Love In Many Ways

Love In Many Ways
Perasaan Faro



Berarti harus ijin dulu?"


Rey semakin menjadi, ia benar-benar menunjukkan wajahnya yang paling imut. Lisa semakin kalah telak, "Y-ya udah deh, kalo mau cium boleh tapi harus tanya dulu. Jangan langsung nyosor aja, kan kaget!"


Rey memeluk Lisa gemas, "Istriku ngegemesin banget tau nggak sih! Jangan deket-deket sama cowok lain ya, ntar mereka naksir!"


Lisa menarik wajah Rey lalu mencium pipi Rey dengan tiba-tiba, "K-kalo aku dulu yang cium boleh, tapi kalo kamu duluan gak boleh, harus ijin dulu." ujar Lisa malu-malu.


Rey sangat terkejut namun sekaligus senang karena merasa menang banyak. Ia pun langsung berdiri dan mengambil salah satu jaketnya dilemari.


"Yuk ikut!"


Lisa mengangkat salah satu alisnya bingung, "Kemana? Ini udah malem loh!"


"Ya jalan-jalan gitu, udah lama loh kita nggak jalan berdua."


Lisa melihat jam di dinding, "Oke lah... Belum terlalu malem juga, tunggu yah Lisa mau siap-siap ya!"


"Oke sayang .."


Lisa pergi bersiap-siap, sedangkan Rey menunggu di garasi. Setelah bersiap-siap pun Lisa turun menuju garasi dan membuka pintu mobil.


"Heh, ayo ke sini!" Panggil Rey.


Lisa menengok dan melihat Rey sudah duduk diatas motor sportnya warna hitam itu. "Tumben kok pake motor? Nggak pake mobil?"


"Nggak papa, cuma pengen lebih santai dan rileks aja. Lagian ntar susah parkirnya kalo bawa mobil," elak Rey.


"Oh oke..."


Lisa naik keatas motor lalu merangkul Rey untuk pegangan. Rey sebenarnya deg-degan saat seperti ini, tapi ia masih diam.


"Dah yuk..."


"Kuy lah..." Rey menyalakan mesin motornya dan pergi menuju Alun-alun kota. "Padahal mah naik motor biar bisa peluk doang, kalo naik mobil emang enak tapi nggak bisa kontak fisik. Ya, Rey sekarang banyak pinter!nya" batin Rey girang.


.


.


.


Di Alun-alun Kota


Saat sampai, Lisa langsung saja merengek meminta es krim. Mau tak mau Rey pun langsung menurutinya, mereka duduk disebuah meja dan memesan 2 porsi es krim.


Lisa langsung hendak menyendok es krim menuju mulutnya, namun tiba-tiba Rey bersuara.


"Kamu nggak pengen apa, yang romantis gitu, aku suapin kek pasangan romantis lainnya?" tanya Rey sembari memberi kode agar Lisa melihat disekelilingnya yang banyak orang.


Lisa pun mengurungkan niatnya untuk memakan es krim itu. Ia menaruh sendoknya kembali, "Ya udah deh... Suapin sini!" pinta Lisa yang merasa kasihan dengan Rey karena ketidakpekaan nya.


Rey pun langsung senang dan spontan mengambil sendoknya untuk segera menyuapi Lisa dengan es krim.


Beberapa sendokan pertama masih lancar, namun mata Rey tertuju pada arah tertentu yang mengalihkan fokusnya.


Tuk...


"Ah, aduh! Lo ngeliatin apaan sih, ini jidat bukan mulut yahh!"kesal Lisa.


Suapan Rey meleset dan malah mengenai jidat Raina pun kesal karena jidatnya terkena es krim.


"Kenapa sih? Liatin apa sih!"


Rey menunjuk ke salah satu arah, ekor mata Lisa pun mengikutinya. Terlihat seperti Mira dan Vhino yang sedang berjalan bersama dengan romantis.


"Ituuuu.... Mira sama Vhino bukan sih?" tanya Rey.


"Emmm... Mungkin saja. Karena yang kutau sih di sekolah mereka akhir-akhir ini mulai dekat."


"Daripada penasaran mending samperin kuy!" ajak Lisa.


Tapi Rey malah menahan tangan Lisa dan mengajaknya duduk kembali, "Udah jangan diganggu... Kita kalo lagi berduaan kan juga nggak mau diganggu."


"Kaga tuh, gua santai aje..."


Rey menyipitkan matanya, lalu menatap jidat Lisa yang terkena es krim. Ia pun mengambil tisu lalu mengusap jidat Lisa agar bersih kembali.


"Nah kan gara-gara kamu jidat nya akuh jadi lengket semua kena es krim," protes Lisa.


"Iye-iye maaf..."


"Dahlah, aku mau cari kamar mandi dulu buat bersihin. Lengket semua rasanya."


Rey menengok ke kanan dan ke kiri, "Kemana? Gak ada lah di sekitar sini."


"Ntar ke sekalian ke Alfa, mau nitip sesuatu nggak di Alfa?"


"Mmm... Apa aja deh, terserah kamu aje aku ngikut aja, yang penting sama kamu, anj*yy."


"Prett, oke oke."


Lisa berjalan menuju Alf*mart yang ada di seberang jalan untuk menumpang ke kamar mandi dan membeli beberapa barang. Setelah membasuh wajahnya, Lisa memilih beberapa barang untuk dibeli.


"Lisa..."


Panggilan itu membuat Lisa menengok, terdapat Faro yang berdiri dibelakangnya. Lisa pun terkejut melihat Faro.


"Faro? Kok kamu di sini?"


Faro pun mendekati Lisa, "Lis... Aku mau ngomong serius."


"Apa?"


"Maafin aku buat semuanya, aku cuma mau jujur sama kamu aku udah nggak bisa nahan perasan aku ini. Tapi percaya sama aku kalo perasaan aku tuh ke kamu itu serius bukan candaan." Faro memegang kedua tangan Lisa erat.


Lisa yang mendengarnya pun menghempaskan tangan Faro "Fa-faroo... maksud kamu apa, kamu nggak bisa ngomong kayak gini..."


Faro kembali memegang tangan Lisa, "Lisa beneran... Aku bener-bener minta maaf, dan tolong anggep serius perasaan aku ini Lisa. Aku nggak main-main buat perasaan ini!"


Lisa berusaha melepaskan tangannya, namun cengkraman Faro makin lama makin erat hingga Lisa sedikit kesulitan dan kesusahan melepas cengkraman Faro.


Lisa pun kembali menghempaskan tangan Faro, "Ro, kamu kan tau aku udah ada Rey, jadi tolong Faro jangan ganggu kami dan pliss jangan sia-siain cinta tulus kamu ke orang yang salah."


Faro kembali memegang tangan Lisa dan memohon, "Iya Lis, aku tau itu. Tapi apa bener-bener nggak ada kesempatan sama sekali buat aku untuk masuk ke kehidupan kamu, aku beneran serius Lis aku tulus."


Lisa berusaha melepaskan tangannya, namun Faro sama sekali tidak ingin melepaskan genggaman nya.


Plak....


Tangan Rey dengan keras memukul tangan Faro hingga Faro melepaskan cengkeraman tangannya.


"Ngapain lo di sini? Gangguin Lisa lagi?" tanya Rey dengan nada yang tak bersahabat.


Faro menatap Rey tak suka, "Lo sendiri ngapain ikut campur urusan orang lain? Ini urusan gue sama Lisa ya!" tegas Faro


"Urusan Lisa, urusan gue juga. Karena gue suami sah Lisa, mau apa lo?" tanya Rey dengan nada mengejek.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!