
"Icha!" Panggil Rey. Rey sedang sibuk membaca buku pelajarannya.
"Hm?"
"Cha..." Ulang Rey.
"Ck, apasih Rey?" Kesal Lisa yang berada di atas kasur.
"Mandi sana!" Pinta Rey.
"Nanti aja."
"Sekarang sayang, ini udah jam 11 loh..."
"Ntar dulu, kan hari ini hari libur jadi nggak papa dong telat dikit!"
Rey menghela napas lalu menghampiri Lisa yang sedang asyik dengan ponselnya.
"Kamu ngapain sih dari tadi?" Tanya Rey.
"Nonton."
"Nonton? Nonton lagi?"
"He-em. Tapi ini beda dari film yang selalu aku tonton. Ini namanya drakor." Jelas Lisa.
"Drakor? Benda apa tuh?"
"Drakor sayang, Drama Korea." Jelas Lisa. "Drakor itu ada banyak, yang aku tonton ini namanya 'Love Scenery' Udah tau?"
"Owh... Apa bagus nya?" Tanya Rey lalu ikut duduk di samping Lisa.
"Ya suka aja. Apalagi kan pemerannya cakep semua. Hehehee..."
"Cakep?"
"Iya. Apalagi Lu Jing. Aaaa... Tampan sekali." Seru Lisa. "Selain tampan dia juga romantis tau."
"Siapa lagi namanya emmm... Oh nama aslinya Lin Yi. Uuuugh... Andai aja dia ada disini..." Sambung Lisa.
Rey agak cemburu mendengar pernyataan dari Lisa. "Mana coba liat!"
Lisa mencari foto Lin Yi di ponselnya kemudian memperlihatkan nya pada Rey. "Nih, ganteng kan?" Tanya Lisa dengan bangga.
Rey hanya melihat nya sekilas kemudian mengalihkan pandangan nya sambil melipat kedua tangan nya di depan dada. "Cih, B aja, gantengan aku."
"Dih pede banget." Cibir Lisa. "Oh yah ada lagi, ini waktu dia pakai seragam gitu. Gimana? Ganteng kan? Aura nya kuat banget tau nggak." Lisa kembali menunjukkan foto sang idolanya dengan wajah berbinar. Tentu itu membuat Rey semakin kesal di buatnya.
"Kok fotonya banyak banget?" Tanya Rey saat melihat begitu banyak foto Lin Yi di ponselnya Lisa.
"Hehehee... Ya emang aku koleksi kok." Jawab Lisa tanpa rasa bersalah.
Rey tentu sangat kesal saat mendengar jawaban Rey. Gak peka banget.
Yah meskipun itu cuma foto dan Lin Yi nggak akan mungkin pernah bertemu dengan Lisa. Tapi tetap aja kan? Lisa menyukai cowok lain selain Rey. Dan itu membuat Rey cemburu.
"Udah sana mandi!" Pinta Rey.
"Ntar dulu."
"Sekarang! Kalo nggak mau, foto-foto nya aku hapus. Mau?" Ancam Rey.
"Yah jangan..."
"Yaudah sana mandi!"
"Ck." Lisa menghentakkan kaki nya kesal lalu masuk kedalam kamar mandi.
"Eh ya ampun aku lupa bawa handuk." Gumam Lisa. Ia bingung sekarang harus apa, semua bajunya sudah terlanjur basah. Dari pada ia sendiri yang mengambilnya di luar dengan keadaan seperti itu jalan satu-satunya hanyalah minta tolong pada Rey.
"REEEYY...!" Teriak Lisa dari dalam kamar mandi.
"Kenapa lagi?" Sahut Rey.
"Ambilin handuk!" Seru Lisa.
"Handuk?" Rey mengerutkan kening nya bingung.
"Cepetan! Itu tuh di atas kursi. Tadi aku lupa ambil!" Pinta Lisa.
Rey mengambil handuk itu kemudian mengetuk pintu kamar mandi.
Tok.. Tok.. Tok...
Cklek!
Pintu kamar mandi terbuka sedikit, dan yang terlihat hanyalah tangan Lisa dari dalam. "Mana? Siniin handuknya!"
Rey tersenyum jahil, "Aku boleh ikut masuk nggak?"
"Ih Rey... Sini cepetan handuknya, nggak usah mesum deh!" Kesal Lisa.
"Aku masuk nggak pap dong, kan kita udah sah." Goda Rey.
"REY! HANDUK!" Teriak Lisa kesal.
"Hahahahaa... Iya iya, nih." Akhirnya Rey menyerahkan handuk tersebut, Lisa langsung menyahutnya kemudian kembali menutup pintu dengan keras.
"Rey gila! Dasar nyebelin!" Ketus Lisa.
