
"Ngapain? Bujuk Ayah sama Bunda nya Felice?" Tanya Mommy lagi.
"Nggak tau juga Mom, Felice nggak tau Putra baca mantra apa sampe Ayah sama Bunda luluh." Gurau Felice.
"Hahaa..." Semua tertawa dengan gurauan Felice.
"Aku punya cara sendiri buat luluhin Ayah sama Bunda." Ucap Putra dengan berbangga diri.
"Uuuuh... Bangga." Ledek Lisa.
"Jadi nikah nya kapan nih?" Tanya Bu Marissa.
"Putra?"
"Nunggu waktu yang tepat dulu. Lagian juga Putra mau kerja dulu, ntar kalo udah agak mapan baru deh acara lamaran." Jelas Putra.
"Kalo Daddy terserah kamu aja. Yang penting kalo kamu udah siap ya lebih cepat lebih baik."
"Iya saya juga setuju." Ucap Pak Arga menyetujui ucapan Daddy.
Pak Hariwijaya melihat sekilas ke arah jam tangannya. Kemudian berkata, "Mmm... mohon maaf yah, sepertinya saya harus kembali ke kantor karena sebentar lagi akan ada meeting penting."
"Oh iya pak. Nggak papa." Jawab Pak Arga..
"Lain waktu kita bicarakan tentang pernikahan Putra dan Felice. Kami akan pulang dulu." Sambung Mommy.
"Iya, kalian hati-hati yah." Pesan Bu Farah.
"Felice, sering-sering ke rumah yah nak, ajakin Ayah sama Bunda kamu juga. Biar kita makin akrab." Ucap Mommy sambil tersenyum.
"Iya Mom. Makasih..." Sahut Felice.
"Yasudah kalo gitu kita pulang dulu yah, permisi." Daddy, Mommy dan Lisa berjalan pergi di susul oleh Putra.
"Dadah Felice." Putra melambaikan tangan pada Felice sebelum berlalu.
"Daah..." Balas Felice.
.
.
.
🏠Rumah Keluarga Hariwijaya🏠
Lisa berjalan sendiri memasuki rumah. Daddy dan kak Putra pergi ke kantor, sedangkan Mommy nya juga pergi menemui klien nya. Nasib sungguh nasib. Hahaa...
Lisa memasuki kamarnya dengan lesu. Dia mandi dan memakai baju tidurnya. Jam masih menunjukan pukul 19.27 namun letih yang di rasakan membuatnya terbaring di atas kasur. Rasa kantuk mengundangnya untuk berlabuh ke alam mimpi.
.
.
.
Pagi Hari🌄🌞
Lisa sudah bangun sejak pukul 05.21 dia sudah mandi dan sedang sibuk memakai seragam sekolahnya.
Tok.. Tok.. Tok...
Suara kamar Lisa di ketuk oleh seseorang dari luar.
Tok.. Tok.. Tok...
Suara ketukan kembali terdengar.
Lisa yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin menyahut, "Ya, siapa?"
"Putra. Kakak masuk yah." Jawab si pengetuk pintu.
"Masuk aja."
Cklek!
Putra memasuki kamar adiknya, kemudian duduk di atas tempat tidur.
"Dek." Panggilnya sambil melihat Lisa.
"Hem." Lisa masih sibuk mencari jepitan rambutnya di laci.
"Dek?" Ulangnya.
"Apa sih kak?"
"Liat baju kakak. Huuu..." Sahut Putra dengan bangga sembari memamerkan setelan jas nya yang rapi.
Lisa menoleh ke arah Putra. "Widdih, mau kemana tuh? Rapi bener."
"Iya dong. Kamu tau nggak?"
"Nggak." Lisa menjawab lalu memakai jepitan rambutnya di depan cermin.
"Ya kan kakak belum ngomong. Gimana sih?"
"Hehee... Iya yah." Kata Lisa cengar-cengir.
"Kakak sekarang udah kerja. Yeiyy." Girang Putra.
"Bagus dong."
"Kakak di nobatkan oleh Daddy jadi CEO di perusahaan. Jadi mulai hari ini kakak udah mulai pegang jabatan itu." Ucap Putra dengan bangga.
"Oh." Lisa berdiri dan mengambil sepatu nya di rak sepatu.
"Oh? Cuma 'oh'? Kamu tau kan apa itu CEO?"
"Nggak tau."
Jawaban Lisa membuat Putra menepuk jidatnya. Niatnya untuk memamerkan apa yang dia miliki sekarang pada Lisa sudah hancur berkeping-keping. Harapannya untuk melihat wajah kesal Lisa sudah tak ada lagi. Malah dia yang kesal.
