Love In Many Ways

Love In Many Ways
Pusat Perhatian



"Icha... Nggak usah teriak-teriak! Ini udah malam loh!" Sahut Rey dari luar. Namun ucapan nya tersebut tak akan mungkin didengar oleh si kepala batu. Buktinya saja Lisa menaikkan volume suaranya.


"Cinta karena cinta.... Tak perlu kau tanyakan.... Tanpa alasan cinta datang dan bertata....aaa... Hoooo...." Sahut Lisa makin kenceng suara nya. Oke, kalo sampai lagu ini berlanjut mungkin tanah akan retak karena suara Lisa yang fals dan cempreng di tambah lagi dia teriak-teriak nggak jelas. Lengkaplah sudah penderitaan setiap telinga yang mendengarnya.


Pintu ruang ganti terbuka, terlihat Lisa keluar dari ruang ganti di ikuti dengan tatapan aneh dari Rey. "Kenapa lo liatin gue? Terpesona loh sama kecantikan gue?" Ujar Lisa dengan pede nya.


"Pede banget." Ujar Rey sambil melanjutkan catatannya.


"Biarin, emang bener kok." Lisa naik ke atas kasur dan merebahkan dirinya. "Eh lo matiin lampunya gih, gue gak bisa tidur nih." Ujar Lisa. Padahal dia kan nggak pernah tidur dengan lampu mati, dia bilang gitu karena hanya ingin mengerjai si Macan yang masih sibuk mencatat.


"Ntar aja. Aku masih nulis ini."


"Bodo, matiin gih lampu nya." Teriak Lisa sembari tersenyum jahil.


Tak ada jawaban dari Rey.


"Ah udahlah. Lo kagak mungkin bisa matiin lampu nya. Gue mau tidur aja." Ujar Lisa memanas-manasi. Padahal kan kalo di matiin beneran lampu nya dia juga akan takut.


.


.


.


"Lisa, nanti tidurnya di rumah Rey aja yah." Ucap Mommy sambil menyendokkan lauk ke atas piring nya.


"Loh? Kenapa Mom?"


"Mommy mau keluar kota untuk beberapa hari. Nanti kalian kalo di rumah nggak ada yang temenin. Jadi kalian di rumahnya Rey aja, yah Rey?"


"Iya Mom." Jawab Rey.


"Hm yaudah." Ujar Lisa pasrah. "Lisa mau berangkat yah Mom." Lisa mencium punggung tangan Mommy. Begitupun dengan Rey.


.


.


.


🏫SMAN Bakti Husada🏫


"Gue turun di sini aja Rey!" Ucap Lisa sambil memukul pundak Rey.


"Ha? Aku nggak denger." Sahut Rey. Suara Lisa terdengar samar-samar di telinganya. Itu karena mereka naik motor lagi.


Lisa memutar bola mata nya jengah kemudian mendekatkan wajahnya di telinga Rey. "Gue turun di sini aja Rey!" Sahut Lisa dengan keras.


"Aww, ngomong nya jangan kenceng-kenceng. Ini telinga sakit loh." Rey mengurangi laju motornya.


"Bodo, udah turunin gue di sini!"


"Kenapa?"


"Ya nggak papa. Gue nggak suka aja semua manusia di sekolah pada liatin gue."


"Uda nggak papa. Masa iya aku turunin di pinggir jalan."


"Udah turunin aja, nggak papa."


"Nggak usah."


"Turunin Rey!"


"Nggak."


"Rey!" Sahut Lisa dengan kesal. Makin hari Rey makin ngeselin yah guys.


Saat motor memasuki gerbang sekolah, semua mata memandang ke arah mereka berdua. Dan ini adalah hal yang paling di benci oleh Lisa. Semua memandang dan menatap nya dengan tatapan aneh. Kalo kemarin-kemarin kan nggak papa karena Rey pake mobil jadi nggak terlalu jelas, lah ini pake motor. Kan Lisa jadi agak kikuk kalo diliatin terus. Dalam hati Lisa tak berhenti mengutuk si Macan yang selalu buat malu itu.


"Rey, gue juga bilang apa, semua orang pada liatin kita." Ujar Lisa saat mereka sudah sampai di tempat parkir.


