Love In Many Ways

Love In Many Ways
Gosip



"Kamu nggak marah atau merasa minder kalo aku punya karir sendiri?" tanya Lisa dengan sedikit meragu. Hatinya sedikit lega dengan penuturan Rey barusan, ia sangat beruntung punya suami yang sangat pengertian dan sangat mendukung.


Rey tertawa mendengarnya, "Hahahahaha... Malu karena cewek lebih baik dari cowoknya itu cuma buat orang-orang yang pemikirannya nggak luas. Laki-laki dilahirkan untuk berjuang, daripada aku ngabisin waktu buat minder dengan karir kamu nantinya, mendingan aku perbaiki diri biar jadi suami yang bener-bener pantes bersanding sama cewek mengagumkan kayak kamu. Lagian, cewek juga punya hak yang sama dengan laki-laki buat raih mimpinya kali." Jawaban Rey membuat Lisa tersenyum bangga dengan pemikirannya yang dewasa.


"Aku bangga deh sama kamu, gue sayaaaanggg banget sama lo. Aku bersyukur punya suami kayak kamu tauuuuu," ujar Lisa senang.


"Hahahaha... Selagi kamu nggak bantah apa kata suami, itu masih oke lah. Mau kamu punya karir, mau mandiri atau kamu punya gaji sendiri, itu semua kebebasan dari kamu. Yang penting, kamu nggak berani sama suami, bantah suami ataupun nyari suami baru," gurau Rey.


"Yee, buat apa nyari yang lain? Cari yang sempurna?" tanya Lisa, "Nafsu manusia nggak ada habisnya kalo diturutin."


"Iya deh iya."


Lisa membuka ponselnya untuk melihat grup yang sejak tadi notifikasinya terus berbunyi. "Ini pada bahas apaan sih!"


BE BEST SQUAD🙆🌈🖤


Vhino☺️


Heh, udah pada liat belum?


Sarah🌈🖤


Berita tentang bokapnya Dinda?


Mira🌈🖤


Iya, kok bisa sih? Kaget gue sumpah!


Sarah🌈🖤


Kenapa sih woii???


Alfahreizy!


Itu beneran?


Kok bisa gitu? Itu beneran nggak sih?


^^^Me!^^^


^^^Emang bokapnya Dinda kenapa?^^^


^^^Ada berita apa emangnya?^^^


Mira🌈🖤


https//berita.hari.ini.seputar.bisnis.com


Kamu liat sendiri deh


Vhino!


Eh gila! Baru aja itu berita muncul, udah rame banget di forum sekolah! Langsung jadi trending topik!!!


Lisa pun langsung membuka situs yang diberikan oleh Mira, Lisa terkejut ketika melihat berita tentang ayahnya Dinda yang selingkuh dengan sekretaris pribadinya.


"Astaga!" spontan Lisa terkejut.


Rey yang ada disampingnya pun mendengarnya, ia menengok sekilas untuk melihat keadaan Lisa. "Kenapa Cha? Ada yang salah?" tanya Rey.


Lisa menggeleng, "Nggak! Tapi barusan aku dapet kabar kalo berita tentang ayahnya Dinda udah kesebar di seluruh sekolah. Sekarang jadi trending topik di forum sekolah!" jelas Lisa.


"Hah? Kok bisa?"


Rey terkejut mendengarnya, ia tak menyangka kalau berita ini akan tersebar begitu cepatnya. "Apa sudah secepat itu beritanya tersebar? Apa benar-benar sudah banyak yang tau?" tanya Rey.


Lisa mengangguk, "Iya, sudah banyak yang tau. Bahkan ketika link artikel itu dihapus, sudah terlanjur banyak yang melihatnya." jelas Lisa.


Rey susah payah merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Ia memberikan


ponselnya pada Lisa, "Coba cek hp aku Chaa, dan cari nama Pak Arif. Dia ahli informatika di sekolah kita." Rey masih fokus menyetir.


Lisa mengerutkan keningnya, "Hah? Buat apa? Kenapa harus chat dia?" tanya Lisa tapi tetap patuh.


"Iya, kamu chat dia trus bilang minta tolong hapus link artikel itu dari forum sekolah. Setidaknya itu lebih baik daripada tetap membiarkan beritanya tetap ada yaaa meskipun udah terlanjur banyak yang tau." pinta Rey.


