Love In Many Ways

Love In Many Ways
Pertanyaan



Pikiran Lisa terus-terusan traveling ke sana kemari, memikirkan kemungkinan apa yang akan dilakukan oleh Rey dengan barang-barang yang dia masukkan ke dalam tas nya seolah-olah dia akan pergi. Kalau beneran di talak sama Rey dia bakal seneng atau gimana? Mungkin ada sih rasa seneng nya karena kan jadi bebas tapi kalo di talak yaaa jadi janda dumz. OMG kan dia masih muda, masa jadi janda muda? Kayak judul lagu dong.


Lisa menggelengkan kepalanya, menghindari semua pikiran-pikiran negatif nya. Mencoba untuk berpikir positif saja. Pandangan matanya memang kepada tv yang menyala, tapi tidak dengan pikirannya. Apalagi saat ini terlihat Rey sedang memilih-milih baju nya.


Lisa mendengus kesal, kemudian kembali bertanya. "Rey, gue tanya. Lo mau ngapain?"


Rey menoleh sekilas pada Lisa kemudian melanjutkan aktifitasnya. "Nggak ngapa-ngapain." Ujarnya.


"Trus itu?"


Rey tak menjawab, Rey langsung beranjak dan meletakkan tas nya itu di samping kasur, kemudian berlalu masuk ke dalam ruang belajar nya yang berada didalam kamar tersebut. Lisa menatap kepergian nya dengan heran. Dih, dingin nya keluar. Mulai lagi nih. Dia dingin lagi kayak kulkas. Huh, itukan sikap nya yang paling ngeselin. Sok banget sih jadi orang, aku nanya kan baik-baik.


.


.


.


Malam Hari๐ŸŒƒ๐ŸŒ›


Lisa menggeliat dari atas kasurnya, terlihat sebuah senyuman kecil tercipta di sudut bibirnya. Sungguh nyenyak tidurnya, tanpa ada gangguan dari siapa pun. Lisa mengucek matanya beberapa kali, kemudian membuka nya. Lisa mengedarkan pandangannya, tv masih menyala dan cemilan nya juga masih setia berada di samping nya. Kemudian matanya terpaku saat melihat jam dinding, sudah pukul 21.22 What? Ini udah malem banget. Dengan sigap Lisa langsung berlari masuk ke dalam kamar dan membersihkan badan nya yang terasa lengket, sembari mengoceh-ngoceh nggak jelas.


"Si Macan tutul mana sih? Tumben dia nggak bangunin aku. Huh... Kesel banget jadi nya kalo kayak gini." Gerutu Lisa sambil memakai piyama nya. "Ini juga aku bodoh banget sih, pake acara ketiduran segala lagi. Kan jadi nggak sadar kalo ini udah malem."


Lisa keluar dari ruang ganti dan mendapati Rey yang sedang berada di meja belajar nya sembari mencatat. Lisa cuek dan tak menanggapi nya, dia cukup kesal sekarang. Lisa lebih memilih untuk mengambil hp nya dan rebahan di atas kasur.


"Makan dulu, Cha!" Pinta Rey tanpa menoleh sedikit pun. Ya meskipun Rey itu cuek sekarang, tapi dia masih perhatian kok. Apalagi saat mengingat kejadian kemarin, Lisa pingsan gara-gara telat makan.


Lisa yang sibuk memainkan hp nya merasa malas untuk sekedar makan sekarang. "Ntar aja."


"Sekarang, Icha!"


"Lagi asyik nih."


"Sekarang! Kamu ingat kan kejadian kemarin?" Ujar Rey dengan pelan namun terdengar tegas.


"Ck, iya iya." Lisa melempar hp nya ke atas kasur lalu keluar kamar dengan kesal. Huh, masih bawel aja yah. Emang kenapa kalo aku nggak makan? Sakit juga aku yang sakit. Ngurus banget sih tuh orang.


Lisa terus saja menggerutu sepanjang menuruni tangga. "Bi, Ayah sama Bunda udah pulang?" Tanya nya saat berpapasan dengan seorang ART.


"Belum, Non."


"Oh yaudah, makasih info nya Bi."


"Sama-sama, Non. Oh iya, Non kalo mau makan Non Lisa langsung ke meja makan aja, di sana udah siap semua kok."


"Bibi udah masak?"


