
Dinda yang melihat nya dari kejauhan langsung berjalan mendatangi dengan santainya dan tersenyum menyapa Lisa yang menangis, "Hai Lisa... Gimana? Masih hidup kan?"
Lisa menghentikan tangisannya dan mengangkat kepalanya keatas menatap Dinda, "Hiks... Maksud lo apa sih ngomong kalo gue yang dorong Rani! Mata lo buta apa gimana? Gue nggak dorong Rani yah, lo tuh bohong, fitnah, kesaksian lo itu palsu!" Sahut Lisa emosi.
Dinda memanyunkan bibirnya dengan wajah meledek, "Ututu... Nggak salah ya? Ya udah, off baperan sayang..."
Lisa yang sedang emosi saat ini semakin kesal mendengar kata-kata Dinda, ia berdiri dan mengusap air matanya. "Mau lo apa sekarang? Kalo lo punya masalah sama gue, sini selesaiin disini! Gue nggak takut cewek sialan!"
"Enggak mau ah, gue nggak mau punya urusan sama kriminal. Siap-siap dikeluarin dari sekolah yah, kalo nggak dikeluarin, berarti nama lo bakal rusak di sekolah ini, kri-mi-nal!" ejek Dinda.
Lisa sudah tak bisa menahan emosinya lagi, ia menjambak rambut Dinda keras, menariknya menuju pohon dan membuat Dinda terpojok dipohon. Lisa langsung mengarahkan kedua tangannya ke leher Dinda.
Lisa benar-benar marah, dengan penuh emosi ia mencekik Dinda dengan keras. Dinda berusaha keras melepaskan cekikan Lisa yang terasa semakin menyiksanya.
"Ugh... Le pa sin gu-e! Ugh..."
"Mati aja lo mati!"
"Ugh, to-long..."
"Gue tau lo ngelakuin semua ini buat hancurin gue kan? Buat jatuhin gue kan? Lo tuh licik yah, main di belakang, dasar pecundang!" Bentak Lisa.
"To-long..." Lirih Dinda.
Rey berlari keluar berniat menyusul Lisa, kebetulan ia melihatnya dari kejauhan. Rey yang melihat Lisa secepatnya menghentikannya agar situasi tak memburuk.
"Lisa stop!!!" Teriak Rey.
Rey berlari menghampiri dan menarik hingga Lisa melepaskan cekikannya, Dinda jatuh terduduk lemas sambill memegangi lehernya yang sakit dan memerah.
Rey menahan Lisa dan menatap mata Lisa dalam-dalam, matanya begitu merah dan terlihat penuh amarah.
"Cha sadar, kamu cuma memperburuk situasi dengan kayak gini! Aku mohon tahan amarah kamu! Tahan emosi kamu! Dengan kamu kayak gini nggak bakal mungkin bisa nyelesaiin masalah!" Rey memohon dengan penuh kasih.
Lisa semakin marah melihat Rey memegangi kedua pundaknya, ia langsung menghempaskan tangan Rey kasar. "Lepasin gue! Lo gak pantes sentuh-sentuh gue! Lo itu siapa gue sih?! Kenapa nggak bohong aja biar semua selesai!"
Rey cukup terkejut dengan kalimat Lisa barusan. "Cha bukannya gitu, tapi situasinya nggak pas! Kalo aku bohong maka semua makin buruk! Tolong denger penjelasan aku dulu, aku pasti bisa buktiin kalo kamu nggak salah!" Rey kembali memegangi pundak Lisa berusaha meyakinkan.
Lisa langsung menepisnya, "Jangan sentuh gue! Gue gak butuh penjelasanl lo sekarang!"
Lisa mengangkat tangannya hendak menampar Rey, sementara Rey tak menghindar dan hanya memejamkan matanya. Ia hanya pasrah saja dengan apa yang akan dilakukan Lisa. Karena ia tau emosi Lisa sedang tidak stabil.
Namun tiba-tiba Dinda berteriak, "Lisa!"
Lisa yang sudah melayangkan telapak tangan nya langsung menahan tangannya tepat didepan wajah Rey, ia meremas tangannya dan menahan emosinya yang hanya sesaat itu. Ia menarik kembali tangannya dengan menghempaskannya kebelakang.
"Hah udahlah, gak penting juga gue nampar lo! Gak ada gunanya juga. Mungkin itu cuma buang-buang tenaga gue doang!" Ucap Lisa dengan sinis namun terdengar miris.
