
Dalam hati Lisa sudah dapat menebak apa yang dimaksud Al dengan ucapan nya tadi. Dia menyiapkan hatinya untuk menerima semua ucapan yang akan di utarakan oleh Al.
"Kamu udah nikah kan sama Rey?" Al menatap ke arah Lisa mencoba mencari kejujuran dari kedua benik mata Lisa.
Lisa terdiam tak menjawab. Benar-benar membingungkan, apa yang harus dia jawab, toh Al juga udah tau. Al juga agak salah sih, udah tau jawaban nya malah nanya lagi. Tapi nggak salah juga sih kan Al mau denger itu dari mulut Lisa sendiri. Eh ini Author maksudnya apaan sih?! Kagak ngerti dah.
Tak mendapat jawaban, Al kembali bertanya. "Lisa, jawab dong biar semuanya jelas. Kamu udah nikah sama Rey?"
Lisa menoleh pada Al dan menatap kedua matanya. "Iya Al. Aku udah nikah sama Rey." Mendengar jawaban dari Lisa, Al mangut-mangut. "Maafin aku Al." Ujar Lisa dengan lirih.
"Nggak Lis. Kamu nggak usah minta maaf kamu nggak salah apa-apa kok. Aku tau dan aku ngerti ini semua bukan keinginan kamu, Sarah udah jelasin semua nya." Al menghela napas berat. Kemudian memulas senyum tulus. "Mungkin ini memang udah takdir. Sekarang aku udah paham dengan perkataan kamu hari itu. Semoga kamu bahagia yah, Lis. Doa yang terbaik untuk mu!"
Lisa memandang ke depan dengan tatapan kosong. "Makasih." Ujarnya dengan pelan.
"Yaudah aku ke kelas dulu yah, daahhh..." Al melambaikan tangan nya sambil tersenyum.
"Daahh..."
Semoga bahagia, Lisa. Dan selamat tinggal
Al berlalu pergi meninggalkan Lisa yang masih duduk termenung. Semenjak mengetahui alasan sebenarnya kenapa Lisa mutusin hubungan nya, saat itu juga Al sudah memutuskan untuk tidak berharap lagi pada Lisa dan memutuskan untuk melupakan Lisa. Ya emang sih, selama ini meskipun dia udah diputusin sama Lisa tapi Al masih berharap bisa kembali lagi membentuk sebuah hubungan dengan si mantan. Namun, sekarang rasanya tak mungkin. Apalagi dia sudah tau Lisa sudah bersuami. Untuk sekarang Al memutuskan untuk fokus kepada Sarah, seseorang yang setia mencintainya.
.
.
.
"Icha." Panggil Rey.
"Paan?"
"Hari ini kamu sibuk nggak?" Tanya Rey yang masih sibuk menyetir. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan pulang kerumah.
Lisa menyandarkan kepalanya. "Gue selalu sibuk." Maksudnya tuh Lisa sibuk rebahan guys. Itu termasuk kesibukan yah.
Rey melihat sekilas pada Lisa. "Oh, gimana kalo ntar kita jalan-jalan?"
"Nggak mau!" Sahut Lisa.
"Kenapa?"
"Ya gue nggak mau. Gue nggak mau jalan sama lo."
Rey tersenyum sekilas mendengar ucapan Lisa.
"Assalamualaikum..." Lisa membuka pintu rumah di susul oleh Rey di belakang nya.
"Eh Mommy, Mommy nggak kerja?" Tanya Lisa saat melihat Mommy nya yang sedang berada di ruang keluarga.
"Mommy kerja kok, tapi Mommy izin dulu. Rasanya Mommy capek banget."
"Assalamualaikum, Mom." Rey mencium punggung tangan Mommy.
"Waalaikumsalam. Ini kalian pulang nya bareng kan?"
"Iya, emang kenapa Mom?" Tanya Lisa.
"Nggak, cuma aneh aja, kalian barengan tapi masuknya pisah-pisah." Mommy memberikan tatapan tajam. "Apa jangan-jangan kalian lagi marahan yah?"
Lisa langsung membulatkan matanya kemudian dengan sigap langsung mengaitkan tangannya pada lengan Rey. "Ng-nggak kok. Nggak kok Mom, Lisa sama Rey baik-baik aja kok." Lisa menyandarkan kepalanya di bahu Rey.
"Bener?" Mommy menyipitkan matanya terlihat berpikir.
