
Saat pagi hari tiba, semua langsung berkumpul di ruang keluarga setelah selesai sarapan pagi. Putra, Felice, Fadil dan juga Mommy mereka berkumpul di satu ruangan.
"Jadi sekarang kita harus bagaimana?" Tanya Felice.
"Sejak kapan mereka menghilang?" Tanya Mommy.
"Pagi kemarin, Aunty." Jawab Fadil.
"Kemarin aku udah berusaha cari mereka, tapi lokasi mereka sangat sulit dilacak." Ujar Putra.
"Aku juga udah cari mereka berdua kemana-mana, aku juga udah nanya sama teman-teman nya tapi tak ada satupun yang mengetahui nya. Bahkan mereka bilang kalau Rey sama Lisa nggak masuk sekolah kemarin." Jelas Fadil.
Tok.. Tok.. Tok...
Suara ketukan pintu terdengar.
Tok.. Tok.. Tok...
"Bi tolong bukain pintu nya..." Teriak Felice.
"Iya, non."
Tak berselang beberapa lama terlihat beberapa lelaki yang seumuran dengan Fadil masuk ke dalam rumah dan menghampiri. Yah mereka adalah teman-teman nya Fadil, ada Faro, Bryan, Reza, dan juga Andre.
"Assalamualaikum..." Sapa mereka.
"Waalaikumsalam."
"Mereka siapa?" Tanya Putra.
"Teman-teman nya Fadil, kak. Mereka akan bantu kita nantinya. Nggak papa kan?" Jawab Fadil.
"Ya nggak papa lah. Makin banyak makin bagus. Ayo silahkan duduk semua nya..." Ucap Putra dengan ramah.
"Makasih kak."
"Eh, Ardi katanya minta maaf nggak bisa ikut. Soalnya Mama nya lagi sakit, dia harus nemenin di rumah sakit." Ucal Bryan pada Fadil saat baru saja dia duduk di samping Fadil.
"Ngapain minta maaf? Nggak papa kok." Ucap Fadil.
"Devan juga minta maaf katanya ntar dia nyusul. Karena dia ada sedikit urusan." Kata Andre.
"Iya, mereka itu kayak orang lain aja pake minta maaf segala." Ucap Fadil mengerti.
"Makasih yah kalian semua sudah mau bantu kita." Ucap Mommy sembari tersenyum ramah.
"Sama-sama, tante."
Tiiingg...
Sebuah pesan masuk ke ponsel Putra. Putra pun segera melihat siapa yang mengirim pesan kepadanya.
Vanessha
@Vanessha send you a pict
Yuhui... Dia... atau dia...
Putra terkejut setengah mati saat melihat Lisa dan Rey dengan kedua tangan dan kaki terikat, kedua nya terlihat sangat lemas. Beberapa luka dan memar-memar di badan dan wajah serta pakaian yang lusuh, dan sedang pingsan. Terlihat saja mereka masih memakai seragam sekolah nya.
Putra mencoba menelpon nomor itu, namun tetap saja tak diangkat. Putra benar-benar marah saat ini.
Vanessha
Ckckck... Sepertinya tidak sabaran sekali
^^^Me!^^^
^^^Cepat katakan dimana mereka!^^^
^^^Jangan bermain-main denganku!^^^
Vanessha
Owh... terburu-buru?
^^^Me!^^^
^^^Katakan dimana mereka sekarang!^^^
Sontak semua menoleh pada Putra yang terlihat sibuk mengotak-atik ponselnya, ekspresi wajahnya terlihat kesal. Felice yang berada di sampingnya, bertanya. "Kamu kenapa?" Tanya Felice.
Putra tak menjawab, dia hanya menyodorkan hp nya pada Felice. Felice mengambilnya dengan bingung. APA?!" Felice juga terkejut saat melihat foto siapa yang ada di ponsel Putra.
"Ada apa?" Tanya Mommy.
"Ini, Mom." Felice menyerahkan hp itu pada Mommy. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat foto kedua anak nya tersebut.
"I-ini..." Belum selesai ucapan nya Mommy langsung jatuh pingsan.
"Eh, Mommy..." Sahut Felice panik. Felice langsung berusaha menopang tubuh Mommy agar tidak terjatuh.
