
"Tinggalin gue sendiri!" balas Dinda dari dalam kamar mandi.
"Din jangan kayak gini, lo jangan merasa sendiri ya ampun. Gue selalu temenin lo kok, tolong keluar dulu Dinda" Lisa masih tetap membujuk Dinda dari luar.
"Tinggalin gue sendiri!" nada Dinda semakin meninggi karena marah dan juga kesal. Ia menangis di dalam kamar mandi.
"Nggak akan! Gue nggak bakalan pergi sebelum lo keluar! Gue bakalan nunggu di sini sampai lo keluar!" Lisa yang juga keras kepala tak mau meninggalkan Dinda.
Lisa menunggu sampai Dinda sedikit membaik di dalam kamar mandi. Namun, tiba-tiba ponselnya berbunyi, tertera nama 'Faro' disana. Lisa sedikit menjauh dari pintu toilet kemudian mengangkatnya.
"Halo, ada apa Ro?"
"Maaf ganggu Lis, Dinda hari ini ke sekolah nggak?"
"Iya, dia di sekolah. Emangnya ada apa?"
"Nanti aku jelasin, yaudah aku kesana yah."
"Oh oke." Lisa yang bingung pun akhirnya menurut saja, toh dia juga nanti tau kalau Faro udah dateng.
"Din, udah belum nangisnya?!Kalo udah ayo sini keluar kita bicara baik-baik." Sahut Lisa.
Dinda tak menjawab dia sibuk menangis. "Din udahlah, sini lo bisa nangis sepuas lo di bahu gue nih." Bujuk Lisa.
Sementara di luar, Faro kebingungan karena takut untuk masuk kedalam kamar mandi wanita.
"Ini gimana duh! Masa gue masuk gitu aja? Ini kan kamar mandi cewek, tapi kalo gue nggak masuk, Dinda gimana? Masa gue diem aja sih!" bingung Faro. "Halah bodo amat, trobos aja lah!"
Faro berlari masuk dan langsung menuju kesatu-satunya pintu toilet yang tertutup, ia melihat Lisa disana yang sedang bersandar di pintu. "Dinda masih di dalam?" Tanya nya. Lisa menjawab dengan mengangguk.
"Din keluar sekarang atau gue dobrak ini pintu!" teriak Faro.
"Tinggalin gue sendiri!"
"1..."
"2..."
Cklek...
Pintu terbuka, mata Dinda terlihat merah karena menangis. "Kenapa sih? Pada bawel banget! Nggak bisa apa biarin gue tenang!" keluh Dinda kesal.
Faro langsung memeluk Dinda, "Lo nggak papa kan? Lo baik-baik aja kan? Lo nggak kenapa-napa kan? Lo jangan dengerin kata-kata orang kak, gue tetep temenin lo kok! Sekarang ikut gue aja ya, kakak pindah sekolah aja!" bujuk Faro.
"Mana bisa?"
"Bisa! Mamanya kakak udah gue pindahin rumah sakit, dia udah sadar dan udah mulai proses cerai sama papa lo. Lo mending pindah aja, lo ikut gue. Kalo takut, ntar gue ikutan pindah deh sama lo!" jelas Dinda.
Lisa ikut mendekat, "Iya Din, mending lo pindah aja ya. Kasian mental lo, gue yakin lo kuat kok, gue yakin lo bisa! Ayo semangat!" Lisa menyemangati.
Dinda mengangguk, Faro pun memberikan jaketnya pada Dinda dan menuntun Dinda menuju kantor. Lisa keluar dengan lega setelah melihat Dinda bersama Faro.
Istirahat...
Di Roof Top
Lisa memilih beristirahat di roof top bersama Rey. Hanya sekedar duduk diatap sambil melihat pemandangan.
"Hah! Akhirnya masalah si Dinda selesai. Kasihan juga si Dinda ya." Lisa menatap jauh kedepan sambil meminum susu coklat ditangannya.
