Love In Many Ways

Love In Many Ways
Mantan Terindah



"Ih Lisa, kenapa kamu baca semua sih? Kan aku jadi malu." Ujar Sarah berusaha mengambil kembali hp nya.


"Nggak papa kok. Aku cuma baca." Lisa kembali membaca semua nya tanpa ketinggalan satu kata pun. Di dalam pesan itu terlihat Sarah begitu perhatian, dan pesan nya begitu romantis dan panjang-panjang. Sedangkan Al malah sebalik nya. Jelas Al begitu cuek, jawabnya singkat-singkat dan sesekali juga tak menjawab pesan dari Sarah. Tapi aneh nya, Sarah malah terlihat sangat bahagia, bahkan jika pesan nya cuma di jawab 'Oke' sama Al itu akan membuat nya jingkrak-jingkrak kegirangan. Sarah benar-benar sudah dibutakan oleh cinta, pacaran dengan Al membuat nya selalu gembira di setiap hari nya.


"Udah, sini." Sarah langsung merebut hp nya dari tangan Lisa.


"Dasar pelit." Kesal Lisa.


"Biarin." Sarah menyimpan hp nya kembali di dalam tas nya. "Eh, pasti kemarin kamu izin satu minggu itu karena kamu mau nikah kan sama Rey?" Sarah berbisik.


Lisa mengangguk. "Hem."


"Wah selamat yah beip." Sarah langsung memeluk Lisa dengan erat. "Aku ikut seneng, semoga jadi pasangan yang Sakinah Mawadda Warahma. Semoga langgen sampe kakek nenek. Semoga nggak ada masalah apapun dalam rumah tangga kalian dan semoga kalian cepat dapat keturunan." Sahut Sarah dengan girang. Yang nikah siapa, yang seneng siapa?


Lisa berusaha melepaskan pelukan Sarah yang serasa mencekik. "Iya makasih. Tapi lepasin dulu, aku nggak bisa napas."


Sarah tak mempedulikan ucapan Lisa, dengan senang hati dia tetap memeluk bahkan dia mempererat pelukannya.


"Assalamualaikum, kalian nungguin aku nggak?!" Seru Mira yang baru saja datang sambil meniru gaya bicara Nisa Sabyan guys. "Ih ada apa nih, kok ada acara peluk-peluk? Lagi perpisahan?" Tanya Mira.


Sarah melepaskan pelukan nya kemudian berkata. "Sini deh, aku bisikan." Dengan patuh Mira mendekat pada Sarah. "Lisa udah nikah, yeiy." Bisik Sarah dengan girang.


"Aelah, kalo itu mah gue juga tau." Ujar Mira dengan datar.


"Oh iya kamu dateng nggak di acara nya?" Tanya Sarah.


"Nggak, Mama sama Papa aku yang dateng, aku kagak ikut."


"Pantes kemaren aku nggak liat kamu."


"Jadi gimana, Lis?"


Gimana apa nya?" Tanya Lisa tak mengerti.


"Gimana rasa nya udah nikah? Gimana rasa nya jadi seorang istri? Pasti seneng kan? Pasti bahagia banget deh." Ujar Sarah.


"Rasanya seperti anda menjadi Iron Man." Gurau Mira.


"Seneng kagak menderita iya. Kalo kalian nanya rasanya kalo udah nikah gimana, rasanya ngeselin banget, tiap hari tuh aku pasti kebakaran selalu marah-marah, emosi nggak bisa terkontrol. Rasanya menyedihkan sekali hidup ku ini. Mommy tuh selalu belain Rey, apa-apa Rey, semua Rey, kan aku ngerasa jadi anak pungut, hiks..." Jelas Lisa dengan lebay nya.


"Mohon bersabar ini ujian."


"Selow aja, semua akan indah pada waktunya." Ujar Sarah dengan santai.


"Tersiksa hidup ku, hiks..." Ujar Lisa yang lebay nya semakin menjadi-jadi.


"Ntar kamu jadi Mama muda yah. Hahaa..." Ledek Sarah.


"Mama muda geleng-geleng keringetan, pusing-pusing jadi nya..." Mira bersenandung meledek sambil menyimpan tas nya di kursi nya.


"Kalian nggak usah ngeledek, nggak lucu!" Sahut Lisa dengan datar.


"Ya maap."


