Love In Many Ways

Love In Many Ways
Tuduhan



Di Rumah Sakit🏥


Lisa baru saja diperiksa oleh dokter, tangannya terkilir dan kakinya mengalami sedikit keretakan. Ia masih duduk di kursi tunggu dengan keadaan yang syok.


"Cha... Icha, kamu nggak papa kan?" Tanya Rey.


Tak ada reaksi dari Lisa, Rey kembali menyahut,"Icha, kamu bisa denger aku kan?" tanya Rey yang saat ini duduk disebelah Lisa.


Mata Lisa terlihat berkaca-kaca, "Rey... Aku nggak ngapa-ngapain. Aku nggak ngapa-ngapain serius deh, Rani gimana? Apa dia baik-baik aja?" Tanya Lisa panik.


Rey merangkul Lisa yang masih begitu syok dengan keadaan ini, "Shhh... Sudah, semua pasti akan baik-baik saja!" Rey berusaha menenangkan Lisa.


"Rey, aku bener-bener nggak ngapa-ngapain. Rani jatuh sendiri, aku nggak ngapa-ngapain..."


Rey membawa Lisa kedalam pelukannya, membiarkan Lisa menyandarkan kepalanya di dada bidang nya. "Huusshh... Sudah-sudah. Kamu tenang. Aku percaya sama kamu." Rey mengelus kepala Lisa lembut.


.


.


.


Di Sisi Lain...


Dinda sedang berdiri melihat pemandangan dari lantai 3 rumah sakit itu, tangan kanannya memegangi ponselnya di telinganya.


"Gimana? Lo udah bersihin itu?"


"Udah... Nggak bakal ada yang tau kalo sebelumnya ada pelicin lantai disitu."


"Oke, kerja bagus!"


"Tapi Rani gimana? Gimana kalo dia kenapa-napa?"


"Diam! Lo cuma perlu diem aja, kalo ada sepatah katapun yang keluar dari mulut lo, siap-siap aja dikeluarkan secara tidak hormat dari sekolah. Dan bokap lo bakal dipecat dari perusahaan papa gue!"


"I-iya, jangan keluarin gue dari sekolah, gue masih mau sekolah. Dan jangan pecat bokap gue."


"Oke, itu semua tergantung mulut lo!"


Dinda mematikan telfonnya, ia senang melihat Lisa seperti ini. Ia memikirkan situasi yang saat ini ada diluar bayangannya. Senyum kemenangan tak henti-hentinya tercipta di bibir nya.


"Siapa yang tau? Awalnya gue mau celakain Lisa, eh malah kena Rani juga. Tapi kalo dipikir-pikir..., ini menguntungkan juga yah. Kalo sampe Lisa terbukti bersalah, Lisa bisa dikeluarkan dari sekolah tanpa harus mengotor-ngotori tangan gue. Dan Rey pasti jadi milik gue sepenuhnya!" pikir Dinda senang.


Dinda memutar otaknya untuk memanfaatkan situasi ini, dia memikirkan cara bagaimana agar dati peristiwa ini, Lisa harus di salahkan lebih tepatnya di pojokkan. Saat ini pikiran Dinda kacau karena buta cinta, atau lebih tepatnya obsesi untuk memiliki Rey sepenuhnya.


"Oh iya, aku bisa berpura-pura menjadi saksi. Siapa yang tidak mempercayaiku? Bahkan guru-guru disekolah pasti lebih mempercayai ku 100%. Aku bisa bertingkah seolah-olah aku melihat semua kejadiannya. Lagipula saat itu listrik sedang mati, tak ada CCTV yang hidup."


Dinda benar-benar menikmati situasi ini, seolah-olah tiap detik memang diciptakan untuk kemenangan Dinda atas Rey.


Oke... Kerja bagus Dinda cantik. Yang ku perlukan hanyalah menjalankan rencana selanjutnya...


Dinda kembali menemui Rey dengan wajah polosnya. Ia mendekati Rey, "Gimana keadaan Rani, Rey?" tanyanya.


"Masih nunggu hasil Rontgen dulu."Jawab Rey.


Lisa terlihat tertekan dengan kata-kata Dinda, "Nggak-nggak! Aku nggak nyelakain dia! Rani jatuh sendiri, aku nggak salah... Aku..." Lisa terbata-bata karena takut dan syok.


"Udah nggak papa, kamu tenang yah. Selama ada aku semua bakal baik-baik aja. Kamu nggak bakal kenapa-napa!"Rey mengusap punggung Lisa agar Lisa tenang. "Din, Kamu bisa diam kan? Diam dulu, aku nggak mau mental Lisa kembali down untuk kesekian kalinya cuma karena ucapan kamu yang nggak kekontrol!" Ucap Rey pada Dinda, ia cukup emosi dengan ucapan Dinda barusan.


