Love In Many Ways

Love In Many Ways
Pingsan



Tidur nyenyak Lisa terganggu dengan perutnya yang sedari tadi minta jatah. Uh, kan jadi kesel jadi nya. Lisa mengucek matanya sembari menstabilkan napas nya. Oke, sekarang waktu nya makan. Lisa bangun dan terduduk di pinggir kasur. Tak di sangka ini sudah malam, cahaya matahari sudah tergantikan.


"Ck, Rey mana sih?!" Gumam Lisa. Dia mengedarkan pandangan menyapu ruangan, namun yang di cari tak pernah muncul. Akhirnya dia memutuskan untuk mencari sendiri. "Rey? Lo dimana?" Teriak Lisa. Tak ada jawaban, Lisa membuka pintu demi pintu yang ada di kamar tersebut. "Rey, dari tadi gue nyariin tau nggak?!" Sahut Lisa kesal. Saat melihat Rey yang sedang duduk belajar di ruangan tersebut. Ruangan yang di penuhi dengan banyak rak buku yang berjejer rapi. Seisi ruangan tersebut hanya di penuhi dengan banyak buku-buku.


"Oh maaf. Aku nggak denger. Kamu mau apa?"


"Rey, gue rasa gue mau makan martabak manis deh. Beliin gue!" Ujar nya dengan cuek.


"Martabak? Ini udah malem, Cha. Besok aja yah!" Ucap Rey dengan lembut.


"Ih nggak mau. Gue mau nya sekarang, tolong beliin!" Nahkan manja nya kumat lagi. Kalau dia mau apa-apa itu harus segera diturutin.


Rey menghela napas, sebenarnya hari ini dia cukup sibuk. "Yaudah aku beliin. Kamu tunggu sini jangan kemana-mana." Rey berdiri lalu mengambil jaket dan hp nya.


"Iya bawel. Udah sana gih, jangan lama-lama gue udah laper banget nih."


"Iya. Aku pergi yah. " Rey meraih gagang pintu. Namun pergerakannya terhenti lagi saat mendengar suara Lisa.


"Eh tunggu-tunggu."


Rey menstabilkan emosinya kemudian berbalik. "Apalagi?"


"Gue pinjem hp lo dong. Gue bosen kalo kayak gini terus."


"Yaudah nih. Kamu jangan sembarang hapus yah." Rey menyodorkan hp nya yang diterima dengan hati oleh Lisa.


"Iya ih. Gue juga tau kali." Lisa merebahkan dirinya di atas kasur sambil memainkan hp nya Rey.


"Aku pergi yah." Rey membuka pintu kamar dan melangkahkan kaki nya pergi.


"Hm. Jangan lama!" Teriakan Lisa menggelegar ke seluruh penjuru rumah. Etdah untung Ayah sama Bunda belum pulang.


Lisa sedang sibuk men-slide foto-foto yang ada di hp mahal itu. Tak ada yang berarti semua terlihat hanya foto-foto Rey dengan tim basket nya. Foto nya dengan keluarga nya, terlihat banyak sekali. Sampai akhirnya Lisa menemukan sebuah foto masa kecil dirinya dan Rey yang mengenakan baju couple. Sekilas senyuman di sudut bibir Lisa membentuk, dia ingat betul bagaimana susahnya dulu saat Rey di ajak foto dan dia tidak mau. Sampe-sampe wajahnya di dalam foto itu terlihat kesal, berkesan lucu dan imut.


"Si Macan tutul masih aja simpan foto ini." Gumam Lisa dan dia masih sibuk memperhatikan fotonya dengan Rey. "Eh gila, aku cantik banget di sini. Apalagi aku pake baju baru pemberian Daddy." Ujar Lisa senyam-senyum. Lisa melihat slide selanjutnya adalah foto dirinya dan Rey, begitu banyak. Bahkan foto nya kak Putra semasa kecil pun ada. Rey menyimpan semuanya.


