
Baru saja selangkah kaki nya Lisa memasuki kelas, Sarah dan Mira langsung saja berlari dan menyerbu Lisa. "LISAAAA..." Teriak keduanya dengan girang.
Mereka berdua tanpa pikir panjang langsung memeluk Lisa dengan erat. "Uuuhh kangen banget..." Ucap Sarah.
"Aku juga kangen tau." Jawab Lisa. "Eh eh, udah. Ini aku nggak bisa napas ya Allah."
Sarah dan Mira melepaskan pelukannya. "Hehehee.... Maaf deh." Ucap Mira sambil cengengesan.
"Yuk duduk." Ajak Sarah.
"Katanya Mommy udah pergi yah?" Tanya Sarah dengan pelan sambil duduk di kursi samping kursi Lisa.
"Iya."
"Kita turut berduka cita yah, Lis. Maafin kita nggak sempat datang soalnya baru kemarin kita taunya." Jelas Mira sedih.
"Nggak papa kok."
"Kamu yang sabar yah."
"Makasih." Ucap Lisa tersenyum.
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Mira, Mira langsung mengeceknya. Ia sibuk mengotak-atik ponselnya sambil sesekali tersenyum sendiri.
"Uuuu... Kayaknya lagi ada yang kasmaran nih." Ledek Sarah.
"Ekhem... Siapa tuh?" Tanya Lisa kepo.
Mira mengibas-ngibaskan tangannya ke kanan dan ke kiri. "Nggak... Ini cuma chatingan sama teman kok."
"Temen apa temen..." Ledek Lisa.
"Temen tapi mesra..." Sambung Sarah.
"Beneran cuma temen kok." Jawab Mira.
Sarah mengulurkan tangannya. "Mana sini coba liat, katanya cuma teman kan?!"
"Eeemmm... Itu loh. Baterai nya tinggal dikit" Ucap Mira memberi alasan.
"Nggak percaya. Sini coba, liat bentar."
"Eh itu... Eh Al mana yah, kok belum dateng?" Tanya Mira yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Al nggak masuk hari ini." Jawab Sarah. "Udah deh, nggak usah banyak alasan."
"Sini, Ra!" Dengan sigap Lisa langsung merebut hp milik Mira dari tangan nya.
"Eh jangan!" Mira berusaha untuk mengambilnya kembali.
"Kan panik, berarti ada apa-apa nya ini." Ucap Sarah yang mulai curiga.
"Ah nggak. Nggak ada apa-apa." Kata Mira gelagapan. Di wajahnya mulai terukir cemas. Huh, gawat ini.
Lisa dan Sarah melihat WhatsApp Mira, mereka berdua membeku melihat riwayat chat Mira. Ada sebuah nama yang disematkan paling atas, dan nama itu mereka kenal.
Melihat wajah kaget mereka, Mira sudah dapat menebak apa yang mereka liat. Dengan sigap Mira langsung menggunakan kesempatan itu untuk merebut ponselnya. "Apa sih, aku bilang juga nggak ada apa-apa."
"Kamu ada hubungan apa sama Vhino?" Tanya Lisa heran.
"Kayaknya udah jadian yah? Kapan tuh? Masa nggak ada Pajak Jadian?" Tanya Sarah.
"Nggak. Cuma temen beneran. Tadi nggak sengaja kepencet, makanya bisa disematin diatas." Sanggah Mira.
"Hmm... Masa sih, nggak percaya deh." Kata Sarah. "Jangan-jangan... Kamu sama Vhino..." Sarah sengaja menggantungkan ucapannya. Ia menatap tajam ke arah Mira yang berusaha menghindari kontak mata dengan nya.
"Kalo di inget-inget... kemaren Vhino nolongin kamu, trus kamu juga kayak yang paling panik gitu pas Vhino belum sadar. Trus... Kamu juga rela nungguin dia ampe dia sadar, trus rawat Vhino sampe Vhino bisa pulang dan istirahat di rumahnya." Jelas Sarah yang semakin curiga.
"Eh nggak. Nggak gitu. Aku cuma merasa bersalah aja gituloh, Vhino kayak gitu juga gara-gara nolongin aku." Bantah Mira.
"Udah deh, Ra. Kamu nggak perlu bohong. Ini semua udah jelas." Ucap Sarah santai lalu menyeruput segelas es jeruknya.
"Kamu suka yah sama Vhino?" Tanya Lisa.
"Ha? Ng-nggak. Nggak kok, apasih kalian ini." Mira masih saja menyanggah.
"Nggak mungkin kamu nggak suka. Semua udah keliatan kok, kita kan sahabat kamu, lebih baik kamu cerita dong sama kita. Masa main rahasia-rahasiaan, nggak asyik banget." Ujar Sarah.
