
Lisa jadi kesal dengan Rani yang sepertinya tidak merasa bersalah sama sekali. Rani hanya selalu mengandalkan kekuasaan orangtua nya jika ia sedang mendapat masalah.
"Yah gue tau lo itu kaya, tapi bukan berarti orang kaya itu harus selalu benar! Salah yah salah! Kebenaran itu nggak bisa di beli dengan semua kekayaan!" Sahut Lisa.
"Lo kan sekolah di sekolah yang dikenal sangat populer, semua muridnya juga dikenal berkualitas, harusnya lo punya etika dan sopan santun apalagi bicara sama yang lebih tua! Setinggi apapun pendidikan lo kalo lo nggak bisa ngehargain orang semua bakal sia-sia!" Bentak Lisa yang semakin emosi.
Kakak kelas itu tampak ingin melerai mereka berdua. "Udah dek nggak papa, lagian aku kan udah lulus. Bajunya pasti nggak kepakai lagi kok."
"Bukan masalah kepakai atau nggak kak, tapi masalah siapa yang benar dan siapa yang salah. Gue heran sama lo Ran, kenapa selalu lempar kesalahan lo sama orang lain? Lo kan terlahir dari keluarga yang berpendidikan harusnya lo selalu di didik dengan baik sama orang tua. Gimana sih? Mental lo gangguan yah?!" Tanya Lisa sinis.
Rani tersinggung mendengar ucapan Lisa, ia menatap geram pada Lisa. "Awas aja lo! Urusan kita belum selesai!" Rani pergi dengan wajah kesal.
"Huh dasar cewek j*lang!" Kesal Rani.
Kakak kelas itu tampak merasa bersalah pada Lisa, "Maaf yah dek, gara-gara aku, kamu jadi berantem sama Rani."
"Kenapa sih kakak diem aja? Padahal dia itu salah! Bikin kesel aja deh!" Kesal Lisa.
"Nggak papa, itu emang sama-sama salah kita berdua kok. Nggak usah di perpanjang yah."
"Huh, yaudah deh..."
Kakak kelas itu pergi sambil melihat atasannya yang ketumpahan tinta hitam. Ia menghela napas sabar dan segera pergi.
"Ada-ada aja tuh si Rani, bikin kesel aja!" Geram Lisa.
.
.
.
Beberapa jam kemudian Dinda melihat Lisa yang ada di lantai 2, terlintas sebuah rencana di pikirannya. Dinda menyuruh seorang siswi untuk memberitahukan bahwa Lisa dipanggil Rey untuk turun.
Dan sebelum itu, Dinda menaruh pelicin lantai di tangga yang akan dilewati Lisa nantinya. Hal itu ia lakukan dengan tujuan agar Lisa terjatuh.
Seorang siswi menghampiri Lisa di lantai 2, "Lisa... Lo di panggil Rey buat turun kebawah tuh!"
"Emang kerjaan nya Rey udah selesai?" Tanya Lisa.
"Kayaknya sih udah..."
"Oh oke..."
Siswi itu pergi kearah berlawanan dengan Lisa, sedangkan Lisa berjalan menuju tangga untuk segera turun ke lantai 1.
Dinda sudah bersiap-siap sembunyi di tempat yang aman agar tak terlihat. Sedangkan Lisa senang-senang saja karena menduga Rey akan segera mengajaknya pulang kerumah. Ia merasa sudah bosan di sekolah ini sendirian.
Di tengah-tengah tangga, Dinda mulai menyunggingkan senyumnya karena merasa kalau rencana nya akan segera berhasil. Namun semua tidak berjalan sesuai rencana, Rani juga kebetulan lewat dan berpapasan dengan Lisa.
Lisa awalnya cuek-cuek saja melihat Rani, akan tetapi Rani merespon Lisa. "Heh cewek gila..., bisa nggak sih lo nggak usah ikut campur urusan gue?!" Tanyanya.
Lisa memutar bola matanya jengah, "Gue nggak ada maksud buat ikut campur. Tapi gue nggak suka aja lo salah-gunain kekuasaan orangtua lo itu! Dan kenapa lo selalu ganggu orang yang lebih lemah daripada lo? Udah ngerasa hebat lo? Dengan lo kebiasaan lo yang kayak gini nggak mungkin bisa buat lo hebat!"
Rani tersenyum sinis, "Ya terserah gue lah... Ini hidup gue dan lo nggak berhak atur-atur gue!"
"Ya terserah lo aja deh... Emang itu hidup lo kok kalo yang ini hidup gue, gue juga nggak maksa."
Lisa hendak melangkah turun, tapi Rani menahan tangannya, "Kok lo nyolot banget sih jadi orang?!"
Lisa menghela nafas, "Huh... Bukan gue yang nyolot tapi lo yang baperan! Ini udah 2021 yah, off baperan sayang!"
Rani semakin kesal mendengar penuturan Lisa, ia menarik kerah baju Lisa namun Lisa menghempaskan tangan Rani, dan...
"Aaahhhh...."
"RANI!"
Bug... Bug... Bug...
Bruakkk...
Rani terpeleset dan jatuh ke bawah, Lisa baru saja ingin menarik tangan Rani agar tidak jatuh, namun naas, gaya gravitasi lebih dulu menarik tubuh Rani kebawah.
"Icha?!"
Tiba-tiba Rey ada dibawah dan terkejut karena tiba-tiba Rani berhenti di kakinya. Rey langsung membalik badan Rani, sedangkan Lisa masih bengong karena terlalu terkejut dengan kejadian ini.
"Cha tolong Cha! Buruan turun sini!" Teriak Rey yang panik.
"Ha? I-iya!"
Lisa berniat ingin segera turun, namun tiba-tiba kakinya juga ikut tergelincir. Untung saja tangan nya segera menyahut pegangan tangga hingga tubuhnya tertahan, namun kakinya sepertinya terkilir.
"Aww... Kaki ku..." Rintih Lisa sambil memegangi kakinya.
Rey hendak berlari menolong Lisa, namun Dinda datang lebih dulu dan menolong Lisa yang terjatuh. "Lisa, kamu nggak papa? Ayo aku bantu!" Kata Dinda sambil mencoba membantu Lisa turun ke bawah.
Rey segera menelfon Ambulans. Rani segera di bawa ke rumah sakit untuk segera ditangani, Rey takut ada benturan yang cukup keras di kepala Rani, karena sedari tadi darah segar tak henti-hentinya mengalir.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!