Love In Many Ways

Love In Many Ways
Pindah Tempat



Dengan santai nya Ghea menjawab. "Heh, males gue nge respon anjing yang lagi menggonggong, di lempar batu aja kali yah biar diem!"


Gina terlihat sedikit kesal dengan ucapan Ghea, "Haih, para cupu ini berani juga yah sama kita."


Sarah yang sudah tak tahan dari tadi langsung buka suara. "Ngapain takut? Kita kan sama-sama manusia, eh lupa kalian kan binatang liar."


Rani dan kedua temannya sudah merasa kesal. Namun, masih berusaha dia tahan.


"Eh cupu, nggak usah banyak gaya deh. Sok keren lo. Cupu ya cupu aja."


"Bodo amat. Orang kayak mereka nggak usah di ladenin. Semakin kita ladenin, semakin mereka menjadi-jadi. Yuk masuk!" Ajak Ghea.


Lisa dan ketiga teman nya berjalan masuk melewati Rani dan kedua teman nya yang sangat kesal karena tak mampu untuk memancing mereka. Tak lupa Sarah dan Ghea menyenggol bahu musuh nya itu, kemudian berlalu pergi. Ups...


"Mereka ngeselin banget sih!" Kesal Sarah.


"Udah santai aja, nggak usah di bawa emosi. Tujuan mereka tuh emang mau mancing emosi kita." Ujar Ghea. Mereka berempat berjalan melewati koridor sambil berbincang-bincang.


"Tapi Ghea hebat. Ucapan nya menusuk banget dan bisa santai kayak gitu." Puji Mira.


"Iya dong. Aku udah pengalaman dah kalo urusan kayak mereka. Dulu di sekolah lama ku juga aku sering di bully, tapi tenang aja. Semenjak aku pernah patah hin tangan salah satu siswi, udah nggak akan ada yang berani berantas seorang Ghea!" Ucap Ghea dengan percaya diri.


"Separah itu?" Tanya Sarah.


"He-em. Siswi itu coba nampar aku, ya nggak bakal aku biarin lah. Aku tangkis tangan nya dan ku genggam kuat, karena udah terlanjur yaaa sekalian patah hin aja, biar nggak di ulang lagi."


"Trus?"


"Ya semenjak kejadian itu udah nggak ada lagi yang berani sama aku. Aku ngerasa mereka semua takut, buktinya aja kalo aku ajak ngomong mereka gagap-gagap gitu trus gemetaran."


"Wah bahaya nih." Ledek Sarah.


"Cih, aku mau ke kelas aja dah. Babay..." Ghea berjalan menuju kelas nya.


Tiiingg...


*Tiiingg...


Tiiingg*...


Suara bel masuk berbunyi nyaring.


"Aelah belum juga sempat bernapas, udah masuk aja." Kesal Sarah.


"Yaudah yuk cepetan ke kelas. Ntar kita keduluan ama guru nya." Lisa yang sedari tadi diam akhirnya buka mulut juga.


Mereka bertiga berjalan dengan cepat masuk ke dalam kelas nya.


.


.


.


Kelas 11 IPS 5👈


"Selamat pagi, pacar." Ucap Al dengan nada pelan.


Lisa yang mendengar nya hanya tersenyum paksa. "Pagi." Jawab nya.


"Kamu ud-..." Belum selesai ucapan Al, guru kelas sudah datang. Terpaksa Al tak melanjutkan ucapan nya.


"Selamat pagi anak-anak." Sapa nya. Ternyata itu Ibu Alya, wali kelas 11 IPS 5.


"Pagi Bu..." Jawab para murid dengan serentak.


"Karena hari ini Pak Ilham tidak bisa masuk karena ada ada urusan mendadak. Jadi, saya akan mengantikan nya hari ini untuk sementara." Bu Alya berjalan ke arah meja nya dan meletakkan buku-buku di sana.


"Oh iya, kemarin saya baru dapat kabar soal anak kelas 11 IPS 5, salah satu anak wali saya. Yang kata nya kemarin habis berkelahi di lapangan, coba siapa yang kemarin berkelahi di lapangan?"


