Love In Many Ways

Love In Many Ways
Keputusan yang Tepat



"Hem, ng-nggak nggak papa Bu. Saya di sini aja." Ucap Edward dengan terbata-bata.


"Oh baik lah. Oke sekarang kita mulai pelajaran hari ini. Buku buku paket halaman 137..." Bu Alya sudah menjelaskan panjang lebar tentang pembelajaran yang di pelajari hari ini.


Al sama sekali tak konsen belajar, kalau mendengarkan ocehan Bu Alya sih, Iya. Tapi sama sekali tidak mengerti ucapan nya. Dia hanya sibuk melihat Lisa. Sesekali dia menoleh pada Lisa yang sepertinya sangat memperhatikan setiap kata yang di keluarkan oleh Bu Alya.


Lisa yang menyadari terus di perhatikan oleh Al pura-pura saja tak melihatnya, dan Pura-pura konsentrasi dengan Bu Alya di depan yang sedang menjelaskan panjang lebar. Lisa mengambil hp nya yang berada di dalam tas nya lalu mengirimi pesan pada Al.


^^^Me!^^^


^^^Jam istirahat^^^


^^^kita ketemu di belakang^^^


^^^sekolah, ada yang^^^


^^^perlu aku omongin!^^^


Al yang masih melihat ke arah Lisa, melihat nya dengan tatapan aneh. Dalam hati dia bertanya.


Kenapa Lisa malah sibuk dengan hp nya? Dia lagi ngapain? Chatingan kah? Tapi dengan siapa? Atau jangan-jangan selingkuhan nya?


Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang ada di otak si cowok posesif tersebut.


Selesai mengirimi pesan kepada Al, Lisa menoleh pada Al yang masih menatap nya. Lalu memberikan isyarat pada nya untuk segera membuka hp nya. Al yang mengerti isyarat itu langsung mengambil hp nya dan melihat pesan dari Lisa. Dia hanya membaca lalu menoleh pada Lisa dan memberikan isyarat lagi.


.


.


.


Belakang Sekolah👈


Lisa sudah datang lebih dulu. Dia duduk di kursi yang agak panjang yang berada di tempat itu. Memang belakang sekolah adalah tempat yang paling aman. Jarang atau bahkan tidak ada siswa yang datang kesana.


Lisa sudah memantapkan keputusan nya ini. Dan sudah siap untuk situasi yang terburuk sekali pun yang akan dia rasakan. Lisa berusaha merangkai kata-kata yang harus di ucapkan nya pada Al. Dia berusaha merajut kata agar terdengar baik dan agar Al tidak tersinggung ataupun sakit hati dengan ucapan yang akan dia katakan nanti nya.


Huh. Semangat! Ini adalah yang terbaik. Keputusan ku ini adalah yang paling tepat. Maafin aku, Al!


"Hai, pacar!" Sapa Al. Dia duduk di samping Lisa, di kursi panjang itu. "Kata nya mau ngomong, ngomong apa?" Tanya Al.


Lisa terdiam tak menjawab, dia masih berusaha untuk mengambil pilihan kata yang paling tepat untuk memulai nya. Sungguh dia tak akan mungkin bisa merubah ekspresi wajah bahagia Al saat ini. Namun, dia harus! Apapun keadaan nya, bagaimana pun situasi nya.


"Lisa? Kok malah bengong sih? Ada apa?" Tanya Al lagi.


"Al." Panggil Lisa.


"Apa sayang?" Tanya Al mesra.


Al sontak kaget mendengar penuturan Lisa barusan. "Ha? Maksudnya?"


"Kita..." Lisa masih tak bisa mengatakan nya. Sungguh sulit, benar-benar sulit.


"Ya? Kenapa?" Tanya Al sudah tak sabar dengan ucapan Lisa selanjutnya.


"Kita putus." Dengan sekuat tenaga, Lisa berusaha membendung air matanya. Dia tak ingin Al melihatnya menangis.


Al lebih terkejut lagi dengan ucapan Lisa barusan. Al menatap Lisa, "Ha? Putus? Aku nggak salah denger?" Tanya Al memastikan, dia ingin memastikan apakah kalimat tadj benar-benar keluar dari mulut Lisa.


