Love In Many Ways

Love In Many Ways
Happy Wedding



Putra melirik sekilas ke arah meja belajar Lisa, benda yang sedari dia minta dari Lisa, masih setia di sana. Putra berdiri dari duduknya kemudian berjalan pelan mendekat ke arah Lisa yang masih duduk di meja belajarnya.


Perlahan tapi pasti, hp itu langsung berada di tangan Putra.


Lisa yang menyadari nya langsung berusaha mencegah nya, namun apa boleh buat dia sudah terlambat. Putra terlihat membuka hp itu, dan...


"Ih kak Putra balikin hp Lisa."


Putra langsung menaikkan lengannya tinggi-tinggi supaya Lisa tak dapat menggapainya.


"Kakak cuma mau liat kok. Kamu pasti menyembunyikan sesuatu dari kakak."


Lisa berusaha menggapai tangan panjang Putra. "Lisa nggak nyembunyiin apa-apa kok kak. Kak Putra balikin."


Tangan Putra yang kiri sudah men-scrol hp milik Lisa, sedangkan tangan kanan nya sibuk mencegah Lisa yang sedari tadi ingin mengambilnya. "Kalo kamu nggak nyembunyiin apa-apa, trus kenapa kamu panik?" Tanya Putra.


Pertanyaan Putra seketika membuat Lisa terdiam. "Nggak kok. Lisa nggak panik." Ucap nya berusaha santai.


Untung tadi aku udah sempet hapus chat aku sama Al, jadi kak Putra nggak bakal tau. Hampir aja...


Lisa menghela napas kemudian kembali duduk di kursi yang tadi dia duduki, menatap ke arah Putra yang masih sibuk dengan hp nya. Dalam hati Lisa terus berdoa agar Putra tak mencurigai apapun yang ada dalam hp nya. Mulutnya terus komat-kamit baca mantra, mbah dukun kali yah, hahaa...


Lisa tak melepaskan pandangannya dari kakaknya, terus menyaksikan setiap perubahan ekspresi wajah Putra.


Putra menyodorkan hp itu pada Lisa, "Nih."


Lisa menerima nya kemudian berkata, "Nah kan? Lisa bilang apa? Nggak ada yang Lisa sembunyiin kok dari kak Putra, nggak percayaan banget sama adik sendiri."


"Iya deh, tapi awas aja, kalo sampe kakak tau kamu punya rahasia." Ancam Putra.


"Hem."


...*****...


Satu Minggu Kemudian...


Semua telah berlalu, waktu berjalan begitu cepat. Kini tiba saat yang di tunggu-tunggu.


Di sebuah gedung yang besar dan mewah, pesta pernikahan diberlangsungkan.


Acara inti telah selesai. Kini tinggal menjamu para tamu dan menerima ucapan dari para tamu. Felice sudah berdiri di samping suaminya. Mereka sudah sah sebagai sepasang suami istri.


Ini adalah suatu pernikahan yang membuat iri seluruh wanita. Mungkin mereka tersenyum dan mengucapkan selamat pada mempelai, namun dalam hati mereka mengutuki mempelai wanita kenapa harus Felice? Kenapa bukan dirinya? Para fans dan penggemarnya Putra tentu sebagian besar dari mereka merasa sangat kecewa. Tapi mereka mau apa? Semua sudah terjadi, dan Putra sudah sangat bahagia.


Hari ini Felice terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pernikahannya yang berwarna putih, kalung berlian yang indah bertengger di leher jenjang nya, tatanan rambut yang rapi dan bergelombang. Wajahnya di penuhi dengan senyuman yang menujukkan betapa bahagianya dirinya. Tak beda jauh dari Putra yang mengenakan tuxedo, dia tampak sangat-sangat tampan, dia juga terlihat sangat bahagia, senyumannya tak pernah lepas dari bibirnya.




"Kalo kamu capek, kamu duduk dulu." Pinta Putra pada Felice. Karena memang sedari tadi mereka berdiri, menerima ucapan selamat dari para tamu yang berdatangan.


Felice mengangguk tanda mengerti, kemudian duduk di kursi yang sudah di sediakan yang terletak di belakang mereka.


