Love In Many Ways

Love In Many Ways
Terciduk



"Makasih yah Ro, aku masuk kelas dulu." Lisa langsung masuk kedalam kelas tanpa mendengar jawaban dari Faro.Yah sayang sekali, padahal Faro masih ingin lebih lama lagi dengan Lisa.


Nara yang tidak sengaja melihat Lisa bersama Faro barusan jadi keheranan. "Lo kenal juga sama si Faro?" Tanya nya penasaran.


"Kenal, kenapa?" Tanya Lisa balik.


"Wah parah, lu keren abiss, semua cowok most wanted di sekolah lo kenal." Seru Rizal.


Lisa hanya mengangguk angguk, kemudian duduk di kursi nya. Sekilas ia menoleh pada Dita yang hanya fokus dengan ponselnya sambil sesekali mengunyah cemilannya.


"Lo mau?" Tanya nya tanpa menoleh sambil menyodorkan cemilan yang ada di tangannya.


"Aku udah kenyang." Jawab Lisa.


"Yaelah, udah nih ambil aja, tuh stock nya banyak." Tunjuk Dita pada beberapa kantong sneak yang tengah di makan para teman-temannya.


Lisa mengangguk sambil tersenyum, "Makasih." Ucapnya lalu mengambil cemilan tersebut.


"Ah lu mah terlalu canggung." Sahut Nara.


Tinggg...


Lisa mengambil ponselnya dan mengecek notifikasi yang ternyata itu dari Rey.


Mash Crush♡


Icha, maafin aku yah,


kayaknya aku nggak bisa jemput


soalnya harus latihan basket


sepulang sekolah.


^^^Me^^^


^^^hmm yaudah, aku aja yang^^^


^^^kesana yah Rey^^^


^^^Udah lama juga kan^^^


^^^aku nggak ke sekolah^^^


Mash Crush♡


Yaudah, tapi hati-hati


yah bep


^^^Me^^^


^^^Siiiap bosss^^^


Mash Crush♡


Daahh😘💙


Pulang sekolah...


Lisa berjalan menyusuri koridor, namun tak sengaja ia berpapasan dengan Faro. "Aku anterin pulang yah Lis," Ajak Faro.


"Maaf Ro, tapi aku pulangnya sama Fadil. Fadil mana?" Tolak Lisa. Selain karena tidak ingin Teh nanti nya salah paham, Lisa juga tidak ingin Faro berharap banyak padanya karena Lisa tau kalau Faro itu sepertinya suka padanya.


"Fadil lagi nongkrong di parkiran sama yang lain."


"Oh yaudah aku duluan yah." Lisa berjalan terburu-buru menuju parkiran.


Faro menghela nafas, Aku tau Lis, kamu udah ada Rey. Tapi entah kenapa aku nggak bisa nahan perasaan ini buat kamu.


Sesampainya di sana, ia langsung saja menghampiri Fadil, "Heh anterin aku pulang." Sahut Lisa dengan nada memaksa.


"Iddih siapa lu..." Ledek Fadil.


"Ih Fadil, serius ni. Anterin pulang nggak? Atau mau aku aduin sama ayah?" Ancam Lisa.


"Yaelah, kemarin katanya nggak mauuu, sekarang malah maksa-maksa. Aku tuh harus ke lapangan basket dulu, soalnya adek kelas mau seleksi."


"Sini, biar abang Bryan aja yang anterin. Abang rela kok sampe terlambat seleksi demi anterin neng sayang." Kata Bryan.


"Huuuuuu..." Semua teman-temannya meneriakinya.


"Nggak papa Bryan, aku sama Fadil aja." Tolak Lisa.


"Hadeh, yaudah deh iya." Pasrah Fadil.


.


.


.


Sesampainya di depan gerbang sekolah SMAN BAKTI HUSADA, Fadil kembali bertanya, "Emang kenapa sih aku harus anterin kamu sampe sini? Kenapa nggak langsung ke rumah aja?"


Lisa melepas helm nya kemudian memutar bola matanya sinis, "Pertama, aku mau pulang bareng Rey, kedua, aku mau nonton dia latihan basket dan ketigaaa, katanya tadi kamu bakalan terlambat kalo harus anterin aku sampe rumah." Jelas Lisa penuh penekanan.


Fadil menunjukkan ekspresi bodo amatnya, "Oh gitu doang? Yaudah deh aku duluan aja, kamu jaga diri disini, dan sepertinya akan hujan, kamu jangan main main hujan."


"Dasar ngeselin, sana sana." Usir LIsa.


Fadil menyalakan mesin motornya, "Duluan yah maniezz." Fadil mengacak-acak rambut Lisa lalu langsung pergi begitu saja.