"Bener kok, Mom. Iyakan Can?" Tanya Lisa dengan mesra pada Rey.
"Can itu apa?"
"Mmm... Anu Mom, itu... itu panggilan sayang. Iya panggilan sayang buat Rey yang tersayang." Ujar Lisa memberi alasan. Padahal kan maksudnya Macan, cuma di singkat aja gitu.
Rey menatap Lisa aneh. Nih anak kenapa? Kok tiba-tiba mesra gini? Bukannya dia benci yah sama aku? Dan... Dia punya panggilan sayang? Sejak kapan?
"Perasaan kita nggak pernah punya panggilan sayang deh." Ucap Rey dan langsung berhadiah sebuah injakan di kaki nya. "Awww..." Keluhnya menahan sakit.
"Ha? Ah nggak papa, Mom."
"Yaudah kalo gitu kita berdua ke kamar dulu yah, Mom. Yuk beip." Lisa menarik lengan Rey dan tangannya masih mengait di sana sampai mereka berdua masuk kamar.
"Ih jauh-jauh dari gue!" Lisa langsung melepas tangannya dan menjauhi Rey.
"Kamu sendiri yang megang."
"Dih nggak usah ge-er yah! Gue kayak gitu biar Mommy nggak kepikiran sama hubungan kita." Lisa langsung merebahkan dirinya di atas kasur tanpa menganti seragam sekolah nya.
"Iya aku tau. Kamu nggak mau kan kalo Mommy tau hubungan kita yang sebenarnya. Yang sebenarnya nggak harmonis?"
"Tuh lo tau. Mommy itu udah cukup pusing ngurusin kerjaan nya, bantu kak Putra ngurusin perusahaan Daddy, masa iya dia juga harus pusing mikirin hubungan kita."
Mendengar ucapan Lisa, suatu ide melintas di otaknya. "Oh yaudah kalo gitu kita jalan yuk." Ajak Rey.
"Apaan sih lo, gue kan dah bilang gue nggak mau jalan sama lo. Kagak ngerti juga?"
"Kamu nggak mau kan Mommy kepikiran tentang hubungan kita?"
"Ya nggak."
"Yaudah kita jalan. Biar Mommy bener-bener percaya."
Lisa terlihat berpikir sejenak, Bener juga yah , taoi gue bener-bener nggak bisa jalan sama manusia kayak dia.
"Gimana?"
"Haih yaudah deh."
.
.
.
"Eh ini pada mau kemana?" Tanya Mommy saat melihat Rey dan Lisa yang berjalan menuruni tangga.
"Hehee... Mau jalan Mom." Jawab Lisa. Lisa yang sok mesra terus saja menempel dan bergelayut di lengan kekar Rey. Kalo Rey sih nggak masalah yah, buktinya aja dia cuma tersenyum melihat tingkah Lisa.
"Kemana?"
"Ih Mommy kepo deh. Ini kan urusan Lisa sama Rey, Mommy fokus kerja aja." Sahut Lisa.
"Hahahaa... Iya deh, yaudah kalian pulangnya jangan kemaleman yah."
"Oke Mom."
"Rey jagain istrinya."
"Oke Mom."
"Kita pergi dulu yah, Mom. Yuk Beip." Mereka berdua berjalan beriringan keluar rumah.
"Kita pake motor aja Rey."
"Kenapa? Bukannya kamu nggak suka naik motor?"
"Gue bosen naik mobil terus, seandainya bisa gue mau naik kapal tempur aja!" Sahut Lisa dengan kesal.
Rey tersenyum mendengar penuturan istri manja nya. "Yaudah kalo gitu kita ke rumah sebelah dulu yah." Ujar Rey dengan lembut. Rey memang super duper sabar menghadapi wanita seperti istrinya, Lisa kalo ngomong sama Rey itu biasanya selalu dengan nada sinis, ketus atau sekali-kali gertakan. Lah ini, Rey malah jawab dengan halus, lembut dan sabar. Lisa yang nggak tau mau nya apa dan maunya harus selalu di turutin. Keep strong Rey...
"Ngapain ke rumah lo?"
"Motor nya kan ada di sana."
"Ck, yaudah." Lisa berjalan duluan dengan tangannya dia silangkan di depan dada, dan jangan lupakan bibirnya yang udah kayak pengait mancing, Lisa bener-bener kesal saat ini. Rey menyusul sambil tersenyum melihat tingkah istri kecilnya yang benar-benar M.A.N.J.A.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!