"Bukan Non. Tadi Den Rey yang masakin bubur buat Non Lisa."


"Rey? Rey yang masak?"


"Iya, Non."


"Oh yaudah, makasih yah Bi."


Lisa kembali melangkah menuju meja makan sambil berpikir. Tuh anak masih baik juga yah sama aku. Aku kira dia marah, eh ternyata. Ih paan sih, bodo amat lah. Aku nggak boleh ge-er, dia kayak gitu mungkin karena khawatir aja sama penyakit maag yang aku punya.


Lisa mulai menyantap makanannya dengan lahap. Lisa mengakui bahwa bubur yang di buat oleh si Macan tutul itu emang enak, bahkan sangat enak.


"Kak Lisa." Panggil seseorang.


Lisa menoleh dan melihat ternyata Aqeela yang memanggilnya. "Kenapa, Dek?"


"Kak Rey mana?" Tanya Aqeela lalu duduk di samping Lisa.


"Rey... Nggak tau. Mungkin di kamar. Emang kenapa?"


"Di cariin sama Ayah Bunda."


Mendengar ucapan Aqeela, Lisa langsung dengan sigap meminum air nya. "Ayah Bunda udah pulang?"


"Iya. Dari tadi."


"Yaudah kalo gitu kamu habisin aja buburnya yah, kakak mau ke kamar dulu."


"Loh kenapa kak?"


"Gak papa. Kamu abisin yah, kakak udah kenyang." Tanpa menunggu jawaban dari Aqeela, Lisa langsung berlari masuk ke dalam kamar. Kalo kalian nanya kenapa Lisa kayak takut ketemu sama Ayah Bunda? Itu pun nggak ada yang tau, yang inti nya Lisa malas di tanyain ini itu sama Bunda. Apalagi kalo menyangkut soal cucu. Apalagi tadi pagi Bunda mengira Lisa lagi ngidam, kan jadi jengkel. Orang nggak kenapa-napa kok.


Lisa langsung dengan sigap menutup pintu kamarnya, menghela napas lega. Kemudian beralih pada Rey. "Rey, lo dicariin sama Ayah Bunda." Ujar Lisa berusaha santai, dia merebahkan dirinya di atas kasur.


Tanpa mengucapkan apapun, Rey langsung keluar kamar begitu saja. Itu membuat Lisa agak kesal dengan tingkahnya yang serasa sok dingin dan cuek. Huh, dasar nggak tau berterima kasih, ngeselin banget sih. Makasih kek apa kek. Lah ini? Pengen di geplak kepalanya.


Dan pada akhirnya Lisa memilih untuk tidur saja. Dia sudah malas berurusan dengan si Macan tutul. Tiap hari begini terus, bisa stres nanti nya. Apalagi kan besok dia pengen masuk sekolah. Bosan juga di rumah terus-terusan gak ngapa-ngapain.


.


.


.


Pagi Hari๐ŸŒ„๐ŸŒž


"Hooo... Walau rintangan kan selalu datang, aku takkan pernah mundur... hoooo..." Lisa sedang mengganti pakaiannya sambil bernyayi ria. Ntahlah, itu nyanyian atau teriakan, yang pasti telinga sakit saat mendengar nya. Pagi sekali dia sudah bangun dan dengan semangat yang membara dia bersiap untuk ke sekolah.


Lisa keluar dari ruang ganti dengan seragam sekolahnya dengan santainya dia menyisir rambutnya sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Loh? Si Macan mau kemana? Kok dia nggak pake seragam sekolah, tapi dia pake tas kok. Itu kan tas nya yang kemarin.


Lisa agak bingung melihat Rey yang telah siap, duduk di tepi tempat tidur sambil memijat-mijat hp nya. Terlihat dia memakai sweater dan celana panjang. Di punggung nya terlihat tas yang berat karena berisi baju yang telah di siapkan kemarin.


Lisa sok cuek dan memilih berjalan ke arah lemari untuk mengambil sepatunya. "Lo nggak sekolah?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya. Setelah sekian lama dia berargumen dengan hati dan pikirannya.


Rey melihat sekilas pada Lisa kemudian kembali menatap hp nya. "Sekolah." Jawab nya singkat.


"Tapi kok nggak pake seragam sekolah?" Tanya Lisa lagi.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!