Sementara Lisa mencoba menarik nafas dalam menahan kekesalannya. "Nggak papa Lis, its okay. Maklumin aja sifatnya, kan sekarang mau ketemu sama Rey jadi harus ceria dong." Gumam nya berusaha menyemangati dirinya.


Lisa berjalan masuk dengan penuh keyakinan, kalaupun harus bertemu Dinda, ia tidak ingin meladeni nya. Lagian kan ia juga kangen banget sama teman-temannya, Sarah, Mira, Al dan juga Vhino. Huhhh, pasti mereka akan kaget kalo ketemu sama aku. Mestinya sih...


Keadaan sekolah terlihat lengan dan sepi. Tak ada siapapun. Lisa memutuskan untuk langsung ke lapangan basket. Mungkin seperti biasa sebagian besar dari mereka sudah pulang ke rumahnya dan sebagiannya lagi tinggal untuk menonton aksi permainan basket si ketua OSIS.


Baru saja sampai di depan pintu masuk, ia sudah tersenyum senang saat melihat Rey begitu gesit bermain. Lama ia mengamatinya, sampai akhirnya peluit di tiup dan diputuskan untuk istirahat sejenak.


Baru saja ia akan masuk menghampiri Rey, namun, kedua bola matanya membesar saat melihat Dinda yang langsung berlari ke arah Rey yang tengah berjalan ke pinggir lapangan, Dinda terlihat menyodorkan sebotol air mineral. Betapa kagetnya Lisa saat Rey menerima sebotol air itu dan meneguknya secara perlahan, di tambah lagi Dinda yang terlihat sangat senang dan tersenyum sumringah saat Rey mau menerimanya.


Semua siswa siswi di dalam lapangan itu bersorak melihat pemandangan yang menurut mereka sangat romantis.


Tiba-tiba seorang siswa yang tengah berlari tak sengaja menyenggol Dinda yang membuat Dinda kehilangan keseimbangannya dan...


"Settt..." Hampir saja ia jatuh tersungkur kebelakang. Ternyata Rey dengan cepat langsung menangkap tubuhnya. Posisi itu membuat Dinda deg-degan. Dinda menatap Rey, dan Rey terpaku.


Hati Lisa semakin terbakar saat melihat Rey dan Dinda tengah berpelukan seperti itu, dengan langkah cepat ia langsung saja menghampiri keduanya di lapangan tersebut.


"Rey..." Sahut Lisa dengan tatapan dingin.


Semua mata langsung menoleh pada seorang siswi dengan seragam sekolah yang berbeda tengah berdiri di samping Rey dan Dinda.


"Icha?" Rey langsung melepaskan pegangannya pada Dinda.


"Eh Rah, itu Lisa bukan sih?" Tanya Mira yang tengah berada di atas tribun.


"Itu Lisa, parah loh teman sendiri lupa." Jawab Sarah.


"Sumpah kangen banget rasanya. Tapi ngapain yah dia kesini tanpa ngasih tau kita? Wah bahaya Ini." Gumam Sarah lagi.


"Oh jadi gini yah kelakuan kamu Rey, berarti selama aku pindah sekolah kamu selalu kayak gini, deket terus sama dia. Seneng yah kamu..." Sinis Lisa.


"Nggak gitu Cha, ini nggak seperti Apa yang kamu pikirin. Aku tuh nggak..."


"Apa? Nggak apa? Jelas-jelas aku liat sendiri kamu pelukan sama dia, seneng yah kamu? Hah? Seneng?" Tatapan Lisa dingin, nada bicara nya pun datar membuat suasana terasa dingin. Semua terdiam, melihat dan mendengarkan drama di tengah lapangan.


Dalam hati Dinda tersenyum penuh kemenangan, Ini adalah saatnya untuk menghancurkan hubungan mereka, "Cih, posesif banget sih, gitu doang juga." Ucapnya memanas-manasi.


Lisa yang sedari tadi menahan marahnya langsung menarik rambut Dinda dengan keras.


"Awwh..." Ringis Dinda memegangi tangan Lisa.


"Lo nggak usah ikut campur urusan gue. Gue nggak habis pikir deh sama lo, kenapa sih lo g*tel banget dari dulu dulu belum juga tobat, udah tau Rey punya pacar masih aja nempel-nempel."


"Auuu sakiitt, lepaskan Lisss...," Dengan penuh drama Dinda mengeluarkan air mata palsunya agar Rey membelanya, apalagi kan sekarang Dinda menyadari kalau semua orang tengah memperhatikannya.


"Cha lepaskan Cha, ini bisa kita bicarain baik-baik." Pinta Rey.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!