"Lisa mau berangkat kak." Lisa mengambil tas nya dan memakainya.
"Kalo gitu bareng aja, kakak juga udah mau berangkat." Tawar Putra.
Lisa menyentuh dahi Putra dengan punggung tangannya. "Nggak panas kok. Tumben kak Putra mau anterin Lisa."
"Iya deh. Yaudah yuk berangkat."
"Let's go, baby."
Mereka berdua keluar kamar dan berjalan beriringan menuruni tangga. Terlihat Daddy dan Mommy sedang sarapan di meja makan.
"Dad, Putra berangkat yah." Putra meraih tangan Daddy nya dan mencium punggung tangan nya.
"Loh? Nggak kepagian?" Tanya Daddy.
"Nggak kok, Dad. Putra udah nggak sabar buat kerja. Hehee..."
"Kak Putra semangat banget, Dad. Udah kebelet nikah. Hahaa..." Ledek Lisa disusul dengan tawa menggelegarnya.
"Kalian nggak sarapan dulu?" Tanya Mommy.
"Nggak usah Mom, ntar Lisa sarapannya di sekolah aja." Lisa menyalami dan mencium pipi Mommy nya singkat, lalu melakukan hal yang sama pada Daddy nya.
"Kita berangkat yah, Dad Mom."
"Iya, hati-hati."
Lisa dan Putra berjalan keluar rumah. Sesampainya di teras, Lisa di sambut dengan pemandangan yang aneh. Seorang lelaki yang umurnya mungkin seumuran dengan Putra, juga memakai setelan jas yang rapi menyambut mereka berdua dengan sopan.
"Selamat pagi, tuan." Sapa nya.
"Selamat pagi, nona." Ucap nya lagi, lalu menunduk hormat.
Lisa yang melihat tingkah lelaki itu merasa bingung.
"Hei, kok malah bengong? Ayo masuk!" Pinta Putra saat lelaki tadi membukakan pintu mobil untuk Lisa.
"I-iya kak."Lisa masuk ke dalam mobil di susul oleh Putra. Lelaki tadi ikut masuk dan duduk di belakang kemudi dan menyetir.
Setelah mobil melaju, Lisa memberanikan diri untuk bertanya pada kakaknya.
"Kak." Panggil Lisa dengan nada pelan.
"Apa?"
Lisa berbisik. "Itu siapa?" Tanya nya sambil menunjuk lelaki yang sedang sibuk menyetir itu.
"Oh itu? Namanya Tio, dia asisten kakak."
"Asisten?"
"He-em."
Sejak kapan kakak punya asisten?"
"Sejak tadi."
"Oh pantesan." Gumam Lisa.
Setelah menanyakan hal itu, Lisa sudah tak bersuara lagi, dia bersandar dan menatap jalanan di luar, sedangkan Putra sibuk dengan hp nya.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, Lisa menyalami kakak nya. "Lisa masuk dulu yah kak, makasih udah di anterin."
"Iya. Kamu belajar yang bener, jangan nakal-nakal."
"Oke siap."
Lisa mengecup pipi Putra singkat sebelum turun dari mobil.
.
.
.
Kelas 11 IPS 5👈
Lisa menghampiri Sarah di meja nya yang sepertinya sedang sibuk bermain game. "Rah, kemarin ada tugas nggak?" Tanya nya.
"Eh Lisa, gimana acara kak Putra? Kak Putra lulus kan?" Tanya Sarah balik.
"Di tanya malah balik nanya. Acara kak Putra lancar kok." Jawab Lisa. "Kemarin ada tugas nggak?"
"Ada."
"Kamu udah selesai belum?"
"Udah."
"Kalo gitu pinjem dong, ya yah, Sarah kan baik. Ya yaahhh..."
"Iya. Ini kamu tinggal catet aja." Sarah menyodorkan buku catatannya pada Lisa.
Lisa menerimanya dengan girang. "Makasih beip. Aku catet dulu yah."
"Oke." Sarah melanjutkan game nya.
Lisa kembali ke meja nya dan duduk mencatat dengan tenang.
Tak berselang beberapa menit, Al sudah datang dan duduk di sebelah Lisa.
"Morning Honey." Sapa nya sambil meletakkan tas nya.
"Morning." Jawab Lisa tanpa menoleh, masih sibuk mencatat.
"Kak Putra gimana? Lulus kan?" Tanya Al.
"Lulus lah, yakali nggak lulus."
Al yang melihat Lisa sedang sibuk mencatat, sekilas terlintas pikiran jahil untuk menganggu nya.
"Jadi merried nya kak Putra kapan?"
"Nggak tau."
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!