
"Rey?" Gumam Lisa saat melihat sosok yang telah menyelamatkan nya dari pukulan lelaki tersebut.
Rey terlihat mencengkeram tangan lelaki tersebut dengan sangat keras dan penuh emosi. "Jangan pernah sentuh pacar gue!" Ujar Rey dengan dingin. Membuat semua telinga yang mendengarnya akan merinding. Serasa ngeri gitu.
Lisa memandang wajah Rey, matanya benar-benar memerah, mungkinkah saat ini Rey sedang menahan amarahnya yang terlihat memuncak? Mungkinkah dari tadi Rey melihat semua adegannya, sehingga dia bisa semarah ini?
"Aww awww.... Lepasin tangan gue!" Ringis Lelaki tersebut, kemudian menghempaskan tangan nya dengan keras, namun itu belum cukup bisa untuk melepaskan cengkeraman tangan Rey yang begitu kuat.
"Jangan kan tangan lo, semua sendi yang ada di tubuh lo gue patahin kalo lo berani nyentuh dia!" Sahut Rey dengan tegas.
Lisa melihat Rey saat ini bukan lah Rey yang dikenalnya. Rey yang selalu ramah dan lembut sekarang sudah berubah menjadi Rey yang dingin dan kejam. Rey benar-benar berubah sekarang, dia terlihat sangat menakutkan bagi siapa pun yang melihat nya.
"Oh iya satu lagi, sekali lagi lo berani ngehina dan bentak pacar gue lagi jangan harap lo bisa liat dunia ini lagi!" Ancam Rey. Rey mengeraskan cengkeraman tangannya sehingga dapat terlihat bekas memerah di pergelangan tangan lelaki tersebut. Lelaki itu meringis menahan sakit.
"Rey udah!" Sahut Lisa merasa kasihan dengan lelaki itu.
Rey menghempas tangan lelaki tersebut dengan kasar. Lisa menatap Rey dengan begitu insten. Baru kali ini dia melihat sisi lain dari cowok yang telah menjadi suami nya itu. Benar-benar hal yang baru. Rey yang sekarang terlihat tak bisa menahan emosinya.
"Gue nggak ada urusan sama kalian berdua. Ini urusan gue sama pacar gue!" Lelaki tersebut menggenggam tangannya yang menyisakan bekas memerah. Kemudian menatap ke arah Rey dengan tatapan tajam.
"Tapi lo udah nyakitin dia. Lo itu nggak pantes buat dia." Ujar Lisa.
"Diem lo! Heh, dia aja memohon-mohon supaya gue nggak mutusin dia." Ucap lelaki tersebut sambil tersenyum sinis.
"Tapi lo nggak usah kasar, lo kayak gini biar apa? Mau sok jago? Iya?"
"Halla b*cot lo." Lelaki tersebut langsung melayangkan pukulannya pada pipi kiri Rey. Rey yang tak sempat menghindar langsung jatuh tersungkur akibat pukulan dari nya.
"Rey!" Lisa langsung menolong Rey dan membantu nya untuk berdiri. Baru saja Rey ingin membalas pukulan tersebut, teman-teman lelaki itu sudah datang ntah dari mana. Mungkin sekitar 7 orang.
"Kalian ini anak sekolah mana?" Tanya Rey bingung.
"Lo nggak perlu tau. Dan lo mulai sekarang kita putus, jangan pernah ganggu gue lagi!" Ucapnya dengan tegas pada pacarnya.
Wanita itu menggeleng tanda tak terima. "Nggak! Gue nggak mau! Gue nggak mau putus!" Ujarnya sambil memohon, air matanya mengalir. Lisa yang berada di sampingnya berusaha menenangkan nya.
"Udah nggak papa. Biarin aja. Kalo jodoh udah ada yang atur kok!" Ujar Lisa sambil mengusap pundak wanita itu dengan lembut.
"Udah kan? Bereskan? Dan kalian tunggu pembalasan dari gue!" Ucap nya dengan keras sambil menunjuk Lisa dan Rey. "Yuk pulang!" Ajak nya pada semua teman-temannya.
"Eh kalian..." Rey ingin langsung segera berlari menyusul, namun tangan nya di cegah oleh Lisa.
"Rey, nggak usah di kejar. Biarin aja."
"Tapi..."
"Udah Rey. Mereka itu banyak, ntar lo kenapa-napa lagi!" Sahut Lisa dengan khawatir.
Rey menatap Lisa dengan aneh. Dia khawatir kah?
Rey segera mengambil hp nya dan menelpon seseorang.
"Tolong arahkan semua anggota OSIS untuk berpencar di seluruh penjuru sekolah, sekolah kita di masuki oleh anak sekolah lain. Tolong kalian semua aman kan mereka dan bawa ke ruang BK. Sekarang!"
"....."
"Oke, nanti saya menyusul." Setelah berkata begitu Rey menutup telponnya kemudian menoleh pada Lisa yang sedang sibuk memenangkan wanita tadi. "Kamu nggak papa kan?" Tanya nya pada Lisa.
Lisa menoleh pada Rey yang terlihat khawatir. "Nggak papa."
"Kamu ada yang sakit? Ada yang luka?"
"Hiks... Makasih.... hiks, gue mau ke kelas aja..."
"Sini aku anter."
"Nggak usah hiks... gue bisa sendiri... Gue pergi hiks.. dulu yah hiks... Makasih..." Ujarnya di sela-sela tangis nya.
"Hati-hati yah." Ucap Lisa dan perempuan tersebut mengangguk lalu berlalu pergi.
"Lo... Lo nggak papa?" Tanya Lisa dengan cuek. Sebenarnya sih dia juga cukup khawatir, tapi gengsi sih kalo kekhawatirannya harus terlihat pada Rey. Ntar dia malah ge-er lagi.
"Aku nggak papa kok." Ucap Rey sambil tersenyum.
Lisa melihat sekilas pada bekas pukulan lelaki tadi, menyisakan bekas merah pada sudut bibir Rey. "Lo tunggu di sini!" Ujarnya.
"Mau kemana?"
"Tunggu aja, nggak usah bawel." Lisa berlalu pergi dari tempat itu menyisakan tanda tanya di kepala Rey.
Tak berselang beberapa lama, Lisa datang dengan membawa sapu tangan dan es batu. "Lo menghadap sini!" Pinta Lisa dengan galak.
Rey yang tak ingin kena ocehan memilih untuk menurut saja.
Lisa mengambil sapu tangan dan es batu tadi. "Mana tadi lebam nya?" Tanya nya dengan cuek. Lalu dengan pelan dia mengusap sudut bibir Rey dengan sapu tangan tadi.
"Aw aww." Saat Lisa mengusapnya, Rey meringis menahan sakit.
Lisa tak mempedulikan ringisan itu dan melanjutkan aktivitasnya. Dia melihat ekspresi wajah Rey yang benar-benar terlihat menahan sakit. "Maka nya lo tuh hati-hati dong." Ucap Lisa dengan ketus.
"Aw, sakit Cha." Ringis Rey.
"Iya di tahan dong. Ini udah pelan-pelan kok." Ujar Lisa dengan kesal. "Lo ngapain sih tadi, sok-sok an belain gue?"
"Ya Allah, Cha. Mana kuat aku liat kamu di gituin. Aku aja nggak pernah sekasar itu sama kamu."
"Iya gue tau. Tapi kalo kayak gini kan, jadi lo yang kena. B*go banget sih!" Ucap Lisa.
"Nggak papa. Aku nggak papa kok. Yang penting kamu nggak papa."
"Halla, lo nggak usah sok jadi pahlawan deh."
"Bukan nya gitu, itu kan emang tugas aku buat lindungin kamu. aku nggak mau kamu kenapa-napa." Ucapan Rey barusan, membuat Lisa terdiam. Dia tak habis pikir, kenapa Rey begitu sabar mengahadapi nya. Padahal kan Lisa judes plus ketus kalo bicara sama Rey, Rey jawab nya lembut gitu selembut selimut Bonita. Wkwkwk...
"Yaudah makasih." Ujar Lisa dengan lirih. Maklum guys, dia gengsi.
"Apa, Cha?" Tanya Rey karena suara Lisa hanya terdengar samar-samar.
"Makasih selalu ada buat jagain gue." Ujar Lisa dengan cuek.
Rey terlihat tersenyum senang. "Iya, aku seneng kok bisa jagain kamu." Ucap nya masih tersenyum bahagia.
Melihat wajah bahagia Rey, Lisa terlihat menatap tajam Rey sambil berpikir.
Tuhkan ge-er. Kalo jadi gini kan gue jadi nyesel udah keluarin kalimat tadi.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!