Lisa mengangguk, "Iya udah bentar aku chat ya!" Lisa mengirim pesan pada Pak Arif, salah satu ahli informatika di sekolah mereka. Lisa meminta agar Pak Arif menghapus link artikel itu, supaya tidak terjadi keributan dan masalah baru untuk Dinda.


...*****...


Besoknya di Sekolah...


Dengan mata sembab dan wajah pucat serta tangan yang masih diperban, Dinda berjalan melewati koridor sekolah. Ia bingung kenapa semua anak menatapnya sambil berbisik-bisik seolah-olah Dinda melakukan kesalahan besar yang memalukan.


Ia menatap ke segala arah dengan penuh kebingungan, "Ini anak-anak pada kenapa sih? Tau sih kalo gue kalah taruhan cerdas cermat kemarin, tapi masa ngeliatin sampe segitunya sih?" Dinda membatin bingung.


Namun ia berusaha tetap cuek dan masuk ke kelasnya, ia masuk ke kelasnya namun semua teman-temannya dikelas seolah-olah menjauhinya. Dinda semakin bingung, dengan iseng ia menyapa Audia, teman yang duduk dibelakangnya.


"Pagi Audi, lo udah kerjain tugas Bahasa Indonesia belum? Yang tugas di kertas folio itu," tanya Dinda.


Audia tampak sedikit sinis pada Dinda namun tetap menjawab, "Udah." Audia hanya menjawab singkat dengan nada yang tak enak di dengar.


Dinda sedikit kesal karenanya, "Audi, lo itu kenapa sih? Gue kan tanya baik-baik tapi jawaban lo malah kayak gitu. Bisa nggak jawabnya biasa aja, kan kesel dengernya!" kesal Dinda.


Audia terkekeh sinis, "Hahahaha, jangan sok akrab deh Din. Gue gamau ikutan kena gosip karena lo dan pencitraan jelek gara-gara lo!" ketus Audia.


Dinda merasa sedikit bingung, "Maksud lo apaan sih? Emang gue kenapa? Gue salah apa? Gara-gara cerdas cermat kemarin?" tanya Dinda.


Audia terkekeh, "Hah, lo ketinggalan berita apa gimana? Padahal lo kan tokoh utamanya, kok bisa nggak tau ceritanya? Seisi sekolah ini juga udah tau kali tentang berita bokap lo!" Audia langsung menjelaskan semuanya.


Dinda terkejut mendengar kata-kata Audia, ia langsung lemas diatas kursinya. "M-maksud lo apaan ya? Gue nggak ngerti," Dinda masih berusaha berbohong pura-pura tidak tahu.


Salah seorang siswi menyahut, "Jangan sok bego deh Din, lo nggak liat forum sekolah apa? Semua pada ngomongin lo tau nggak!"


Mendengar itu Dinda langsung mengecek ponselnya dan membaca macam-macam komentar di forum sekolah. Isinya hanya menjelek-jelekkan ayahnya dan mencari-cari kesalahan Dinda, banyak juga yang mengungkit masalah Dinda memfitnah Lisa dan juga kekalahannya di lomba kemarin. Seketika, mental Dinda langsung down begitu saja. Rasa sakit hati, kesal serta malu campur aduk menjadi satu.


Dengan susah payah ia berdiri dan berlari ke kamar mandi, tapi ia tak sengaja berpapasan dengan Lisa di depan kelasnya. Dinda tetap berjalan begitu saja melewati Lisa.


"Din! Dinda, tunggu!" panggilan Lisa tak digubris sama sekali oleh Dinda. Lisa pun ikut berlari menyusul Dinda ke kamar mandi.


Dinda langsung masuk begitu saja dan mengunci dirinya didalam salah satu toilet. Sementara Lisa masuk dan melihat toilet masih kosong karena masih pagi, ia membuka satu persatu pintu toilet hingga tersisa satu yang terkunci.


Tok... Tok... Tok...


Lisa mengetuk pintu kamar mandi itu, "Din! Dinda, gue tau lo di dalam kan! Din dengerin gue dulu, lo jangan overthinking dulu Din! Keluar Dinda, jangan kayak gini. Kita cari solusinya bareng-bareng?" teriak Lisa dari luar.


"Tinggalin gue sendiri!" balas Dinda dari dalam kamar mandi.


"Din jangan kayak gini, lo jangan merasa sendiri ya ampun. Gue selalu temenin lo kok, tolong keluar dulu Dinda" Lisa masih tetap membujuk Dinda dari luar.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!