
"Jangan pergi!"
"Nggak. Ini minum!" Rey menyerahkan segelas air minum tersebut.
Faro yang sedang berdiri tak jauh dari mereka berdua dan menyaksikan adegan mesra ini hanya bisa menatap dengan sedih. Ntah kenapa dari tadi rasa sesak terus saja menghampiri perasaannya. Dua nyamuk didalam ruangan yah.
Dan pada akhirnya dia memilih untuk duduk di sofa disamping Fadil. Ia lebih memilih untuk diam dan memperhatikan.
Tok.. Tok.. Tok...
Ketukan pintu kembali terdengar.
"Masuk aja kali!" Ketus Fadil.
"Samlekom..." Pintu ruangan terbuka, terlihat Sarah melangkahkan kaki nya masuk kedalam ruangan diikuti oleh Al dan juga Mira dibelakang nya.
Fadil menoleh sejenak, "Waalaikumsalam." Ucap nya kembali konsen dengan ponselnya.
"Dih, sok cool banget." Cibir Mira.
"LISAAAAA..." Teriak Sarah menggelegar saat matanya tertuju pada Lisa yang duduk di atas ranjang. Sarah dan Mira saling menatap untuk beberapa detik seperti saling memberikan kode. Kemudian detik berikutnya mereka berdua langsung berlari memeluk Lisa dengan erat.
"Uuuhh... Aku kangen banget tau." Ujar Sarah.
"Iya. Aku juga. Untung aja kamu nggak papa. Kita semua sedih banget liat kamu dalam keadaan kayak gini." Sambung Mira.
"Aku udah nggak papa kok. Makasih yah semuanya." Lisa membalas pelukan keduanya tak kalah eratnya.
Al yang masih berdiri di depan pintu tersenyum melihat tingkah ketiga sahabat itu. "Udah nggak usah lama-lama peluk nya. Ntar Lisa sesak napas lagi." Ucap Al sembari berjalan mendekat dan meletakkan parsel buah yang ada di tangan nya di atas meja.
Sarah dan Mira cengengesan mendengar kalimat Al barusan. "Hehehee..."
"Si Rey langsung sehat nih." Sindir Al saat melihat Rey yang masih duduk disamping ranjang.
"Ya iyalah. Awalnya ia merasa sakit disekujur tubuhnya dan merasa sangat susah menggerakkan dirinya. Namun, saat matanya terbuka... Ia langsung mengingat seorang Lisa nya. Kemudian... Ia langsung sehat dan dengan sekuat tenaga ia mampu merawat Lisa nya dengan baik..." Seru Sarah dengan nada seperti mendongeng. Para readers bacanya jangan bernada yah, wkwkwk...
"Hahahaa... Betul betul betul..." Sahut Mira.
"Ih apasih kalian." Lisa tersenyum malu.
"Tapi bener kan? Kan Rey?" Tanya Sarah sambil menyenggol bahu Lisa pelan.
"Hm." Jawab Rey singkat.
"Oh iya, keadaan Vhino gimana?" Tanya Sarah.
"Tadi pas aku kesini dia belum sadar, nggak tau deh sekarang." Jawab Rey.
"Ih kasian Vhino, ditinggal pas lagi sayang-sayang nya." Sanggah Al. "Eh maksudnya ditinggal sendiri."
"Lebaykauloh." Sahut Sarah.
"Hummalabbaik." Sambung Al.
"Mmm... Yaudah sekarang kita ke ruangan Vhino yuk, Lisa kan udah ada yang jaga. Kasian Vhino sendirian." Kata Mira.
"Kasian atau rindu tuh?" Tanya Al meledek.
"Ih nggak. Nggak gitu, tapi mak-..."
"Accciee... Ada yang rindu nih." Ledek Sarah.
Lisa mengernyitkan dahinya, "Vhino? Mira? Mereka... Mereka kenapa? Pacaran?"
"Belum, Lis. Tapi akan segera. Tunggu tanggal mainnya aja." Sahut Al.
"Kamu tau nggak, Lis? Kemarin kan Mira hampir di pukul balok sama Ghea, eh taunya ada Vhino yang ngorbanin dirinya buat lindungin sang princess."
"Eh jangan kayak gitu guys. Fadil nanti cemburu." Tuduh Al.
Mira yang mendengar ucapan Al refleks langsung menoleh pada Fadil dengan mata melotot.
Fadil yang sedari tadi diam dan memainkan hp nya langsung menyahut. "Ih apaan. Kenapa jadi aku? Aku kan nggak tau apa-apa."
"Ih pura-pura, kamu kan suka sama Mira." Tuduh Al lagi.
"Astagfirullah, kamu dzolimi sekali." Seru Fadil.
"Nggak usah pura-pura. Suka yah tinggal bilang aja, nggak usah di tunda-tunda yah. Iyakan guys?" Sarah ikut menuduh.
"He-em."
"Cuit... Cuit..." Al bersiul mengejek.
"Ih apasih. Udah-udah, yuk kita ke ruangan nya Vhino." Kata Mira mengalihkan pembicaraan karena sedari tadi wajahnya sudah semerah tomat.
"Yaudah deh. Kita ke ruang sebelah yah, Lis. Kayaknya Mira udah nggak sabar ketemu sama calon nya." Pamit Sarah yang langsung mendapat cubitan di lengan nya.