Al mengacungkan tangan kanan nya ke atas. "Saya Bu." Ucap nya cuek.


Bu Alya terlihat sedikit kaget. "Kamu lagi Al. Nggak ada habis-habis nya yah kamu buat onar. Baru aja kemaren nggak ada laporan yang masuk sekarang udah bertingkah lagi." Bu Alya mengenal betul dengan nama Al. Laporan para guru pelajaran tak akan pernah lengkap jika tak ada nama Al. Baru saja kemarin kelas 11 IPS 5 aman, eh dah ada lagi laporan baru.


Mendengar kalimat Bu Alya, Al cuma terdiam. Tak ingin berucap apa-apa. Toh dia menjelaskan panjang lebar juga pada Bu Alya nggak akan pernah mengubah keadaan yang sudah terjadi. Jadi dia memilih diam dan mendengarkan ocehan nya.


"Ibu sudah memutuskan, kamu Al pindah ke bangku paling depan. Sini agak dekat dengan meja guru." Pinta Bu Alya sambil menunjuk salah satu bangku paling depan. Kalau Al duduk paling depan otomatis segala pergerakan nya dapat di pantau oleh guru.


Al melihat sekilas pada Lisa. "Tapi Bu..." Al tak terima bila harus duduk berjauhan dengan Lisa, apalagi kan dia masuk kelas hanya untuk bertemu dengan pujaan hati nya, kalau nggak yaaa dia mungkin akan bolos saja.


"Nggak ada tapi-tapian! Jangan membantah!" Tegas Bu Alya.


"Ibu sendiri kan dulu yang suruh saya duduk di sini, kenapa harus di ubah?!" Al berusaha mencari alasan.


"Udah nggak usah banyak alasan. Saya yang mengambil keputusan, saya yang mengatur! Dan sekarang saya menyuruh kamu pindah ke depan, kamu tukaran tempat sama Edward! Ayo cepat!"


Dengan malas, Al mengambil tas nya dan berdiri dari kursi nya. Dia menatap Lisa dengan tatapan tak rela, seolah dia akan pergi sejauh mungkin dan tak rela berpisah dengan pujaan hati nya. Halla bucin...


Sedangkan Lisa hanya terdiam dan melihat saja tanpa mengucapkan apa pun pada Al.


Al berjalan ke depan untuk bertukar posisi. Siswa yang bernama Edward pun mengambil tas nya dan bersiap untuk pindah tempat, namun sebelum dia berlalu pergi, Al sempat membisikkan sesuatu kepada nya. "Lo duduk di bangku belakang aja, jangan di tempat gue apalagi di samping Lisa! Kalo lo tetap duduk di sana, jangan harap besok lo masih hidup!" Bisik Al dengan tatapan menusuk Al tak mungkin bisa rela bila Lisa harus duduk bersebelahan dengan orang lain apalagi itu lelaki. Bara api cemburu nya meluap-luap, sungguh sangat-sangat posesif...


Edward yang mendengar nya pun langsung patuh karena takut dengan ancaman Al, Edward mah masih sayang nyawa yah. Dia berjalan ke bangku paling belakang dan duduk di sana.


"Edward kamu duduk di situ, di samping Melissa!" Pinta Bu Alya.


Mendengar ucapan Bu Alya, Al langsung menoleh pada Edward dan melemparkan tatapan membunuhnya dengan tujuan untuk mengingatkan ancaman nya tadi.


"Hem, ng-nggak nggak papa Bu. Sa saya di sini aja." Ucap Edward dengan terbata-bata.


"Oh baik lah. Oke sekarang kita mulai pelajaran hari ini. Buku buku paket halaman 137..." Bu Alya sudah menjelaskan panjang lebar tentang pembelajaran yang di pelajari hari ini.


Al sama sekali tak konsen belajar, kalau mendengarkan ocehan Bu Alya sih, Iya. Tapi sama sekali tidak mengerti ucapan nya. Dia hanya sibuk melihat Lisa. Sesekali dia menoleh pada Lisa yang sepertinya sangat memperhatikan setiap kata yang di keluarkan oleh Bu Alya.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!