
"Tumben kemarin kamu nonton latihan basket, Lis?"
Degh!
Jantung Lisa berdegup bak gendrang ketika tengah mengantri nasi katsu di depan kedainya Bang Mamat. Karena ucapan yang baru saja dikeluarkan oleh cowok yang mengantri di depan Lisa.
Dia? Dia ngomong sama aku barusan? Nggak salah nih? Ini bukan mimpi kan? Setelah sekian lama diem-dieman, akhirnya Rey ngomong juga sama aku untuk pertama kalinya!
"Ng... a-ku... aku..."
Aduh, malu-maluin banget sih kamu ini Lisa! Jangan gugup gitu dong! Lihat tuh si Rey dia nunggu jawaban kamu! Biasa aja gitu loh. Ah, tapi kan ini karena akhirnya aku bisa juga melihat Rey tersenyum untukku!Lagian dari pertanyaan Rey barusan dapat di simpulkan kalau ternyata kemarin dia memperhatikan aku di lapangan! Ups, jadi ge-er sendiri kan! Hehe...
Hati Lisa bergemuruh riuh nggak karuan, sampe-sampe dia nggak sadar mukanya sudah memerah kayak kepiting rebus. Untuk sekian detik nggak tercipta kata-kata dimulut Lisa yang gugup dan hati yang nggak karuan. Rey dan Lisa hanya saling menatap, sampai akhirnya...
"Hoii! Maju dong didepan! Udah kosong tuh!" teriak anak lain dari belakang yang juga sedang mengantri.
Siapa sangka coba, tugas ku ini akan sangat menyenangkan. Thanks banget yah, Al!
...*****...
Kelas 11 IPS 5๐
Lisa meneguk ludah, sekarang aja dia masih merasa lapar banget. Tadi jam istirahat keburu habis. Untung separuh burger dari Sarah cukup mengenyangkan sebagian isi perutnya.
"Kenapa sih kamu, Lis? Kok dari tadi kamu mau sih di suruh suruh sama si Al?"
Degh!
Mata Lisa terbelalak mendengar pertanyaan dari Sarah.
Karena hari ini Pak Ilham yang mengajar sejarah nggak masuk karena sakit dan guru pengganti belum masuk. Sarah pindah tempat duduk di bangku yang ada di belakang Lisa. Semua siswa sibuk beraktivitas masing-masing. Ada yang ngegosip, main sambil teriak-teriak, main sepak bola, dan ada juga yang nyanyi-nyanyi nggak jelas.
Kalau Al, dia sedang asyik duduk di meja, mengobrol dengan Alex dan Ryan.
"A-ah, nggak kok, Sar. A-aku cuma lagi... lagi pengen bantu aja." Lisa menjawab terbata-bata.
Sarah kelihatan masih belum puas dengan jawaban Lisa. "Kamu nyembunyiin sesuatu ya dari aku?" Mata Sarah menyipit menatap Lisa dengan curiga.
"Ng-nggak kok, beneran deh." Lisa buru-buru memasang tampang serius andalannya. "Kamu mesti percaya dong sama aku, kita kan temenan."
Alis Sarah masih mengernyit. Itu berarti dia masih curiga dan belum puas dengan jawaban Lisa dan akan menginterogasi lebih lanjut.
"Selamat siang anak-anak."
Untung saja guru pengganti Pak Ilham datangnya tepat waktu.
Kedatangan guru pengganti itu membuat suara bising dalam kelas berubah hening dalam sedetik. Semua murid langsung kembali ke posisi duduknya semula. Semua tersentak, karena guru penggantinya adalah Ibu Ria.
"Anak-anak, karena Pak Ilham nggak masuk hari ini, maka jam pelajaran ini diganti dengan pelajaran saya! Keluarkan buku cetak kalian lagi!"
Semua siswa menurut, mereka mengambil buku cetak mereka masing-masing tanpa mengeluarkan suara apapun.
...*****...
Kelas 11 IPA 2๐
"Husss, kamu kenapa sih?" Vhino menyenggol lengan Rey di samping nya.
"Ha? Nggak papa!" Jawab Rey masih fokus dengan catatannya.
"Kok aku perhatiin, dari tadi kamu senyum-senyum nggak jelas deh. Kenapa? kesambet apaan?"
"Nggak papa."
"Apaan sih woii. pake bisik-bisik segala. Tanpa aku?" Ghea ikut nimbrung dari bangku belakang.