"Mom, Mommy. Mommy..." Panggil Putra panik. "Ah sialan!" Sahut Putra kesal. Dia langsung mengambil ponsel nya dan menghubungi asisten nya.
"Halo, kau ke rumah sekarang. Waktu mu 5 menit, jangan sampai telat!" Ucap Putra.
"Siap Tuan."
Semua yang ada di ruangan tesebut hanya bisa menatap dengan bingung. Ada apa sebenarnya di ponsel Putra? Mereka ingin bertanya tapi kayaknya ini bukan waktu yang tepat.
Setelah beberapa menit lamanya setelah Putra menelpon, Asisten Putra pun datang menghampiri mereka di ruang keluarga.
"Maaf, Tuan saya telat 7 menit." Ucap Asisten Putra dengan napas yang masih ngos-ngosan. Sepertinya setelah di telpon oleh Putra dia buru-buru langsung tancap gas.
"Itu nggak penting." Putra menyodorkan hp nya pada Asisten nya. "Cepat cari dan lacak dimana lokasi si pengirim pesan ini! SEKARANG!" Ujar Putra.
"Baik, Tuan. Saya permisi." Setelah membungkuk hormat asisten tersebut langsung pergi untuk melaksanakan tugas nya.
"Ada apa, kak?" Tanya Fadil yang sedari tadi bingung.
"Nanti aku jelasin yah, aku mau bawa Mommy ke kamar dulu." Ujar Putra. Putra menggendong Mommy di bantu oleh Felice untuk masuk ke dalam kamar. Dia membaringkannya di atas kasur. "Kamu disini tolong jaga Mommy, yah. Aku mau pergi dulu."
"Kemana?" Tanya Felice.
"Aku mau pergi menolong mereka."
Mendengar ucapan Putra yang terdengar khawatir, Felice langsung memeluk Putra dengan tujuan agar Putra lebih tenang. "Kamu hati-hati yah."
Putra membalas pelukan Felice, "Iya. Kamu juga yah, kalo ada ap-..."
Belum selesai ucapan Putra, Felice keburu memotong. "Kalu ada apa-apa langsung telpon kamu." Ucap Felice menirukan gaya bicara Putra. "Aku selalu ingat kok pesan kamu itu."
"Yaudah aku pergi yah, dadaahh..." Putra berjalan keluar dan menutup pintu kamar dengan pelan.
"Apa kau sudah menemukan lokasi nya?" Tanya Putra saat melihat asisten nya berjalan menghampiri nya.
"Untuk lokasi saat ini belum diketahui, namun pelaku mengirimkan pesan pada ponsel anda. Ia mengajak anda bertemu di sebuah taman yang ada di daerah ×××××."
"Kapan?"
"Nanti siang pukul 14.00, ia meminta untuk bertemu dan tidak mengijinkan anda membawa orang lain apalagi melibatkan polisi, mereka berani mengancam dengan menggunakan Nona Lisa dan Tuan Rey."
"Sialan, berani sekali dia mengancam!" Ucap Putra dengan kesal. Putra melanjutkan langkahnya dan duduk di sofa di ruang keluarga.
"Ada apa, kak?" Tanya Bryan.
"Pelaku meminta untuk bertemu." Jawab Putra.
"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang." Ucap Andre.
"Jangan, kita tak perlu terburu-buru. Kita jangan gegabah dalam bertindak, kita harus menyusun rencana terlebih dahulu." Ucap Faro.
"Aku setuju." Ucap Reza.
"Apa kamu punya cara?" Tanya Fadil pada Faro.
"Ntahlah, aku masih berpikir. Lebih baik kita siapkan semuanya terlebih dahulu agar lebih matang dan tidak gegabah saat di sana." Ujar Faro. Faro memang sangat cerdik, meskipun dia pendiam dan sedingin es batu tapi dalam hal menyusun strategi, tak perlu ditanyakan lagi.
Semua terdiam tak ada yang bersuara. Semua kembali berpikir bersama menyusun sebuah rencana untuk penyelamatan Lisa dan Rey. Putra bisa saja memberitahu polisi mengenai hal ini, namun ia tak berani ambil resiko.
Mereka sudah berani menyentuh dan melukai Lisa juga Rey, itu berarti mereka tidak main-main dengan ancamannya. Mereka semua harus lebih berhati-hati kali ini.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!