Love In Many Ways

Love In Many Ways
cita-cita



"Percaya nggak percaya itu urusan lo. Tapi sekarang gue bener-bener bingung harus gimana lagi."


Rey ikut bingung dengan situasi ini, "Gini deh, lo tahan dulu kemauan itu. Tunggu sampe nyokap Dinda sedikit membaik. Kalo emang penyakitnya parah, lo bisa pindahin rumah sakit aja. Tapi kalo bisa membaik, lo cepet-cepet bawa Dinda pergi, kalo perlu pindah sekolah aja!" Rey memberi saran.


"Hmm oke deh, gitu aja! Kalo lo mau balik, balik aja sama Lisa, Dinda biar gue yang urusin!" ujar Faro.


"Oke."


Rey dan Faro kembali menemui Dinda dan Lisa. Dinda sudah sedikit tenang setelah menangis di pelukan Lisa yang sedari tadi memeluknya.


"Kak Dinda... Tenang kak, gue ada di sini!" ujar Faro. Faro menarik badan Dinda dan memeluknya erat, "Lo yang kuat ya, lo harus kuat. Lo pasti bisa lewatin ini semua. Lo nggak sendirian kak, gue di sini sama lo!" Faro mengusap punggung Dinda mencoba menenangkan.


Dinda hanya mengangguk pelan, Faro melepas pelukannya dan menatap Lisa dalam. "Udah jangan nangis ya, kita semua ada buat lo kok!" Faro mengusap lembut air mata Dinda.


Dinda kian membaik, kemudian Faro iseng-iseng tanya pada Lisa dan Rey. "By the way, kalian ngapain di rumah sakit?" tanya Faro.


"Buat program kehamilan..." sahut Rey yang usil.


Pukulan ringan mendarat di pundak Rey, "Aw sakit Cha!" keluh Rey.


"Suka ngawur kalo ngomong! Jangan dengerin dia! Kita ke sini jengukin tantenya Rey, tantenya lagi sakit." Lisa menjelaskan agar tak terjadi salah paham.


Faro yang kian penasaran mengangkat salah satu alisnya dengan bibir melengkung kebawah, "Yakin cuma itu doang? Nggak yang lain sekalian?" tanya Faro dengan nada seolah-olah tak percaya.


Lisa sesegera mungkin mengangguk, "Ya iyalah! Ngapain lagi?" jawabnya.


"Ya kan bisa yang lain, program kehamilan, mungkin..."


"Nggak!" Lisa menyela dengan cepat, "Daripada program kehamilan, mending KB aja kali!" jawab Lisa dengan percaya diri.


Faro dan Dinda menatapnya aneh, "KB kan buat nunda kehamilan Lisa. Berarti, lu sama Rey, udah..." tanya Faro yang menggantung.


"Ish... Ah dahlah, bodo amat! Gue mo balik, baik-baik kalian di sini. Bye!" ujar Lisa. Lisa berbalik dan pergi karena malu.


Rey terkekeh melihat tingkah Lisa yang menurutnya menggemaskan, "Ahahaha, ada-ada aja tu anak. Eh gue mo balik dulu ya, ibu negara ngambek. Bisa di usir dari wilayah kekuasaan ntar."


"Oh iya, makasih udah bantuin kita."


"Santai..." Rey menepuk pundak Faro santai,


"Gue balik duluan, kalo ada apa-apa, jangan lupa kasih kabar ya!"


"Oke sans..."


Rey berlari menyusul istrinya yang sedang ngambek itu. Ia berlari menuju parkiran dan lebih dulu membukakan pintu untuk istrinya tercinta. "Jangan cemberut terus atuh, nanti cantiknya luntur. Senyum napa," ledek Rey untuk menghibur Lisa.


"Ah bodo amat! Kalo luntur, tinggal tancap lagi. Sampe rumah tinggal pake skincare lagi, udah selesai," jawab Lisa jutek.


"Nggak gitu konsepnya sayangkuuu. Aelah, dahlah masuk dulu! Ntar ngobrol lagi di dalem." Rey menutup pintu mobil lalu masuk kedalam mobil untuk menyetir.


...*****...


Di perjalanan, sesekali mereka menyanyi bersama dengan musik yang ada di mobil, dan sesekali bercanda.