Rey menghela nafas, "Hah... Ya gimana lagi? Itu udah jalannya dia juga. Kita nggak bisa ngapa-ngapain juga kan."
"Iya juga sih..."
"Eh, kok lo jadi aneh sih?" tanya Surya.
"Hah? Aneh gimana?"
"Kok lo jadi manis banget, ini susu coklat yang manis apa emang lo yang manisnya bisa bikin diabetes?" gurau Rey.
"Ahahaha, aduh mas, saya terbang..." balas Lisa.
"Eh jangan terbang neng, bahaya! Jatuh nanti sakit, tapi beda lagi kalo jatuh ke pelukan saya," Rey tak mau kalah.
Rey malah terkekeh kecil, "Semesta yang mempertemukan aku dan kamu, dan kamu membuat bibir saya refleks langsung melontarkan kata-kata yang belum pernah saya ucapkan sebelumnya," jelas Rey dengan nada bakunya namun terdengar menggemaskan ditelinga Lisa.
Lisa mencubit kedua pipi Rey gemas, "Uluh-uluh, gemesin banget sih kamu. Ish, gemoi deh jadinya. Udah jangan gombal-gombalan lagi, aku bawa ke KUA lama-lama!" gemas Lisa.
Rey mengerutkan keningnya bingung, "Buat apa ke KUA? Kita kan udah nikah neng, kita udah sah, manis..." Rey mencubit hidung Lisa..
"Lah lupa ahahaha....
Mereka berdua tertawa kecil di Roof top sambil sesekali bercanda bersama menikmati waktu istirahat tanpa diganggu oleh orang lain.
***
Waktu terus berlalu, semua selesai perlahan-lahan. Dinda pindah kembali ke Australia bersama Faro untuk melanjutkan pendidikan di sana, mama Dinda juga sudah sah bercerai dengan ayah Dinda.Dan yah, Lisa kembali ke sekolah lamanya setelah terbukti memang tidak bersalah, Ayahnya Rey yang memindahkannya atas bujukan Rey. Tentu saja karena Rey tidak ingin jauh-jauh dari istri tercinta nya.
Waktu terus berlalu, tak terasa sudah 1 tahun berlalu. Kini sudah tiba saat kelulusan semuanya dari tingkat pendidikan SMA. Saat ini adalah acara perpisahan untuk angkatan Lisa dan Rey.
"Dan tiba saatnya untuk pengumuman peraih nilai terbaik tahun ini, di jurusan IPA, nilai tertinggi tahun ini diraih oleh.... Muhammad Fahreyzan Rahardian Agrananda dari 12 IPA 1."
Setelah pengumuman nama Rey, semua langsung bertepuk tangan mengiringi langkah Rey naik keatas, Rey berjalan
dengan setelan jas formalnya kedepan untuk menerima piala dan piagam penghargaan secara langsung dari kepala sekolah.
Rey menjabat tangan kepala sekolah lalu
menerima penghargaan itu dengan penuh rasa kebanggaan. Setelah mengambil beberapa sesi pemotretan, sekarang giliran pengumuman nilai tertinggi dari jurusan IPS.
"Untuk peraih nilai tertinggi dari jurusan IPS adalah... Melissa Sabrina Gianiggy Hariwijaya dari kelas 12 IPS 1"
Tepuk tangan riuh serta sorakan bangga mengiringi langkah Lisa untuk naik keatas panggung. Dengan bangga Lisa menerima penghargaan itu, para orang tua murid yang tau kalau anak-anak IPS 1 biasanya berisi murid-murid terbodoh hanya diam tanpa kata-kata.
Acara berlangsung lancar semua, Lisa dan Rey berkumpul bersama teman-temannya untuk berfoto. Mereka berfoto bersama dan membagikan kenangan indah ini.
