
Rey malah menatap Lisa datar, "Cha, ini cuma luka biasa, aku cuma bersihin trus kasih obat. Bukan di bedah trus dijahit."
"Oh...." jawab Lisa santai. "Lah, lukanya dalem apa nggak? Kalo dalem, ayo bawa ke dokter! Siapa tau perlu di jahit kan!" Lisa tiba-tiba berpikiran jauh dan panik sendiri.
"Gak mau! Gak usah lebay! Ini gue nggak kenapa-napa!" bantah Dinda dengan tegas.
"Tapi kalo tiba-tiba infeksi, trus sakit, trus..."
'
"Hais sudahlah! Kan udah di obatin lukanya, sayang. Gak bakal kenapa-napa, nanti juga sembuh sendiri seiring berjalannya waktu." Rey menyelah kata-kata Lisa agar Lisa tidak semakin khawatir.
"Beneran nggak papa?" tanya Lisa, ntah bagaimana bisa Lisa sekhawatir ini dengan musuhnya sendir. Rey hanya mengangguk menanggapi kata-kata Lisa.
Lisa mengelus dada lega, ia kemudian berdehem, merasa kalau tenggorokannya sedikit kering. "Em Rey pes-..." Lisa menghentikan ucapannya. "Nggak jadi deh, biar aku aja yang mesen minum bentar."
"Cha, aku aja. Kamu disini aja." Ucap Rey.
"Aku aja, kan kamu udah bekerja keras ngobatin Dinda, pasti agak capek."
"Astaga sayang, ngobatin doang mah nggak bakal bikin capek. Aku aja yang mesen kamu disini temenin Dinda." Tolak Rey.
"Nggak gan, aku pesen, tunggu bentar." Lisa berlalu pergi tanpa mendengar jawaban dari keduanya.
Selagi Lisa menjauh, Dinda iseng bertanya pada Rey. "Lo nggak dimarahin apa sama bokap nyokap lo gara-gara sedekat itu sama Lisa? Ya gue tau dia pacar lo, tapi menurut gue, kalian terlalu dekat dan terlalu mesra. Kalo diluar negeri sih udah biasa pacaran kayak gitu, tapi ini kan di Indo." Dinda mengutarakan opininya yang sedari tadi melihat pasangan ini.
Rey mengangkat salah satu alisnya, "Lo kenapa tanya gitu? Lo cemburu?" tanya Rey to the point.
"Bukan gitu... Menurut gue, lo terlalu mesra aja gitu sama dia."
Rey menghela nafasnya panjang, "Huh... Dengerin kata-kata gue, gue nggak bakal ulang ataupun jelasin. Tapi kalo lo berani nyebar apa yang gue omongin kali ini, urusan lo panjang sama gue! Gue nggak main-main kali ini!" tegas Rey dengan nada mengancam.
Dinda sedikit kikuk melihat tatapan Rey yang benar-benar tajam dan mengintimidasi, "I-iya deh, apaan?" tanyanya.
"Lisa itu istri gue!"
Dinda membelalakkan matanya tak percaya, "M-maksud lo? K-kalian kan masih sekolah, mana mungkin udah nikah? Bercanda yah? Bercanda lo gak lucu sumpah!" Dinda menggeleng tak percaya.
"Gue nggak bercanda dan gue serius! Menurut lo, apakah dengan kepribadian gue yang kayak begini, gue berani main peluk sama cewek yang bukan muhrim gue? Apa gue berani minta cium sama cewek yang cuma punya status pacar gue? Gue nggak mungkin kayak gitu Din kalo kita cuma pacaran." tanya Rey dengan serius.
Dinda masih menggeleng tak percaya dengan apa yang ia dengar. Hatinya terasa kacau namun tak sakit, ia merasa biasa saja mendengar kata-kata Rey, namun keterkejutan nya tidak bisa ia sembunyikan.
Setelah menunggu lama, Lisa datang dengan 3 minuman untuk semua. "Nunggu lama yah." Ujar Lisa.
"B aja." Jawab Rey. "Makasih sayang ku yang paling manis."
"Ehemm... By the way, lo ngapain kerumah sakit dengan keadaan sekacau ini Din?" tanya Lisa melontarkan pertanyaan yang sedari tadi memenuhi pikirannya.
