Love In Many Ways

Love In Many Ways
Tidur yang Terganggu



Rey mematikan telpon nya dan duduk di samping Lisa yang tengah terbaring pingsan. "Cha, bangun dong. Jangan bikin khawatir..." Ujar Rey dengan lirih.


Tok.. Tok.. Tok...


Suara pintu kamar di ketuk.


"Masuk." Sahut Rey.


Pintu terbuka, terlihat seorang dokter dengan memakai kemeja biru masuk kedalam kamar. "Siapa yang pingsan?"


"Ini Lisa dokter." Ujar Rey.


"Yasudah saya periksa dulu." Dokter memeriksa Lisa dengan detail. Mulai dari denyut nadi nya hingga detak jantung nya. Dokter memeriksa dengan sangat teliti.


"Gimana dok?"


"Nggak kenapa-napa. Mungkin karena kecapekan. Apakah dia sudah makan?"


"Dia cuma makan martabak, dok. Memang nya kenapa?"


"Untuk kedepan nya mohon di perhatikan pola makannya. Sepertinya dia punya sakit maag."


"Baik dokter."


"Ini sebentar lagi sadar kok. Kalau begitu saya pulang dulu, soalnya masih banyak pasien di rumah sakit yang mau saya tangangi."


"Baik terima kasih, dokter."


Dokter membereskan alat-alatnya dan memasukkan nya kembali ke dalam tas. "Saya permisi dulu, kalo ada apa-apa silahkan hubungi saya."


"Terima kasih, dok."


Setelah mengantar dokter nya sampai keluar, Rey kembali duduk di samping Lisa. Dia menatap Lisa yang terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali. "Icha." Panggil Rey. Lisa mengucek matanya dan menatap sekeliling nya. Nampak nya dia bingung.


"Ngapain lo?" Tanya Lisa saat melihat Rey yang sedang duduk di samping nya.


"Kamu nggak papa? Ada yang sakit nggak?" Tanya Rey yang terlihat khawatir.


"Perut gue sakit." Ucap Lisa sambil meringis memegangi perutnya.


Dengan sigap Rey mengambil obat yang ada di atas meja, obat yang di berikan oleh dokter tadi. "Ini di minum dulu."


"Apaan nih?"


"Obat, ini minum." Rey membantu Lisa meminum obat tersebut.


"Udah mendingan perut nya?"


"Belum, masih sakit." Ujar Lisa dengan lirih.


"Itu sebenarnya bukan perut kamu yang sakit, tapi lambung kamu. Kamu punya sakit maag kan? Trus tadi juga telat makan, makanya jadi sakit." Jelas Rey.


"Sekarang gue harus gimana, ini bener-bener sakit loh, Reyyy..." Lisa memegangi perutnya yang terasa nyeri dan panas, benar-benar sakit.


"Sekarang kamu tenang aja, jangan banyak gerak. Bentar lagi obatnya pasti bereaksi, percaya deh."


"Yaudah kalo gitu gue mau tonton film, nyalain tv nya!" Lisa memposisikan tubuhnya agar lebih nyaman. Dia bersandar di kepala kasur menghadap ke arah tv yang berada di dalam kamar tersebut


Rey menyalakan tv nya dan memberikan remot nya pada istrinya yang manja.


"Rey jangan tidur, temenin gue nonton!" Sahut Lisa saat melihat Rey berbaring di samping nya.


"Aku capek, Cha." Ujar Rey dengan pelan lalu menutup matanya.


"Nggak papa, Cha. Aku kan ada di sini."


"Tapi tetep aja gue takut." Ujar Lisa dengan lirih.


Rey sudah tak bisa mendengar ucapan Lisa lagi, saat ini ia benar-benar lelah dan letih. Di satu sisi dia harus mengurus segalanya di sekolah di sisi lain dia harus mengurus istri nya yang manja. Mohon bersabar ini ujian...


"Rey!" Lisa melihat Rey tak bergerak sama sekali. Lisa memanyungkan bibirnya kesal. "Huh, dasar ngeselin. Ini mata juga kenapa sih nggak bisa tidur? Heran dah!" Sekarang Lisa hanya bisa ngomong sendiri. Tak akan mungkin ada yang menjawab ucapannya.


