Love In Many Ways

Love In Many Ways
Suami nggak berperasaan (2)



Ya Allah Budimannnnn." Putra langsung memeluk erat adiknya.


"Ini adik saya nggak kenapa-napa kan? Astagfirullah ya Allah dek badan kamu lemes bangettt." Terlihat jelas wajah kekhawatiran sang kakak.


Lisa tersenyum lemas, "Aku nggak papa kak, cuma agak pusing."


Putra menarik nafas lega, "Terus Rey mana?"


Raut wajah Lisa tiba-tiba berubah saat teringat akan Rey. Menyadari akan hal itu, Putra menanyakannya dengan pelan, "Dek... Kenapa? Coba cerita sama kakak!" Pinta Putra lalu duduk di tepi ranjang.


Lisa berusaha bangun dan langsung memeluk kakaknya erat, air matanya tak dapat ia bendung lagi. Putra hanya tertegun sambil mengusap-usap kepala adiknya pelan. "Ya sudah kamu tenang yah dek, kalo nggak mau cerita sekarang nggak papa. Udah jangan nangis lagi."


"Kak Putraaaaaaaaa... Huuhuu...." Tangisan Lisa semakin pecah, terdengar pilu.


"Husshuss udah yah dek..."


Putra beralih pada Faro yang sedari diam memperhatikan, Putra memberi kode seolah bertanya, namun Faro menggeleng tanda tak tau apa-apa.


"Andai ada keajaiban inginku ukirkan


namamu di atas bintang-bintang angkasa


agar semua tau, kau berarti untukku


selama-lamanya kamu milikku..."


Putra mencoba menenangkan adiknya dengan menyanyikan sebuah lagu yang memang sangat disukai Lisa sedari keckecil


...*****...


Rey mulai frustasi karena Lisa belum ia temukan. Hari sudah hampir gelap, hujan dan petir pun tak pernah berhenti membuat Rey semakin khawatir.


"Arrghhhhh..." Rey memukul kemudi mobilnya kesal. Ia berjanji tidak akan pernah pulang sebelum menemukan istrinya. Tiba-tiba ponselnya berdering, tertera nama "kak Putra" disana.


Dibiarkannya ponsel itu berdering lama, jujur saja ia bingung karena ia tau pasti Putra akan menanyakan mengenai Lisa.


"Ha-halo kak." Gugup Rey.


"Halo Rey kamu dimana?"


"Mmm aku, aku di jalan kak."


"Kamu ke rumah sakit sekarang, Lisa ada disini."


"Apa? Icha masuk rumah sakit kak? Kok bisa?" Kaget Rey.


"Kamu kesini sekarang, kakak tunggu."


.


.


.


Rumah Sakit


"Kak Putra, Lisa mana? Dia nggak kenapa-napa kan?" Panik Rey.


"Kamu tenang dulu, Lisa lagi tidur di dalem." Jawab Putra. "Sebenarnya ada masalah apa lagi? Sampe Lisa kayak gitu?" Tanya Putra.


"Tapi Lisa beneran nggak kenapa-napa kan kak?"


"Kamu tenang dulu, kakak tanya kamu sama Lisa ada masalah apa?"


"Yaudah cerita, kakak nggak suka yah Lisa terus-terusan kayak gini."


"Maaf kak." Ucap Rey pelan. "Sebenarnya itu Lisa cuma salah paham, lalu saat itu..." Rey pun akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi, dari awal sampai akhir.


Putra hanya bisa menghela nafas berat mendengarnya, "Kakak tau kamu nggak salah Rey, tapi jujur kakak nggak suka Lisa nangis, kamu ngerti kan maksud kakak?"


Rey menundukkan kepalanya pasrah, "Maafin Rey kak."


"Untung Lisa ditemukan sama Faro, kalo ditemukan sama orang jahat udah kakak nggak tau lagi gimana kedepannya."


"Sekali lagi Rey minta maaf kak."


Putra menepuk pundak Rey, "Kamu minta maaf nya sama Lisa, sana masuk." Pinta Putra.


Rey mengangguk, kemudian membuka pintu perlahan. Ia melihat istrinya yang tertidur pulas di atas ranjang. Ia berjalan masuk dengan perlahan.


Rey berdiri di samping ranjang kemudian mengelus perlahan kepala Lisa. "Maafin aku Cha..." Ia mengecup singkat puncak kepala Lisa.


Perlahan mata Lisa bergerak, ternyata ia merasakan kehadiran Rey. Perlahan ia membuka matanya. "Ngapain lo disini?" Tanya Lisa dingin.


"Cha kamu nggak papa? Ada yang sakit nggak? Aku dari tadi nyariin kamu" Tanya Rey sambil menggenggam tangan Lisa. Namun Lisa melepas genggamannya dengan kasar.


"Jangan sentuh aku!" Ucap Lisa dingin. "Apa kamu bilang? Nyariin aku? Hahaha nggak salah?"


"Maafin aku Cha, aku nggak ada maksud buat bentak kamu."


"Halla, mending lo keluar deh, gue tiba-tiba gerah nih. Sana keluar!"


"Icha..."


"Kak Putraaaaa" Teriak Lisa memanggil kakaknya. "Kak Putraaaa..." Ulang Lisa.


"Kenapa dek?" Tanya Putra segera datang.


"Kak Putra suruh orang ini pergi, Lisa nggak suka liat dia disini, Lisa gerah."


Putra terpaku mendengar ucapan adiknya kemudian menoleh pada Rey, "Rey..." Panggilnya pelan.


"Tapi kak..."


"Ayo kita keluar, Lisa lagi pengen istirahat. Ayoo" Putra berjalan duluan dengan Rey yang berjalan mengikutinya dengan terpaksa.


Rey menoleh sejenak pada Lisa yang terlihat tertidur, sebelum menutup pintu.


Rey menghela nafas. "Maafin Lisa yah Rey." Ucap Putra.


"Nggak papa kak, ini juga salah Rey kok, wajar kalo Lisa semarah ini."


"Sabar yah, kamu jaga Lisa disini kakak mau pulang dulu kerumah takut Felice nyari, habis itu kakak ambilin baju ganti untuk kamu sama Lisa sekalian kasih tau Ayah sama Bunda masalah ini."


"Siap kak, makasih kak.


.....


Setelah kepergian Rey dan kakaknya, air mata Lisa mulai menetes perlahan. Sungguh ia masih sakit hati dengan perlakuan Rey terhadap nya. Tapi ia juga kasihan dengan Rey yang kesusahan akibat dirinya. Ntahlah, ia bingung harus bagaimana sekarang. Ia ingin membenci Rey namun ntah kenapa ia juga tidak bisa melakukan hal itu. Hufttt


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE