Love In Many Ways

Love In Many Ways
Berbohonglah Untukku



Sidang diruang BK itu berlangsung lama, Rey yang sedang berada di luar sudah tak sabar menunggu lagi. Ia khawatir dengan Lisa saat ini. Rey langsung membuka pintu ruang BK dan ikut andil dalam permasalahan ini.


"Bu, saya nggak setuju kalau Lisa yang selalu di salahkan! Semua harus dibuktikan untuk menentukan kebenarannya! Nggak bisa asal tuduh begitu saja," Rey membantah semua tuduhan ibu Rani.


Karena adanya pendapat Rey, situasi di ruangan tersebut semakin genting dan membuat emosi Ibu Rani juga meluap hingga terjadi adu mulut.


"Jangan mentang-mentang kamu dekat dengan Lisa kamu bisa buat dia bebas dari kesalahan yah! Kalau memang salah ya salah! Kamu nggak usah manjain dia kayak gini, lama-lama dia bisa ngelunjak!" bentak Ibu Rani.


Rey ikut terpancing emosi mendengar penuturan Ibu Rani, "Sekarang saya meminta hak saya! Saya juga bisa jadi saksi karena saya ada ditempat kejadian saat itu. Jika Dinda saja bisa jad saksi, kenapa saya tidak?"


Ibu Rani terkekeh sinis, "Heh... Kamu kan dekat dengan Lisa, pasti kamu bela dia! Dan kesaksian kamu pasti tidak jujur! Pasti kamu bakal menghalalkan segala cara agar Lisa tidak disalahkan!"


"Bu jangan asal menuduh, jika dilihat dari jarak hubungan, bukankah Dinda masih keponakan ibu juga? Saya bisa berjanji untuk beraksi secara jujur! Saya akan bersaksi sebagai Putra Pemegang Saham terbesar, Siswa teladan sekolah, Putra terbaik sekolah, dan juga sebagai Ketua OSIS. Saya saat ini tidak sombong, tapi hanya menunjukkan siapa diri saya! Jadi ibu jangan semena-mena!" Rey menegaskan kata-katanya.


Semua akhirnya sepakat untuk mendengarkan pendapat Rey juga. Karena apa yang dikatakan Rey memang benar adanya.


Rey menunjukkan lantai tempat Rani jatuh."Saya telah menyimpulkan dengan penjelasan ilmiah, Rani itu jatuh sendiri, bukan di dorong!"


Rey menyimpulkan semua pemikirannya dan menjelaskan secara rinci pada semua orang, awalnya mereka sedikit percaya, tapi setelah melihat lantai yang kosong dan tidak ada bedanya dengan lantai lain, mulai muncul keraguan.


"Bu beri saya waktu, saya akan menemukan buktinya!"


Rey berusaha mengulur waktu untuk menemukan buktinya hingga akhirnya disepakati, Rey diberi waktu 24 jam untuk menemukan buktinya, hal ini akan kembali dibahas besok.


Lisa pulang bersama Rey dengan keadaan lemas dan sulit berpikir. Ia bengong didalam mobil memikirkan semuanya, ia takut Putra tau dan khawatir, takut tidak lulus atau lebih parahnya dikeluarkan dari sekolah.


Rey yang melihat Lisa yang terdiam didalam mobil hanya bisa diam dan bingung harus apa, "Cha... Kamu pengen makan nggak? Pengen apa? Aku beliin deh. Bakso, mie ayam, soto, rendang, sate, nasi padang, nasi goreng atau apa?"


Lisa hanya menggeleng tanpa tenaga, "Pulang aja deh. Aku capek."


Rey hanya bisa menghela napas pasrah, ia tak bisa memaksa Lisa, ia menyetir mobilnya untuk pulang. Otaknya bena-benar berpikir keras, ia harus mencari bukti dan tak bisa mengajukan foto lantai yang kemarin. Ibu Rani menolak bukti itu dengan alasan bisa saja diedit pencahayaannya sehingga terlihat seperti lantai licin.


Bu Alya juga sedikit meragukan bukti dari Rey, jadi mau tak mau ia harus kembali mencari bukti yang lain. Tak ada CCTV dan seseorang yang melihat kejadian itu membuat Rey sedikit kesulitan, tapi Rey yakin kalau pasti ada petunjuk. Yah setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.


...*****...


Keesokannya...


