
Melihat Lisa tak menjawab Putra melanjutkan ucapan nya. "Kamu nggak boleh nolak permintaan Daddy, kamu kan tau Daddy sangat-sangat sayang sama Kamu. Kamu liat Rey, dia mungkin juga punya perasaan kayak kamu sekarang. Tapi dia berusaha menutupi nya dan terlihat baik-baik aja. Dengan patuh dia nerima semua nya tanpa ada kata menolak."
"Kak, Lisa masih belum siap untuk semua ini, Lisa harus gimana kak?"
"Nggak papa kok. Lisa harus percaya dan yakin bahwa semua akan baik-baik saja." Putra berusaha menenangkan. "Awal nya juga kakak kaget dan nggak nerima kamu nikah secepat ini, tapi setelah denger penjelasan Mommy dan ngeliat kondisi Daddy sekarang, kakak rasa kamu harus nerima permintaan Daddy."
Lisa memikirkan ucapan kakak nya tadi.
Iya juga yah. Rey kan bisa nolak. Kok dia nggak nolak sama sekali? Dia malah nurut gitu aja? Kan kalo dia nolak, otomatis ini semua nggak bakal pernah terjadi, dia bisa ambil alasan apapun gitu. Tapi, kenapa dia harus nerima ini semua, seolah-olah dia emang pengen ini terjadi, dia pengen ngehancurin masa muda aku? Gitu? Nggak nyangka aku sama kamu Rey!
Semenjak saat itu, di hati Lisa sudah ada sebercik kebencian pada Rey. Dia berpikir bahwa Rey yang menyebabkan semua ini terjadi, Rey juga yang telah menghancurkan masa muda nya. Lisa mulai menyalahkan Rey dan semua yang terjadi ini karena Rey. Ini Putra yang salah bicara atau Lisa yang salah paham? Atau memang tuduhan Lisa terhadap Rey itu benar? Ntahlah
"Kak, Daddy nggak akan ninggalin kita kan? Daddy akan baik-baik aja kan? Daddy akan sembuh kan?"
"Ntah lah, dek. Semua keputusan ada di tangan Tuhan, yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa."
"Kak Putra, Lisa takut Daddy bakal kenapa-napa. Lisa takut Dad-..."
"Hush, nggak boleh ngomong gitu. Kita harus doa in Daddy biar cepat sembuh." Putra melepaskan pelukan nya. "Yaudah, kamu ke sekolah biar kakak yang anter ntar kamu telat loh."
Lisa menghapus sisa air matanya. "Iya kak."
.
.
.
🏫SMAN Bakti Husada🏫
Lisa berjalan melewati koridor melangkahkan kaki nya ke arah kelas nya.
"Eh, kalian tau nggak Sarah sama Al udah jadian loh." Ucap salah seorang siswi.
Lisa yang sedang lewat, tak sengaja mendengar ucapan nya pun memperlambat langkah kaki nya. Dia ingin dengar apa yang akan mereka katakan selanjutnya.
"Iya bener. Itu lagi heboh nya loh." Ucap siswi lain.
"Kata nya kemarin ada yang liat mereka makan berdua, trus di foto lalu foto itu di upload di forum sekolah, akhirnya pada heboh deh."
"Eh aku kira, Al itu lagi deket ama si kembang sekolah."
"Lisa maksudnya? Ya nggak lah, Lisa kan udah ama Rey."
"Pokok nya Rey sama Lisa nggak boleh putus, ntar aku yang bakal patah hati."
"Lebay lu."
Lisa kembali melangkahkan kaki nya ke arah kelas nya. Dia tak peduli lagi dengan ucapan siswa lain, karena berita itu sudah dia prediksi sebelum nya.
Lisa memasuki kelas nya dengan lesu.
"Hai, Lis." Sapa Mira.
Rupa nya Sarah belum datang, Al juga belum. Buktinya meja mereka berdua masih kosong.
Lisa duduk di kursi nya dan membalas sapaan Mira. "Hai."
Mira langsung menghampiri Lisa dan duduk di samping nya. "Eh. Sarah udah pacaran sama Al loh, kamu udah tau nggak?"
"Udah."
"Hubungan kamu sama Al gimana? Kok Al malah sama Sarah sih?"
"Aku udah putus."
"Bener?" Tanya Mira dengan ekspresi kaget.
"Iya."
Mira mendekatkan wajahnya pada Lisa. "Ini pasti karena kamu mau nikah kan sama kak Rey?"