"Nggak papa." Vhino langsung melanjutkan catatannya.
"Uuuuhh."
Rey melanjutkan acara senyam-senyumnya sambil memikirkan sesuatu, ntah apa itu.
Kok aku jadi ngerasa bahagia gini yah.
Pikir Rey.
.
.
.
Jam pelajaran telah usai semua siswa bersiap-siap untuk pulang.
"Ehhh. Kenapa sih tu anak? aneh deh!" Ucap Vhino.
Rey tak menjawab apapun, Rey hanya senyum-senyum sambil memasukkan bukunya kedalam tas.
"Kamu kenapa sih?" Vhino yang merasa dicuekin pun tak terima.
"Aku duluan yah!" Rey berlalu pergi meninggalkan Vhino yang masih bingung sendiri.
Rey berjalan ke arah parkiran.
"Ehh". Tapi tiba-tiba seseorang menarik tangannya dari arah samping.
"Al? kenapa?" Rey berusaha menahan Al yang terus menariknya pergi.
"Udah ikut aja, nggak usah cerewet deh!" Sahut Al.
"Tapi kita mau kemana?" Tanya Rey lagi.
"Ke Ruang OSIS, ada yang mau kutunjukkin sama kamu!" jawab Al sambil masih menarik tangan Rey ke arah Ruang OSIS.
Meskipun tak mengerti dengan keadaan, Rey menurut saja dengan yang dikatakan Al.
.
.
.
Ruang OSIS๐
"Kamu tunggu disini dulu jangan kemana-mana. Aku mau keluar sebentar." Al berlalu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Rey.
Rey hanya duduk diam menunggu Al yang sudah berlalu pergi.
Al masuk kedalam kelas kembali duduk dan melanjutkan catatannya. Ternyata alasannya kepada Bu Ria tadi katanya dia mau ke toilet sebentar padahal kan dia pergi menemui Rey.
Tiinggg!
Bel berbunyi tanda pelajaran telah usai dan saatnya untuk pulang.
"Oke anak-anak, karena waktu nya telah habis. Minggu depan kita lanjut yah!" Bu Ria keluar kelas.
Lisa memasukkan bukunya kedalam tas. Kemudian dia beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar kelas.
Tapi tiba-tiba tangannya malah ditarik oleh Al pergi.
"Apa-apaan lagi sih kamu Al! Syarat dari kamu kan udah aku lakuin!" Al tak menjawab sepatah kata pun, dia hanya terus menarik tangan Lisa.
"Dengar aku nggak sih Al? LEPASIN!" Teriak Lisa.
Lisa menghentakkan tangan Al berulang kali, tapi eratan tangan Al malah semakin menguat.
Lisa terpaksa menyamai langkah Al yang berjalan cepat, mengikuti terus langkah Al. Berbelok didekat perpustakaan, mengambil arah kanan, dan...
Loh? aku kenal arah ini! Arah inikan menuju... Ruang OSIS? Buat apa Al membawa ku ke sini?
Al membuka pintu ruangan itu...
Ternyata ada Rey juga di sana? Sedang apa dia sendirian di Ruang OSIS? Rey juga tampak bingung melihatku.
"Oke, sekarang kalian boleh jadian. Aku akan menjadi saksinya." Kata Al tiba-tiba setelah melepaskan genggaman tangannya dari Lisa.
Spontan Lisa dan Rey membulatkan matanya, melotot seratus persen.
"JADIAAAAN??" Teriak Lisa dan Rey barengan.
"Jadian apa maksud kamu Al?" Tanya Rey tampak bingung.
Lisa pun ikut bersuara. "Iya! Kamu jangan mulai ngaco deh Al!"
Tapi Al malah tertawa kemudian merangkul Lisa dan Rey. Sepertinya ini semua sudah direncanakannya. Pasti dia juga yang telah mengatur pertemuan Lisa dan Rey di Ruang OSIS ini.
"Udah, kalian nggak usah malu-malu lagi. Kalian berdua kan saling suka! Buat apa sih saling nunggu-nunguan lagi! Udah Rey! Kamu ngaku aja, kamu kan yang bilang sendiri sama aku semalem kalau sebenarnya kamu suka banget sama cewek di seberang rumah kamu itu. Tapi kamu..."
"APAAAA?" Ucapan Al terpotong dengan teriakan Lisa dan Rey yang barengan lagi.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!