"Ngemeng-ngemeng nih, Ghea sama Vhino kemaren nanya sama aku, katanya 'kok bisa aku pacaran sama Al.' Trus aku jawab ya bisalah."


Lisa terlihat agak panik. "Kamu nggak ngomong kan soal aku sama Rey?"


"Tenang aja nggak usah panik kayak gitu dong. Aku ini pandai menjaga rahasia." Ujar Sarah dengan bangga.


"Nggak. Aku bilang Lisa udah putus sama Al."


"Trus?"


"Mereka nanyain gimana cerita nya, dan pada akhirnya aku bikin cerita yang pastinya cuma di rekayasa dan akhirnya mereka percaya." Jelas Sarah.


"Trus?"


"Apaan sih kamu? Kayak tukang parkir aja." Ucap Sarah pada Mira.


Lisa tampak berpikir. "Apapun yang terjadi kalian jangan pernah bocorin hubungan aku sama Rey, oke?"


"Oke siap." Sahut Sarah dan Mira berbarengan.


"Aku percaya kalian."


.


.


.


Jam pelajaran telah di mulai sejak 20 menit yang lalu. Kelas 11 IPS 5 sudah hening tanpa suara sedikit pun. Semua sibuk menyalin materi hari ini.


Sedangkan Lisa, dari tadi ia tak bisa konsen menyalin karena ada sepasang mata yang sesekali melihat ke arah nya. Kalau kalian menebak kalo itu adalah Al, maka itu memang benar. Dan saat pandangan Lisa bertemu dengan Al, Lisa akan memberikan senyuman kaku pada Al begitupun sebaliknya. Maklum lah mantan mah rata-rata kayak gitu. Dulu akrab banget pas pacaran, eh setelah putus serasa baru aja kenal, trus canggung-canggung gitu, iya nggak?


Sangat-sangat jelas bahwa Al belum move on dari Lisa. Tidak bertemu dengan nya selama satu minggu lebih tidak membuat Al akan lupa pada seseorang yang selalu membuatnya hati nya berbunga-bunga, eh ralat maksudnya pernah membuat hati nya berbunga-bunga. Al malah sangat merindukan sosok tersebut, sosok yang membuatnya selalu bersemangat untuk kesekolah. Sosok yang seolah-olah mencegahnya untuk bolos saat jam pelajaran. Sosok yang serasa menuntun nya untuk tidak telat masuk sekolah. Seolah-olah sosok itu mencegahnya untuk membuat masalah.


Ya memang dia sudah pacaran dengan Sarah. Dan semua siswa-siswi di sekolah tersebut mengakui nya. Namun, itu kan bukan sepenuhnya keinginan nya. Apakah salah jika kita masih berharap dengan sang mantan? Apakah salah jika kita masih mencintainya meskipun udah putus? Salah nggak sih? Bagaimana Al bisa move on kalo tiap hari harus liat wajah itu, wajah yang sangat manis. Rasa nya dia ingin bercerita banyak pada Lisa, ingin bercerita bagaimana dia melalui hari-hari nya tanpa ada Lisa dalam hidup nya. Ingin kembali bergurau, bercanda sama Lisa. Tertawa bersama. Dan hal yang paling dia rindukan adalah saat-saat Lisa tersenyum malu-lalu ketika Al memberikan gonbalan dengan kata-kata puitis. Tapi yaaa sudahlah.


.


.


.


Kantin👈


"Eh, udah satu minggu aku nggak ngerasain mie ayam kesukaan aku ini." Lisa kembali menyendokkan nya ke dalam mulutnya.


"Makanya jangan sering absen. Kan jadi rindu." Sahut Sarah.


"Rasanya masih sama nggak?"


"Ya samalah. Kan ini mie ayam." Jawab Lisa.


"Jangan sampai rasa nya udah berubah karena udah lama kamu tinggal." Gurau Mira yang mulai bucin.


"Ah elah, bucin."


"Ngemeng-ngemeng Ghea mana? Tumben nggak ikut nimbrung?" Tanya Mira.


"Kagak tau." Jawab Sarah.


"Lah? Kamu sama Ghea kan kayak perangko, dimana ada Sarah disitu ada Ghea, dimana ada Ghea di situ ada Sarah. Masa nggak tau? Atau mungkin kalian udah jadi magnet kali yah, yang di bagian tertentu dapat tolak menolak." Ucap Mira yang mengundang gelak tawa pada Sarah dan Lisa. Tapi tidak dengan Al.