Love In Many Ways

Love In Many Ways
Gelap



Faro mengangguk, dia berusaha menetralkan napas nya. "Oke, kamu agak menjauh dari sini, takut nya nanti kejadian tadi malah terulang lagi." Pinta nya dengan waspada.


Lisa mengangguk mengerti kemudian berlari ke arah samping mobil, dia berdiri di sana untuk melihat dan mengamati semua yang terjadi. Ya Allah bantu kami semua ya Allah. Hindarkan kami dari semua marabahaya Ya Allah. Dan semoga Rey dan Faro nggak kenapa-napa Ya Allah. Amiinn...


Melihat Lisa sudah aman, Faro langsung berlari untuk membantu Rey yang terlihat mulai kewalahan melawan semua lelaki misterius itu. Ya iyalah, siapa sih yang sanggup. Satu orang lawan enam orang, kan nggak adil yah.


Duet antara Rey Faro dengan ke delapan lelaki bertopeng tersebut berlangsung menegangkan. Semua tampak kewalahan namun kedua pihak tersebut tak ada yang ingin menyerah, masing-masing memberikan perlawanan. Lisa mengamati dengan seksama dari jauh, sekaligus berjaga-jaga, kalau-kalau ada lelaki yang akan menyeretnya lagi.


Salah satu lelaki bertopeng tersebut tanpa sengaja melihat Lisa dari jauh, yah memang tujuan nya adalah Lisa. Lisa yang akan dia ambil atau lebih tepatnya dia culik. Dia sempat membisikkan sesuatu para salah satu teman nya.


Tanpa sepengetahuan Rey dan Faro mereka berdua berjalan perlahan menghampiri Lisa. Rey dan Faro saat ini sibuk berduet dengan lawan masing-masing.


"Ayo ikut kita!" Sahut lelaki tersebut pada Lisa.


"Nggak mau!" Tolak Lisa sambil melangkah kan kaki nya perlahan kebelakang.


"Mau cara baik-baik atau kekerasan?" Tanya teman nya dengan nada dingin. Semakin Lisa mundur, semakin mereka melangkah maju mendekati Lisa.


"Jangan deket-deket!" Sahut Lisa dengan tegas.


"Kenapa? Mau marah? Mau teriak? Teriak aja, hahahaa..." Mereka berdua tertawa sambil melangkah kan kaki nya maju.


Dengan secepat kilat salah satu dari mereka berdua langsung menangkap Lisa dan membawa Lisa ke bahu nya. "Eh lepasin gue!" Sahut Lisa sembari memukul-mukul punggung lelaki yang menggendong nya.


"DIEM!" Bentak teman nya yang lain. Mereka berdua berjalan ke arah mobil, tak menghiraukan Lisa yang terus saja memberontak.


"REY! TOLONG!" Teriak Lisa sesaat setelah dirinya di masukkan ke dalam mobil.


Rey dan Faro menoleh bersamaan saat mendengar teriakan Lisa. Melihat Lisa akan di bawa, Faro langsung berlari ingin membantu Lisa. Namun, terlambat lah sudah, Lisa sudah di bawa pergi oleh kedua lelaki misterius itu.


"LISAAA...!" Teriak Faro kesal.


Sementara Rey, baru saja dia akan menyusul Faro dan juga ingin menolong Lisa. Namun, pergerakan nya terhenti saat sebuah pukulan keras mengenai lehernya, ternyata sebuah balok berhasil di layangkan oleh salah satu lelaki bertopeng tersebut dan mengenai leher Rey. Rey jatuh terkapar dan pingsan. Ah sial! Mereka semua terkecoh, para lelaki misterius itu menggunakan kesempatan ini saat Rey dan Faro lengah.


Dengan cepat para lelaki tersebut membopong Rey masuk ke dalam mobil milik Rey sendiri. Faro yang menyadari nya langsung berlari hendak menolong Rey. Namun, sudah terlambat. Mobil sudah melaju pergi, dan disusul oleh semua lelaki bertopeng yang menaiki motornya melaju dengan cepat.


"Ah sial!" Sahut Faro. Dia memegang kepala nya, tak tau harus bagaimana lagi. "Taktik mereka bagus juga." Gumam Faro. Faro memutar otak nya memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk menolong Lisa dan Rey. Mengejar mereka pun percuma saja, mereka semua telah berlalu pergi..