"Weits, Bro." Seru salah seorang dari tiga temannya yang berjalan menghampiri mereka, yang tak lain adalah Dion, Andra dan Zidan.


Melihat mereka, Putra dan Felice kembali berdiri. Pertama Dion menyalami Putra. "Happy Wedding Bro." Ucapnya.


"Makasih loh." Ucap Putra.


"Congratulations on your wedding." Shut Zidan.


"Thanks."


"Setelah nikah jangan lupain kita." Pesan Andra yang langsung di jawab dengan cepat oleh Putra.


"Never." Ucap Putra.


"Baek-baek sama Felice, saling menjaga perasaan." Pesan Zidan.


"Asiap." Sahut Putra dengan posisi hormat bak tentara.


"Jagain kakak Ipar, jangan dibuat luka." Pesan Dion juga.


Putra mengernyitkan kening nya bingung. "Kakak ipar? Kakak ipar siapa?" Tanya nya.


"Ya Felice lah. Dia kan udah jadi bagian keluarga kita."


"Tapi dia bukan kakak ipar kalian. Adik iparnya tuh cuma satu, cuma Lisa." Sanggah Putra.


"Udahlah, Putra. Iyain aja lah biar kita seneng." Pinta Zidan.


"Iyain biar seneng." Sahut Putra dengan datar.


"Hahaa..."


"Yaudah kita mau makan dulu lah. Kayaknya makanan nya enak semua yah." Ucap Andra.


"Dasar kamu. Pikiran nya cuman makanan doang, jangan-jangan kamu kesini cuma buat numpang makan?" Ledek Dion.


"Nggak lah. Maksudnya nggak salah lagi. Hahaa... Ya kapan lagi kan kita makan enak? Gratis lagi." Seru Andra.


"Iya juga sih." Dion malah membenarkan.


"Yaudah, Putra kita makan dulu yah."


"Iya, makan gih sana. Tapi jangan di habisin!" Gurau Putra.


"Kalo aku sih nggak, tapi kalo Andra aku nggak tau. Buktinya piring aja dia makan." Ucap Zidan disusul dengan tawa nya.


"Apaan sih." Kesal Andra.


"Daah kakak ipar." Zidan melambaikan tangan pada Felice, dan di balas oleh Felice sambil tersenyum.


Pesta pernikahan begitu megah dan sangat meriah. Semua tamu yang datang merupakan tamu dari kalangan atas. Semua rekan kerja Pak Hariwijaya turut ikut serta memeriahkan pestanya.


Sedangkan Lisa terlihat sangat cantik dengan dress berwarna putih dengan rambut yang di biarkan tergerai, di padukan dengan jepitan yang berwarna putih dengan campuran sedikit warna hitam menghiasi rambut tebal nya, dan tak lupa dengan highheels yang agak tinggi berwarna hitam.


Lisa tengah duduk dengan teman-temannya. Ya, Lisa ikut mengundang teman-temannya, lagian kan Lisa dulu pernah berjanji jika suatu hari nanti kak Putra menikah Lisa tak akan lupa untuk mengundang teman-temannya. Ada Sarah, Mira, Ghea, Al dan Vhino. Kalau Rey sih pasti datang dong, masa enggak?


Mira menatap ke arah pelaminan, dia menatap Putra dan Felice dengan tatapan tidak rela. "Idola ku benar-benar nikah, nggak nyangka aku." Ujar Mira masih menatap mereka.


"Udah, nggak usah di pikirin. Move on aja susah banget sih." Ucap Ghea.


"Kamu nggak tau aja, gimana rasanya melihat orang yang bener-bener kita sayang begitu lamanya, trus harus ngeliat dia nikah? Gimana rasanya? Hatiku hancur berkeping-keping tak tersisa." Ucap Mira dengan lebay nya.


"Halla, kamu nya aja yang lebay. Relain aja kali, kalo kamu sayang dia, ya kamu harus liat dia bahagia meskipun bahagia nya itu nggak sama kamu." Kata Vhino menceramahi.


"Kali ini aku setuju sama si ka*pret. Aku aja udah di move on kok. Aku udah relain pangeran aku sama wanita lain." Ucap Sarah.


"Aku nggak butuh persetujuan kamu." Sahut Vhino dengan ketus.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!