Tak lama Putra dan beberapa guru datang menemui mereka bertiga, Putra tampak ngos-ngosan dan khawatir pada Lisa.


"Gimana keadaan kamu, dek? Kamu nggak kenapa-napa kan? Yang mana yang sakit? Bilang sama kakak! Rey, Lisa kenapa?" tanya Putra risau.


Para guru datang dan bertanya pada Rey, "Rey... Tolong kamu jelaskan semuanya! Apa yang sedang terjadi sebenarnya?!"


Rey masih berusaha menenangkan Lisa yang masih saja syok, "Saya juga nggak tau pak, waktu saya datang, Rani sudah jatuh."


"Dinda, apa kamu juga ada ditempat kejadian?"


"Iya pak, saya saksinya..."


Lisa terkejut mendengarnya, dari awal ia sama sekali tak melihat Dinda. Tapi bagaimana Dinda bisa melihat semua kejadiannya. "Bagaimana Dinda bisa jadi saksi?" pikir Lisa.


"Besok kalian semua harus ke sekolah! Ini bukan masalah yang sepele, ini menyangkut nyawa orang. Dan Rani itu juga bukan orang sembarangan!"


Rey geram sendiri karena melihat Lisa yang semakin ketakutan, seluruh tubuhnya bergetar takut, "Pak tolong jangan bahas itu saat ini. Yang penting itu keadaan para korban, bukan apa yang terjadi."


Tiba-tiba orang tua Rani datang, Mama Rani langsung menjambak rambut Lisa kuat-kuat karena emosi. Sedangkan Papa nya terlihat mencoba tetap tenang.


"Dasar kamu gadis jahat! Kamu ibl*s! Kenapa kamu celakai anak saya? Apa salah anak saya ke kamu?!" bentak Mama Rani.


"Ahhh... Bukan aku, bukan aku! Aku nggak ngapa-ngapain!" Bela Lisa yang kesakitan karena rambutnya masih dijambak oleh Mama nya Rani.


Semua orang berusaha melerai keduanya agar tak terjadi keributan di rumah sakit itu. Rey berusaha melepaskan jambakan Mama Rani hingga terlepas. "Bu, tolong jangan sakiti Lisa!" Tegas Rey yang terlihat emosi.


"Bu tolong tenang dulu!" Para guru menenangkan Mama nya Rani yang menjadi-jadi.


Rey memeluk Lisa erat yang menangis kesakitan karena rambutnya terjambak keras. "Kamu jangan nangis yah, semua akan baik-baik aja!" Ucap Rey menenangkan.


Sementara Dinda hanya menahan senyumnya sejak tadi dan memasang wajah sedihnya yang palsu.


Papa nya Rani pun akhirnya ikut bersuara, "Mah! Tolong jangan buat keributan di rumah sakit! Malu sama orang-orang, sekarang yang penting itu gimana keadaan Rani! Jangan malah ribut kayak orang nggak berpendidikan!" tegas Papa nya Rani.


"Hiks... Tapi semua ini gara-gara dia Pa, gara-gara dia Rani jadi seperti ini! Pokoknya mama bakal tuntut dia, mama bakal penjarain dia. Mama minta hukuman seberat-beratnya!" kata mama Rani yang masih kacau.


Lisa tambah ketakutan mendengar ancaman Mama nya Rani, ia memeluk erat Rey. Rey yang menyadari nya mengelus kepala Lisa lembut, "Bu tolong jangan nilai satu pihak! Kita belum tau bagaimana kebenarannya. Jadi jangan asal tuduh bu!" tegas Rey.


"Siapa yang asal tuduh? Jelas-jelas dia ada ditempat kejadian saat Rani jatuh kan? Siapa lagi kalo bukan dia? Nggak mungkin Rani jatuh sendiri, dia itu anaknya enggak sembrono!" Sahut Mama nya Rani membantah dengan keras.


Dinda memegangi tangan mama nya Rani dengan ekspresi memelasnya, "Tante... Tante yang kuat ya Tan. Aku yakin Rani pasti bakal segera sadar dan nggak kenapa-kenapa kok Tan..." Tutur Dinda meyakinkan. Yah dia memang cukup akrab dengan mama nya Rani, karena dia sering ke rumah Rani dan berkumpul bersama dengan teman-temannya disana.


Mama nya Rani memeluk Dinda erat, ia menangis karena khawatir dengan kondisi Rani. "Dinda... Gimana kondisi Rani sekarang? Hiks... Kenapa semua jadi seperti ini?!"


Rey yang semakin khawatir dengan keadaan Lisa, memilih membawa Lisa pergi untuk menjauh dari keributan dan lebih mudah untuk menenangkan Lisa.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!