"Cha..."


Lisa menengok untuk merespon panggilan suaminya, "Apa sayang?" tanya Lisa yang begitu lembut.


"Kamu nggak ada planning punya baby gitu?" tanya Rey to the point.


Pertanyaan Rey itu membuat Lisa terdiam sejenak, "Kenapa tanya gitu? Kamu pengen punya anak?" tanya Lisa dengan sedikit ragu-ragu.


"Ya bukannya gitu, aku cuma tanya doang. Seumpama kamu hamil, pengennya punya anak umur berapa gitu loh. Masalahnya gini, seterampil apapun aku, untuk masalah ngurus bayi pasti lebih terampil perempuan. Dan jadi ibu itu pasti capek, tanggung jawab juga nambah, waktu buat istirahat juga berkurang. Aku tau sih, kita bisa nyewa baby sister, tapi kan kita juga tetep harus ada waktu buat anak kita kelak. Jadi aku nggak pengen ngebebanin kamu buat jalanin semuanya. Itu anak kita berdua, tanggung jawab berdua, bukan salah satu." penjelasan Rey membuat Lisa terdiam kaku.


Lisa merasa tersentuh dengan penjelasan Rey yang sangat bijaksana, "Emangnya kamu pengen punya anak di umur berapa?" Lisa balik bertanya.


"Aku sih pengennya setelah kita berdua bener-bener siap, karena aku yakin kalo tanggung jawab orang tua itu nggak main-main. Tanggungannya sampai akhirat, anak itu anugerah Tuhan yang paling indah dalam hubungan pernikahan. Makanya, kalo belum siap, mending jangan." Rey mengatakan apa isi hatinya yang sebenarnya.


"Aku bisa aja nolak kok sayang, tapi sebagai istri, aku juga punya kewajiban buat nyenengin suami juga kan. Makanya keputusan kamu juga penting, jangan mikirin aku doang dong, pikirin kamu juga," jawab Lisa.


"Dan aku sebagai suami, gak pantes buat maksain pilihan istri. Suami itu mengayomi, bukan bikin sakit hati. Sekarang aku tanya, pandangan kamu tentang punya anak gimana? Terus, kira-kira kamu siap jadi ibu itu kapan? Jangan maksain diri, tanggung jawab itu gak bisa dibuat main-main!" tegas Rey.


Lisa menghela nafas, "Huh... Gini ya Ay, dari kecil aku di didik buat jadi cewek mandiri, kapan pun Tuhan kasih anak buat kita, insyaallah aku siap kok. Tapi aku juga punya cita-cita sejak kecil buat jadi hakim, aku berharap kamu bisa hargai cita-cita aku. Aku masih pengen sekolah sampai tamat dan wujudin cita-cita aku itu, aku pengen jadi cewek yang bisa berdiri diatas kaki sendiri, nggak mau jadi istri yang selalu bergantung sama kamu. Ini cita-cita aku dari kecil Rey dan kamu juga tau itu."


"Andaikan kita punya anak, aku bisa mikir lagi untuk seimbangin tanggung jawab sebagai istri, ibu ataupun hakim. Yang jelas, aku nggak bisa pilih salah satu karena itu semua bagian dari hidup aku. Itu semua sumber kebahagiaan aku sayang, aku harap kamu bisa ngerti," tambah Lisa.


Rey mengangguk paham, "Iya sayang tenang aja, aku selalu ngerti kok sama pilihan kamu dan aku akan selalu dukung. Lagian, come on, ini udah 2022, kita harus bisa open minded. Cewek juga bisa berkarir, aku mungkin lebih bangga kalau istriku bisa wujudin cita-cita sendiri, apalagi berdiri diatas kaki sendiri. Aku bisa dengan bangga sebut nama kamu didepan temen-temen aku, Lisa istri Rey yang mandiri dan bertanggung jawab." tangan kiri Rey mengusap kepala Lisa lembut.


"Kamu nggak marah atau merasa minder kalo aku punya karir sendiri?" tanya Lisa dengan sedikit meragu. Hatinya sedikit lega dengan penuturan Rey barusan, ia sangat beruntung punya suami yang sangat pengertian dan sangat mendukung.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!