Love In Many Ways

Love In Many Ways
Belajar



"Reeeyy... Udah dong marah nya." Lisa hampir putus asa. Seharian ini Rey terus saja mendiamkan dirinya, dan seharian ini juga Lisa mengikuti terus kemana Rey pergi sambil terus mengucapkan kata maaf.


"Kalo kamu nggak maafin aku nggak bakal makan, biarin aja aku laper." Tutur Lisa sambil menyanggah pipinya dengan telapak tangan nya.


Rey yang sedang makan malam di meja makan hanya diam saja. Rey sibuk menyantap makan nya tanpa mempedulikan apa saja yang di ucapkan Lisa.


Lisa memandang Rey, "Rey maafin dong... Seharian ini kamu udah diemin aku tau nggak? Udah dong marahnya, aku nggak bisa kalo kamu diemin terus."


Rey menyudahi makan nya kemudian berjalan meninggalkan Lisa. Tentu saja Lisa tak tinggal diam, ia terus saja mengikuti dari belakang terus mengekori Rey. "Rey... Maafin lah. Kamu tega banget sih." Ucap Lisa berusaha menyamai langkah kaki Rey yang sedang menaiki tangga.


"Rey, ayolah..." Seru Lisa.


Rey mengambil salah satu bukunya kemudian duduk di atas kasur sambil membacanya.


"Rey, maafin yah? Pliiisss... Aku janji aku nggak bakal gitu lagi." Lisa duduk di samping Rey yanh sibuk membaca.


Melihat Rey hanya acuh dan tak mempedulikan ucapan nya sama sekali, tanpa pikir panjang Lisa langsung saja memeluk Rey dengan erat. "Reeyy... Maafin aku pliss. Aku janji nggak bakal ngomong gitu lagi, pliss maafin aku."


"Lepasin, Lis!" Pinta Rey.


Lisa menggeleng cepat, "Nggak mau! Pokok nya aku nggak lepasin kalo kamu belum maafin aku!" Tegas Lisa.


Rey tersenyum, ia seperti menahan tawanya. Untung aja Lisa nggak liat. "Aku nggak konsen belajar, Cha!"


"Biarin aja. Maafin lah Rey, kamu jangan gini-in aku. Kamu tega banget sih."


Lisa mendongak menatap Rey. "Apa yang harus aku lakuin supaya kamu bisa maafin aku Rey?" Tanya Lisa. Namun sayang Rey tak menjawab apapun, ia hanya terdiam.


"Aku janji Rey, aku janji nggak bakal gitu lagi. Oh iya ini fotonya aku hapus." Lisa mengambil handphone nya kemudian tanpa berpikir dua kali ia langsung saja menghapus semua koleksi foto-foto Lin Yi, bahkan semua episode Love Scenery pun ia hapus tanpa sisa. Padahal semua episode itu belum sempat ia tonton.


Bahkan Rey pun cukup tercengang dengan usaha Lisa membujuk dirinya. Padahal sebenarnya Rey cuma berpura-pura.


"Udah kan? Kamu liat nih udah nggak ada. Bahkan satu pun nggak ada sisa. Dia itu cuma idola aku tapi sekarang nggak kok. Sekarang kamu maafin aku kan?" Tanya Lisa dengan mata berbinar.


"Maafin yah Rey sayang... Aku cintanya sama kamu doang kok, aku kagum nya sama kamu doang sumpah, udah nggak ada deh yang namanya lelaki lain yang lebih baik dari kamu, bahkan idola pun nggak ada. Sekarang kamu yang terbaik, sekarang maafin yah... Plisss..." Mohon Lisa.


"Yaudah dimaafin."


Lisa sontak langsung melotot menatap Rey. "Ha? Beneran? Nggak bercanda kan?"


Rey menatap datar pada Lisa. "Maunya beneran apa bercanda?"


"Hehehee... Ya beneran lah. Makasih yah sayang, pokoknya aku sayang sama kamu. Aku janji nggak bakal ulangin lagi, kamu percaya kan?"


"Hm percaya." Jawab Rey. "Yaudah yuk belajar." Ajak Rey.


"Hm ayo dah."


.


.


.


Rey sibuk menjelaskan beberapa rumus-rumus matematika. Lisa memperhatikan dengan seksama sambil mengangguk-ngangguk kecil tanda mengerti.


"Jadi kalo udah kayak gini tinggal kamu jumlah dan ketemu deh hasilnya. Gampang kan? Coba kerjain sendiri, aku mau baca buku bentar!" Pinta Rey.