Mira terdiam, ia sedang bingung. Apa yang dikatakan oleh kedua temannya memang benar adanya. Akan tetapi, jika ia berkata jujur sungguh itu akan membuat nya malu.
"Suka kan?"
"Sama Vhino?"
"Ngaku aja!"
Mira sedikit mengangguk ringan. Lisa dan Sarah seolah-olah mendapat berita yang menggemparkan. Mereka berdua begitu girang dan langsung ber-tos ria.
"Nah benerkan!"
"Apa ku bilang."
"Nah kan emang benar. Aku emang jago kalo masalah tebak-tebakkan. Apalagi tebak soal percintaan, kyaww..." Sahut Sarah girang.
"Ih kita samaan kok. Kamu lebih bucin sama Rey." Ucap Sarah tak ingin kalah.
"Suttt..." Lisa menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya. "Aku juga jago kok. Aku kan adiknya Dilan sang peramal."
"Ah elah. Kalo Dilan ramalnya cuma ngasal. Itu cuma buat ramal kehidupannya dengan Mileha."
"Milea woyyy." Ralat Lisa.
"Hahahahaaa..." Mereka bertiga tertawa bersama sambil sesekali meminum es jeruknya.
Lisa kembali meneguk es jeruknya, namun tiba-tiba ponselnya yang ada di atas meja berbunyi. Itu membuat Sarah dan Mira kepo untuk melihat siapa si penelfon.
"Lis, telpon tuh."
"Siapa?"
"Suamiku, mas tamvan, cintaku sayang." Ucap Mira membaca nama kontak yang tertera di layar ponsel milik Lisa.
Uhhuk... Uhhuk...
Lisa sampai tersedak minuman yang ia minum saking kagetnya. "Astagfirullah..." Lisa mengusap dadanya pelan. Lalu meraih hp nya dan memastikan nama di ponselnya.
Lisa terkejut setengah mati saat nama 'Suami ku, mas tamvan, cintaku sayang' di ponselnya. Dan Name Contact itu sedang menelfonnya. Sarah dan Mira langsung menunjukkan senyum nya.
"Ntar yah, ada panggilan masuk." Ucap Lisa.
"Aku ramal itu pasti dari mas bucin..." Ledek Sarah.
"Palingan panggilan sayang." Sambung Mira.
"Nggak sabar tuh pengen ketemu, udah rindu aja."
Lisa mengabaikan semua ucapan kedua teman nya karena ia juga bingung nomor siapa yang menelponnya. Perasaan ia tak pernah menyimpan nomor dengan nama kontak se alay itu. Lisa sedikit menjauh dari teman-temannya dan menjawab telfon itu.
"Halo? Siapa?"
"Wah parah. Kamu nggak ngenalin aku?"
"Rey? Kok kamu... Nama kontak kamu itu..."
"Kenapa? Bagus kan? Ya pasti baguslah dari yang sebelumnya, kan aku yang ganti."
"Eh, gara-gara nama kontak kamu, semua jadi pada heboh tau nggak."
"Biarin aja, nggak peduli!"
"Ck, makin hari makin ngeselin yah. Udah, sekarang mau ngomong apa?"
"P**ulang sekolah kan ada latihan basket, kamu temenin aku yah."
"Kenapa harus ditemenin? Nggak ah, mending aku langsung pulang."
"Ya sebagai pacar yang baik temenin kek, kamu mau aku diambil sama cewek lain karena mereka liat betapa mempesonanya aku pas keringetan?"
"Kenapa cowok keringetan jadi mempesona?" Gumam Lisa tak mengerti.
"Udah nggak usah banyak nanya, aku nggak mau tau pokoknya kamu harus temenin aku latihan!"
"Kalo nggak mau?"
"Aku nggak kasih jatah."
"Ih Rey mulai mesum." Lisa bergidik mendengar jawaban Rey yang nada suara nya terdengar mengancam.
"Siapa yang mesum? Pikiran kamu tuh yang mesum, salah ngarti. Maksud aku tuh nggak ngasih uang jajan kalo kamu nggak dateng."
"Oh gitu."
"Pokok nya kamu harus dateng!"
"Iya sayang, udah yah. Daaahhh..."
"Eh, Lis-..."
Rey belum menyelesaikan kalimatnya, Lisa lebih dulu menutup telponnya dan kembali menghampiri kedua temannya.
"Uuuhh kenapa tuh? Aku ramal pasti Rey udah rindu." Tebak Sarah.
"Bucin parah, baru aja ketemu. Udah nggak kuat jadi malah nelpon." Ledek Mira.
"Sotoy kalian." Kesal Lisa.
"Lah, kita kan manusia, Lis. Bukan soto." Sahut Mira polos.
"Maksudnya sok tau sayang..." Ralat Sarah.
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!