Putra menghampiri mereka dengan buket bunga ditangannya, ia mengulurkan buket itu kedepan. "Dek nih, selamat buat jadi peraih nilai tertinggi ya! Lebih semangat lagi belajarnya, jangan sampe turun lagi ya!" ucap Putra.
Lisa langsung memeluk kakaknya tersayang itu, "Em, makasih banget bang. Udah selalu nemenin Icha dalam kondisi apapun. Abang juga ga pernah ninggalin Icha," ucap Lisa sambil memeluk Putra erat.
Lisa mengusap punggung adiknya tulus, "Iya dek! Kan kamu adek satu-satunya, jadi aku nggak bakalan mungkin ninggalinkok. Selama mau cerita, kakak pasti dengerin semuanya!" ujar Putra mengusap kepala Lisa.
Mira berdecak, "Ck, udah jangan lama-lama... Ada yang panas itu loh! Nggak peka banget sih!" kata Mira sambil melirik ke arah Rey.
Putra melihat kearah Rey, "Jan ngadi-ngadi ye lo! Durhaka lo sama kakak ipar!" ancam Putra.
"Yaudah nggak papa deh! Lanjutin aja, gapapa kok. Demi apapun itu kaga ngapa banget!" balas Rey dengan datar.
Lisa memanyunkan bibirnya, "Hmm... Jangan gitu dong manis!" Lisa berjalan kearah Rey. Ia menempelkan bibirnya ke telapak tangannya sendiri.
Cup...
Setelah itu ia menempelkan telapak tangannya ke pipi Rey, Rey pun jadi salah tingkah dibuatnya. Lisa mendekatkan wajahnya ke telinga Rey dan berbisik, "Nggak boleh cemburu ya ganteng! Dia abang doang, sedangkan kamu hak paten. Gak boleh terang-terangan juga ya, kan lagi di tempat umum!"
Rey pun ikut berbisik, "Di tempat umum nggak boleh, berarti di kamar nanti bisa dibicarakan baik-baik lah ya..."
Wajah Lisa memerah malu, ia mencoba menutupi wajahnya itu. Tetapi sorakan teman-temannya membuatnya makin salah tingkah.
"Tolong jangan pamer ke-uwuan untuk mbak-mbak dan mas-mas sekalian!" celetuk Al.
"Kami spesies yang uwu-phobia, tolong dihentikan saja!" sahut Sarah.
Vhino tiba-tiba maju kedepan Mira, entah bunga dari mana, tiba-tiba Vhino mengulurkan bunga itu kedepan Mira, "Ra,,. Gue udah lama suka sama lo, butuh waktu lama buat gue ngeberaniin diri ngomong ini. Gue takut keduluan sama yang lain, jadi lo mau nggak jadi pacar gue?" Vhino berjongkok dan mengatakan semua itu secara tiba-tiba.
Semuanya tercengang tak percaya, terutama Mira. Sebenarnya dia tau dari dulu kalau Vhino sukaa padanya dilihat dari cara Vhino memperlakukan nya, namun apa yang Vhino lakukan saat ini benar-benar diluar dugaan. Ia sampai bingung harus menjawab apa saat ini. Vhino meneruskan kalimatnya, "Jadi gimana Ra? G-gue nggak maksa lo kok, lo bebas milih apapun jawabannya. Gue terima semua!" Vhino benar-benar gugup saat ini.
"I-iya, gue terima..."
Seketika mata Vhino membelalak tak percaya kalau pernyataan cintanya diterima, ia langsung berdiri dan melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil.
Sedangkan yang lain saling berpelukan tak menyangka, mereka ikut senang sekaligus gembira. Mira hanya diam karena masih bingung harus bagaimana, ia senang sekaligus salah tingkah karena ia ditembak didepan teman-temannya. Ini pertama kalinya Mira menerima pernyataan cinta seseorang. Semua berpelukan, tak menyangka waktu begitu cepat berlalu dan mereka pastinya akan melanjutkan ke jenjang berikutnya.
TAMAT...