
Di Ruang BK
Tok... Tok... Tok...
Rey mengetuk pintu ruang BK. Sebuah suara menyuruh Rey segera masuk kedalam. Rey pun membuka pintu pelan dan menyapa Bu Desi.
"Selamat pagi bu..."
"Loh Rey, pagi... Ada apa kesini pagi-pagi?" tanya Bu Desi merasa heran.
"Bu saya mau jelasin masalah kemaren!" Bu Desi mengernyitkan keningnya. "Sebenarnya yang buat Rani celaka itu bukan Lisa, tapi Dinda bu!" ujar Rey dengan tegas.
Bu Desi terkekeh kecil, "Hehe, kamu ini masih saja obsesi sama kasus itu? Tapi kasus itu sudah selesai Rey, dan sudah ada bukti juga dan Lisa juga udah baik-baik aja kan sama sekolah barunya."
Rey tetap membantah, "Tidak bu! Dinda yang salah, saya bisa buktikan dan saya punya buktinya!" Rey kekeh untuk tetap menyelesaikan masalah ini.
Bu Desi mengangkat salah satu alisnya, raut wajahnya mulai meragu, ia mulai memikirkan hal yang dibicarakan oleh Rey. Rey mengeluarkan ponselnya dan membiarkan Bu Desi mendengarkan rekamannya pada hari itu.
Bu Desi sangat terkejut mendengar rekaman itu. Ia tak menyangka atas apa yang terjadi, Bu Desi menatap Rey penuh tanda tanya.
"Rekaman ini saya dapatkan saat saya berkunjung ke rumah sakit untuk menengok Rani bu. Tasya adalah saksi yang sebenarnya, tapi Dinda sudah mengancam dan memindahkan dia ke sekolah lain. Rey yakin kalau tujuan Dinda memindahkannya agar Tasya nggak buka mulut Bu."
Bu Desi masih menatap Rey tak percaya. Karena selama ini, Dinda yang ia kenal adalah Dinda, siswi cantik, berprestasi dan teladan dari sekolah.
"Lalu tunggu apa lagi bu? Mau sampai kapan menyalahkan orang lain atas kesalahannya Dinda? Apa hanya karena kekuasaan orang tuanya? Tapi maaf bu, bukannya sombong, kekuasaan keluarga Dinda nggak ada apa-apanya dibandingkan keluarga saya. Dari awal saya melarang keras keluarga saya terlalu ikut campur masalah ini karena janji saya pada Lisa bahwa saya akan menemukan buktinya dengan tangan saya sendiri! Jadi sebelum keluarga saya ikut bertindak, tolong atasi masalah ini segera!" pinta Rey dengan sungguh-sungguh.
"Baik-baik! Kirimkan rekaman itu ke saya, jangan hapus di hp kamu ya! Ibu akan segera diskusikan masalah ini dengan para staf sekolah!" jawab Bu Desi tegas.
Rey mengangguk lega, "lya bu, terima kasih karena sudah mau menangani perkara ini dengan sigap. Saya pergi dulu bu.."
"Iya, ibu juga makasih ke kamu karena kamu udah temuin bukti ini susah-susah. Tanpa kamu, mungkin ini akan jadi penyesalan terbesar ibu karena menuduh orang yang tidak bersalah," Bu Desi menepuk-nepuk pundak Rey bangga.
"Iya bu, saya pergi dulu."
"Iya nak..."
...*****...
Sepulang sekolah Rey langsung pergi menjemput Lisa di sekolah. Ia sudah tidak sabar memberitahukan cerita ini padanya. Ia memarkirkan mobilnya di samping gerbang sekolah, sembari menunggu Lisa keluar sekolah. Namun, sedari tadi dia tidak melihat Lisa sama sekali dan gerbang sekolah pun terlihat sangat sepi.
"Kayaknya aku kecepatan deh, Lisa pasti belum pulang. Yaudah kayaknya bentar lagi." Rey memutuskan untuk menunggu Lisa di mobil.
