Love In Many Ways

Love In Many Ways
Urut



"Rey turunin! Ntar Ayah Bunda liat." Sahut Lisa panik. Pasal nya setelah mobil berhenti di depan rumah, Rey langsung menggendong Lisa masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan apa-apa.


"Ayah Bunda nggak ada." Jawab Rey dengan datar.


"Ntar Aqeela liat Rey!" Sahut Lisa dengan geram.


"Aqeela lagi tidur di kamar nya." Rey menaiki tangga satu per satu dengan pelan. Tubuh Lisa emang kecil, namun berat nya subhanallah...


"Ih sok tau banget. Lo kan baru pulang." Ucap Lisa dengan kesal.


Rey tak menjawab ucapan Lisa lagi, dia malas berdebat dengan Lisa yang tak akan mungkin bisa dia kalahkan. Rey membuka pintu kamar dan melangkah masuk ke dalam. Dia langsung membawa Lisa ke arah ruang ganti dan menurunkan nya di depan pintu. "Ganti baju sana!" Pinta nya.


"Ntar aja. Kaki gue masih sakit, gue mau tidur dulu bentar." Ujar Lisa dengan nada memohon.


"Gak ada alasan! Udah sana ganti baju!" Ucap Rey dengan tegas.


Lisa bersungut kesal, kemudian melangkah masuk ke dalam ruang ganti dengan pelan. Dia menutup pintu dengan keras. Sebenarnya dia cukup senang dengan kepulangan suami nya, namun kalo jadi gini juga dia akan kesal. Sekarang dia jadi takut sama Rey? Sudah tak bisa membantah apalagi melawan. Dan Rey? Sekarang Rey lebih tegas dan suka memerintah. Bukan nya dulu dia tak pernah bisa bersikap begitu pada Lisa? Apalagi menggertak nya.


"Rey bantuin gue!" Teriak Lisa dari dalam ruang ganti.


"Kenapa?" Tanya Rey.


"Bantuin gue!" Teriak Lisa lagi.


Rey yang panik mendengar teriakan Lisa, langsung membuka pintu dengan paksa. "Kenapa?" Tanya Rey panik.


"Ini kaki gue perih banget. Tolong lilitin celana nya yah." Ujar Lisa.


"Ya Allah, Cha. Kirain kenapa. Ini kamu kenapa mesti pake celana panjang sih? Celana pendek kan lebih baik untuk sekarang, apalagi lutut kamu lagi sakit."


"Udah deh nggak usah bawel. Inikan celana gue, kenapa lo yang pusing?! Sekarang bantu lilitin ke atas, lutut ku perih."


Rey menghela napas berat berusaha sabar menghadapi Lisa yang keras kepala dan tak mau di bilangin. "Sini." Rey melilit celana panjang Lisa dengan rapi sampai dengan batas luka yang ada di lutut nya.


Setelah selesai, Rey langsung keluar meninggalkan Lisa yang masih berdiri dengan bingung. "Eh Rey, Rey bantuin. Aku nggak kuat jalan." Panggil Lisa lagi.


"Coba aja dulu."


"Nggak bisa Rey, beneran deh."


Rey kembali masuk ke dalam ruang ganti untuk menjemput istri manja nya. "Yaudah sini naik." Rey menepuk pundak nya. Rey menggendong Lisa dari belakang, dia meletakkan Lisa di atas pundak nya.


"Turunin, turunin..." Lisa di letakkan di atas kasur dengan pelan.


"Udah kan? Sekarang kamu tidur aja. Biar kaki nya cepet sembuh!"


"Tapi kan gue-..."


"Tidur!" Ucap Rey dengan tegas. Lisa yang mendapat kode saat mendengar nada suara Rey akhirnya menurut saja. Dia mengerucutkan bibir nya kemudian menutup wajah nya dengan selimut.


.


.


.


"Cha... Bangun..." Rey mengusap-usap kepala Lisa, mencoba membangunkan nya dengan pelan.


"Icha... Ayo bangun." Lisa menggeliat pelan. Lalu kembali tertidur. "Cha, bangun gih. Ini ada Nek Mawan, Icha." Ujar Rey dengan pelan.


"Icha, bangun..." Lisa terlihat mengerjapkan matanya dengan pelan. Lalu membuka kedua matanya pelan-pelan.


"Dia Nek Mawan."


"Nek Mawan?" Lisa mengerutkan kening nya bingung.


"Nek Mawan mau ngurut kaki kamu yang keseleo, biar cepet sembuh." Jelas Rey.