Mendengar ucapan Mira barusan, Lisa langsung menutup mulut Mira dan mengedarkan pandangan nya ke seantero kelas memastikan bahwa tak ada yang mendengar nya. "Kamu tau dari mana?" Tanya Lisa berbisik.
"Kan aku sepupu nya kak Rey. Mama sama Papa aku di undang juga."
"Iya juga yah." Pikir Lisa. "Eh tapi kamu janji yah, kamu jangan ngasih tau siapa-siapa, cukup kamu aja yang tau!"
"Janji."
Tak berselang beberapa lama, Sarah sudah datang dengan wajah yang terlihat gembira. "Ehem, ada yang lagi seneng nih." Sindir Mira.
"Apaan sih?" Muka Sarah bersemu merah macam tomat.
"Ya seneng lah, kan lagi lope lope." Sambung Lisa.
"Eh, Rah. Kamu tau kan semua orang udah tau kalo kamu itu pacaran sama Al?"
Mendengar itu Sarah pun kaget juga. "Ha? Kok bisa? Kan aku belum ngasih tau siapa-siapa. Kok udah ke sebar aja sih!" Ucap nya dengan kesal.
"Ya nggak tau juga. Emang kamu nggak liat forum sekolah? Semua pada heboh tuh."
"Mana sempet. Kan yang ada di pikiran nya cuma cinta nya. Hahaaa..." Ledek Lisa.
Sarah tersenyum malu. "Iya juga sih, aku nggak pernah buka forum sekolah."
"Dahlah, sudah terlanjur juga. Semua dah tau dengan berita ini."
"PJ adakah?!" Ucap Lisa.
"Oh iya yah. PJ dong, Rah."
"Iya ntar di kantin."
"Pangeran hati kemana nih? Kok nggak masuk?" Tanya Mira.
"Nggak masuk. Kata nya lagi nggak mood"
"Owalah. Gitu toh."
.
.
.
Lisa, Sarah dan Mira sedang berada di perpustakaan. Karena tugas yang kemaren, belum mereka kerjakan.
"Hai, Lis." Sapa seseorang.
Lisa yang sedang sibuk membaca buku, langsung menoleh ternyata itu Dinda. "Eh, hai." Balas Lisa.
"Rey kok nggak masuk sekolah?" Tanya Dinda berusaha Ramah.
Lisa mengerutkan keningnya. "Rey nggak masuk?"
Dinda menggeleng. "Nggak. Kamu tau kenapa dia nggak masuk?"
"Nggak tau."
"Oh yaudah. Kalo gitu aku duluan yah." Ucap Dinda berpamitan.
"Oke."
Setelah kepergian Dinda, Sarah dan Mira langsung menyerbu Lisa dengan pertanyaan. "Kok Rey nggak masuk, Lis?"
"Nggak tau juga."
"Sibuk kali, biasalah calon pengantin." Ledek Mira.
Mendengar ucapan Mira, Sarah langsung mengkode pada Lisa. Lalu bertanya pada Mira. "Kamu tau?"
"Iya tau." Jawab Mira.
"Siapa yang ngasih tau?"
"Mama aku."
"Oh iya yah lupa. Bentar lagi Lisa jadi ipar kamu dong."
"Eh iya yah, hahaaa..."
Sarah dan Mira sibuk mengobrol, sedangkan Lisa malah sibuk dengan pikiran nya sendiri.
Rey kok nggak masuk? Ngapain dia? Cih. Ngapain juga aku harus mikirin orang kayak dia.
~Benci~
Lagu: Utopia
Haruskah aku mencintanya
Bila hanya berikan duka
Sepertinya aku bahagia
Satu sisi aku menangis
Aku pernah sangat berharga
Semua mata memujaku
Sampai kau datang dalam hidupku
Segalanya berubah
Kau mengambil hatiku
Jadikannya kelabu
Kau menghancurkan semua impian
Yang tersimpan sejak dulu
Kau racuni cintaku
Hingga menjadi benci
Tak lelah aku setia
Tersiksa sendiri
Betapa ingin kuberlari
Dan terlepas dari dirimu
Tapi semakin 'ku mencoba
Aku ingin kembali
Kau mengambil hatiku
Jadikannya kelabu
Kau menghancurkan semua impian
Yang tersimpan sejak dulu
Kau racuni cintaku
Hingga menjadi benci
Tak lelah aku setia
Tersiksa sendiri
Kau mengambil hatiku
Jadikannya kelabu
Kau hancurkan segala impian
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!