Lisa berbalik dan pergi meninggalkan Rey begitu saja, melihat Lisa akan pergi Rey langsung berniat ikut menyusul Lisa, tapi Lisa menghentikan langkahnya. "Berhenti dan tinggalin gue sekarang atau lo nggak akan pernah ketemu gue lagi! Lucu ya, bertahun-tahun gue hidup, baru tau kalo dunia ini penuh kemunafikan! Termasuk lo berdua!" Lisa langsung pergi dengan langkah cepatnya tanpa menengok lagi.
Seketika Rey menghentikan langkahnya, ia paham kalau Lisa saat ini sedang butuh waktu untuk sendiri, apalagi saat ini ia masih dipenuhi rasa emosi. Sesegera mungkin Rey menghubungi Putra, Al, Sarah, Mira, Vhino bahkan Fadil. Meminta agar mereka menghibur Lisa jika Lisa ada bersama mereka.
Rey mengacak-acak rambutnya kesal, ia takut Lisa kenapa-napa apalagi ia yakin sekarang kondisi Lisa pasti sedang down. Ia takut situasi ini membuat mental Lisa kembali bermasalah, apalagi Lisa sangat sulit mengontrol emosinya.
Dinda mendekati Rey dan bersikap begitu lembut. "Sabar yah Rey, aku tau kok perasaan kamu, aku lebih ngerti perasaan kamu dibanding Lisa." Dinda berusaha menaruh tangannya dipundak Rey.
Rey segera menepisnya, "Lo kenapa bilang kalo Lisa dorong Rani sih? Mau lo apa?!! Lisa itu nggak mungkin dorong Rani, ia bukan tipe cewek yang kayak gitu, Rani itu jatuh sendiri!" Bentak Rey karena kesal.
Dinda terkejut dengan bentakan Rey, ia belum pernah melihat Rey semarah ini. "Rey, tapi emang Lisa dorong Rani. Itu kenyataannya, percaya deh sama aku!"
"NGGAK AKAN!!! Sampai kapan pun gue bakal tetep percaya sama Lisa apapun yang terjadi! Dan gue bakal buktiin kalo dia nggak salah! Gue kenal Lisa dari masih kecil, gue tau kepribadian dia, dia nggak mungkin ngelakuin hal yang kayak lo bilang!" tegas Rey.
Dinda lama-lama semakin kesal dengan Rey yang terus-terusan membela Lisa. "Apa sih yang kamu lihat dari cewek kayak dia? Jelas-jelas aku lebih baik, lebih cantik, pinter, berkelas dan anak orang kaya! Dia mah apa? Anak nggak jelas, nggak ada apa-apa nya!" Dinda sudah tak bisa lagi memendam isi hatinya. Akhirnya kata itu terucap dan keluar dari mulutnya.
Rey dibuat terkejut mendengar kata-kata Dinda, selama ini ia mengira Dinda itu lemah lembut dan baik hati. Karena itu yang ia liat selama ini. Tapi nyatanya, masih ada sisi lain nya. "Gara-gara omongan lo barusan gue jadi sadar, seburuk apapun Lisa, gue tetep lebih milih Lisa daripada lo. Kenapa? Walau dia nggak se-sempurna lo, tapi hidupnya nggak ada kemunafikan! Gak ada kata bermuka dua dalam hidupnya! Ternyata yang gue liat selama ini nggak sesuai dengan diri lo yang sesungguhnya, gue mau berteman sama lo karena gue kira lo emang baik tapi nyata nya..." Rey menjatuhkan mental Dinda dengan kata-katanya yang terdengar mengejek.
Dinda hanya terdiam mendengar jawaban Rey. Dinda benar-benar ingin memusnahkan Lisa dari bumi ini, "Lo buta apa gimana!? Dia udah ninggalin lo, sedangkan gue selalu ada buat lo! Gue ini udah jauh lebih sempurna dibanding dia dan kenapa lo nggak nyadar-nyadar juga sih? Kenapa lo nggak pernah mandang gue sih?!" Dinda mulai tak bisa mengatur emosi nya.
"Hahahaa.. Lucu juga yah. Jangan berpikir seolah-olah lo itu cewek paling sempurna, kenapa? Sekali Lisa melangkah maju, lo nggak ada apa-apanya bagi dia! Dan gue berdoa, semoga setelah Lisa mau maju, lo nggak terlalu jatuh kebawah!"
Rey berbalik dan hendak pergi, sementara Dinda masih terdiam tak percaya dengan semua penghinaan ini. "Rey! Gue bakal buktiin kalo Lisa nggak ada apa-apanya dibanding gue! Dan lo bakal nyesel nolak gue!" teriak Dinda emosi.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!