Lisa memandang ke arah Nek Mawan. Nek Mawan terlihat tersenyum ke arah nya, Lisa pun membalas senyuman tersebut dengan canggung.


"Bisa saya mulai, Den?" Tanya Nek Mawan.


"Iya Nek." Jawab Rey yakin.


Nenek Mawan berjalan dengan perlahan ke arah kasur. Lisa yang melihat nya pun sontak ingin segera bangun, namun di tahan oleh Rey. "Kamu di sini aja." Kata Rey pelan.


Nek Mawan duduk di tepi tempat tidur, di samping kaki nya Lisa. "Tahan dulu yah." Ucap Nek Mawan mulai memegang kaki Lisa, terlihat dia mengusap kaki Lisa menggunakan minyak urut. Nek Mawan mulai mengurut kaki Lisa dengan pelan.


Lisa meringis menahan sakit di kaki nya. "Aww... Pelan-pelan, Nek." Keluh Lisa. Tanpa sadar tangan nya meremas tangan Rey yang duduk di samping nya, ia memegang, menggenggam dan meremas dengan kuat tangan milik Rey.


"Tahan bentar yah." Kata Nek Mawan lagi.


"Rey... Sakit..." Keluh Lisa. Rey mengusap kepala Lisa pelan, berusaha untuk menenangkan nya. "Aww, Rey... Udah..." Pinta Lisa dengan pelan. Rasa nya seperti seluruh urat-urat di kaki nya terputus seketika.


"Tahan, nak." Sahut Nek Mawan. Nek Mawan masih sibuk mengurut-ngurut kaki Lisa. Jangan khawatir Nek Mawan sudah ahli dalam hal ini. Liat saja tangan nya yang lincah itu, mengesan kan.


"Sssthh... Rey, tolongin..."


Tangan kiri Rey sibuk mengusap-usap kepala Lisa, sedangkan tangan kanannya ia biarkan Lisa menggenggam nya dengan kuat. Kalo kayak gini sih jatuh nya kayak orang yang lagi lahiran yah guys Hahahaa... Sabar semua nya, ini belum waktu nya Lisa lahiran, toh dia masih SMA kok.


"Nahkan sudah selesai."


"Huh... Akhirnya..." Kata Lisa dengan lega.


Rey tersenyum melihat ekspresi wajah Lisa, keringat Lisa bercucuran disana sini, napas nya juga terdengar agak ngos-ngosan. "Makasih yah, Nek."


"Sama-sama, Den. Yaudah kalo gitu nenek mau pulang yah. Semoga cepat sembuh yah, nak."


"Makasih, Nek." Ucap Lisa.


"Yasudah, ayo Nek, Rey anter." Tawar Rey. "Kamu tunggu sini, aku cuma bentar kok." Ujar nya pada Lisa.


Rey mempersilahkan Nek Mawan untuk berjalan duluan, setelah kepergian Rey dan Nek Mawan Lisa bernapas dengan lega. Buset, kaki ku sakit banget. Kalo di urut rasa nya tambah sakit. Aww...


Ia berusaha menggerakkan kaki nya dengan pelan, namun rasanya benar-benar sakit. Nasib sungguh nasib. Gimana kalo misalkan aku udah nggak bisa jalan? Gimana kalo kaki ku ini... Ah nggak. Nggak mungkin, kok jadi negative thinking kayak gini. Tapi ini benar-benar sakit yah Tuhan...


Lisa memutuskan untuk tidak menggerakkan kaki nya sedikit pun. Posisi nya tetap sama, dia berbaring dan tubuhnya dia balut dengan selimut, kayak pisang molen gitu, wkwkwkk garing bat...


Ia menatap langit-langit kamar nya, tanpa sadar ia memikirkan sikap Rey pada nya. Meskipun Rey itu sikap nya dingin, tapi ternyata sikap perhatian nya sama sekali tidak berubah, tetap sama seperti dulu. Dia masih takut Lisa kenapa-kenapa, dan tak akan pernah tega melihat Lisa kesakitan.


Sebuah garis lingkungan membentuk sebuah senyuman bahagia tercinta di sudut bibir Lisa. Ntah sejak kapan dia jadi bahagia kayak gini. Apa iya dia mulai jatuh hati pada Rey? Ah nggak mungkin. Lisa tak akan pernah mengakui hal itu...


Yang dia tau, dia membenci Rey, yah masih tersisa sedikit kebencian padanya. Meskipun tak seperti dulu lagi.



Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!