Love In Many Ways

Love In Many Ways
Kikir



"Tunggu dulu, gue belum selesai. Main potong aja lo kayak ayam." Ucap Lisa kepada Rani. "Trus gini Bu saya menghampiri mereka dan mencegah kekerasan yang akan terjadi. Eh malah saya yang dijambak, sakit tau Bu...!" Keluh Lisa sambil mengusap kepalanya berulang.


Bu Desi tampak berpikir dan berusaha mencerna apa yang dikatakan Lisa.


"Bu! Kalo Ibu nggak percaya, saya punya buktinya." Lisa merogoh sakunya dan mengambil hp nya. Kemudian menyodorkan nya pada Bu Desi. Wajah Rani dan kedua temannya tampak panik dan khawatir.


Bu Desi melihat semua kejadian yang terjadi dari rekaman Lisa. Setelah melihatnya dia menyodorkan kembali hp itu kepada Lisa.


"Baik, saya sudah memutuskan siapa yang salah disini, saya sudah melihat kebenarannya. Rani, Gina dan Mila tolong sikap nya di ubah. Jangan selalu bully anak lain. Jika kalian tidak berubah menjadi lebih baik saya akan membuat kan surat panggilan untuk orang tua kalian, saya akan mengadukan sikap kalian ini kepada orang tua kalian. Kalian bertiga saya skorsing selama tiga hari!" Tegas Bu Desi.


"Tapikan... Bu..." Rani masih berusaha membela diri.


"Rani, masih berani membantah? Atau hukuman nya masih kurang?" Tanya Bu Desi.


Rani, Gina, dan Mila hanya terdiam tertunduk. Sedangkan siswi tersebut hanya memperhatikan tak berkata apapun.


"Dan untuk Lisa, terima kasih toleransinya yah, sikap kamu ini wajib di teladani. Kamu berani membela kebenaran untuk orang yang tidak bersalah." Bu Desi terus-terusan memuji Lisa.


"Ah iya sama-sama Bu." Jawab Lisa sambil tersenyum kepada Bu Desi.


"Sekarang kalian boleh keluar!" Ucap Bu Desi.


Mereka semua keluar ruangan. Didalam hati Rani terus-terusan mengutuk Lisa dengan begitu banyak celaan. Rani, Gina dan Mila menatap Lisa dengan kesal. Lisa yang menyadarinya pun hanya tersenyum seakan dia mengejek.



Nama lengkap MAHARANI GWARDIAN


Nama panggilan Rani


...*****...


🏠Rumah Keluarga Hariwijaya🏠


Kamar Lisa👈


Lisa sedang mengerjakan PR nya yang diberikan oleh Bu Ria akibat dia terlambat masuk ke dalam kelas tadi.


Tiba-tiba pintu kamar Lisa terbuka dan terlihat Putra berdiri di sana.


"Buiih, tumben adik ku ini rajin belajar. Kesambet apaan?" Putra melangkahkan kakinya dan berjalan ke arah Lisa. Dia berdiri tepat di samping kursi tempat Lisa duduk.


"Paan sih kak. Lisa emang rajin tau!" Jawab Lisa tanpa mengalihkan pandangan nya.


"Iya deh rajin. Kamu udah makan belom?" Tanya Putra.


"Belum!"


"Yaudah makan yok!" Ajak Putra.


"Nggak ah, ini nih tugas Lisa masih banyak tau nggak."


"Emang tugas apaan sih? Penting banget kayaknya?" tanya Putra sambil melihat catatan Lisa.


"Ini sebenernya hukuman dari Bu Ria soalnya Lisa telat masuk.Hehee..." Lisa cengar-cengir.


"Kok bisa? Bolos?"


"Nggak! Udah ah ntar aja Lisa ceritain, nanti tugas Lisa nggak selesai-selesai lagi."


"Janji yah?" Putra mengacungkan jari kelingkingnya.


"Iya deh!" Lisa mengaitkan jari kelingkingnya pada jari Putra.


"Awas yah kalo nggak. Ntar ku lapor sama Daddy!"


"Hmm!"


"Yaudah yuk makan. Kerjainnya ntaran aja. Kamu makan dulu. Kalo kamu nggak makan ntar kamu sakit loh, kalo kamu sakit siapa yang nyakitin aku?" Putra berusaha menghibur Lisa agar tidak terlalu stress.


"Hahaa... Iiihh paan sih kak. Garing tau nggak!" Lisa tertawa mendengar lelucon kakaknya.


"Yaudah yuk makan!"


"Ntar dulu."


"Yook, ayookk!"


"..."


"Kita makan di luar aja gimana? Kan udah lama tuh kita nggak jalan."


"Yaudah yuk!" Lisa langsung antusias berdiri dari duduknya dan membereskan semua buku-bukunya.


"Giliran makan di luar aja semangat bener." Putra mencibir.


"Hehee, yukk!"


Mereka berjalan keluar beriringan.