Benar saja, beberapa menit menunggu satu persatu siswa-siswi mulai keluar gerbang sekolah. Namun ia sama sekali tidak melihat Lisa. Rey memutuskan untuk masuk dan mencari Lisa. Baru beberapa langkah memasuki sekolah, ia melihat Lisa yang sedang berjalan bersama temannya. Eh tunggu, Rey melihat ada seorang pengendara motor yang sedang berbicara dengan Lisa.
"Fa-faro?" Kaget Rey.
Jadi Faro ada disini juga?
Rey mempercepat langkah kakinya menghampirinya. "Hai sayang..." Sapa Rey dengan mesra.
"Loh Rey, ngapain?" Tanya Lisa.
"Jemput kamulah sayang." Jawab Rey tersenyum. "Eh ada Faro disini, apa kabar Ro?"
Faro tersenyum canggung, "Baik Rey. Yaudah kalo gitu aku duluan yah Lis."
"Hati-hati Ro."
Faro mengangguk kemudian berlalu pergi.
"Kamu ngapain sih deket-deket sama dia. Sengaja yah? Mentang-mentang aku nggak liat." Tuduh Rey sedikit jengkel.
"Haii Rey..." Nara melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Hai." Jawab Rey. "Yaudah yuk pulang." menarik tangan Lisa untuk segera pergi, tak peduli dengan sekelilingnya yang saat ini sedang melihat ke arah nya dan juga Lisa.
"Eh Rey. Nara aku duluan yah dadahhh..." Ucap Lisa dengan cepat.
"Arghhh beruntung banget sih jadi Lisa, udah dekat sama cowo-cowo ganteng disekolah, ehh tau-taunya pacarnya jauh lebih ganteng lebih keren. Huh..." Gumam Nara seketika berhayal dirinya jadi Lisa.
.
.
.
Di dalam mobil...
Mood Rey seketika berubah drastis. Tadinya dia sangat senang dan berniat memberi Lisa kejutan eh tau-tau nya ia malah terbakar api cemburu. Lisa yang menyadari suaminya sedang emosi mencoba untuk menenangkan nya. "Rey maafin aku yah, aku nggak ada niat kok buat dekat-dekat sama Faro." Lisa menyentuh lengan Rey pelan.
"Kok bisa sih Faro ada di sekolah itu, kenapa mesti dia pindah nya disitu, apa dia sengaja yah ngikutin kamu?"
"Nggak Rey, dia lebih dulu pindah daripada aku. Dan kami juga nggak sengaja ketemu."
"Aku nggakk suka yah kamu deket-deket sama dia, lagian Fadil kemana, kok nggak jagain kamu sama sekali?"
"Huh, Fadil lagi sibuk bucin, dia nganterin pacarnya pulang, makanya Faro nawarin pulang bareng." Kesal Lisa.
"Untung aja aku cepet datang, coba nggak pasti kamu bakalan nerima tawaran dia kan?"
"Ih apaan sih Rey, aku nggak gitu yah. Lagian juga aku nggak mungkin mau deket-deket sama dia, kan aku udah punya suami yang super keren." Lisa bersandar di bahu suaminya, ia sengaja berkata begitu agar Rey tidak marah padanya.
Rey tersenyum, "Kamu bener-bener pintar yahh."
"Hehee... Oh iya kenapa tiba-tiba jemput tanpa ngabarin? Ada apa?"
"Yah nggak sih, cuma mau jemput aja kangen pulang bareng sekalian mau cerita."
"Cerita apa?"
"Cerita sekarang apa di rumah aja?"
"Sekarang Rey, jangan bikin aku penasaran deh."
"Ini masalah kemaren yang belum selesai."
"Masalah yang buat aku dikeluarin?" Tanya Lisa yang membuat Rey mengangguk.
"Bukannya udah kelar yah?"
"Yah belum lah, kan aku udah janji apapun yang terjadi aku bakalan buktiin kalo kamu nggak bersalah. Aku nggak rela istri aku di tuduh bersalah Aku udah ada bukti kalo bukan kau yang nyelakain Rani. Dan masalah ini bakal diproses lagi!" kata Rey dengan semangat dan antusias.
Lisa membelalakkan matanya tak percaya, retinanya seketika membesar dan bibirnya menyungging keatas membentuk lengkungan senyum yang manis dan alami.
"Ini beneran?" Tanya sembari memukul lengan Rey senang.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!