"Udah nggak usah di peduliin. Sana masuk kelas." Pinta Rey.


"Gue malu Rey, ini juga karena lo." Sahut Lisa kesal.


"Yasudah sini aku anterin ke kelas."


"Nggak mau! Ntar malah makin rame lagi."


Rey memijat dahi nya frustasi. "Trus sekarang mau nya gimana?"


"Gue nggak sekolah aja kali yah hari ini. Gue pulang aja. Boleh kan?"


"Nggak! Udah nggak usah banyak alesan, sini aku anterin." Rey langsung menarik tangan Lisa agar Lisa mengikuti langkahnya. Sepanjang melewati koridor tentu saja semua mata tertuju pada mereka berdua. Tapi Rey tak akan pernah mempedulikan hal-hal yang tak penting semacam itu. Itu hanya akan membuat nya tambah pusing jika ia pikir kan.


"Udah kan? Sana gih masuk!" Pinta Rey saat mereka berdua sudah sampai di depan kelas. "Atau mau sekalian aku anterin masuk ke dalam?"


"Ih nggak usah. Udah sana gih lo pergi, gue mau masuk." Oke, jangan pernah berharap Lisa akan mengucapkan rasa terima kasih nya. Dia nggak akam mungkin berterima kasih pada Macan.


"Yasudah kamu baik-baik yah, belajar yang bener, yah sayang..." Ujar Rey dengan pelan. Dan ucapannya itu berhasil membuat wajah Lisa tambah kesal.


"Bodo."Lisa masuk ke dalam kelas dengan segera, meninggalkan Rey yang masih memandang nya sambil tersenyum. Sialnya, saat sampai di kursinya lagi dan lagi dia malah mendapat ledekan.


"Ehem, ada yang makin hari makin sweet nih." Sindir Sarah.


"Ehem, sekolah makin heboh nih. Si most wanted yang paling populer pacaran dengan si bunga sekolah yang paling cantik. Utututuuuhh..." Ledek Mira.


"Kalian jangan ngeledek dong." Ujar Lisa.


"Ya maap kelepas." Ucap Sarah sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Kita liat kamu sama Rey makin romantis yah. Nggak hanya dianterin ke sekolah tapi juga di anterin ke kelas. Uuuhh sweet banget..." Ujar Sarah.


"Jiwa jomblo ku meronta-ronta..." Sambung Mira.


"Udah yah, kalian jangan ngeledek gini dong. Aku nggak suka." Sahut Lisa.


"Yaudah kita diem."


Sarah berdiri dari kursi nya lalu menghampiri Al yang sedang duduk di bangku paling depan sambil mencatat.


What? Jadi Al ada di situ. Dari tadi? Wah parah, jadi dia denger dong semua yang di ucapin Sarah dan Mira. Ah udahlah nggak penting juga...


"Sayang, kamu udah nyatet nya, aku mau pake buku aku nih." Ucap Sarah.


Terlihat Al sibuk mencatat. Rupanya dia sedang menyalin materi dari buku Sarah. "Ntar dulu, yank. Ini belum selesai." Ujar Al.


Mendengar kalimat Al barusan, sontak mata membulat sempurna, dia kaget. Yank? Al sekarang manggilnya sayang ke Sarah? Wah bahagia nya. Al pasti sekarang udah move on dan dia sudah fokus pada Sarah. Hemm selamat yah Rah, Al pasti memperlakukan kamu dengan sangat baik dan akan selalu buat kamu bahagia dan tertawa lepas.


"Oh yaudah, tapi kalo udah selesai nanti bilangin sama aku yah." Kata Sarah dan Al menangguk paham. "Eh iya kamu mau minum nggak? Atau mau apa gitu? Siapa tau kamu capek dari tadi nulis terus?" Tanya Sarah perhatian.


"Nggak ada kok sayang. Kehadiran kamu di sini sudah cukup untuk buat aku semangat." Ujar Al sambil tersenyum hangat.


"Iiihh Al bisa aja. Aku kan jadi malu." Ucap Sarah dengan tersenyum malu-malu.


Lisa tersenyum melihat tingkah Al dan Sarah, dia jadi ingat betapa hebatnya Al yang selalu ngegombal dulu, pasti dia juga selalu melakukan hal itu pada Sarah.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!