Sedangkan Lisa hanya tersenyum melihat tingkah teman-teman nya itu. Lisa sudah sangat bersyukur bisa kembali bertemu dan bisa bercanda kembali dengan semua teman nya.
"Yuk, Al ayo." Ajak Sarah.
"Aku disini aja. Sama Fadil sama Faro, kalian aja yang pergi."
"Haih, iya iya." Mereka bertiga berlalu pergi meninggalkan ruangan. Bener-bener yah kalo ada mereka tuh ruangan serasa kayak pasar. Buktinya aja sekarang ruangan kembali hening saat mereka pergi.
Drrtt... Drrtt...
Handphone Faro bergetar, Faro yang sedari tadi diam saja mengambil ponselnya di saku nya.
"Halo, Yah?"
"....."
"Dimana?"
"....."
"Tapi ini Faro lagi di rumah sakit, Yah."
"....."
"Temen nya Faro."
"....."
"Sekarang?"
"....."
"Yaudah Faro kesana sekarang."
"Kenapa, Ro?" Tanya Fadil setelah Faro menutup telponnya.
"Ayah aku minta dijemput."
"Dimana?"
"Bandara." Jawab Faro kemudian berdiri, "Aku pulang dulu yah. Lisa, Rey semoga cepat sembuh."
"Iya makasih yah, Faro." Ucap Lisa.
"Iya. Aku pulang yah, Dil." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Faro kemudian pergi dari ruangan tersebut.
"Kamu nggak makan, Rey?" Tanya Lisa sambil memijat-mijat jemari tangan Rey yang sedari tadi di pegangnya.
"Nanti aja."
"Kenapa?"
"Aku masih kenyang."
"Oh yaudah."
Ruangan kembali hening. Lisa sibuk memainkan jemari tangan Rey, sedangkan Rey hanya diam memperhatikan apa yang dilakukan Lisa. Sementara Fadil sudah dari tadi ia berlalu kedalam mimpi. Ia tertidur di atas sofa dengan jaket yang ia pakai untuk menutupi tubuhnya.
"Oh iya makasih yah Rey."
"Untuk?"
"Yah buat semuanya. Kamu udah banyak ngelakuin segala hal buat aku. Udah jaga aku, lindungin, bahkan kamu selalu ngorbanin hidup kamu. Aku udah nggak bisa nyebutin semuanya, udah terlalu banyak."
Rey tersenyum sekilas. "Kan emang itu tugas aku."
"Tapi tetep aja aku ngerasa berhutang sama kamu. Hutang budi bahkan hutang nyawa."
"Suuutt... Udah. Aku nggak pernah hitung semua yang kulakuin buat kamu. Aku tulus ngelakuin itu semua. Jadi kamu nggak usah berpikiran yang kayak gitu."
Cup!
Lisa langsung mencium singkat pipi Rey tanpa pikir panjang. Tentu saja itu membuat Rey kaget, saking kagetnya Rey jadi susah bergerak bahkan bernapas. Rey membulatkan matanya kaget, kemudian perlahan menatap Lisa penuh tanda tanya.
"Maafin aku. Selama ini aku salah. Sekarang aku baru sadar, kalo kamu itu memang yang terbaik dan aku sangat beruntung punya suami kayak Rey. Rey yang ada di depan mata ku saat ini benar-benar Rey yang paling sempurna buat aku. Bahkan saat aku kasar dan jahat sama kamu, kamu tetap bisa menjadi Rey yang sama dan selalu sabar. Semua yang diucapkan Daddy dulu itu semua benar."
Rey masih saja terdiam mendengar ucapan Lisa. Ini semua sangat tiba-tiba. Bahkan Rey belum siap. Ini semua sangat mengejutkan.
"Aku baru sadar kalo kamu itu benar-benar yang terbaik buat aku. Kamu selalu bisa ngejaga aku dan selalu beri perlindungan dan itu membuat rasa rindu aku sama Daddy perlahan berkurang." Yah tentu saja. Saat Lisa dengan Rey, Lisa merasakan kehangatan yang sama saat bersama kak Putra dan Daddy nya. Hanya Rey yang bisa memberikan rasa yang sama.
"Rey... Kamu maafin aku kan?" Tanya Lisa dengan wajah memelas.
"Rey?" Ulang Lisa saat melihat Rey hanya diam dan menatap nya.
"Eh i-iya. Iya nggak papa. Aku ngerti kok perasaan kamu saat itu." Ah akhirnya, lega jugakan. Kalimat barusan yang Rey ucapkan membuat ia agak lega.
Lisa langsung memulas wajah senang nya. Lisa membentangkan kedua tangan nya. "Peluk..." Yaelah manja nya keluar lagi ini.
Rey ikut tersenyum kemudian berdiri dan langsung membawa Lisa kedalam pelukannya. Lisa memeluk erat pinggang Rey seolah tak ingin Rey jauh darinya. "Makasih Rey." Setetes air mata jatuh membasahi pipi nya.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!
Oh iya, Mira cocoknya sama siapa yah? Author masih bingung, masih nyari-nyari. Para readers ada yang punya saran nggak? Kalo ada nanti tulis di komen, suara terbanyak yang akan memutuskan nantinya. Love you all!