...*****...


Rey mengerjapkan matanya beberapa kali. Terlihat jelas dari wajahnya bahwa saat ini dia sedang kesakitan. Perlahan ia membuka matanya, pandangan nya menyapu seantero ruangan. Gelap, ruangan yang dia tempati gelap. Hanya ada cahaya remang-remang yang membuat nya agak bisa melihat ruangan yang dia tempati sekarang. Semua benda-benda berserakang di lantai begitu juga dengan barang-barang yang ada. Semua terlihat kumal dan kotor, juga berdebu. Cat tembok sudah tak terlihat lagi, alias sudah luntur.


"Uhuk... Uhuk..." Terdengar suara seseorang yang terbatuk. Rey menajamkan pendengaran nya untuk memastikan kembali.


"Aww... Ini dimana?!" Suara seseorang kembali terdengar. Rey berusaha mencari sumber suara itu dengan kembali memandang seisi ruangan yang dia tempati. Dari suara tersebut, Rey bisa memastikan bahwa itu terdengar seperti suara istri kecil nya.


"Lisa?" Panggil Rey. Tak ada jawaban, Rey kembali memanggil, "Lisa? Itu benar kamu? Ini aku Rey." Jelas Rey.


"Hiks... Rey... Hiks..." Suara itu terdengar menangis terisak.


Rey berdiri dan berusaha mencari-cari, Rey melangkah kan kaki nya dengan perlahan. Cahaya remang-remang tak akan mungkin bisa membantu nya untuk melihat dengan jelas, jadi Rey memutuskan untuk mencari sumber suara itu.


"Hiks... Rey... Ka-kamu dimana... aku takut, hiks..." Rey melihat seseorang yang berada di kegelapan tengah bersandar di dinding, kaki nya dia tekuk dan tangan nya memeluk kedua lutut nya. Kepala nya dia sandarkan pada lengan nya.


Rey berjongkok di samping seseorang tersebut, "Lisa?"


Seseorang itu menoleh pada Rey yang berada di samping nya. Matanya terlihat merah, dan pipi nya di basahi oleh air mata yang terus mengalir tanpa henti. Rey dapat melihat ternyata itu benar istri nya, Lisa.


Dengan sigap, Lisa langsung memeluk sosok yang selalu melindunginya itu. Dengan penuh kasih sayang Rey membalas pelukan tersebut. Sudah cukup Lisa membuat nya khawatir. Meskipun dia berada ditempat seperti ini, tapi setidaknya dia sudah bisa bernapas lega karena bisa kembali berada di samping Lisa dan melindungi nya kembali.


"Hiks... Rey..." Seketika tangis Lisa pecah. Dia menangis sejadi-jadi nya di dalam pelukan Rey. Terasa saja, tangan nya bergetar. Jelas sekali kalau Lisa sangat ketakutan.


Rey mengusap kepala Lisa dengan pelan, mencoba memberikan rasa perlindungan. "Hushh... Udah yah, nggak usah nangis lagi."


"Hiks... Hiks... A-aku... Aku... Hiks... Aku takut..." Ujar Lisa terisak-isak.


"Udah tenang yah, aku di sini kok." Ucap Rey dengan pelan.


"Hiks... Aku mau hiks... Mau pu-lang, hiks..." Ucap Lisa terbata-bata.


"Iya. Nanti aku pikirin cara untuk pulang. Sekarang kamu tenang yah." Ucap Rey lagi.


"Gelap Rey... Hiks... Hiks... Aku, hiks... Aku takut..." Lisa masih saja terisak-isak. Kepalanya dia tenggelamkan di dada bidang milik Rey. Perasaan nya saat ini sangat tak menentu. Tadi nya dia sangat takut, saat melihat Rey berantem dengan para lelaki tadi, dia takut Rey kenapa-napa. Takut sendiri saat Rey tak ada bersama nya, takut dia sudah tak bisa bertemu Rey lagi, takut tak bisa pulang lagi dan masih banyak lagi rasa takut yang tak bisa dia sebutkan satu per satu.


"Tenang yah, ada aku kok." Rey mempererat pelukan nya, dagu nya dia sandarkan di puncak kepala Lisa. Salah satu tangan nya sibuk mengusap-usap rambut Lisa dengan lembut, mencoba untuk memberikan rasa aman pada perempuan yang dia cintai.


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE!