Love In Many Ways

Love In Many Ways
Masa Lalu



Setelah cukup lama berpikir akhirnya mereka menemukan sebuah ide. "Oke kalo begitu aku, Fadil sama Faro akan pergi. Bryan, Reza dan Andre kalian tunggu di sini saja. Tunggu aba-aba dari kami." Ucap Putra dengan serius.


"Kenapa kita pergi nya nggak sama-sama aja? Biar lebih cepat ketemu nya." Saran Bryan.


"Jangan, resiko nya terlalu besar untuk itu. Kalo kita pergi nya banyak trus mereka liat kita, aku khawatir ancaman nya bisa mereka laksanakan karena kita melanggar perjanjian." Ujar Faro.


"Aku setuju itu. Kalian bertiga di sini saja, tunggu aba-aba dari kita. Oh iya, kalian tolong jaga Aunty dan kak Felice, aku khawatir pelakunya memiliki rencana lain yang tidak kita ketahui." Sambung Fadil.


"Kalo begitu kita pergi dulu." Ucap Putra sembari berdiri dari kursinya di ikuti oleh Fadil dan Faro.


"Hati-hati."


.


.


.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan. Putra yang menyetir mobilnya, di samping nya ada Fadil. Sedangkan di jok belakang ada Faro. Faro membuka hp nya, dan dia agak terkejut saat melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Sarah juga pesan spam. Merasa heran, Faro pun segera mengiriminya pesan.


^^^Me!^^^


^^^Ada apa?^^^


Sarah Almahira


Kamu dimana?


Udah ketemu sama Lisa?


Lisa baik-baik saja kan?


^^^Me!^^^


^^^Belum^^^


^^^Ini kami masih dalam^^^


^^^perjalanan^^^


^^^Pelakunya meminta untuk bertemu^^^


Sarah Almahira


Dimana?


Ketemunya dimana?


Sharelock yah


^^^Me!^^^


^^^Kamu nggak usah pergi^^^


^^^Bahaya!^^^


^^^Kamu tenang aja, disini ada kak Putra^^^


^^^Kamu tunggu kabarnya aja^^^


^^^Nanti aku kabarin^^^


Sarah Almahira


Nggak mau!


Ayo cepetan mana lokasinya!


^^^Me!^^^


^^^Nggak usah, Rah!^^^


^^^Disini bahaya^^^


Sarah Almahira


Ih apaan sih?!


Aku juga mau nyelamatin


sahabat aku


Aku khawatir sama dia


^^^Me!^^^


^^^Iya aku ngerti^^^


^^^Tapi bahaya^^^


Sarah Almahira


Nggak papa.


Aku perginya juga banyak


sama teman-teman aku.


Ayo cepetan mana lokasinya


^^^Me!^^^


^^^Hm, yaudah^^^


Belum sampai tujuan, ponsel Putra kembali berbunyi. Terdapat sebuah pesan masuk.


"Fadil, coba kamu liat hp kakak." Pinta Putra yang masih sibuk menyetir.


Vanessha


Aku tunggu kau di taman


××××× sekarang. Ingat!


Jangan bawa siapa-siapa!


Waktumu 30 menit dari sekarang!


"Kak, mereka memindahkan posisinya. mereka mengajak bertemu di taman ×××××." Ujar Fadil.


"Sialan! Jangan-jangan..." Putra menggantungkan ucapan nya.


"Jangan-jangan apa kak?" Tanya Fadil.


"Mereka hanya ingin mengalihkan perhatian kita, ia mengajak bertemu di lokasi awal, taman ××××× hanya untuk mengecoh kita jika kita meminta bantuan polisi." Jelas Putra.


"Benar-benar licik!" Kesal Fadil.


"Yah. Pikir saja bagaimana mereka bisa memberitahukan tempatnya lebih awal. Kan bisa saja kita memberi jebakan atau akan menyergap mereka jika memberitahukan tempatnya lebih awal, kita terpancing karena kita sedang emosi dan pola pikir kita tak stabil!" Jelas Faro.


"Ah sial! Kita terkecoh!" Kesal Fadil.


"Sudah, tidak apa. Sekarang kamu kirimkan lokasi nya yang baru pada Bryan."


"Oke, kak."


Putra terlihat berpikir, "Sebenarnya apa motif mereka? Kenapa mereka sampai menculik Lisa dan Rey? Dan yang mereka gunakan untuk mengancam adalah nomor Vanessha."


"Kak Vanessha yang dulu sering datang kerumah kak Putra?" Tanya Fadil. Tentu saja dia tau karena dulu saat masih kecil, Mama nya sering menitipkan nya dirumah Lisa. Dan Vanessha dengan tidak tau malunya selalu saja datang ke rumah Rey dengan berbagai alasan. Mau ngerjain tugas lah, minjem buku nya Putra lah, inilah itulah. Yah, dapat saja ditebak bahwa Vanessha hanya ingin bertemu dengan Putra dan cari perhatian kepada kedua orangtua Putra.