"Mama gue sakit..." jawab Dinda singkat.
Rey terkejut mendengarnya, "Hah? Sakit apa? Bukannya selama ini nyokap lo baik-baik aja?" tanya Rey.
Dinda hanya tertunduk diam ketika mendengar pertanyaan Rey, perlahan-lahan air matanya jatuh dengan sendirinya tanpa ia sadari.
Dinda tak mampu bersuara lagi, ia hanya menangis dan sesekali mengusap air matanya dengan tangannya yang masih sakit dan terluka itu.
Lisa yang kasihan memeluk Dinda, ia masih bersyukur karena Dinda masih sanggup menangis. Ia tak ingin Dinda menjadi seperti dirinya yang dulu, menangis pun tak sanggup. Lisa sadar kalau sekecil apapun masalahnya, jika sudah menyangkut orang tua, maka itu akan menjadi berat untuk seorang anak.
"Udah, nangis aja sepuas lo. Jangan ditahan, nggak baik suka nahan-nahan masalah sendirian. Lo nggak sendiri, gue dan Rey selalu dukung lo kok! Kalo mau cerita udah cerita aja, jangan di pendam" Lisa mengusap rambut Dinda lembut.
Rey terkagum-kagum melihat Lisa yang tampak begitu tulus pada Dinda a padahal Dinda dulu benar-benar jahat padanya. "Kamu manusia apa bidadari Surga sih Cha? Bisa-bisanya kamu berhati malaikat sama orang yang pernah berkelakuan kayak setan ke kamu. Aku bangga sama kamu Cha."
Rey hanya membatin sambil melihat kedua gadis yang sedang berbagi kesedihan itu.
Dari kejauhan nampak Faro berlari dari kejauhan mencari-cari Lisa, ia melihat Lisa yang sedang memeluk Dinda. Faro kebetulan melihat Rey juga, ia langsung berlari dan menarik Rey menjauh.
"Heh apa-apaan sih lo! Lepasin!" pinta Rey yang tiba-tiba diseret menjauh. Rey lebih terkejut melihat kedatangan Faro yang tiba-tiba. Ia menduga pasti Faro sengaja mengikut dirinya dan juga Lisa.
Faro menghentikan langkahnya saat sudah agak jauh, ia berbalik dan menatap Rey serius. "Sejak kapan Dinda disini?" tanyanya.
"Dari tadi, kenapa?"
"Dia kesini bawa siapa?"
"Kata dia, nyokapnya sakit."
Faro mengusap wajahnya gusar, "Gue bener-bener khawatir sama dia!"
"Emang kenapa?"
Faro menjelaskan apa yang sedang terjadi pada keluarga Dinda, Rey terkejut mendengarnya. "Hah? Gimana bisa? Gimana lo bisa tau soal ini. Dan bukannya, bokap Dinda itu pria baik-baik?" tanya Rey tak percaya.
"Ya setelah ada bukti kayak gitu, lo masih yakin kalo bokap Dinda itu pria baik-baik? Sekarang gue harus apa? Barusan nyokap gue minta buat bawa Dinda pergi, tapi kalo Dinda pergi, siapa yang jaga nyokap dia di sini?" tanya Faro.
Rey semakin heran, "Emang kenapa sih? Kenapa lo segitunya? Emang lo ada apa sama Dinda?"
Faro menghela nafas. "Dinda itu kakak sepupu gue."
"Ha?" Kaget Rey.
"Jadi nyokapnya Dinda itu, kakak dari mama gue. Makanya gue khawatir banget sama dia."
Rey masih sulit mencerna apa yang dikatakan Faro.
"Percaya nggak percaya itu urusan lo. Tapi sekarang gue bener-bener bingung harus gimana lagi."
Rey ikut bingung dengan situasi ini, "Gini deh, lo tahan dulu kemauan itu. Tunggu sampe nyokap Dinda sedikit membaik. Kalo emang penyakitnya parah, lo bisa pindahin rumah sakit aja. Tapi kalo bisa membaik, lo cepet-cepet bawa Dinda pergi, kalo perlu pindah sekolah aja!" Rey memberi saran.
"Hmm oke deh, gitu aja! Kalo lo mau balik, balik aja sama Lisa, Dinda biar gue yang urusin!" ujar Faro.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!