Vhino menunjuk ke arah Lisa.
"Mana?"
"Itu tuh, yang duduk sendirian."
"Eh iya!"
"Sana gih samperin, aku mau ngambil makanan dulu."
"Yaudah aku ke sana yah." Kata Rey bersemangat.
"Okee bos."
Rey berjalan menghampiri Lisa.
"Hai Lis!" Sapa Rey.
Lisa mendongakkan kepalanya dan melihat Rey sedang berdiri di samping nya. "Eh, hai!"
"Boleh duduk?"
Rey pun duduk di kursi yang kosong, duduk berhadapan dengan Lisa.
"Kamu udah sembuh?" Tanya Lisa.
"Iya nih."
Mereka pun masing-masing terdiam. Lisa merasa canggung begitupun Rey tak tau harus ngomong apa.
"Mmm... Kamu nggak makan?" Tanya Rey akhirnya.
"Nanti aja di kelas, Sarah lagi nggak mood ke kantin katanya. Jadi aku makannya sama Sarah di kelas aja." Jawab Lisa.
"Trus kenapa kamu nggak beli makanan?"
"Aku nunggu teman ku yang lagi ngantri tuh." Lisa menunjuk ke arah antrian yang panjang.
"Kalo kamu?" Tanya Lisa balik.
"Teman ku juga lagi ngantri."
"Ohh." Lisa manggut-manggut.
"Mmm... Ntar kita pulang nya bareng yah." Ajak Rey.
"A-aku... Aku... aku nggak...."
Aduh gimana nih? Aku nggak mau pulang bareng Rey. Kalo aku langsung nolak juga nggak enak.
"Aku... Yaudah deh. Ntar kita bareng." Kata Lisa pasrah.
"Lis, yuk." Mira datang dengan makanan di tangannya.
"Mira?" Rey merasa heran.
"Kak Rey?"
"Ngapain?" Tanya Rey.
"Ini beli makanan." Mira menunjukkan makanan yang ada di tangannya.
"Yaudah Rey, aku ke kelas dulu yah. Daahh." Lisa berdiri dari duduknya dan membantu Mira membawa makanan.
Rey hanya menatap kepergian mereka dengan tatapan heran.
Kok aku ngerasa Lisa ngehindar gitu yah sama aku? Apa jangan-jangan... Ah nggak, aku nggak boleh berpikiran aneh. Dan... Mira? Ternyata Mira sama Lisa sahabatan. Baru tau!
...*****...
Kelas 11 IPS 5๐
"Rah, kok nggak makan?" Tanya Lisa.
"Iya, ayo makan! Ini semua Lisa yang beli tau, mubazir kalo nggak di makan."
"Kalian makan dulu aja. Aku nggak nafsu!" Jawab Sarah lemas.
"Kok gitu sih?"
Tiba-tiba Al datang dan dengan sinis nya dia berkata."Minggir! Aku mau ngambil buku." Ucap nya pada Mira saat melihat Mira yang duduk di bangkunya.
Mira pun berdiri dan membiarkan Al mengambil bukunya. Setelah mengambil buku, Al berlalu pergi keluar kelas.
Al kenapa sih? Kok sinis banget? Semenjak aku jadian sama Rey dia nggak pernah tuh ngajak aku ngomong. Dia kenapa sih?
.
.
.
Sepulang Sekolah...
Lisa berjalan keluar kelas bersama Sarah dan Mira. Di depan kelas ternyata sudah ada Rey yang menunggu sejak tadi.
"Rey?" Begitu melihat Rey, Lisa menghentikan langkahnya. Begitupun Sarah dan Mira.
"Lis, yuk pulang!" Ajak Rey.
Lisa hampir lupa janjinya tadi. "I-iya." Lisa menoleh ke arah kedua temannya. "Guys, aku duluan yah."
"Okee siap." Jawab Mira.
Sarah hanya diam memandang mereka.
"Yuk!"
Lisa dan Rey berjalan beriringan menuju ke arah parkir.
"Nih pake helm nya." Rey menyerahkan helm kepada Lisa. Lalu Rey menyalakan motornya. "Kamu pegangan yah."
Lisa hanya mengangguk, lalu memegang baju Rey.
.
.
.
Rey tiba-tiba berhenti di salah satu tempat makan.
"Kok berhenti?" Tanya Lisa heran.
"Kita makan dulu. Tadi di sekolah aku nggak liat kamu makan." Ucap Rey. Lisa hanya menurut saat tangannya di tarik oleh Rey untuk masuk kedalam, mereka duduk di salah satu tempat duduk.
"Kamu makan yang banyak." Ucap Rey. Mereka makan bersama dan tak tercipta percakapan apa pun sampai mereka selesai makan. Lisa tak banyak bicara, ditanya pun Lisa hanya mengangguk atau menjawab singkat.
Setelah makan Lisa di antar pulang oleh Rey.
Saat di depan rumah Lisa, kebetulan Putra sedang berada di teras. Ntah apa yang dilakukannya, yang pasti dia melihat Lisa di antar pulang oleh Rey.
"Rey! Mampir dulu." Panggil Putra. Sebetulnya mereka cukup akrab, karena dulu Rey sering datang ke rumah Lisa untuk belajar bareng atau sekedar bermain. Dulu juga Rey nampaknya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Lisa dari pada di rumahnya sendiri begitupun Lisa. Dulu Lisa juga banyak menghabiskan waktu di rumah Rey.
"Iya kak! Lain kali aja." Sahut Rey. "Lisa, aku duluan yah."
"Iya, makasih yah."
Rey berlalu pergi. Lisa memandangi Rey sampai Rey benar-benar menghilang dari pandangannya.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!