"Iya." Jawab Putra.


"Bukan nya dia sudah meninggal setelah kecelakaan malam itu?" Tanya Fadil lagi.


"Yah aku tau. Tapi yang masih membingungkan kenapa mereka menggunakan nomor Vanessha? Ada hubungan apa si pelaku dengan Vanessha?" Tanya Putra sambil berpikir.


"Apa ini semua ada kaitannya dengan Vanessha?" Tanya Faro.


"Entahlah, sekarang itu semua kemungkinan saja bisa terjadi. Karena itulah kita semua harus lebih berhati-hati." Ujar Putra.


"Oke, kak."


.


.


.


Taman ×××××


Putra, Fadil dan Faro sudah sampai di taman yang dimaksudkan oleh pelaku. Fadil dan Faro bersembunyi di dalam mobil, mereka bertugas untuk memantau dari jauh. Sementara Putra kini turun untuk mencari keberadaan pelaku.


"Bagaimana?" Tanya Putra.


"Taruhlah kameranya di tempat yang bagus, agar kami bisa melihat semuanya dengan jelas!" Ucap Faro.


"Oke, tunggu sebentar."


Putra menaruh sebuah kamera diberbagai sisi, kameranya memang tidak terlalu mencolok. Seperti sebuah pena yang ia selipkan di tempat tertentu.


"Bagaimana sekarang?" Tanya Putra.


"Oke, berhati-hatilah. Ada yang datang dari arah belakang kakak." Ucap Fadil.


Putra membalikkan badan nya, melihat siapa yang datang. Putra mengamati nya dengan seksama.


"Hai, Putra." Sapa seorang perempuan paruh baya sambil berjalan menghampiri Putra.


Putra mengerutkan dahinya bingung, "Siapa anda?" Tanya Putra bingung.


"Hahahaa... Biasa saja, nggak usah tegang gitu lah. Ayo sekarang kita duduk dulu."


"Tidak! Saya tidak ingin berlama-lama. Langsung ke inti nya saja, anda mau apa? Dan kenapa anda menculik kedua adik saya?" Tanya Putra.


"Hmm... Kalo kamu nggak mau nurutin keinginan ku, kupastikan kamu tak akan pernah melihat kedua adik mu lagi." Ujar wanita itu dengan santai nya sambil mendudukkan bokong nya di atas kursi.


Putra yang sudah tersulut emosi, menghempas napas nya dengan kasar. Lalu ikut duduk di atas kursi. "Apa yang anda inginkan?"


"Tenang dulu, nanti ku beritahu apa yang aku inginkan." Ucapnya dengan santai. "Aku mau tanya, apa kamu mengenali ku?"


Putra menatap wajah wanita paruhbaya tersebut dengan insten. "Tidak, aku sama sekali tidak mengenalimu."


"Haih baiklah, aku saja yang memberitahumu. Wajar saja kamu tidak mengenaliku, kita jarang bertemu. Dengar yah, aku ini yang harusnya jadi ibu mu."


Putra terlihat agak terkejut dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh wanita tersebut. "Ma-maksud nya?" Tanya Putra tak mengerti.


"Yah aku pacar Daddy mu sebelum dia menikah dengan Mommy mu. Aku pacaran dengan nya kurang lebih dua tahun, dia juga sudah melamar ku saat itu. Tapi sayang nya aku masih tak ingin menikah karena impian ku belum terwujud. Daddy mu saat itu berjanji untuk membantuku, tapi aku menolaknya karena aku ingin memakai usaha dan kerja kerasku sendiri, dan ingin membanggakan kedua orangtuaku juga Daddy mu. Ku putuskan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri, saat itu aku bertekad aku tak akan pulang sebelum impian ku terwujud. Singkat cerita, akhirnya impian ku sebagai Desainer terkenal akhirnya bisa terwujud." Wanita tersebut menghentikan kalimatnya, kemudian menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya.


"Yah akhirnya aku bisa pulang. Semua keluarga dan sanak saudara ku menyambut kepulangan ku dengan baik. Aku bahagia bisa membuat mereka tersenyum bangga padaku. Dengan senang hati dan penuh kebahagiaan aku berniat untuk mendatangi Daddy mu, saat itu aku sengaja tidak mengabari dan memberitahukan ke pulang ku, aku berniat untuk memberikan kejutan padanya. Aku sungguh berharap dia juga akan tersenyum bangga padaku, karena aku sudah berhasil." Setetes air mata mulai turun membasahi pipi wanita tersebut. Seperti nya kesedihan nya benar-benar sangat dalam. Putra yang sedari tadi menyimak pun sedikit simpati melihat nya.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!