Love In Many Ways

Love In Many Ways
Rapor



"Perasan kemaren katanya asal dapet juara. Sekarang kan dapet juara 2 jadi sama aja kan? Jadi artinya aku yang menang dong."


"Eh nggak ada yang bilang gitu. Al bilang dapat peringkat pertama bukan yang kayak kamu bilang." Ralat Sarah.


"Jangan coba memutar balikkan keadaan yah. Mengambil kesempatan dalam kesempitan!" Sahut Vhino tak mau kalah.


"Hahahaaa... Iya deh iya. Aku cuma bercanda kali, serius amat sih. Takut banget sih aku minta sesuatu sama kalian." Tawa Lisa.


"Bukannya takut. Tapi kamu kan orang nya agak-agak..., yah gitu deh. Kita semua tau lah! Takutnya Lisa malah minta yang aneh-aneh." Ucap Al.


Mata Lisa melotot melihat ke arah Al, "Sok tau banget. Kamu pikir aku apaan?" Sahut Lisa. "Tapi bener juga sih apa yang kamu bilang, sebenarnya sih aku mau minta sesuatu yang mungkin berat buat kalian penuhi."


Sarah menghela napas lega, "Huh untung aja nggak jadi."


"Jadi anggep aja sekarang impas semua deh!" Sela Mira.


"Yaudah nggak papa, santai aja. Kalo kak Putra? Kak Putra masa Lisa nggak di kasih hadiah?" Tanya Lisa pada Putra.


"Ya iya pasti dong. Karena kamu juara 2, sekarang terserah deh kamu mau minta apa aja, asalkan jangan minta kakak buat nyebur ke dalam sumur apalagi minta kakak bunuh diri!" Gurau Putra.


"Hahahaaa..." Semua yang mendengar ucapan Putra jadi tertawa dibuatnya.


Mata Lisa langsung berbinar senang, "Beneran nih? Nggak bohong yah? Bohong dosanya personal loh, dosa nggak ditanggung bersama!"Lisa mengingatkan.


"Hahahaaa... Nggak deh, beneran! Asal jangan minta selingkuhan! Ntar kalo Rey tau bisa ngamuk dia!" Putra kembali bergurau.


"Aelah nggak deh kak. Pulang-pulang bisa di sate gua!" Celetuk Lisa.


Semua teman nya heran mendengar celetukan Lisa. "Kok lebih posesif Rey dibanding kamu?" Tanya Sarah.


"Lah mana saya tau, saya kan cuma istri!"


"Udah-udah. Karena hari ini adalah hari bahagia, kalian semua kakak traktir makan sepuasnya!" Sahut Putra.


"Beneran kak?" Tanya Vhino.


"Ya beneranlah. Yuk otw!" Ajak Putra.


"Oke siap!"


"Asyik makan gratis!"


"Assshhiaaap!"


"Kalian semua duluan aja, ntar aku nyusul bareng Rey!" Ujar Lisa.


"Accciieee..."


"Ih apaan sih, udah sana berangkat duluan!"


"Oke kita duluan yah..."


"Iya."


Lisa membawa rapor nya dan pergi mencari Rey, terlihat Rey sedang duduk di depan kelasnya sambil melihat nilai-nilainya. Dan ada Dinda juga yang duduk di samping Rey.


Lisa memutar bola matanya jengah saat melihat Dinda, terlihat sekali kalau Dinda sedang berusaha cari perhatian pada Rey. Padahal kan baru beberapa hari lalu Lisa memperingatkan nya. Eh udah bertingkah lagi.


Lisa mendatangi Rey dan langsung menyelah duduk diantara Rey dan Dinda. "Punten slurr..." Gurau Lisa.


Lisa melihat tempat nya duduk, "Nggak ada tulisan punya Dinda, berarti masih hak umum!"


"Yaudah kamu geser sini, aku aja yang geser!" Pinta Rey menengahi.


"Oke..."


"Jadi gimana? Nilai gimana?" Tanya Rey bersemangat.


Lisa senyam-senyum, "Kamu dulu! Kamu gimana? Juara berapa?" Tanya Lisa.


Belum sempat Rey menjawab, Dinda sudah mendahului. "Juara 1 lah seperti biasa. Rey kan emang pinter banget orang nya..." Kata Dinda dengan lembut.


Lisa menatap ke arah Dinda dengan sinis, "Aku nanya nya sama Rey, bukan sama kamu. Kamu siapa?"


"Udah-udah. Aku juara 1 kok."


"Ciee selamat yah, kalo aku juara 2." Ujar Lisa.


Rey terlihat mengernyitkan dahinya bingung, "Juara 2?" Tanya Rey.


"Iya Rey, maafin aku yah. Aku nggak bisa pertahanin peringkat aku, padahal kan aku udah bener-bener tekun belajar. Tapi kayaknya aku emang nggak bisa juara 1 lagi." Tutur Lisa sembari menundukkan kepalanya.


Dinda terlihat tersenyum sinis mendengar kalimat Lisa barusan. Ia berpikir bahwa Rey akan memarahi Lisa saat ini juga karena prestasi Lisa menurun.


Rey tersenyum lembut, "Kok minta maaf? Nggak papa kali. Kamu juara 2 aja udah bisa bikin aku seneng kok. Aku bangga sama kamu, selama ini kamu udah belajar dan aku seneng kamu bisa usaha." Ucap Rey sambil mengelus kepala Lisa.


Lisa mendongak dan menatap Rey sambil tersenyum manis.


"Mana sini rapor nya, aku mau liat!"


"Nih!"


Lisa menengok ke arah Dinda dan menjulurkan lidahnya meledek Dinda. Sementara Dinda hanya bisa menatap kesal pada Lisa.


"Ini nilai kamu lebih tinggi daripada semester lalu. Itu artinya usaha kamu nggak sia-sia. Kamu nggak usah sedih yah, tahun depan harus lebih baik dari ini! Oke?" Ujar Rey menyemangati.


"Siap Pak Rey!" Tegas Lisa sambil hormat.


"Ini juga nilai matematika nya lebih tinggi, kamu beneran kerjain soal kemaren dengan jujur kan?"


"Ya iyalah. Kan kamu juga liat sendiri aku belajarnya kayak gimana, bahkan kamu kan yang ajarin aku rumus-rumus dan bantu aku belajar kemaren...!" Ucap Lisa sengaja agak keras agar Dinda mendengarnya.


Dinda jengkel namun juga tidak ingin merusak reputasi nya di depan Rey. Yang bisa ia lakukan hanyalah berusaha menahan emosinya. Nih orang caper banget sih di depan Rey. Cuma pacar aja sok mesra gitu, huuuu...


Rey mengusap rambut Lisa dengan lembut, "Iya-iya deh... Gini dong, rajin belajar, biar aku makin sayang!"


Kata-kata Rey barusan cukup membuat Dinda kesal mendengarnya. Lisa kembali tersenyum sinis dan semakin semangat untuk memprovokasi Dinda. "Lah iya sayang kan? Ayo ke Resto, aku laper... pengen makan, teman-teman lain juga udah ada disana nunggu kita!"


"Oh yah? Yaudah yuk kesana!"


Lisa dan Rey meninggalkan Dinda sendirian untuk pergi ke Restoran tempat teman-teman nya yang lain berkumpul. Dinda sangat kesal melihat kedekatan keduanya. Ingin sekali ia memaki Lisa, akan tetapi ia sadar kalau ia tidak boleh memiliki pencitraan buruk apalagi di depan Rey.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!