Lisa berusaha menghindari kontak mata dengan Al langsung. "Maafin aku, Al."


"Nggak! Nggak mungkin. Kamu pasti cuma bercanda, kamu pasti cuma nge-prank aku kan? Iya kan? Kamu bercanda kan, Lis?" Tanya Al beruntun.


"Nggak, Al. Aku serius!" Kata Lisa dengan pelan.


"Serius? Tapi kenapa? Kenapa kita harus putus? Ada apa? Aku punya salah apa? Ngomong sama aku, aku salah apa? Jangan kayak gini lah, Lis."


Lisa terdiam tak menjawab. Dia hanya memandang ke arah lain, dengan tatapan kosong.


"Lisa. Jawab aku! Aku salah apa? Kasih tau sama aku, jangan langsung ambil keputusan kayak gini."


"Kamu nggak punya salah apa-apa, Al. Kamu sama sekali nggak salah, nggak ada yang salah di sini. Aku memang bener-bener nggak bisa ngelanjutin hubungan ini!"


"Tapi kenapa? Nggak mungkin lah kamu langsung kayak gini kalo nggak ada penyebab nya."


"Suatu hari ini kamu akan tau Al. Aku nggak bisa ngasih tau kamu sekarang." Lisa terdiam sejenak kemudian melanjutkan. "Aku hanya berharap setelah ini, hubungan kita akan baik-baik saja, sebagai teman lagi. Kamu jangan berubah yah, Al."


"Nggak! Nggak, Lisa. Kamu sebenar nya kayak gini karena apa sih? Jangan buat aku bingung kayak gini!" Sahut Al tak terima. "Kamu inget kan hari-hari yang pernah kita lalui bersama. Udah berapa lama, Lis? Kita udah lama menjalani hubungan ini. Tapi, tapi kenapa kamu harus kayak gini sih? Kenapa?"


Lisa menoleh dan melihat Al, menatap kedua mata yang sudah agak me merah itu. "Mungkin kita nggak akan pernah di takdir kan untuk bersama, Al. Percuma juga kan kalo kita jalani hubungan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lama nya, kalo Tuhan nggak menakdirkan kita untuk bersama."


"Kenapa kamu se yakin itu sih? Takdir nggak ada yang tau. Dan satu hal yang harus kamu tau aku sayang kamu, Lis. Dan akan selalu begitu!"


Lisa sudah tak dapat membendung air mata yang sejak tadi sudah ingin menerobos keluar. "Aku juga sayang sama kamu, Al. Tapi, aku bener-bener udah nggak bisa sama kamu lagi. Aku mutusin hubungan ini juga bukan karena kemauan aku, ini karena kondisi yang memang tak akan pernah ingin melihat kita bersama, Al. Jadi tolong kamu ngerti!" Air mata menetes satu persatu dari pelupuk mata nya.


"Aku nggak bakal bisa ngerti kalo kamu nggak pernah jelasin sama aku. Kamu kenapa sih? Karena apa sampai-sampai kamu mutusin hubungan ini?"


Lisa terdiam tapi masih meneteskan air matanya. Dia tak mungkin bisa menjelaskan semua penyebab putus nya hubungan nya ini. Biarkan Al sendiri yang akan mengetahui semua nya, begitu yang ada dalam pikiran Lisa saat ini. Lisa menatap ke depan, air mata nya masih mengalir deras.


Al memegang kepala nya frustasi, mata nya memerah dan hati nya yang biasa di penuhi dengan kegembiraan kini telah berubah jadi sakit, benar-benar sakit. Kenapa tidak? Dia sudah sangat-sangat mencintai Lisa, dia rela melakukan apapun untuk pujaaan hatinya, bahkan sudah berekspetasi untuk cepat-cepat lulus sekolah dan melamar Lisa. Namun, semua terjadi tak sesuai harapan nya. Lisa malah mematahkan harapan nya yang begitu besar.


"Al, aku punya satu permintaan." Ujar Lisa memecah keheningan. "Aku ingin kamu menjalin hubungan dengan Sarah."


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!