Selesai mandi Lisa keluar dari kamar mandi dan mendapati tak ada seorang pun didalam kamar. "Rey mana dah? Haih bodo amat lah." Lisa kembali menjatuhkan dirinya diatas kasur. "Huh nyaman banget, pengen tidur lagi deh rasanya."
"LISA!" Panggil Rey dengan suara keras dari arah ruang belajarnya.
"APA?" Teriak Lisa tak kalah kerasnya.
"UDAH MANDI?" Tanya Rey.
Namun Lisa tak menjawab, ia tau pasti nanti Rey suruh belajar lagi. Dan Lisa paling nggak suka di paksa.
"CHA?"
Lisa hanya acuh mendengar teriakan Rey. Ia lebih memilih untuk membuka kembali ponselnya dan memandangi foto sang pujaan hatinya.
"MELISSA!"
"Dari tadi aku panggil loh. Kok malah rebahan? Ayo sekarang waktunya belajar!" Pinta Rey. Ia berjalan dan duduk di samping Lisa.
"Ck, iya nanti juga belajar. Aku nggak suka dipaksa." Kesal Lisa.
"Bukannya maksa sayang... Tapi kan bentar lagi ujian kenaikan kelas. Aku nggak mau aja nilai kamu menurun." Ujar Rey dengan lembut.
"Mau belajar, atau hp nya aku sita." Ancam Rey. "Ayo bangun!" Rey menarik tangan Lisa dan mau tak mau Lisa hanya bisa menuruti nya.
Rey menarik tangan Lisa masuk kedalam ruang belajarnya. "Ck, Rey gila!" Gumam Lisa kesal.
"Mana yang harus di pelajarin?" Tanya Lisa malas.
"Bentar aku ambilin!"
Sambil menunggu Rey menyiapkan bukunya, Lisa kembali memijat-mijat hp nya. Ia sibuk memandangi foto Lin Yi di hp nya. Ia sangat berharap Lin Yi bisa jadi miliknya yah meskipun itu hanya mimpi. Tapi mimpi dulu nggak papa kan? Belakangan nanti di wujudkan deh. Halu terooss...
"Nah ini, sekarang kamu liat ini baik-baik!" Pinta Rey.
"Doa kan aku sayang..." Lisa mencium singkat layar hp nya yang terdapat foto Lin Yi, seakan-akan ia mencium Lin Yi, itu membuat Rey menaikkan satu alisnya heran.
"Kok hp nya di cium?" Tanya Rey.
"Nggak papa, aku berdoa aja semoga mas Lin Yi doa in aku belajar biar cepet sukses dan bisa cepet ketemu dia."
Rey menghela napas berusaha sabar. "Trus kalo udah ketemu mau di apain anak orang?"
"Nikah-hin, jadiin suami!" Jawab Lisa dengan cepat.
"Yeee minta di sentil yah mulutnya, ngomong sembarangan. Trus suami mu yang ini di apain?"
"Yah ditinggal aja udah. Atau nggak di madu, Lin Yi di jadiin suami kedua. Kan enak tuh punya dua suami yang ganteng."
Rey semakin kesal mendengar penuturan Lisa. Yah meskipun itu semua nggak mungkin terjadi, tapi sungguh Rey sangat kesal ditambah cemburu. "Oh jadi sekarang cinta nya sama Lin Yi gitu? Udah nggak sama aku? Oh oke, sana kamu tinggal di rumah nya Lin Yi aja, nggak usah disini." Kesal Rey.
"Eh eh nggak gitu. Bukan gitu sayang... Kamu jangan marah dong, aku cuma bercanda tau, kan kamu tau aku cuma cinta nya sama kamu..." Bujuk Lisa.
"Udah sana kamu ke rumah dia aja, nggak usah di sini lagi. Tinggal sama dia aja, suruh dia nikahin kamu sana." Perintah Rey yang semakin kesal.
"Nggak gitu sayang maksudnya. Aku itu cintanya sama kamu doang. Kamu kan tau itu semua nggak bakal terjadi, itu semua cuma halu doang kok."
"....." Rey sudah tak peduli dengan ucapan Lisa. Rey udah terlanjur kesal dan cemburu. Ia malah sibuk membuka lembar demi lembar buku nya, seolah ia sedang belajar.
"Yah jangan marah dong... Se tampan apapun dia, tetep kamu kok yang ada di hati aku beneran deh. Kamu tetep bakal jadi yang terbaik di mata aku, jadi kamu jangan marah yah..." Bujuk Lisa.
Namun Rey tetap tidak peduli dengan semua yang di ucapkan oleh Lisa. Meskipun Lisa udah ngomong panjang kali lebar kali tinggi bagi dua kali seperdua. Eh kok malah jadi matematika sih. Gak jelas Authornya...
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!