Lisa memutuskan untuk mematikan tv nya dan ingin memainkan ponsel baru nya saja. Seluruh tubuhnya di tutupi selimut, kemudian membuka ponsel nya. Dia terkejut saat mendapati jam sudah tunjukkan pukul 01.25 dini hari. Tapi yaaa mau gimana lagi? Dirinya tak bisa tidur, tapi dia merasa agak takut.


.


.


.


Pagi Hari🌄🌞


"Icha... Bangun. Ini udah pagi loh!" Membangun kan seorang istri adalah rutinitas Rey yang dia lakukan setiap harinya. Ntah jam berapa kemarin Lisa tidur, tapi yang pasti pagi ini dia masih saja molor kayak kebo. "Icha, kemarin tidur jama berapa? Kamu nggak begadang kan? Icha ayo bangun!" Yang di panggil hanya menggeliat untuk sesaat kemudian melanjutkan kembali tidurnya. Rey memegang tangan Lisa, terasa panas? Lisa sakit? Rey kemudian meletakkan panggung tangannya di kening Lisa. Benar saja, terasa panas.


"Icha, badan kamu panas banget!" Sahut Rey khawatir.


"Hem, gue kagak kenapa-napa."


"Kita ke dokter yah."


"Nggak mau! Gue bilang, gue nggak kenapa-napa. Udah jangan ganggu tidur gue!" Sahut Lisa dengan kesal. Matanya masih terpejam, masih enggan untuk terbuka.


Meskipun Lisa berkata begitu, tapi Rey tetap khawatir akan keadaannya. Apalagi kemarin Lisa sempat pingsan, dan hal itu tentu membuat Rey tambah khawatir. Rey keluar kamar untuk mengambil kain dan air hangat.


"Loh Rey? Belum berangkat sekolah?" Tanya Bunda. Ayah Bunda dan Aqeela sedang sarapan di meja makan.


Rey berjalan mengambil air hangat. "Rey berangkat nya nanti aja."


"Lisa mana?" Tanya Ayah.


"Lisa sakit, Yah. Ini Rey mau ambilin air hangat dulu." Jawab Rey. Rey mengambil kain kecil dan air hangat kemudian kembali ke dalam kamarnya. Lisa masih terlihat tertidur dengan pulas. Tidurnya nyenyak sekali.


"Icha, ini dahi kamu di kompres dulu, biar panas nya agak turun." Ujar Rey. Lisa tak menjawab dai hanya melanjutkan tidurnya dengan nyaman. "Kamu menghadap sini, Cha!" Pinta Rey dengan lembut.


Lisa malah mengambil selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, bahkan wajah dan kepalanya dia tutupi. Si Macan tutul emang pengganggu, mungkin begitu pikirnya. Yang pasti saat ini dia agak kesal karena tidurnya yang nyenyak terganggu, Lisa masih berusaha melanjutkan tuturnya.


"Icha, kening kamu panas loh. Sini aku kompres dulu." Ujar Rey dengan sabar. "Icha."


Lisa mendengus kesal kemudian membuka selimutnya, maka terlihat lah wajah nya yang sangat kesal. "Gue nggak kenapa-napa Rey. Lo ngerti nggak sih?! Gue cuman mau tidur dengan nyenyak tanpa gangguan. Lo itu udah ganggu tidur gue. Gue risih Rey, gue risih dengan kehadiran lo. Lo yang kayak gini buat gue ennek liat lo. Lo tau kan gue itu sangat benci sama lo, jadi lo tau diri dong!" Sahut Lisa sambil menatap Rey dengan penuh amarah.


Rey menghela napas berat. "Icha aku cum-..."


"Cuma apa? Ha? Udah deh Rey. Mending lo pergi aja. Gue kan udah pernah bilang gue nggak suka lo yang sok perhatian sama gue, gue nggak suka lo deket-deket gue. Karena apa? Ya karena gue benci sama lo. Kenapa sih lo nggak pernah ngerti kalo gue itu sangat-sangat benci sama lo?!" Sahut Lisa.


Rey kembali menghela napas mendengar semua penuturan Lisa. "Yaudah, kalo gitu aku berangkat sekolah dulu. Kamu jangan lupa makan." Ujarnya dengan pelan.


"Terserah! Udah sana lo pergi aja. Kalo perlu kagak usah balik lagi!" Sahut Lisa.


Rey keluar dari kamar tersebut tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Inilah kata pepatah, jangan membangunkan Singa yang lagi tidur. Nah kan jadi gini jadinya. Sabar Rey...


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!