Rey memberikan contoh soal pada Lisa untuk Lisa mengerjakan nya, setelah itu Rey membaca buku sambil menunggu Lisa selesai mengerjakan soalnya.


"Mau kemana?" Tanya Rey saat melihat Lisa tiba-tiba berdiri.


"Cuma mau pindah kok." Jawab Lisa. Lisa pindah tempat dan memilih duduk di depan Rey saja.


"Kerjain yang bener!" Pesan Rey.


"Iyaaaa..."


Lisa menaruh buku di atas meja, dan membuat satu buku berdiri di depan wajahnya agar lebih mudah membaca soal.


.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 malam. Rey yang menyadarinya pun terkejut, saking asyiknya ia membaca bukunya sampai ia lupa waktu. Ia memanggil-manggil Lisa.


"Cha.... Icha... Udah selesai apa belum soalnya?" Tanya Rey.


Tak ada respon dari Lisa, Rey pun menarik buku yang berdiri di depan wajah Lisa. Dan ternyata Lisa sudah tertidur. Rey dibuat menggeleng saat melihat Lisa tertidur begitu pulas.


Rey mengambil buku yang berisi soal yang ia berikan untuk Lisa tadi. Dan yah Lisa sudah mengerjakannya dengan benar, namun yang dikerjakan nya hanya sebagian. Rey tersenyum hangat. Ia berdiri dan membereskan buku-buku yang ada di atas meja. Setelah selesai, ia menggendong Lisa ala bridal style menuju kamarnya.


Rey meletakkan nya di kasur dengan hati-hati agar tidak menganggu tidur Lisa. Ia menutupi tubuh Lisa dengan selimut kemudian mengecup singkat keningnya.


"Selamat tidur! Tidur yang nyenyak yah, besok harus kerja keras." Rey mengusap pelan kepala Lisa.


...*****...


Rey membangunkan Lisa untuk sholat subuh, meskipun merasa sulit membuka matanya pada akhirnya Lisa bangun. Mereka berdua mendirikan sholat berjamaah, setelah itu Lisa hendak tidur lagi karena masih ngantuk. Yah kalo di hari-hari biasanya, setelah selesai sholat subuh Lisa akan tidur kembali dan akan bangun setelah sang matahari muncul. Namun seperti nya kali ini berbeda.


Lisa hendak menjatuhkan dirinya ke atas kasur, namun Rey menarik tangan nya. "Eh tunggu dulu! Jangan tidur lagi, ayo belajar!"


"Rey... Semalem udah belajar lama banget loh, masa mau belajar lagi sih! Kurang tidur nih, ntar aku nggak konsen kerjain soal ujian!" Keluh Lisa.


"Ingatan manusia itu paling bagus saat pagi hari karena masih fresh. Nggak perlu belajar banyak, cuma hafalin beberapa rumus penting aja, anak IPS kan cuma Matematika, nggak ada Fisika nya!" Jelas Rey.


Lisa yang kesal mengacak-acak rambutnya depresi. "Hishh... nyebelin banget!"


Dengan langkah kasar, Lisa mengambil buku di atas meja belajar. "Dulu juga aku nggak rajin-rajin amat tuh belajar, palingan satu kali baca aja. Tapi tetep bisa juara di kelas tuh." Gerutu Lisa.


Rey yang mendengarnya menjawab, "Iya kan itu dulu sayang... Sekarang kan udah beda."


"Beda gimana? Aku dulu mau belajar yah belajar, nggak belajar juga nggak papa. Belajar nggak belajar yah tetep bisa jawab soal ujian kok." Kesal Lisa.


"Iya aku ngerti kok. Tapi sekarang kan ada aku yang harus nuntun kamu. Juara kelas itu kan cuma nomor, Ini bukan tentang juara kelas atau bisa soal jawab ujian dengan benar. Tapi ini tentang ilmu nya, percuma juga kan kalo dapat juara kelas tapi pelajaran yang pernah di pelajari dulu sudah hilang dari ingatan. Tujuan belajar itu yah harus mengingat semua ilmu yang pernah di ajarin oleh guru, agar guru nggak sia-sia ngajarin dan ilmu nya bisa di gunain untuk masa depan nanti."


"Banyak loh kejadian di luar sana, yang dulu jadi juara kelas belum tentu langsung sukses, malahan kebalikan nya, justru yang paling nggak bisa ngerti pelajaran yang bisa sukses duluan." Sambung Rey.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!