"Bi Asih... Bi.." Putra memanggil manggil Asisten Rumah Tangganya.


"Iya Den. Ada apa?" Jawab Bi Asih datang dengan tergesa-gesa.


"Putra sama Lisa mau keluar bentar ya Bi. Bibi jaga rumah, kalo nanti Mommy sama Daddy udah pulang bilang aja kalo kita lagi keluar bentar." Pesan Putra.


"Kita pergi dulu ya Bi!" Ucap Lisa. Mereka berjalan keluar rumah.


"Kak? Kita pake mobil aja yah!" Kata Lisa.


"Yaudah." Putra berjalan menuju garasi dan mengeluarkan mobilnya.


"Berangkat."


.


.


.


Di Dalam Mobil🚗


"Kita makannya dimana kak? Kita makannya di mall aja yah sekalian Lisa mau belanja. Hehee.." Lisa cengar-cengir.


"Mau belanja?" tanya Putra.


"He-em." Lisa menganggukkan kepalanya antusias.


"Punya duit?"


"Enggak, kan ada kak Putra."


"Tapi uang kakak nggak cukup, gimana dong?"


"Yahh... kak Putra mah gitu, pasti lagi pura-pura kan? Kak Putra kan emang selalu gitu, bilangnya uangnya nggak cukup tapi nanti kalo udah belanja beli nya banyak. Huh!" Kesal Lisa.


"Akhir-akhir ini kakak emang jarang nge- Band, jadi uang kakak yah cuma yang Daddy kasih." Jelas Putra.


"Kakak udah jarang nge-Band?" Tanya Lisa merasa simpati.


Karena selama ini Putra memang mendapatkan penghasilan sendiri melalui band nya. Dan Putra sering kali menolak jika di beri uang atau kartu oleh Daddy nya. Tapi Daddy nya tetap bersikeras untuk memberikan anaknya. Akhirnya Putra mengalah dan menerima uang tersebut tapi uang itu dia simpan. Putra juga seringkali memberi uang jajan atau mengajak Lisa keluar untuk belanja jika uang yang dia dapatkan lebih dari kebutuhannya.


"He-em! Kakak mau fokus ujian dulu semester ini!" Jawab Putra.


"Yaudah deh kita numpang makan aja." Ucap Lisa dengan nada kecewa.


"Nggak usah sedih. Kita ke mall, kakak masih punya uang sedikit." Putra mengusap kepala adiknya lembut.


"Bener?" Tanya Lisa antusias.


"Iyya. Emang uang yang Daddy kasih ke kamu, mana?" Putra merasa heran. Karena dia merasa Lisa selalu di beri uang atau kartu Blackcard oleh Daddy nya. Tapi Putra tidak pernah melihat Lisa memakai atau membelanjakannya.


"Ada kok, tapi kan Lisa simpan. Kan ada uangnya kak Putra. Hehe!" Jawab Lisa sambil tersenyum lucu.


Lisa jarang memakai uang yang di beri oleh Daddy nya, dia lebih memilih untuk menyimpannya dan akan dia gunakan jika dia benar-benar membutuhkannya. Selama ini Lisa hanya akan belanja dan shopping-shopping jika uang yang di pakai bukan uang nya.


"Uuhh. Dasar kikir!"


.


.


.


🏭Mal****l**🏭**


"Kita belanja dulu, apa makan dulu?" tanya Putra kepada adiknya.


"Mmm... belanja aja deh. Yuk!" Lisa menarik tangan kakaknya agar kakaknya mengikutinya.


"Kak aku mau beli cokelat." Lisa menunjuk ke arah toko yang menyediakan begitu banyak makanan termasuk cokelat.


"Kamu nggak bosen apa makan cokelat terus, setiap keluar pasti beli cokelat."


"Kaaaakk... Beli cokelat!" Lisa merengek.


"Nggak usah kamu beli yang penting aja." jawab Putra dengan tegas.


"Tapikan cokelat itu penting bagi kebahagiaan Lisa."


Putra tak menjawab, dia berjalan pergi meninggalkan Lisa.


Lisa menyusul Putra dan menarik tangannya berjalan kembali ke arah toko tadi. "Kaaak Putraa.., beli cokelat. Kak Putra nggak mikirin kebahagiaan Lisa apa. Ayooo..."


"Yaudah iyya iyya, okee." Putra terpaksa menuruti kemauan adiknya. Mereka masuk ke toko tersebut.


"Cepetan yang mana?" tanya Putra dengan nada kesal.


"Mmmm... yang ini, ini sama itu, eh yang itu aja deh." Lisa merasa bingung melihat cokelat yang begitu banyak ingin rasanya dia membeli semuanya.


"Belinya dikit aja. Nanti nggak bisa habisin loh."


"Mau beli apa mbak?" tiba-tiba penjaga toko nya datang menghampiri.


"Yang ini, ini sama yang itu." Lisa menunjuk-nunjuk cokelat yang dia inginkan."


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!