Rey hampir frustasi karena tak menemukan bukti atau petunjuk sama sekali padahal dari kemarin ia sudah susah payah mencari-cari. Lisa yang tau bagaimana keadaan saat ini dan bagaimana sulitnya Rey dalam hal ini, ia juga tau kalau pertemuan selanjutnya akan lebih rumit karena para pemegang saham yang lain juga hadir untuk ikut ambil keputusan.


"Rey..."


Rey menengok melihat Lisa yang tampak kacau, "Iya kenapa Cha?"


Rey terdiam sejenak, "Untuk saat ini belum, tapi tenang aja nanti pasti ketemu kok! Mungkin karena aku kurang teliti aja nyarinya."


"Aku boleh minta tolong nggak?"


"Apa?"


"Nanti dipertemuan, bilang aja kalo Rani jatuh karena kakinya keseleo lalu jatuh sendiri. Kalo perlu, bilang aja dia yang awalnya mau nyelakain aku sampe aku hampir ikut jatuh gini."


"Apa? Maksud kamu, aku harus bohong gitu biar kamu nggak dianggep nyelakain Rani lagi?"


Lisa mengangguk pelan, "lya, tolong! Aku nggak mau dikeluarin dari sekolah Rey. Atau kamu bisa bongkar semua tingkah pembullyan Rani. Buat kebohongan apapun itu asalkan aku nggak disalahkan! Sekuat apapun saksi Dinda, orang lain pasti lebih percaya sama kamu karena kamu anak pemegang saham terbesar."


Rey mengerti dengan keadaan Lisa, tapi ia juga tak mau melakukan itu, bagaimana pun sebagai saksi ia harus jujur. "Aku nggak mau! Aku mau buktiin kalo kamu bener-bener nggak salah tapi nggak harus dengan bohong caranya!" Rey menolak saran Lisa dengan lembut.


Lisa sontak terkejut dengan jawaban Rey, "Oh, jadi kamu lebih suka aku dikeluarin dari sekolah? Suka nama aku jadi jelek dan suka Dinda nindas aku gitu? Padahal harapan aku satu-satu nya saat ini cuma kamu Rey, aku harap kamu bisa nolong aku! Tapi apa... Tega kamu Rey..." mata Lisa berkaca-kaca. Mental Lisa yang sedang down membuatnya lebih sensitif.


"Cha bukannya gitu, tapi aku janji akan bersaksi sebagai Ketua OSIS, bukan sebagai suami kamu. Dan hal yang diawali dengan kebohongan pasti nggak akan baik!"


Lisa meneteskan air matanya, "Langgar semua janji kamu! Buat kebohongan apapun itu, terserah lakuin apapun! Aku yakin udah nggak ada petunjuk apa-apa Rey, pilihannya sekarang cuma kamu yang bohong atau aku dikeluarin dari sekolah! Hiks..."


Rey memeluk Lisa lembut, "Nggak gitu Cha, tenang aja... Pasti semua akan baik-baik aja."


Lisa memukul-mukul dada Rey karena sudah putus asa, "Lepasin! Lepasin aku, hiks... Nggak ada yang baik-baik aja Rey, keadaan saat ini lagi nggak berpihak sama aku! Padahal aku nggak salah! Hiks..."


"Nggak Cha, pasti ada jalan keluar lain, aku yakin! Kamu tenang aja..."


"Hiks... Kalo kamu nggak mau bohong, aku pergi aja dari rumah ini! Cuma kak Putra yang bener-bener ngelindungin aku! Hiks..."


"Cha!!!", Lisa hendak berdiri, namun Rey menariknya dan kembali memeluknya erat, "Oke-oke aku bakal bohong, asalkan jangan tinggalin aku! Aku juga bisa ngelindungin kamu!"


Lisa menangis lega, ia benar-benar tak ingin mengecewakan siapa-siapa saat ini. Baik itu kedua orang tuanya, kak Putra maupun Ayah dan Bunda, dan yang ia butuhkan hanyalah dukungan.


Aku nggak peduli dosa atau enggak, bener atau salah, yang aku butuhin saat ini hanyalah status nggak salah! Aku nggak salah dan aku nggak nyelakain siapapun! Kalaupun dosa aku bakal tanggung, apapun resikonya, asal aku nggak ngecewain siapapun terutama Mommy dan Daddy!


Rey masih perang dengan hatinya sendiri, keraguan mulai muncul di dalam benaknya, "Di satu sisi aku pengen ngelindungin Lisa, tapi di sisi lain aku juga udah janji bakal jujur. Ya Allah, tolong petunjukmu!" pikir Rey yang tengah kalut.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!