Love In Many Ways

Love In Many Ways
Alunan Musik



"Lo pikir gue kesini buat ketemu Faro? Iddih sorry yah... Lo pikir seluruh apartemen disini cuma punya Faro? Cih..." Dinda mendecih sini.


Lisa memutar bola matanya jengah, "Ya udah... pergi sana, males gue liat muka lo!"


Dinda menunjukkan smirk-nya, "Kenapa? Kesel yah sama gue? Hahahaa... Emang lo itu s*mpah, dan selamanya tetep s*mpah! Liat aja nanti, gue pastiin lo nggak bakal bisa nyaingin gue, lo akan jatuh di bawah gue! Gue bakal jatuhin nama baik lo termasuk dengan semua prestasi lo di sekolah di depan semua orang, terutama di depan Rey!"


Lisa mengepalkan tangannya, "Terserah lo mau b*cot apa. Terkadang manusia punya mulut, tapi belum tentu punya otak!" Tegas Lisa.


"Gue heran sama Rey, bisa-bisanya dia suka sama cewek kayak lo. Padahal kan udah jelas, dimana-mana tuh gue lebih baik, lebih kaya, lebih pinter dari lo. Dan lo itu apa, lo cuma jadi benalu di kehidupan Rey yang bisanya cuma nyusahin, lo itu cuma s*mpah!" Ejek Dinda.


Lisa benar-benar marah dan merasa sangat ingin memukuli Dinda saat ini juga, namun ia menahan nya lalu berbalik meninggalkan Dinda. Lisa membanting pintunya tepat di depan wajah Dinda.


Dinda terkekeh melihat wajah kesal Lisa, "Heh... Cuma bikin lo malu itu nggak buat gue puas. Mental lo harus down, gue harus jatuhin lo, lo harus di permalukan dan gue bakal buktiin kalo lo itu nggak mungkin bisa nandingin gue!" Dinda tersenyum sinis lalu pergi.


.


.


.


Di dalam apartemen, Lisa mengatur nafas untuk meredam emosinya. Sarah dan Mira yang sejak tadi menguping pun menghampiri Lisa.


"Ngapain tuh si penghuni neraka disini? Mau minta sumbangan apa gimana?" Tanya Sarah sinis.


Mira memegang tangan Lisa lembut, "Kamu tenang yah Lis. Dinda kok kasar banget sih, perasaan dia itu orangnya lemah lembut deh. Kenapa tiba-tiba sekarang dia kayak gini?" Tanya Mira sambil berpikir.


Sarah memutar bola matanya jengah, "Ya biasalah... Masa kamu nggak nyadar kalo itu orang punya 2 muka? Aku aja bingung mau nampar muka yang mana dulu...."


"Kamu yang kuat yah Lis, aku yakin kamu pasti bisa lewati semua ini. Dan tenang aja, kamu nggak boleh ngerasa sendiri karena kita semua selalu ada buat kamu kok." Ucap Mira menyemangati Lisa.


Sarah langsung berdiri di depan Lisa dan memegang kedua pundak Lisa erat, "Lisa! Kamu nggak boleh nyerah, kamu harus kuat. Kamu bisa kok, tenang aja kita semua selalu ada dan kamu jangan pernah sungkan buat cerita sama kita. Kita harus ngelewati semua ini sama-sama apapun yang terjadi oke..."


Lisa memeluk kedua sahabatnya dengan penuh kasih. "Makasih yah... Kalian emang selalu ada, padahal aku benar-benar down saat ini dan udah nggak tau lagi harus apa."


Sarah dan Mira membalas pelukan Lisa, "Sama-sama... Yaudah jangan sedih lagi dong, kita kesini kan buat seneng-seneng." Ujar Sarah.


"Apapun pilihan kamu... Kita berdua pasti dukung kok Lis! Semangat yah..."


"Thanks guys..."


"Duggh... Duggh... Duggh...


Suara dentuman musik terdengar di ruangan itu, mereka bertiga menengok dan pergi untuk melihat dari mana sumber suara tersebut.


"Apaan itu tadi?" Tanya Sarah.


"Iya ngagetin aja." Sahut Mira.


Vhino menoleh, "Ini nih... Ada DJ set, cuma mau nyoba aja." Jawab Vhino sambil cengengesan.


"Mana bisa kamu main gituan. Udah jangan di pegang, nanti malah musiknya jadi rusak setelah kamu mainin!" Gurau Sarah.


Vhino menatap Sarah datar, lalu ia memainkan alat-alat yang terpasangi banyak kabel diatas meja itu. Terbentuklah alunan musik penuh bas yang enak di dengar. Tentu saja semua terperangah mendengarnya.


"Les DJ?" Tanya Mira.


Vhino malah cengengesan, "Kagak hehehee... Waktu aku main ke Lampung, aku punya saudara di sana yang jago main ini. Selama 2 minggu disana, aku diajarin main alat-alat ini. Sampai di rumah, aku minta dibeliin... Setelah beli, eh malah makin pro ampe keterusan deh sampe sekarang..."


"Kayak iklan shampo yah, hahahaa..." Sela Sarah.


"Hahahaaa..."


"Udah-udah, kalian mau dengerin lagi nggak?" Tawar Vhino.


"Boleh..."


"Ntar dulu!" Cegah Sarah. "Kurang pas kalo nggak ada minuman sama camilan, iyakan? Aku keluar bentar beli minum sama cemilan oke!"


"Oke..."


Sarah, Mira dan Lisa pergi ke supermarket terdekat dan kembali dengan sekantung soda kaleng dan juga beberapa camilan.


"Woke Vhin... Gaskeun..."


Vhino mulai memainkan jari-jarinya di atas rangkaian alat-alat DJ itu dengan lihai. Musik full bass pun tercipta, semua menikmatinya dan menari-nari.


"Wah parah, jantung pun ikut jedag-jedug!" Ujar Sarah.


"Tau gini, aku beliin kamu alat-alat ginian di rumah. Kamu temenin aku sambil mainin ini Vhin!" Celetuk Al.


Lisa ikut santai dan menari saat mendengar alunan musik buatan Vhino.


Sarah pun tak kalah antusias, "Ini mah namanya dugem halal bro... Nggak usah ke bar lagi dah!"


"Nah betul..."


"Hahahahaa..."


...*****...


Beberapa Hari Kemudian...


Karena kurangnya bukti dan belum jelas siapa yan mendorong Rani, maka Lisa tidak mendapatkan hukuman, namun tetap di skors selama 1 minggu pertama masuk.


Sementara Rey masih tidak menyerah, hampir setiap hari ia datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Rani sekaligus menanyakan kebenarannya. Namun karena gegar otak yang dialami Rani, Rani jadi tidak ingat sama sekali dengan hidupnya terutama tak ingat dengan apa yang terjadi padanya.


"Udah berhari-hari aku cuma awasin Lisa dari jauh, kira-kira dia masih marah sama aku nggak yah?" Gumam Rey.


Rey pergi ke rumah Putra untuk menemui Lisa di sana. Ia benar-benar tak sabar ingin segera menanyakan keadaan Lisa dan melihatnya secara langsung. Dalam hati ia terus berharap semoga keadaan Lisa sudah membaik dan juga Lisa sudah tidak marah lagi padanya. Berhari-hari Rey hanya mendengar kabar Lisa dari Putra saja.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!