Lisa memeriksa semua isi hp nya Rey, tanpa tertinggal sedikit pun. Ntah karena apa, dia sangat penasaran dengan isi hp seorang ketos tampan. Lisa kemudian beralih dengan semua pesan-pesan nya Rey. Lisa sibuk men-scrol nya sampe dia menemukan nama 'Dinda' di sana. Penasaran? Ya iyalah, tanpa ragu Lisa membukanya dan membaca riwayat chat nya. Mudah di pahami kalau di sini Dinda berusaha mendekati Rey, tampak saja dari caranya balas pesan, dan apa ini? Dinda rutin mengirimi pesan pada Rey? OMG, kalian semua harus tau itu. Ntah kenapa saat membaca nya Lisa merasakan ada sedikit kekesalan dalam hatinya. Tanpa sadar dia menggigit guling yang sedang dia peluk saat ini. Ntah kenapa dia harus kesal? Dia kan sangat membenci Rey, bahkan nama nya saja tak ingin dia dengar. Ah sudahlah...


"Icha, kamu tidur?" Tanya seseorang dari arah belakang. Mendengar suara itu, Lisa langsung bangun terduduk dengan sigap. Lisa membulatkan matanya kaget ketika mendapati Rey sudah kembali. Dengan cepat Lisa langsung menutup ponsel nya Rey agar tak ketahuan kalo dia sedang membaca riwayat pesan nya.


"Eh nggak. Mana martabak nya?"


"Nih." Rey terlihat menyodorkan dua paper bag.


Lisa langsung menyahut kedua nya dengan girang. "Wah banyak bener, yang mana satu?"


Lisa mulai membuka salah satu nya dengan perlahan. Lisa tercengang dengan isi nya. "Ini..."


"Buat kamu."


"Ha? Bu buat gue? Wah bagus bener, yuhui hp baru cuy." Sahut Lisa denagn girang. "Trus yang ini..." Lisa membuka yang kedua, ternyata isi nya martabak kesukaannya. Dengan sigap Lisa langsung melahap nya dengan rakus. Maklum saja dari tadi dia sudah kelaparan, ya pasti langsung di embat lah.


Rey yang sedang sibuk memijat-mijat hp nya, hanya bisa menggeleng melihat tingkah Lisa. "Pelan-pelan, Cha. Astagfirullah..."


Lisa tak mempedulikan ucapan Rey dan tetap makan dengan rakus. Rasanya muantap betul dah. "Gue kenyang bah. Mana tadi hp baru gue?!" Lisa mengambil hp nya dan beranjak pergi dari kasur. Dia duduk di ayunan yang ada di balkon. Memandang keluar sana, melihat betapa ibadahnya langit malam yang di penuhi dengan bintang-bintang kecil yang gemerlap.


Ia mulai membuka hp baru nya. "Daddy..." Gumam nya dengan pelan saat mendapati foto dirinya dan Daddy, terlihat dirinya yang sedang di gendong oleh Daddy. Foto-foto di ponsel baru nya lengkap, lengkap semua. Bahkan foto yang tidak ada di hp nya yang rusak dulu, kini ada di sini. Begitu banyak foto kenangan nya, ntah bagaimana Rey bisa mendapatkan nya.


"Cha..." Panggil Rey dari belakang.


Mendengar suara itu Lisa langsung mengusap air matanya yang sempat jatuh dari pelupuk matanya. Rey menghampiri Lisa dan duduk di samping nya yang sedang berayun dengan pelan. "Kamu nangis?"


"Ng nggak, siapa bilang? Gue cuma tiba-tiba keinget aja sama almarhum Daddy." Ujar Lisa sembari men-slide semua foto-foto yang ada di ponselnya.


"Hm." Rey terlihat berpikir, dia memandang ke arah luar dengan tatapan menerawan. Ntah apa yang harus dikatakan. Kan bingung.


Bruk!


Tiba-tiba Lisa ambruk dari tempat nya duduk, matanya terpejam dan tubuhnya lemas, Lisa pingsan!


"Icha!" Panggil Rey. Dengan panik Rey langsung menggendong Lisa ke atas tempat tidur. "Icha bangun, Icha..." Rey menepuk-nepuk pipi nya dengan pelan, namun tak ada reaksi. Rey yang panik semakin panik jadinya. Ayah sama Bunda juga belum pulang, dan tentu nya se isi rumah sudah tidur semua.


Rey langsung menelpon dokter pribadi keluarga Agrananda. "Halo, Dok. Dokter segera kesini sekarang!"


"Ada apa Rey?"


"Lisa pingsan dokter. Sekarang yah!"


"Oke tunggu, saya segera kesana."


"Makasih, Dok."


Rey mematikan telpon nya dan duduk di samping Lisa yang tengah terbaring pingsan.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!